Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 40


__ADS_3

*Yuk, disawer-sawer ... Vote juga boleh*


Ala merasa sedikit lega setelah meninggalkan rumah Rafatar meski rasa kecewa yang ia rasa sungguh nyata. Dia merasa membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan merenungkan kembali segalanya. Ala memesan taksi online dengan tujuan Mesjd Al Hakim, yang posisinya tepat di tepi pantai. Semenjak beberapa waktu terakhir, mesjid itu menjadi tempat penenang jiwa baginya.


Ia rela menghabiskan banyak waktu di sana, karena baginya tempat itu sangat cocok menjadi lokasi penenang jiwa. Melihat ke luar ada lautan biru yang menghempaskan diri pada batu yang disusun di pinggirnya untuk menahan deburan ombak.



Bangunan mirip taj mahal India ini, bisa dikunjungi siapa pun sehingga tak pernah sepi oleh pelancong dan masyarakat yang ingin beribadah, atau ingin menikmati indahnya arsitektur bangunan ini.


Ala sengaja duduk di lantai atas, yang memiliki suasana yang tenang. Di sini ia bisa melihat dan mendengar suara ombak yang menghantam pantai. Hal demikian bisa membuat Ala sedikit merasa lebih baik.


"Ya Allah, aku tahu bahwa aku pasti bisa melewati semuanya. Karena janji-Mu kepada setiap insan, tak akan menguji hamba-Mu melebihi batas kemampuannya." Ala menutup matanya menikmati desiran ombak yang masih jelas terdengar hingga ke telinganya.


"Abi, ayo sini ...."


Suara ceria anak kecil terdengar seakan mengomandoi seseorang yang duduk pada sebuah kursi roda, didorong oleh pria paruh baya, melewati tangga landai, yang bisa dilewati oleh kursi roda.


Melihat seseorang tengah duduk menikmati suasana, memejamkan mata, membuat mata seorang bocah laki-laki terbuka dengan lebar. "Tante?" ucapnya.


Mendengar suara kecil yang tengah memanggilnya, Ala membuka mata dan sangat terkejut melihat siapa yang berada di sampingnya. "Ka-kamu?" Rasa hati yang tadinya masih kacau, kini tampak semakin kacau, ditambah lagi ketika ia melihat seorang yang enam tahun lalu pernah hidup bersamanya.


"Abiii, ini Tante yang kemarin," sorak bocah yang tak lain adalah Baim.


Ala semakin tegang kala si bocah memanggil ayahnya. Ala segera berdiri mematung di hadapan mereka bertiga. Ala menganggukan kepala dan menundukan wajahnya.


"Assalamualaikum," ucapnya sayu.


Syauqi berusaha menahan diri semenjak Baim berteriak bahwa di hadapan mereka adalah Humaira. Meskipun ia tak bisa melihat lagi bagaimana wajah mantan istrinya itu, ia masih membayangkan bagaimana momen-momen pertama kali memandangi wajah Ala.


Wajah yang dulunya tak pernah ia tatap, merasa tak sudi beristrikan orang yang tidak ia cinta. Baru saja, lewat alat bantu pendengaran yang terpasang pada telinganya, mendengar suara itu memberi salam, meski samar.


"Walaikum salam, Humaira," ucapnya setengah berbisik.


"Tante ... Tante ... Kenapa Tante pergi begitu saja saat lihat Atuk, Nenek, dan Abi Aim? Mereka semua, kangen sama Tante," ucap Baim.


"Baim?" Tangan Syauqi melambai meminta sang putra untuk mendekat.

__ADS_1


Baim menggelengkan kepalanya. "Nggak mau, Aim mau ngobrol sama Tante. Nanti Tantenya pergi lagi bagaimana? Aim kan belum punya nomor ponsel Tante ini," ucapnya memegangi rok Ala mendongat menatap wajah Ala yang terlihat merah padam.


Ala mendapat serangan panik, mencoba bernapas dalam-dalam dan berusaha mengontrol diri. Dia sadar bahwa menghindari Syauqi tidak akan menyelesaikan masalahnya. Mungkin ini adalah kesempatan baginya untuk menghadapi rasa takut dan kecemasan yang selalu menghantuinya.


Dengan hati yang bergetar, Ala berjalan menggandeng tangan Baim membawanya mendekat pada sang ayah yang telah memanggil. Dia berusaha tersenyum dengan tenang, meskipun dalam hatinya masih ada kecemasan dan keraguan.


Ala mengumpulkan keberanian dan mendekat pada mantan suami meskipun dengan langkah gontai. Dia menatap wajah Syauqi dengan perasaan campur aduk, mencermati kebutaan, masalah pendengaran, dan kelumpuhan yang Syauqi alami. Perasaan prihatin dan simpati memenuhi hati Ala.


Ala memberi salam kepada Ayah yang berada di belakang kursi roda Syauqi. Ayah mengangguk menjabat tangan wanita yang pernah menjadi menantunya ini.


"Bagaimana kabarmu Ala? Syukur lah, kamu tidak buru-buru seperti waktu itu." Ayah teringat kejadian di kafe.


"Ah, iya, Yah. Maaf ... Saat itu Ala ada urusan." Ala melirik pria yang masih duduk tenang. Matanya terbuka, tetapi terlihat tak ada raga di sana.


"Sepertinya kalian perlu berbicara bukan? Setelah Uqi bangun dari tidurnya, kamu sama sekali tak pernah menghampirinya lagi ke rumah sakit," ucap Ayah, menarik Baim.


"Ayah akan membawa Baim salat Ashar dulu. Kalau kalian sudah selesai, nanti kabari saja." Ayah beranjak membawa Baim yang tidak bisa protes dengan Atuknya.


Kali ini, tinggal lah mereka berdua, yang tersentuhnya angin yang datang dari laut. "Bagaimana keadaan Uda? Maaf, aku tidak pernah mencarimu lagi."


Syauqi mencoba memulas senyuman pada wajah kakunya yang telah lama kehilangan senyuman. "Ya, kamu bisa lihat sendiri bagaimana keadaanku. Semenjak kejadian itu, tak ada lagi yang bisa aku banggakan. Aku telah kehilangan segalanya, termasuk kamu."


"Tapi aku ingin memberitahukan padamu bahwa aku telah memaafkanmu." Ala tersenyum getir menahan getaran pada tubuhnya.


"Kamu benar-benar sudah memaafkanku? Jika benar, apa kamu mengizinkanku untuk kembali—"


"Aku memaafkan bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri," sela Ala dengan cepat.


"Aku hanya tidak ingin membawa dendam dan kebencian di dalam hatiku. Allah saja Maha Pemaaf, kenapa aku yang hanya seujung kuku ini tidak bisa memberi maaf?" kata Ala dengan penuh kejujuran.


Syauqi terkejut mendengar kata-kata itu. Angan yang sempat melambung saat Ala mengatakan telah memberi maaf, seketika jatuh kembali ke dasar. Namun ekspresi kebingungannya segera berubah menjadi haru dan penuh penyesalan. Dia memahami betapa besar kesalahannya dan bagaimana perbuatannya telah menyakiti Ala.


"Ala, aku menyesal. Aku menyadari betapa bodohnya aku telah mengkhianatimu seperti itu. Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku berjanji untuk belajar dari kesalahan dan menjadi pribadi yang lebih baik. Aku juga ingin meminta maaf atas segala rasa sakit yang telah aku berikan padamu. Allah telah memberikan teguran dan mengingatkan bahwa aku hanyalah laki-laki bodoh yang mudah termakan n4fsu," ucap Syauqi dengan suara sendu.


Ala melihat ekspresi kesungguhan dan penyesalan yang jujur dalam mata Syauqi. "Aku tidak bisa menghapus apa yang telah terjadi, tapi aku bisa memilih untuk memaafkan. Maafkanlah aku saat aku pergi di saat kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Saat itu, aku sungguh hancur. Namun, aku pastikan, kali ini sudah tak ada lagi luka itu," ujar Ala.


Syauqi diam seribu bahasa dalam penyesalan mendalam. "Humaira, apakah kamu bersedia menjadi makmumku kembali?"

__ADS_1


*


*


*


Rafatar, dalam keadaan kesal dan penuh kekecewaan, memutuskan untuk meninggalkan rumah. Ia merasa terluka atas apa yang telah dilakukan sang ibu terhadap Ala, pujaan hatinya.


"Demi Allah, jika Ama tidak bisa menerima pilihan hidupku dan mencintai wanita yang aku pilih, lebih baik aku tidak akan menikah seumur hidupku," ucap Rafatar kala pergi dari rumah itu.


Dalam keadaan emosional, Rafatar mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Ia tak lagi memikirkan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Ia sungguh kecewa saat kebahagiaannya dan cintanya untuk Ala tidak dihargai dan diakui oleh Ama.


Di tempat lain setelah Rafatar pergi, ibu Rafatar masih teguh pada keputusannya. Dia membiarkan Rafatar pergi tanpa mengubris ancamannya untuk tidak menikah seumur hidupnya. "Sampai kapan kamu akan begini Fatar? Dia sungguh memberikan pengaruh yang buruk bagimu. Anak Ama yang selalu menuruti permintaan, kini telah jadi pembangkang. Ini semua pasti karena janda itu?"


*


*


*


Pada malam hari, di dalam kamarnya, Ala duduk di atas sajadah, membiarkan air mata mengalir di pipinya. Hatinya penuh dengan kepedihan dan kebingungan akan apa yang telah terjadi hari ini. Ia teringat semua kata-kata dan perlakuan dari ibu Rafatar yang membuatnya terluka.


Air mata Ala semakin deras mengalir saat dia merasa kesepian dan kehilangan. Dia merasa dirinya tidak pantas mendapatkan cinta dan kebahagiaan yang ia impikan. Kepercayaan dirinya terguncang dan rasa malu merasuki pikirannya.


"Ya, Rabb ... Apakah aku ditakdirkan sebagai wanita yang tak akan pernah memiliki pasangan seumur hidupnya? Jika memang demikian, aku hanya meminta agar kuat kan lah hatiku ya Rabbi."


Ala mengusap air matanya dengan lembut, menenangkan diri. Dia memilih untuk bangkit dan tetap berjuang. Meski terasa berat, dia merasa bahwa dalam kegelapan selalu ada cahaya yang menanti.


Dalam malam yang sunyi, Ala menenangkan dirinya dengan merenungkan hikmah dan pelajaran dari pengalaman yang telah dia alami. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap kuat, menghargai dan mencintai dirinya sendiri, serta mempercayai takdir yang telah ditentukan.


*


*


*


Keesokan pagi, di saat Ala usai salat subuh, ia ingin melemaskan tubuh sejenak menghirup aroma embun yang mampu menyejukan hati. Namun, ia dikejutkan oleh sebuah tubuh terbujur di lantai teras tertutup dari ujung ke ujung.

__ADS_1


"Kyaaaaakh ...." pekik Ala.


__ADS_2