
Baim menunjukkan benda yang ia temukan kepada sang nenek yang dipanggil dengan Andung. Ibu melihat benda tersebut dan tersenyum. "Sepertinya ini bros yang dulu pernah Ibu berikan pada dia, Qi. Ternyata, sampai hari ini Humaira masih menyimpannya." Ibu menyerahkan bros cantik berbentuk bunga, dengan banyak batu manik indah itu ke tangan sang anak.
Dalam genggamnya, Syauqi memegang, dan mengamati bros itu dengan indera perabanya. "I-ini milik Humaira? Aku sungguh sangat rindu padanya."
Ayah meletakkan tangan di pundak pria buta itu. "Kita memang tidak akan bisa mengubah apa yang telah terjadi, Qi. Tapi, bila ada kesempatan, kita akan bicara dari hati ke hati dengan Humaira dan keluarganya. Jika tangan mereka masih terbuka menerima kehadiran kita, itu artinya kita tetap bisa berhubungan baik dengan mereka, meskipun tak bisa lagi menjadi keluarga."
"Tapi Yah, aku ... mau dengannya untuk bersama kembali," ucap Syauqi sendu.
"Seandainya saja kamu bisa memikirkannya saat dulu, mungkin keluarga kalian akan bahagia hingga saat ini. Namun, itu lah manusia yang memang gudangnya khilaf. Ujung-ujungnya hanya bisa menyesali waktu yang telah berlalu dan terbuang."
Sementara itu, Ala berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju kendaraannya. Ia merasa campuran antara kelegaan dan sedih setelah bertemu dengan mantan suaminya dan keluarganya. Pertemuan itu memunculkan berbagai perasaan yang rumit dalam dirinya.
Lega saat kedua orang tua mantan suaminya terlihat dalam keadaan sehat. Dan rapuh, kala hatinya tergugu melihat keadaan mantan suami yang jauh berbeda kala terakhir mereka saling berpelukan.
"Ya Allah, sungguh kasihan sekali dia. Maafkan lah dia, ampuni juga hamba, dan ampunilah kami semua. Engkau sungguh Maha Pengasih Maha Penyayang. Hamba sudah memaafkannya, ya Allah. Sudah memaafkannya semenjak memilih untuk bangkit."
"Aku telah mengikhlaskan semuanya. Walaupun ia pernah menyakiti hati ini, dan begitu sulit untuk menyembuhkannya. Namun, aku telah memasrahkan dan dan mengikhlaskan segalanya. Aku yakin, tak ada lagi benci pada semua yang telah berlalu. Akan tetapi, kenapa aku menjadi kacau ketika melihat mereka apalagi dia?"
"Jadi, pria yang aku papah itu adalah dia?" Ala menatap kedua tangannya bergantian. Setelah itu, ia menangkupkannya pada wajah. "Apa lagi ini ya Allah?"
Ala menghela nafas dalam-dalam saat merenungkan perasaannya. Ia menyadari satu hal, meskipun telah memaafkan dan melupakan masa lalu, ternyata tetap saja ada luka yang belum sepenuhnya sembuh di dalam hatinya.
"Aku tidak terluka, aku baik-baik saja," gumam Ala dalam hati. "Apakah mungkin karena adanya harapan yang tak terwujud, atau karena rasa bersalah yang masih menghantui. Tapi aku harus bisa menghadapinya dan melanjutkan hidupku. Hidup ini tak melulu tentang cinta. Masih ada harapan keluarga dan mengurus pondok pesantren yang diamanahkan oleh Almarhum Abiβ"
Drrrtttt
Drrrttt
Ala dikejutkan oleh getaran pada ponselnya. "Oh, janji dengan Ustadz Candra? Dia pasti kebingungan karena tidak menemukanku di sana." Ala membuka ponselnya.
Namun, ternyata itu bukan lah dari orang yang dikira. Ada panggilan video dari orang yang baru saja ditemuinya di hari lalu.
"Uda Rafatar?"
Ia kembali teringat pada permintaan Rafatar untuk ta'aruf dengannya. "Aku belum memiliki jawaban," gumamnya.
__ADS_1
Ala menarik tombol hijau. Wajah tampan itu telah terlihat dengan tatapan bingung.
π²"Assalamualaikum," ucap Rafatar di seberang.
"Walaikum salam, Uda," jawab Ala sendu.
π² "Ala, kamu kenapa? Kamu lagi nangis? Apa yang terjadi?" tanya Rafatar dengan penuh perhatian.
Ala menggelengkan kepala. "Ah, enggak." Ala mengusap air matanya.
"Aku tidak apa-apa. Uda sedang apa? Masih di kantor?" Ala nengalihkan perhatian.
π² "Tidak, aku sudah pulang dari kantor. Aku tadi sedang memikirkan kamu dan pertemuan kita kemarin. Aku ingin tahu apa kamu sudah memutuskan tentang ta'aruf itu?" tanya Rafatar dengan lembut.
Ala menatap layar ponsel dengan tatapan ragu. Ia merasakan getaran emosi yang rumit dalam dirinya. Baru saja ia dikejutkan oleh pertemuan dengan mantan suami, kini malah ada pertanyaan yang ingin dia hindari.
"Uda, aku... masih belum bisa memberikan jawaban pasti," ucap Ala dengan jujur. "Pertemuan kemarin membuatku teringat pada masa lalu dan memunculkan banyak perasaan yang rumit. Aku masih mencoba memahami dan menyembuhkan luka-luka yang ada di dalam hatiku."
Rafatar mengangguk dengan pengertian. π²"Aku mengerti, Ala. Setiap orang memiliki prosesnya sendiri dalam menghadapi masa lalu dan menyembuhkan luka. Aku siap menunggu dan mendukungmu dalam proses itu. Jika suatu saat kamu merasa siap untuk melanjutkan ta'aruf denganku, aku pastikan bahwa aku di sini siap dengan jawabanmu."
"Terima kasih, Uda. Aku menghargai kesabaran dan pengertianmu. Aku akan memikirkan jawaban yang tepat. Tentunya, Uda tahu bagaimana aku bukan? Aku hanya lah seorang janda. Banyak yang tidak menerima keadaanku yang seperti ini."
π² "Tidak perlu rendah diri karena itu, Ala. Di hadapan Allah, semua manusia itu sama. Yang menjadi pembeda itu hanya berdasarkan tingkat keimanan dan ketakwaan. Akan tetapi, bagi aku kamu itu ... sempurna ... Udah dulu ya, assalamualaikum." Rafatar buru-buru menutup panggilannya.
Meninggalkan tanda tanya besar dalam wajah termangu merona mengerjapkan matanya beberapa kali. "Barusan dia bilang apa?"
*
*
*
Keesokan pagi di Pondok Pesantren, Ala memanggil khusus Ustadz Candra yang membantunya menyelidiki laporan yang diberikan Ustadz Luthfi.
Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan bahwa laporan mengenai bangku sekolah yang patah tersebut tidak benar. Sarana dan prasarana di tingkat SMP dan MA Pondok Pesantren masih dalam kondisi yang sangat baik, tanpa adanya kerusakan yang signifikan.
__ADS_1
Ustadz Candra menyampaikan penemuan ini kepada pihak terkait dan meminta klarifikasi dari Ustadz Luthti mengenai laporan dan rincian dana yang diajukan. Ustadz Candra juga memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada masyarakat terkait kondisi sarana dan prasarana yang baik.
Dalam rangka menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat, tindakan lanjutan akan dilakukan untuk memastikan adanya pertanggungjawaban atas laporan palsu yang telah diajukan. Ustadz Candra juga akan memberikan edukasi kepada semua pihak tentang pentingnya kejujuran dan transparansi dalam melaporkan masalah-masalah yang ada, serta menjaga kepercayaan dalam pengelolaan dana yang diberikan oleh masyarakat.
Ala memandang tajam ke arah Ustadz Luthfi, wajahnya penuh dengan ekspresi kekecewaan. "Ustadz Luthfi, saya tidak bisa mempercayai apa yang Anda lakukan. Bagaimana bisa Anda membuat laporan palsu mengenai sarana dan prasarana sekolah?"
Ustadz Luthfi, dengan suara yang tinggi dan penuh pertahanan, menjawab, "Ala, saya tidak mengerti dari mana datangnya tuduhan ini! Saya hanya mencoba mengumpulkan dana untuk memperbaiki bangku-bangku yang rusak."
Ala tidak puas dengan jawaban itu. "Namun setelah kami melakukan penyelidikan, ternyata semua itu hanyalah data bodong. Sarana dan prasarana di sekolah kita masih dalam kondisi baik. Mengapa Anda perlu membuat laporan palsu?"
Ustadz Luthfi menatap Ala dengan wajah yang penuh penolakan. "Saya tidak mengakui bahwa laporan saya palsu! Saya yakin ada yang salah dengan penyelidikan Anda. Saya berusaha untuk memperbaiki fasilitas yang ada demi kenyamanan para siswa."
Ala, semakin emosi, berkata dengan suara yang terengah-engah, "Ini bukan hanya tentang bangku-bangku sekolah yang rusak, tetapi juga tentang integritas dan kepercayaan yang kami miliki pada Anda sebagai seorang ustadz. Apakah Anda tidak menyadari betapa merugikannya tindakan Anda?"
Ustadz Luthfi mengangguk dengan keras kepala. "Saya melakukan ini demi kebaikan sekolah dan para siswa. Saya tidak bisa duduk diam ketika ada kekurangan. Anda tidak mengerti situasi sebenarnya!"
Ala, dengan suara gemetar karena emosi, mencoba meredakan konflik. "Ustadz Luthfi, mari kita cari solusi yang baik untuk situasi ini. Kita harus mengutamakan kejujuran dan transparansi dalam setiap tindakan kita. Bagaimana jika kita mengadakan pertemuan bersama pihak sekolah dan para orang tua untuk membahas masalah ini secara terbuka?"
Ustadz Luthfi masih enggan menerima saran Ala. "Tidak ada kebutuhan untuk pertemuan semacam itu. Saya sudah menjelaskan maksud saya. Anda harus mempercayai niat baik saya."
Ala, tetap teguh pada pendiriannya, menatap Ustadz Luthfi dengan tekad yang kuat. "Kepercayaan harus diteguhkan melalui fakta dan kejujuran, bukan dengan kata-kata semata. Jika Anda benar-benar memiliki niat baik, buktikan dengan mengakui kesalahan Anda dan berkomitmen untuk melakukan yang terbaik ke depannya."
Ustadz Luthfi, meski masih keras kepala, merasakan desakan moral dari kata-kata Ala. Setelah beberapa saat berpikir, dia akhirnya mengangguk dengan ragu. "Baik, saya akan mempertimbangkan saran Anda. Namun, saya tetap merasa tidak bersalah."
Perlahan tapi pasti, keduanya mulai meredakan ketegangan dan bersedia mencari solusi bersama. Mereka sepakat untuk melibatkan pihak terkait dan mengadakan pertemuan dengan tujuan mendiskusikan masalah ini secara terbuka dan mencari jalan keluar yang adil.
Dalam keadaan yang tegang dan sibuk menghadapi konflik dengan Ustadz Luthfi, Ala hampir melupakan urusan penting lainnya, yaitu persiapan pernikahan adiknya, Alya, dengan Rizky.
Setelah menyadari bahwa waktunya semakin terbatas, Ala menyusun rencana untuk menyelesaikan konflik dengan Ustadz Luthfi dengan cepat agar dapat fokus pada persiapan pernikahan adiknya. Dia meminta maaf kepada Alya karena terlalu terlibat dalam permasalahan tersebut dan berjanji akan memberikan dukungan penuh untuk pernikahan mereka.
Ala berusaha untuk menyeimbangkan antara menyelesaikan konflik dan terlibat dalam persiapan pernikahan. Dia mengalokasikan waktu dengan bijaksana untuk berkomunikasi dengan Alya dan Rizky, mendiskusikan rencana pernikahan, membantu dalam pengaturan acara, dan menyediakan dukungan emosional kepada adiknya yang sedang mempersiapkan diri untuk hari yang spesial tersebut.
Walaupun ada tekanan dari berbagai sisi, Ala berhasil mengatur jadwal dan memprioritaskan kepentingan keluarganya. Dengan bantuan dan kerjasama dari keluarga lainnya, persiapan pernikahan Alya dan Rizky tetap berjalan lancar.
Pada hari pernikahan, meskipun masih ada sedikit ketegangan yang tersisa dari konflik sebelumnya, Ala berusaha keras untuk menenangkan diri dan memberikan dukungan penuh kepada Alya dan Rizky. Dia menyadari bahwa momen ini adalah tentang kebahagiaan adiknya dan bukan tentang konflik yang telah terjadi.
__ADS_1
Di sela acara, ia beberapa kali mendapati Rafatar yang terus memperhatikannya dalam diam, seperti akan melum4tnya hidup-hidup.