Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 37


__ADS_3

Ibu Rafatar, menyadari antara anak dan wanita yang ia larang untuk didekati, sedang saling bertatapan. Kening wanita paruh baya yang amat cantik ini, terlihat mengerut. Ia berjalan menarik sang putra.


"Ma ... Ma ... Mau ke mana, Ma?" Rafatar seketika panik mendapat kan tarikan tiba-tiba dari sang ibu. Ia memutar kepala kembali memandangi Ala yang menatap heran atas langkahnya.


"Ma? Malu, Ma," ucap Rafatar yang diperlakukan bagai anak kecil yang ditarik saat asik bermain.


Setelah berada di pojokan yang agak sepi, Ama melepaskan tangannya. "Apa yang kamu lakukan? Bukan kah Ama sudah melarangmu untuk melanjutkan rencana untuk mendekatinya?"


"Tapi, Ma, aku ini sudah dewasa. Aku berhak memilih siapa pun untuk menjadi istriku. Dia itu wanita saleha, Ma?"


Ama menggeleng cepat. "Pokoknya tidak boleh! Kenapa harus dia sih? Kan di dunia ini masih banyak gadis perawan yang bisa kamu jadikan istri? Kenapa harus bekas orang?" bentak sang ibu.


"Ma, aku sudah mencintai dia semenjak dia belum menikah, Ma. Saat ini, dia sudah kembali sendiri. Apakah Ama percaya, akan takdir yang mempertemukan kami kembali agar dia menjadi jodoh untuk aku?"


Ama menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kamu ngaco ah, masa iya ada takdir macam gitu? Pokoknya kamu harus cari yang masih perawan! Titik!" Setelah memberikan ultimatum, Ama meninggalkan anaknya sendirian.


"Ada apa, kenapa kamu sama Ama ribut-ribut di sini?" Seseorang muncul mengejutkan Rafatar yang gagal meyakinkan sang ibu.


"Pa, apakah kita yang masih bujang, menikahnya dengan gadis perawan? Lalu, bagaimana dengan nasib para janda? Apakah harus menunggu duda dulu agar bisa bersatu dengan janda yang aku cinta?" Rafatar menceritakan keluh kesahnya kepada Apa, ayahnya.


Pria paruh baya itu tampak bersahaja menggelengkan kepalanya. "Hukum dari mana pula itu?" Apa tersenyum dan mendekati Rafatar. Dia meletakkan tangannya di pundak putranya dengan penuh kehangatan.


"Rafatar, pernikahan bukan hanya tentang status dan masa lalu seseorang. Ada yang lebih penting daripada itu, yaitu kebaikan hati dan keimanan seseorang. Bukanlah menjadi suatu keharusan untuk mencari pasangan yang masih perawan. Allah menciptakan cinta dalam berbagai bentuk dan jalan. Yang penting, kita menemukan pasangan yang saling melengkapi dan saling membimbing dalam kebaikan," kata Apa dengan bijak.


Rafatar memandang Ayahnya dengan rasa harap. "Tapi, Pa, bagaimana dengan Ama? Dia sangat keras kepala dengan pendiriannya. Bagaimana aku bisa meyakinkannya?"


Apa mengambil napas dalam-dalam dan tersenyum bijaksana. "Rafatar, cintamu pada Ala tidak akan mudah diterima oleh semua orang. Tapi yang terpenting adalah kejujuranmu pada dirimu sendiri dan pada Allah. Jika kamu yakin bahwa Ala adalah pilihan yang tepat, maka bersabarlah dan terus berdoa. Percayalah, dengan waktu dan ketulusanmu, hati Ama akan terbuka. Tetapi, ingatlah juga untuk menghormati dan menghargai pendapat Ama, karena dia adalah orangtua yang paling peduli terhadapmu."


Rafatar merenungkan kata-kata Ayahnya dengan seksama. Dia merasa terinspirasi dan lebih mantap dalam keputusannya.


"Demi Allah, Pa, aku akan terus berusaha dan berdoa. Aku akan menunjukkan kepada Ama bahwa cinta ini bukan hanya sekadar nafsu, tetapi juga cinta yang tulus dan bertanggung jawab. Aku akan meminta petunjuk Allah dalam setiap langkah yang aku ambil," ucap Rafatar dengan tekad yang kuat.


Apa tersenyum bangga melihat sikap putranya. "Itu yang seharusnya kamu lakukan, Rafatar. Percayalah, jika cinta itu datang dengan ketulusan dan kebaikan, tidak ada yang tidak mungkin. Bersabarlah dan percayalah pada takdir yang telah Allah tulis untukmu."


"Baik lah, Pa. Terima kasih karena Apa sudah mendukung aku. Aku akan memperjuangkan cintaku ini, dan membuktikan pada Ama bahwa hati ini tidak pernah salah pilih."


Apa tersenyum bangga pada anaknya, menepuk lengan Rafatar beberapa kali dan mengangguk. Rafatar kembali ke tengah pesta dan lehernya memanjang mencari lokasi keberadaan wanita yang baru saja menjadi biang keributan dengan sang ibu.


Ia sungguh teramat penasaran dengan ajuan ta'aruf yang ia minta. Senyumnya terulas setelah beberapa kali memutar kepala. Ia melihat wanita yang menawan hatinya, tengah sibuk menyambut undangan yang terus berdatangan.


Kakinya melangkah dengan percaya diri berdiri di sampang Ala yang menyilakan tamu masuk tanpa menyalami. Kedua tangannya ditangkupkan bila tamu yang datang adalah lawan jenis. Rafatar pun turut menyambut dengan antusias, membuat Ala sedikit terkejut saat menyadari ia tepat berada di sebelahnya.

__ADS_1


"Uda di sini juga?" tanyanya heran.


"Iya, aku yang akan menyambut tamu pria. Kamu cukup menyambut tamu wanita dan anak-anak." Rafatar menyilakan dan menyambut tamu jauh lebih hangat dibanding Ala sang tuan rumah.


Ala menahan senyum melihat tingkah pria itu, dan kembali melanjutkan tugas dalam menyambut kedatangan tamu. Di saat tamu sedikit sepi, Ala memilih duduk beristirahat menggunakan kipas yang ada di tangannya.


Rafatar pun duduk di samping Ala. "Bagaimana? Udah ada jawaban?" bisiknya.


"Hmmm, jawaban?" tanya Ala heran.


"Iya, mau kan kamu ta'aruf denganku?"


Wajah Ala terasa semakin memanas. "Aaah, ya ... Itu ...." Ala merasa kebingungan dalam memberikan jawaban kepada Rafatar. Dia menatap Rafatar dengan pandangan penuh kebimbangan.


"Uda, aku menghargai perasaanmu dan tekadmu untuk ta'aruf denganku. Namun, ada satu hal yang perlu aku sampaikan. Antara aku dan ibumu, kan belum saling mengenal. Bila kita ta'aruf, kita harus bertemu dengan orang tua kedua belah pihak. Nah, kita belum saling mengenalkan mereka bukan?" ucap Ala.


"Apa kamu mau mengenalkan ibumu denganku? Bukan kah aku sudah di sini. Ibuku juga ada di sini," tawar Rafatar.


"Hah? Sekarang? Jangan! Ummi sedang sibuk dalam mengurus pesta ini. Aku rasa kita harus menunggu waktu yang lebih tenang usai pesta ini," tolak Ala.


"Oh, begitu. Baik lah. Setidaknya aku sudah memiliki jawaban kalau kamu telah bersedia mencoba untuk ta'aruf denganku."


"Hah? Apakah aku mengatakan demikian?" Ala tersentak dengan simpulan yang diberikan Rafatar.


Akhirnya, pernikahan Alya dan Rizky berlangsung dengan tertib dan penuh kegembiraan. Ala merasa lega dan bahagia melihat adiknya memulai babak baru dalam hidupnya.


Ala menatap adik bungsunya yang terlihat masih sibuk membantu Ummi menyisihkan barang-barang yang disewa, dengan milik pribadi. Sementara itu, Ala tengah mengenang pada masa pernikahannya dulu.


Di mana, pernikahan yang pernah terjadi dilakukan dengan cara sederhana, karena dilaksanakan usai berkabung kepergian Abi. Ada rasa rindu mendera dalam hatinya. Rindu di saat hari-hari terakhir bersama Syauqi, ia bersikap lembut.


"Kenapa? Apakah ini yang disebut dengan kurang belaian? Ah, kenapa harus dia? Kenapa?"


*


*


Ala menyibukan dirinya kembali dengan pekerjaan yang ia tunda. Ia harus menuntaskan masalah dengan Ustadz Luthfi.


"Bismillah ...."


Ala melangkahkan kakinya memasuki area pondok pesantren, memasuki ruangan sebagai pengurus inti, Wakil Ketua Yayasan Pondok Pesantren. Sementara waktu, Apak, yang dipercaya sebagai pimpinan, tengah keluar negeri mengenyam pendidikan yang lebih tinggi ke Arab Saudi.

__ADS_1


Dia yang mewakili, tentu harus memiliki ketegasan untuk memutuskan bagaimana dengan Ustadz Luthfi yang telah mencoba bermain dengan dana Pondok Pesantren ini.


Ala mengirim pesan pada orang yang telah ia percaya. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!"


Pintu dibuka dari luar. "Assalamualaikum, Zah Humaira. Ustadz Luthfi sudah hadir," ucap Ustadz Candra yang sengaja diminta untuk menjemput Ustadz Luthfi.


"Persilakan dia masuk."


Ustadz Candra mengangguk dan ia masuk, disusul oleh Ustadz Luthfi yang berjalan tertunduk.


"Baik lah, Ustadz, ini adalah pertanyaan saya yang terakhir. Apakah Anda menyesali perbuatan yang telah Anda lakukan?"


Ustadz Luthfi mengangkat kepalanya, memandang Ala dengan tatapan penuh penyesalan. Dia menjawab dengan suara rendah, "Saya sungguh menyesal atas perbuatan saya yang telah melanggar kepercayaan dan merugikan Pondok Pesantren ini. Saya sadar bahwa tindakan saya tidak pantas sebagai seorang ustadz dan pengajar. Saya berjanji untuk memperbaiki diri dan mengganti kerugian yang telah saya sebabkan."


Ala menatapnya tajam. "Saya berharap Anda benar-benar memahami beratnya kesalahan yang telah Anda lakukan dan sungguh-sungguh berkomitmen untuk memperbaiki diri. Pondok Pesantren ini adalah tempat yang sakral dan bertujuan untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Setiap individu yang terlibat dalam pengelolaan pondok ini harus bertanggung jawab dan menjaga integritasnya."


Ustadz Luthfi mengangguk tulus. "Saya berjanji akan bekerja keras untuk memperbaiki diri dan melakukan upaya yang diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan yang telah hilang. Saya siap menerima konsekuensi apapun yang harus saya hadapi."


Ala menatapnya dengan serius. "Baik, Ustadz Luthfi. Saya akan memberikan kesempatan kedua pada Anda, tetapi dengan syarat bahwa Anda harus mengganti kerugian yang telah terjadi dan membuktikan perubahan yang nyata dalam perilaku dan integritas Anda. Selain itu, Anda akan mendapatkan pengawasan ketat dan jabatan sebagai kepala sekolah Anda, akan saya cabut. Apakah Anda bersedia menerima syarat-syarat tersebut?"


Ustadz Luthfi menjawab dengan tegas, "Saya bersedia, Zah Humaira. Saya akan melakukan segala upaya yang diperlukan untuk memperbaiki diri dan membuktikan bahwa saya bisa menjadi seorang yang lebih baik."


Ala mengangguk puas. "Baiklah, Ustadz Luthfi. Saya akan memberikan kesempatan ini pada Anda, tetapi ingatlah bahwa ini adalah kesempatan terakhir. Jika Anda mengulangi kesalahan Anda, konsekuensinya akan lebih berat. Saya berharap Anda tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."


Ustadz Luthfi menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu, ia keluar dari ruangan Ala.


"Terima kasih Ustadz Candra, sudah berupaya keras membantu saya dalam menuntaskan tindakan penyelewengan ini. Untuk bantuan Anda, nanti saya akan berikan bonus dan akan saya kirimkan langsung ke rekening Anda."


Candra menundukan kepala. "Tidak perlu, Zah Humaira. Saya bekerja dengan sangat ikhlas. Apalagi saya teringat segala jasa Almarhum Ustadz Faisal kepada saya dan keluarga saya selama ini. Semenjak itu lah, saya berjanji untuk ringan tangan dan selalu membantu keluarga kalian bila terjadi kendala."


Ala tersenyum tulus mendengar penjelasan Ustadz Candra. "Jangan khawatir Ustadz. Saya juga ikhlas memberikannya kepada Anda. Nanti, segera serahkan kepada istri di rumah. Semoga berkah."


"Terima kasih, Zah."


*


*


*

__ADS_1


Di rumah Ala, tanpa diketahui ternyata Rafatar datang ke rumah Ala dengan penampilan terbaik yang ia miliki. Dengan sedikit gugup ia membaca kalimat paling mujarab. "Bismillahirrahmannirrahim ...."


__ADS_2