
Venna meronta dan meluapkan kekesalannya kepada Tuhan. Dia merasa ditimpa ujian berat dan kebingungan tak tahu bagaimana cara menghadapi semua yang terjadi padanya.
Ala, dengan penuh kelembutan, mencoba menenangkan Venna. "Ma, aku tahu ini sangat sulit bagi Ama. Akan tetapi, kita harus percaya bahwa Tuhan memiliki rencana-Nya sendiri. Meskipun kita tidak mengerti mengapa ini terjadi, kita harus tetap berserah kepada-Nya dan mencari makna yang tersirat di dalam-Nya."
Venna masih terisak-isak dalam keputusasaan. "Ala, kamu hanya bisa bicara. Kamu tak tahu bagaimana rasanya berada di posisi Ama saat ini. Ana merasa begitu lemah. Semua harapan dan impian Ama hancur tak ada lagi yang tersisa. Ama tidak tahu lagi bagaimana cara melanjutkan hidup setelah ini. Lebih baik Ama mati saja," isaknya meski tak bisa lagi mengayungkan apa pun bagian tubuhnya.
Ala mencoba menghibur memberikan dukungan kepada mertuanya ini. "Ma, setiap manusia memiliki masalah dalam dirinya masing-masing. Namun, kita harus yakin bahwa setiap masalah pasti ada jalan unruk menghadapinya meskipun langkah yang kita jalani cukup tertatih."
Ala menatap mertuanya yang sesegukan tak berdaya di atas brangkarnya.
"Ama tidak usah takut. Aku akan menemani Ama saar mencari bantuan medis, terapi, dan segala hal yang dibutuhkan untuk membantu pemulihan Ama. Dan aku akan selalu ada di samping Ama, karena Ama adalah ibuku juga."
__ADS_1
Venna terus menangis, tetapi dia mulai merasa sedikit tenang mendengar kata-kata yang disampaikan oleh Ala barusan. Di dalam kepalanya terlintas kembali apa pun yang telah ia lakukan kepada Ala.
"Kenapa Ala? Kenapa kamu masih mau melakukan semua itu? Bahkan, sampai hari ini Ama masih jahat kepadamu. Harusnya, kamu tertawa melihat keadaan Ama saat ini. Karena ini semua terjadi karena menjadi teguran langsung dari-Nya karena selalu ingin memisahkanmu dengan Fatar."
Ala menatap mertuanya dengan seksama. Dia terhening sejenak, dan akhirnya helaan napas panjang terdengar dari mulutnya. "Ma, lumrah jika manusia tak pernah lepas dari kekhilafan. Namun, tidak semua orang bisa memberikan balasan yang sama atas apa yang dilakukan seseorang terhadapnya."
"Ama adalah ibu dari Uda Rafatar, suami terbaik sepanjang masa yang selalu memberikan kasih sayangnya kepadaku. Itu pasti tak lepas dari didikan Ama kepadanya semenjak kecil. Aku tak akan pernah membenci Ama. Malah, aku ingin mengatakan bahwa aku sangat berterima kasih kepada Ama karena telah melahirkan dia ke dunia ini."
Tanpa ia sadari, Rafatar yang menggendong buah hati mereka sedang mendengarkan obrolan mereka. Akram sudah kembali pulas tertidur dalam gendongannya. Wajahnya tampak penuh rasa haru mengetahui apa yang dirasakan oleh Ala. Diam-diam, ia berjalan dan memeluk Ala dari belakang.
"Aku juga ingin berterima kasih padamu, karena masih membuka tanganmu padaku yang juga pernah menyakitimu, Sayang," bisiknya lembut pada telinga Ala.
__ADS_1
Ala memutar kepalanya, dan wajah mungil dalam lelap terlihat tentram dalam gendongan suaminya. Ia membalas pelukan itu tanpa mengatakan satu patah kata pun, tetapi bibirnya tersenyum bahagia diapit oleh dua pria terindah dalam hidupnya.
Beberapa hari kemudian, Venna masih menjalani perawatan. Dalam perjalanannya menghadapi keterbatasan ini, Venna mengalami fluktuasi emosi yang kuat. Ada hari-hari ketika dia merasa putus asa dan meratapi kehilangan kemampuannya, namun ada juga hari-hari di mana dia menemukan kekuatan dan ketabahan untuk terus melangkah maju.
"Ama yang sabar ya. Ama jangan takut dan khawatir. Aku akan menemani Ama." Pada masa itu juga masih ada Ala yang menemani hari-harinya sehingga Venna benar-benar sadar atas segala khilafnya yang menyakiti menantunya yang sangat baik ini.
Melalui terapi fisik dan dukungan keluarga, Venna perlahan-lahan memulihkan sebagian fungsi tubuhnya. Meskipun ada beberapa bagian yang sulit untuk diperbaiki, dia belajar untuk menerima dirinya yang baru dan menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil dalam hidupnya.
Satu bulan kemudian, kondisi Venna sudah jauh lebih baik. Ia sudah bisa duduk di atas kursi. Ala dan Rafatar sengaja tinggal di rumahnya untuk bisa merawatnya sekaligus.
"Uda, hari ini aku akan pulang sore karena ada tim pengawas dari dinas pendidikan akan melakukan pendampingan perencanaan program pondok pesantren. Aku tidak bisa meninggalkan itu, karena sangat penting bagi kelangsungan pondok pesantren selanjutnya."
__ADS_1
"Hmmm, begitu ya? Lalu bagaimana dengan Ama? Aku juga tidak bisa pulang cepat hari ini karena ada evaluasi layanan memgenai biro perjalananku."