
Rafatar kembali ke rumah orang tua Ala dengan penuh harap. Dia ingin berbicara dengan Ala dari hati ke hati. Kali ini, ia menemukan istrinya tengah duduk merenung di beranda dalam wajah sayu, hidung merah, dan bisa disimpulkan Ala tak berhenti menangis selagi ia tak ada.
"Sayang?" ucapnya.
Ala bergerak hendak beranjak, tetapi keadaannya dalam hamil yang besar membuat gerakannya tak segesit dulu kala tidak hamil. Rafatar menangkap tangan Ala dan menggenggamnya duduk bersimpuh.
"Sayang, maafkan aku."
Ala hanya melirik tangan suaminya dengan wajah kaku menahan air mata yang hampir jatuh kembali.
"Sayang, aku tahu ini adalah situasi yang sangat sulit bagi kita berdua. Namun, kamu harus tahu, aku sangat mencintaimu. Jujur, aku masih berharap bayi kita baik-baik saja tak berpasrah begitu saja pada diagnosa yang dokter berikan."
"Bukan kah, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Kenapa kita tidak memperkuat harapan meminta kepada-Nya lebih sungguh-sungguh lagi supaya anak kita terlahir lebih dari sekedar sempurna?"
"Namun, jika memang ini adalah jalan dari-Nya agar kita lebih dekat lagi kepada-Nya, aku ingin kita menghadapinya bersama-sama. Jika bayi kita mungkin memiliki tantangan khusus, kamu harus tahu bahwa itu semua tidak akan mengurangi rasa cintaku padamu. Kita bisa menjadi keluarga yang kuat dan saling mendukung satu sama lain."
Rafatar melanjutkan, "Kamu harus tahu bahwa aku siap belajar dan berkembang bersama menghadapi ini semua. Kamu tidak sendirian, Sayang. Kita bisa meminta bantuan kepada ahli kesehatan, organisasi, dan komunitas yang dapat membantu kita memahami masalah yang kita hadapi."
__ADS_1
"Kita akan belajar bagaimana perawatan dan kebutuhan khusus yang mungkin diperlukan oleh bayi kita. Aku ingin kita menjalani semua ini dengan penuh kasih sayang asal kita bersama."
Dia menatap Ala dengan tulus, "Sayang, kita telah melewati begitu banyak hal bersama dan aku tahu bahwa kita memiliki cinta yang besar. Aku ingin kita tetap saling mendukung dan membangun masa depan yang bahagia. Tolong, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya atas kelakuanku beberapa waktu ini. Jujur, aku sangat frustrasi, tetapi aku sudah bisa mengendalikan diri."
"Satu hal yang bisa aku pastikan untukmu, Sayang. Aku akan selalu ada untukmu dan bayi kita."
Dengan suara yang penuh harap, Rafatar menyelesaikan pembujukannya, "Humaira Fii Jannah, aku mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku. Mari kita hadapi masalah ini bersama dan berjuang untuk kebahagiaan keluaraga kita. Izinkan aku untuk kembali masuk ke dalam hatimu bersama kita membangun keluarga sakinah, mawwadah, dan warrahmah."
Ala, yang masih marah dan kesal, menatap Rafatar dengan tatapan dingin yang penuh ketegangan. Wajahnya masih menggambarkan kekecewaan dan amarah yang sulit diungkapkan dalam kata-kata.
"Duhai istriku, aku tahu betapa marah dan kecewanya kamu saat ini. Aku mengerti bahwa kamu mungkin merasa terluka akan sikapku yang seakan tidak menerima takdir yang kita ketahui lebih awal. Tetapi, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku berjanji akan berjuang untuk keluarga kita dan mencoba yang terbaik untuk memperbaiki segalanya."
Rafatar memperhatikan Ala yang masih tegang, membisu, dan memutuskan untuk melanjutkan, "Sungguh, aku sangat mencintaimu. Kamu adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidupku, dan aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu. Aku tahu bahwa keadaan ini sulit, tetapi bersama-sama, kita bisa menghadapinya dengan lebih kuat."
Dengan lembut, Rafatar menambahkan, "Aku tidak meminta kamu untuk mengubah amarahmu dengan seketika, tetapi izinkan aku membuktikan cintaku dan niat baikku kepadamu dan bayi kita."
"Aku akan bekerja keras untuk memperbaiki hubungan kita dan membangun keluarga yang bahagia. Tolong berikan aku kesempatan untuk menunjukkan kesungguhanku dan ingin menjaga keluarga kita."
__ADS_1
Rafatar menggenggam tangan Ala dengan lembut, mencoba mencairkan kebekuan di antara mereka. "Sayang, kita adalah calon orang tua yang kuat. Mari kita saling mendukung dan menemukan jalan keluar dari situasi ini. Aku percaya bahwa cinta kita bisa melewati segala rintangan, termasuk tantangan yang kita hadapi saat ini. Bersamamu, aku merasa bisa menjalani segalanya. Aku mohon beri sebuah kesempatan untuk menunjukkan betapa berharganya dirimu bagiku."
Ala masih terdiam, tetapi ada sedikit keraguan yang tampak di matanya. Rafatar berharap bahwa kata-katanya bisa merangkul hati Ala dan membuatnya melihat bahwa ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.
"Mari kita berbicara dengan hati terbuka dan jujur. Aku ingin mendengarkan perasaanmu dan mengerti apa yang kamu pikirkan. Mari kita cari solusi bersama dan menyelesaikan masalah ini dengan kekuatan cinta yang kita miliki. Aku mohon, Sayang, berikan satu saja kesempatan untuk memulihkan hubungan kita."
Rafatar menunggu dengan hati yang berdebar-debar, berharap bahwa kata-katanya telah menggugah perasaan Ala dan membuka hati dan berbicara lebih dalam dan membangun.
Ala tetap diam, tetapi dia mulai melonggarkan genggaman tangannya yang sedari tadi tegang dan kaku. Rafatar melihat tanda kecil itu sebagai harapan.
"Mari kita temukan cara untuk melewati ini bersama, Sayang. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tahu bahwa masa ini mungkin tampak suram, tetapi jika bersama, aku percaya kita pasti bisa menghadapinya," kata Rafatar dengan penuh harapan.
Dia memandang wajah Ala dengan lembut, mencoba menembus dinding yang terbentuk di antara mereka. "Kita telah melewati banyak hal bersama, baik dalam suka maupun duka. Aku tahu kita bisa melewati rintangan ini juga. Jika kita bersatu, jika kita saling mendukung dan mempercayai satu sama lain, tidak ada yang tidak mungkin bagi kita."
Rafatar membiarkan ucapannya meresap di hati istrinya dalam keheningan, memberikan waktu bagi Ala untuk menanggapinya. Dia tahu bahwa mereka perlu menghadapi masalah ini bersama-sama dan menemukan solusi yang tepat untuk keluarga mereka.
Setelah beberapa saat kaku, Ala akhirnya mengucapkan beberapa kata dengan suara yang lemah, tetapi terdengar lebih terbuka. "Aku masih marah dan kecewa padamu, Uda. Mudah sekali bagimu membuang segala perjuangan kita hanya karena mendapat kabar anak kita akan terlahir dalam keadaan tidak normal," tangisnya.
__ADS_1