
Saat ini, Syauqi bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah Islam elite. Setiap harinya, ia dengan penuh semangat mengajar dan membimbing para siswa. Di antara siswa-siswanya, ada Baim, putra Syauqi, yang terlihat sedih saat melihat teman-temannya menerima penghargaan.
Hari itu, sekolah mengadakan acara penghargaan untuk para siswa yang telah mencapai prestasi gemilang dalam berbagai bidang. Baik dalam hafalan Alquran, saint, dan olah raga. Baim, meskipun masih kecil, juga ingin mendapatkan penghargaan seperti siswa yang memegang trophi penghargaan itu. Namun, hingga saat ini ia belum berhasil meraihnya.
Syauqi memperhatikan kekecewaan yang terpancar dari wajah Baim. Ia turut merasa sedih ketika melihat anaknya merasa sedih. Syauqi mengerti betapa inginnya Baim menerima piala penghargaan itu, karena dengan itu ia bisa termotivasi dan mendapat pengakuan atas usahanya.
Di tengah acara, Syauqi mendekati Baim yang sedang duduk sendirian. Ia menggenggam tangan Baim dengan lembut dan berkata, "Nak, kamu tahu, penghargaan bukanlah segalanya. Meski kamu belum mendapatkannya saat ini, bukan berarti usahamu tidak dihargai atau kamu tidak berprestasi."
Baim menatap ayahnya dengan mata yang masih penuh kesedihan. "Tapi Bi, semua teman Baim mendapatkan penghargaan. Padahal Baim sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi tetap saja kalah. Baim jadi sedih."
Syauqi tersenyum dan berkata, "Kamu harus ingat, setiap orang memiliki perjalanan dan kecepatan masing-masing dalam meraih prestasi. Mungkin saat ini belum tiba giliranmu, tapi itu tidak berarti kamu tidak bisa. Yang terpenting, teruslah berusaha dan berikan yang terbaik dalam segala hal yang kamu lakukan. Prestasi akan datang pada waktunya."
Baim perlahan-lahan mengangguk, mencoba memahami kata-kata ayahnya. Ia merasa lebih baik setelah mendengarkan kata-kata penyemangat dari Syauqi. Ia tahu bahwa ayahnya selalu ada di sisinya, mendukung dan menghargai usahanya.
Saat acara usai pun, mata Baim berkaca-kaca ketika semua siswa yang belajar di sini dijemput oleh ibu mereka. Wajah para siswa tampak bahagia setiap mendapat pelukan sang ibu di saat menjemput ke sekolah.
"Seandainya Tante Ala mau jadi Ummi, Baim, pasti akan sangat menyenangkan," gumamnya sedih.
Baim teringat pada satu sosok yang beberapi waktu terakhir mengaku sebagai ibunya. "Tapi, Baim tak mau Ummi yang seperti itu," desisnya membulatkan bibir tertunduk.
__ADS_1
Baim masih teringat betapa kasarnya perlakuan Salma terhadap dirinya. "Ummi Baim pasti baik dan cantik seperti Tante Ala."
"Baim, kenapa kamu terlihat sedih?" Sebuah sentuhan dan suara lembut mengejutkan Baim yang sedang duduk sendirian menunggu ayahnya menyelesaikan tugas sebagai seorang guru.
Kepala Baim melirik sosok wanita yang menjadi wali kelasnya. "Baim hanya sedih, Dzah. Baim ingin sekali memiliki Ummi. Tapi, tak ada yang mau jadi Ummi Baim."
Wanita itu sedikit tergelak mendengar ucapan siswa kelas dua SD ini. "Kenapa tidak ada yang mau? Bukan kah Abi Baim itu sangat soleh, jago sekali mengaji, cerdas, dan disukai banyak orang?"
Baim menatap Karmila, wali kelasnya itu dengan wajah polosnya. "Apakah Dzah Mila suka sama Abi?"
Karmila tersenyum dan mengelus kepala Baim dengan lembut. "Bukan itu, Baim. Dzah ini sudah menikah dan anak Dzah udah duduk di tingkat SMA. Dzah hanya ingin mengatakan bahwa pasti akan ada seseorang di masa depan yang akan menjadi ibu yang baik dan menyayangimu. Mungkin memang belum saatnya sekarang, tapi jangan khawatir, kebahagiaanmu akan datang."
Karmila mengangguk tegas. "Benar, Baim. Dzah yakin suatu saat kamu akan memiliki ibu yang luar biasa, sama seperti kamu dan ayahmu. Kita hanya perlu bersabar dan mempercayai takdir yang telah ditentukan oleh Allah."
Baim tersenyum kecil, perasaannya sedikit lebih ringan setelah mendengar kata-kata positif dari Karmila. Ia mulai percaya bahwa di masa depan, ia akan memiliki sosok ibu yang penuh kasih sayang. Sementara itu, Karmila berjanji dalam hatinya untuk selalu mendukung dan memberikan dukungan moral kepada Baim.
Hari-hari pun berlalu, Baim tetap bersemangat dalam belajar dan mengembangkan bakatnya di sekolah. Ketika pulang sekolah, Syauqi mengajak Baim makan di sebuah warung nasi.
Selagi menunggu pesanannya datang, kepala Baim sibuk berputar menatap siapa pun yang ada di warung tersebut. Tiba-tiba, wajah Baim terlihat cukup kaget ketika menangkap sosok bayangan seorang wanita yang sedang memarahi anak yang ada di dalam gendongannya.
__ADS_1
"Diam! Aku bosan melihatmu terus menangis! Diiaaam!"
Baim menggoyangkan tangan Syauqi yang seolah tak terusik oleh suara tangisan bayi. Syauqi menatap putranya.
"Ada apa? Udah laper banget ya?" tanya sang ayah.
Baim menggeleng pelan. Ia menunjuk pada sebuah sosok yang ada di pojokan. Syauqi pun memutar kepalanya dan keningnya mengerut melihat siapa yang ada di sana.
"Ssst! Aku mau makan! Jangan berisik!" bentak sang ibu kepada anaknya. Akan tetapi, tangisan bayi itu tak kunjung berhenti.
Syauqi merasa enggan untuk terus berada di tempat ini, tetapi ia sudah memesan makanan. Ia lebih memilih menyembunyikan diri membuat dirinya agar tak tampak oleh Salma, sang mantan istri.
"Bi, dia jahat sekali. Kena dedeknya dimarahi terus?" bisik Baim.
Syauqi menatap Baim dengan sendu. Karena ia sendiri merasa sedih pernah jatuh hati pada wanita seperti itu. "Sudah lah, kamu tidak perlu memperhatikannya!"
Baim mengangguk dan mencoba mengalihkan perhatiannya. Mereka berdua mencoba menikmati makanan mereka dengan suasana yang sedikit terganggu oleh kehadiran Salma. Syauqi berusaha menjaga semangat Baim agar tidak terpengaruh oleh sikap buruk mantan istrinya tersebut.
Setelah selesai makan, Syauqi membayar dan mereka segera meninggalkan warung nasi tersebut. Saat mereka berjalan pulang, Baim bertanya kepada ayahnya dengan rasa ingin tahu yang menggelitik, "Bi, apa benar dia itu Ummi-nya Baim?"
__ADS_1