
"Tapi, Ma? Aku tu sukanya sama dia ...."
Sang ibu tak lagi menanggapi dan memilih berbicara dengan keluarganya yang lain.
*
*
*
"Baaaim ... lagi-lagi kamu mengotori rumah?" Dari sebuah rumah, terdengar teriakan dari seorang wanita.
Anak yang dipanggil Baim itu, tengah bersembunyi belakang kursi roda sang ayah.
"Kamu lakukan apa lagi, Baim?" Tanya Syauqi.
"Aim bedakin lantai sama kursi, Bi," ucap sang anak.
"Apa?" tanya Syauqi meminta untuk meningkatkan volume suaranya karena pendengarannya memang sudah tidak sempurna lagi.
"Di mana anak itu?" Teriak Ibu yang tampak berkacak pinggang melirik liar ke segala arah.
"Sudah, Bu. Jangan marahi dia terus. Dia itu hanya anak-anak," ucap Syauqi menengahi sang ibu.
"Ini gara-gara kamu! Mana katanya janji cinta tulus itu? Setelah melihat kondisimu seperti ini dia malah pergi meninggalkanmu yang masih berjuang di rumah sakit sendirian setelah Humaira melayangkan gugatan cerainya. Lalu setahun kemudian dia dengan seenaknya dia muncul lagi membawa anak ini mengatakan ini anakmu. Harusnya—"
"Bu," cegat Syauqi.
"Jangan begitu, Bu? Dia masih sangat kecil untuk Ibu cecar seperti itu. Dia tidak paham dan tidak tahu apa-apa. Aku mohon jangan sakiti anakku."
"Astaghfirullah ...." Sejenak Ibu menghembuskan napasnya dengan kasar. "Maafkan Ibu. Ibu terbawa emosi setiap hari karena ulah anakmu."
"Bu, Baim itu cucu Ibu. Bukan kah dulu Ibu selalu mengatakan ingin menimang cucu? Sekarang, aku hanya meminta tolong pada Ibu untuk menyayanginya."
"Hmmmff ...." Ibu mengusap kepala merasa sakit di bagian sana. "Kapan semua ini berakhir ya Allah? Apa dosa hamba memiliki anak dewasa tapi tidak bisa apa-apa?" Sang Ibu berlalu meninggalkan ayah dan anak itu dalam hening.
Syauqi memasang wajah datarnya. "Ya, aku tahu. Ini adalah hukuman buatku. Apa tidak bisa hanya aku yang menerima hukuman itu?" gumamnya dalam penyesalan yang tak pernah usai.
'Apakah aku bisa mengulangi waktu yang? Waktu di mana aku menikahi gadis bernama Humaira Fii Jannah. Gadis soleha yang aku sia-siakan selama pernikahan itu,' batinnya.
*
*
__ADS_1
*
"Assalamualaikum Zah Humaira," ucap pria rapi dengan memasang peci nasional di kepala yang biasa disebut dengan kopiah.
"Walaikum salam, Ustadz Lutfi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, Zah. Saya baru saja mengecek kelas di SMP dan MA. Ada beberapa bangku yang perlu diganti karena telah mengalami kerusakan yang cukup parah. Jika dibiarkan, anak-anak kita yang belajar di sini bisa merasa tidak nyaman. Bisa jadi mereka memilih tempat lain mencari pondok pesantren yang menurut mereka lebih bagus."
Ala mendengarkan penjelasan Luthfi dengan seksama. "Kenyamanan anak-anak dalam menimba ilmu memang perlu kita pikirkan. Masalah mereka betah atau tidak betah di sini dan mau pindah, saya rasa itu bukan menjadi tolok ukur kita. Kita sudah berusaha meningkatkan kualitas baik dari segi fasilitas maupun tenaga pendidik, dan petugas asramanya. Jika mereka masih merasa tidak nyaman dan pindah, ya silakan. Kita tidak bisa memaksa mereka."
"Apa Ustadz punya rincian berapa jumlah bangku dan meja yang mengalami kerusakan?" tanya Ala.
Luthfi menyerahkan beberapa lembar daftar yang ia miliki. Ala memeriksa dengan seksama, dan keningnya sedikit berkerut. "Kenapa tingkat madrasah, Anda ikut meng-handle? Bukan kah untuk tingkat MA kita sudah memiliki penanggung jawab alias kepala sekolahnya sendiri?"
"Oh, begini Zah. Beliau meminta saya untuk menyampaikan kepada saya karena Beliau ada urusan," terang Luthfi.
Namun, Ala menangkap reaksi yang tidak wajar dari sorot matanya. Sejenak ia diam dan mengangguk. "Oh, begitu. Kalau begitu kalau dananya sudah siap, saya akan menginformasikan pada Anda. Untuk tingkat MA, saya akan langsung menghubungi Ustadz Salman, selaku kepala sekolahnya."
"Ja-jangan Zah. Cukup kepada saya serahkan. Biar saya yang menyampaikannya langsung ke tangan Ustadz Salman. Zah Humaira kan sudah sibuk, tak perlu lagi menambah kesibukan masalah kecil seperti ini."
Ala menatap lurus kepada Luthfi. "Hmm, begitu? Baik lah," ucapnya menatap pria yang diangkatnya sebagai Kepala Sekolah untuk tingkat SMP di Pondok Pesantren ini.
"Baik lah, Zah. Kalau dana sudah disiapkan, panggil saya saja. Saya akan kembali ke sekolah."
*
*
*
Pada sore hari, Ala tengah duduk di sebuah kafe. Ia menanti orang yang sedang dipercaya untuk mengecek keabsahan infomasi dan data yang telah diberikan oleh Ustadz Luthfi tadi.
Namun, setelah setengah jam menunggu, orang tersebut belum juga hadir. Dari arah luar, sebuah keluarga berjalan memasuki kafe tersebut.
Seorang pria yang sudah paruh baya, mendorong seseorang yang duduk di atas kursi roda. Di sisi lain, ada anak kecil berjalan berpegangan pada kursi roda tersebut.
"Nah, kita duduk di sini saja!" Wanita paruh baya melihat satu meja kosong membuatnya refleks menuju lokasi tersebut. Mereka belum menyadari saat ini berada di samping Ala yang sibuk dengan ponselnya. Kepala Baim liar melirik semua tempat di kafe itu.
"Baim, jangan ke mana-mana! Jangan ganggu orang ya?" ucap satu-satunya wanita dalam keluarga itu.
Baim tidak mengubris, ia bergerak ke sana ke mari dan melihat sosok yang menolongnya kemarin, ternyata duduk sendirian di meja di samping keluarga mereka.
Baim duduk pada bagian kursi kosong di meja Ala. "Tante?" sapanya.
__ADS_1
Hal ini membuat Ala yang semenjak tadi fokus pada ponselnya beralih pada sosok kecil yang duduk pada bangku kosong di hadapannya. "Kamu?" tanya Ala dengan wajah tersenyum. "Baim ya, namanya?"
"Iya," jawab bocah itu malu-malu.
"Apa kabar Baim? Waah, kebetulan sekali, sekarang datang sama siapa?" tanya Ala.
Baim menunjuk meja yang tepat berada di sisinya. Wajah Ala seketika menegang melihat siapa yang berada di sampingnya saat ini. Wajah ayah mertuanya begitu jelas olehnya.
Ala memandang bocah itu lagi. Baru lah ia sadar, anak kecil kemarin adalah anak mantan suaminya. Ala kembali menatap pria yang duduk di atas kursi roda itu. Pria yang menggunakan alat bantu dengar, tidak bisa melihat, wajahnya rusak, dan kakinya lumpuh itu adalah Uda Uqi, mantan suaminya.
Jantung Ala langsung berdebar. Ia segera memasukan ponsel dan benda-benda yang berceceran di meja ke dalam tas. Ala mendapat serangan panik membuat semua yang ia kerjakan menjadi salah membuat semuanya berhamburan ke atas lantai.
Hal ini menjadi perhatian dua orang yang telah lanjut usia menatap Ala yang telah mematung menatap mereka dengan nanar.
"Humaira?" ucap Ayah. Pria yang sedari tadi diam mematung duduk di atas kursi roda langsung bereaksi.
"Humaira, Yah? Di mana?" tanyanya dengan cepat. Kepalanya memutar ke kiri dan ke kanan, dengan wajah kebingungan.
Ala cepat-cepat memungut benda yang tadi telah berceceran di atas lantai memasukannya kembali ke atas meja. Ala keluar dari meja yang ia tempati, tetapi tangannya kembali bergerak terulur pada Ayah dan Ibu.
"A-Ala, ada urusan. Semoga kalian semua dalam keadaan sehat wa'alfiat."
"Humaira, kenapa buru-buru?" tanya Ayah.
"Humaira?" Ibu juga memanggilnya.
Namun, mulut pria yang selama ini mencarinya, seakan berat memanggil nama Ala.
"Ma-maaf Ayah, Ibu ... Ala ada urusan." Ala mengangguk dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
"Hu-Humaira? Humaira? Humaira?" Suara Syauqi cukup tinggi memanggil nama itu. Namun, tak ada sahutan sama sekali.
Ayah memegang pundak putranya. "Tenang lah, dia sudah pergi."
"Humaira, kenapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk bernicara?" ucap Syauqi sendu.
"Baim, kenapa kamu duduk di sana?" tanya Ibu melihat Baim yang sendiri melongo pada meja yang ditinggalkan Ala.
"Itu Tante cantik yang nolongin Aim sama Abi kemarin," ucap Baim turun dari bangku yang ia duduki.
"Ja-jadi, dia yang menolong kita?" tanya Syauqi kembali.
"Iya, Bi. Apa Abi kenal sama Tante itu? Dia cantik, Bi, baik juga sama Baim." Baim melihat ada benda yang tercecer di bawah meja dan ia memungutnya.
__ADS_1