Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 63


__ADS_3

*Maaf ya Kakak Readers semua, aku nulisnya agak sedikit bikin mumet ya? Gara-gara nulis dalam suasana hati berduka, aku sendiri bisa heran terbawa suasana seperti ini. Maaf belum bisa balas komenan satu per satu yaah kakak yang baik dan soleh soleha, masih riweh akunya. Semoga Kakak semua menyukainya* πŸ™πŸ™πŸ₯Ί


Tangis Ala semakin menjadi saat mendengar ucapan mertuanya di saluran panggilan. "Ama, tolong jangan berkata seperti itu. Kami masih yang masih rapuh ini, butuh dukungan dan penguatan, bukan seperti ini," ucapnya dengan gemetar.


Namun Venna seolah tak mengubris ucapan menantunya itu. "Fatar, cepat pulang ke rumahmu! Kami menunggumu di sini!" Ia memutuskan panggilan dengan dengkusan kasar.


"Ma, kami sedang berusaha mencari solusi dan berharap yang terbaik untuk bayi ini. Kami tidak ingin membatalkan kelahirannya. Anak ini hampir lahir, Ma. Aku hanya menunggu waktu kehadirannya di dunia ini. Bagaimana pun juga, bayi yang ada di dalam sini adalah anak Ama." Ala masih mengharap pengertian dari mertuanya ini.


"Bu Venna, istighfar! Jangan berkata seperti itu. Allah melarang keras atas apa yang baru saja ibu ucapkan," ucap Ummi terpaksa ikut campur dalam obrolan ini.


"Maaf, Bu, ini hanya obrolan antara saya dengan Ala dan Rafatar. Ibu jangan ikut campur dengan masalah ini!" ucap Venna dengan ketus.

__ADS_1


"Bagaimana saya tidak ikut campur? Humaira ini adalah putri saya. Saya tidak bisa menerima bila putri saya selalu disakiti seperti ini!" ucap Ummi tidak mau kalah.


"Hmmfff!" Venna mendengkus bersidekap dada memutar badan membelakangi mereka berdua.


"Jadi kalian berdua mau menyerangku barengan?" Venna berjalan kasar menuju sofa dan duduk memasang wajah angkuhnya.


"Saya akan menunggu Fatar. Jangan ajak saya bicara!"


Ala menatap Venna yang memalingkan wajah dari mereka. Ia pun menatap Ummi yang berdiri di sampingnya dengan wajah khawatir. Ia segera mengusap air mata.


Lima belas menit kemudian, orang yang dinanti telah berada di sisi mereka. Rafatar berdiri di antara istrinya dan ibunya dengan muka frustrasi. "Ma, bukan kah kami sudah meminta agar Ama tidak ikut campur dalam masalah keluarga kami?"

__ADS_1


Venna menatap Ala dengan tajam sejenak. "Kan Ama juga sudah bilang padamu! Jika kalian selalu saja mencoreng nama baik keluarga, maka Ama tak akan segan untuk ikut campur dalam keluarga ini. Karena tentu, reputasi Ama dan Apa-mu bisa tercoreng kalau anak kalian memang terlahir aneh dibanding anak yang lain."


"Ma, kami mengerti perasaan Ama, tapi kita juga harus menerima kondisi anak bagaimana pun jika memang telah dipercaya sebagai orang tua. Kami tak berhenti berdoa sepanjang masa agar Allah memberikan anak kami kondisi yang terbaik dibanding diagnosa yang ada," sela Ala yang tidak ikhlas mendengar kata-kata yang menyakitkan itu.


Venna menatap Ala dengan raut marah. "Kalian tidak mengerti betapa beratnya ini bagi seorang ibu! Saya tidak bisa menerima kenyataan bahwa bayi yang akan lahir itu dalam kondisi c4cat. Aku sudah mengambil keputusan ini. Pokoknya kalian harus eliminasi sebelum benar-benar lahir di dunia ini!"


Ala kembali berurai air mata. "Ma, tolong dengarkanlah. Kami butuh dukunganmu saat ini. Bayi ini adalah anugerah dari Allah, dan kami akan mencintainya apa pun yang terjadi."


Rafatar memasang wajah datarnya. "Ama pikir hanya Ama yang pusing karena kondisi bayi dalam kandungannya itu? Sudah lah, Ma. Lebih baik Ama pulang." Rafatar tanpa menyapa sang istri kembali memilih keluar dari rumah itu.


Venna menatap punggung putranya yang semakin menjauh tanpa berkata sepatah kata pun. Setelah itu, ia melirik Ala dan ibunya dengan sinis.

__ADS_1


"Kalian tahu itu artinya apa?" ucapnya datar.


"Ala, silakan angkat pakaianmu dari rumah ini!"


__ADS_2