Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 50


__ADS_3

Ala menepikan mobilnya dengan hati-hati.  Semuanya terasa berputar, ala memijit pelipis dan keningnya. "Astaghfirullah, kenapa kepalaku pusing sekali?"


Ala mencoba merogoh tas mencari ponselnya. Namun, ia merasa tidak berdaya, semua pun menjadi gelap.


*


*


*


Rafatar baru saja menyelesaikan rapat dengan dewan direksi. Rapat ini berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh perusahaannya. Orang yang dipercaya telah menggelapkan dana calon peserta umrah yang akan diberangkatkan dan membawa kabur uang tersebut ke luar negeri.


Rafatar memijit-mijit pelipisnya. "Ke mana keparat itu? Astahhfirullah al'azim ...." Rafatar baru sempat memeriksa ponselnya dan ternyata ada banyak panggilan dari sang istri.


"Sayang?"


Iya juga mengecek pesan dari istrinya dan ternyata ada pesan yang menyatakan bahwa sang istri akan ke spesialis kandungan untuk memastikan sesuatu.


"Apakah Ala hamil?" gumamnya. Ia semakin memijit kepala entah kenapa terasa semakin menyiksa.


"Astaghfirullah, kenapa aku begini? Harusnya aku bahagia jika memang istriku hamil. Jika Ala hamil, semoga ini menjadi obat bagi pikiranku karena masalah yang sedang terjadi di sini." Rafatar mencoba menghubungi istrinya kembali. Akan tetapi, setelah melakukan beberapa kali panggilan, tetapi panggilannya tak kunjung dijawab.


"Apa dia marah karena aku tak menjawab dan tidak memberi kabar padanya?"


Rafatar merasa khawatir dan bersalah. Dia merasa sangat menyesal. "Harusnya aku yang mengantarkan istriku, tetapi malah memikirkan hal yang lain. Ke mana kamu, Sayang? Maafkan aku sempat mengabaikanmu." Pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran tentang apa yang mungkin terjadi pada istrinya.


Tanpa ragu lagi, Rafatar segera mengambil kunci mobil dan bergegas keluar dari ruangan. Dia mengendarai mobil dengan cepat, berusaha tiba di tempat yang telah disebutkan Ala dalam pesannya tadi.


Setelah beberapa saat berlalu, Rafatar akhirnya tiba di klinik spesialis kandungan. Dia bergegas masuk dan mencari Ala di antara kerumunan orang. Dia mendekati seorang perawat dan dengan nada panik bertanya, "Permisi, apakah istri saya, Humaira Fii Jannah, ada di sini?"


Perawat itu melihat kebingungan dan kecemasan di wajah Rafatar. Dengan lembut perawat tersebut menjawab, "Maaf, Pak. Saya tidak memiliki informasi tentang pasien dengan nama tersebut. Mungkin Anda dapat bertanya pada bagian informasi."


Rafatar berterima kasih kepada perawat dan menuju bagian informasi dengan langkah cepat. Dia memberikan nama istri dan menjelaskan bahwa sang istri seharusnya melakukan pemeriksaan di sini. Pegawai rumah sakit tersebut memeriksa catatan dan dengan serius berkata, "Maaf, Pak, pasien dengan nama tersebut sudah selesai melakukan pemeriksaan semenjak dua jam yang lalu. Jadi, kemungkinan ia sudah kembali ke rumah."


Usai mengucapkan terima kasih, Rafatar kembali melajukan mobilnya menuju kediaman mereka. Namun, kendaraan istrinya tidak terlihat. Tanpa mengecek terlebih dahulu, ia bisa memastikan bahwa istrinya masih belum pulang.

__ADS_1


Rafatar menjadi semakin panik. Rafatar yang sudah pusing karena masalah yang menimpanya, kini memegangi kepalanya yang terasa jadi semakin sakit, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Dia berharap Ala baik-baik saja dan memohon kepada Allah untuk memberikan petunjuk kepada dirinya.


Rafatar menggenggam kemudi mobil dengan erat, berusaha menenangkan dirinya. Dia perlu berpikir dengan jernih dan mencari solusi untuk menemukan Ala. Dalam keadaan yang penuh kecemasan, dia memutuskan untuk menghubungi orang-orang terdekat dan mencari tahu apakah mereka tahu keberadaan Ala.


Dia menelepon Ummi, tetapi sayangnya Ummi tidak memiliki informasi tentang keberadaannya. Rafatar kemudian menghubungi teman dekat Ala, yaitu Wawa, berharap ia bisa memberikan petunjuk atau informasi yang mungkin berguna. Ternyata, nihil.


Wawa malah terdengar ketakukan dan cemas. "Uda, kenapa malah menanyakan Ala padaku? Harusnya Uda tau semua yang terjadi dan ke mana ia pergi. Katanya Uda cinta sama Ala? Masa, ini saja tidak tau?"


"Nanti aku hubungi lagi." Dengan berbagai alasan, akhirnya Rafatar bisa lepas dari pertanyaan Wawa.


Setelah beberapa percakapan yang penuh kekhawatiran dari berbagai sumber yang tidak diketahui, akhirnya ia memutuskan mendatangi kantor polisi.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pria berseragam itu.


"Begini, Pak. Saya tidak bisa menghubungi istri saya sejak sore ini. Saya khawatir terjadi sesuatu padanya," lapor Rafatar dengan cepat.


"Hmmm, istri Bapak? Apakah memakai kendaraan sendiri atau tidak?" tanya polisi kembali.


"Iya, dia membawa mobil sendiri. Nomor polisi mobil yang dia bawa adalah BAxxxxBF."


Polisi mencatat informasi yang diberikan Rafatar dengan cermat. Mereka meminta Rafatar untuk memberikan deskripsi fisik Ala dan memberikan foto terbaru untuk membantu proses identifikasi jika diperlukan.


Rafatar pulang dengan hati yang berdebar. Dia berusaha menjaga ketenangan, tetapi kekhawatiran dan kegelisahannya tetap membayangi pikirannya. Ia berharap dengan segenap hati agar Ala ditemukan dengan selamat.


Sebelumnya, di suatu tempat di mana Ala menepikan kendaraannya, ia ditemukan pingsan di dalam mobilnya oleh seorang yang sedari tadi memantau kendaraan yang mesin hidup, tetapi tak kunjung bergerak.


Pria yang sedari tadi memantau mulai mengecek menempelkan wajahnya pada kaca jendela mobil tersebut. Ia melihat seorang wanita sedang tertidur, tetapi posisinya meneleng dengan kepala tersandar pada kaca jendela.


"Ni, Uni?" Ia mengetuk jendela itu beberapa kali, tetapi tak ada respon. Dengan cepat ia memutuskan meminta bantuan pada orang-orang yang ada di sekitar.


" Tolong, tolong! Ada yang pingsan di dalam mobil itu!" ucapnya sembari meminta bantuan.


Warga yang ada berbondong-bondong mencoba membuka pintu mobil, tetapi tak kunjung berhasil. Dengan terpaksa, jendela mobil itu dipecahkan dan benar adanya ada wanita terkulai lemas, wajahnya telah memutih.


Warga segera membawa Ala ke rumah sakit. Pihak rumah sakit pun segera memberikan pertolongan medis kepada Ala dan melakukan pemeriksaan menyeluruh.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu, Ala akhirnya sadar di ruang perawatan. Dia merasa pusing dan bingung, mencoba mengingat apa yang terjadi. Dokter yang merawatnya mendekat dengan penuh perhatian.


"Alhamdulillah, Anda sudah sadar, Bu. Anda ditemukan pingsan di dalam mobil dan dibawa ke rumah sakit. Kami telah melakukan pemeriksaan dan saat ini Anda sedang dalam tahap pemulihan," kata dokter dengan lembut.


Ala menatap dokter dengan tatapan campuran kebingungan dan kelegaan. "Apa yang terjadi? Mengapa saya pingsan?"


Dokter menjelaskan bahwa pingsan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kelelahan, stres, atau masalah kesehatan tertentu. Dokter juga memberitahu Ala bahwa mereka telah melakukan tes dan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari penyebab pasti dari pingsannya.


Sambil mendengarkan penjelasan dokter, pikiran Ala melonjak ke suaminya dan keluarganya. Dia berharap mereka tahu tentang keadaannya dan sudah mencarinya. Ala memutuskan untuk menghubungi suaminya.


Rafatar yang sedari tadi kebinguangan mencari, merasa lega ketika melihat panggilan atas nama sang istri. Dia segera mengangkat telepon dan mendengar suara Ala di seberang sambungan.


"Assalamualaikum, Uda."


"Walaikum salam, Sayang, kamu lagi di mana? Kenapa dari tadi tak bisa dihubungi?" Rafatar bertanya dengan ritme yang cukup cepat.


"Uda, saat ini aku sedang berada di rumah sakit. Kata dokter, tadinya aku pingsan di dalam mobil dan warga berbondong membawaku ke sini. Aku baik-baik saja sekarang," kata Ala dengan suara lemah.


Rafatar merasa campur aduk antara kelegaan dan kekhawatiran. "Oh, Astaghfirullah. Apa yang terjadi? Kenapa kamu pingsan?"


"Tidak apa, Uda ... Aku tunggu ya?" ucapnya.


"Baik, Sayang. Aku akan segera ke sana." Rafatar yang sedari tadi berkeliling tak tahu arah, akhirnya tancap gas menuju rumah sakit.


Ia segera menuju unit emergency mencari istrinya. Di sana, tampak wanita berpakaian syar'i terbujur lemah di atas salah satu brangkar di unit emergency ini.


"Sayang?" ucap Rafatar dengan penuh haru.


Ala menoleh sumber suara. Tampak wajah khawatir, tetapi terlihat semakin tampan membuat Ala tersenyum. Ia menengadahkan tangan menunggu suaminya bergerak semakin mendekat.


Rafatar segera menggenggam tangan itu dan memeluk Ala. "Sayang, jangan menghilang seperti ini lagi. Aku sungguh khawatir karenanya," desisnya dalam pelukan Ala.


"Maaf, Uda. Aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai ke sini. Setidaknya kita masih bisa bertemu kan, Uda?" ucap Ala mengusap punggung Rafatar.


"Uda, alhamdulillah aku hamil," bisiknya dengan senyuman penuh kebahagiaan.

__ADS_1


"Ooh ..." ucap Rafatar, tak bersemangat sama sekali.


Ala melihat ekspresi suami yang tak seperti yang ia harapkan. "Uda, apa Uda tidak suka bila aku hamil?"


__ADS_2