
Ala sangat terkejut mendengar suara yang cukup dikenalnya. "U-Uda?"
Di sana ia melihat wajah Rafatar, senior yang pernah mengejar cintanya di masa kuliah dulu. Ala menarik tangannya agar segera dilepaskan oleh pria yang sekarang terlihat sangat berbeda dibanding dulu.
Setelah Rafatar wisuda, mereka tidak pernah bertemu lagi. Saat itu, Ala sedang menghadapi masa sulit pasca bercerai dengan Syauqi.
Namun, belajar dari pengalaman pernikahannya, Ala lebih memilih menyembunyikan informasi tersebut hingga tidak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya telah berstatus janda. Ia sibuk menata hati, menghapus luka yang sungguh begitu menyiksa dirinya dalam beberapa tahun ini.
"Pak Boss?" tanya Ala sedikit gugup. "Wah, Uda ... sudah lama ya kita tidak berjumpa? Tau-taunya sudah jadi Boss Bidang ttavelling ini," canda Ala walau sedikit canggung. Ia merasa de javu pada waktu enam tahun yang lalu. Pada kejadian yang hampir sama.
Rafatar menatap Ala dengan penuh perhatian. "Benar sekali. Sudah lama ya? Apa kabar, Ala? Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu di sini. Bagaimana keadaanmu setelah sekian lama?"
Ala tersenyum tipis. "Baik-baik saja, Uda. Aku sudah melewati banyak hal. Sekarang sedang bersiap untuk melaksanakan Umrah."
Rafatar mengangguk. "Aku senang mendengarnya. Semoga Umrahmu menjadi pengalaman yang berarti. Maaf, tadi aku tidak sengaja menabrakmu. Aku harap tidak ada yang terluka."
Ala menggeleng. "Tidak apa-apa, Uda. Terima kasih karena sudah menolongku yang hampir terjatuh tadi."
Rafatar tersenyum. "Sama-sama, Ala. Memang takdir kita bertemu di sini. Dan lucunya, aku merasa mengenang masa lalu." Rafatar terkekeh merasa geli.
"Semoga ini menjadi awal dari pertemuan-pertemuan yang lebih baik lagi di masa depan."
Ala merasa sedikit canggung namun menghargai sikap Rafatar yang sopan. "Terima kasih, Uda. Oh ya, aku harus melanjutkan persiapan. Sampai jumpa lagi."
Mereka berdua saling berpamitan dan melanjutkan kegiatan masing-masing. Ala masih terkejut dengan pertemuan tak terduga ini, namun ia memilih untuk fokus pada persiapan Umrah dan tidak terlalu memikirkan masa lalu.
Sementara itu, Rafatar menatap punggung gadis yang terlihat lebih syar'i dibanding saat kuliah dulu. Ia segera mendekati Agen yang melayani Ala tadi menanyakan informasi data Ala.
Saat ia melihat status pernikahan Ala, matanya terbuka lebar. "Divorce? Janda? Kapan ia bercerai? Kenapa tidak ada yang mengabari aku?" gumamnya. Lalu, senyuman penuh arti tersungging di bibirnya.
"Oh, ya, Boss. Nanti Anda yang akan jadi Tour Leader dia saat Umrah nanti," ucap Agen tadi memberi informasi.
Rafatar mengangguk mantap. "Yes!"
"Boss? Kenapa seneng ketemu janda?" goda anak buahnya tadi.
*
*
*
Keesokan hari, Ala tengah menemani Ummi jalan-jalan sore menghirup udara segar di taman kota. Wajahnya terlihat tenang dan tak ada beban. Ia tidak menyadari sedari tadi Ummi terus meliriknya.
Karena, semua orang yang melewatinya tak melepaskan tatapannya kepada Humaira yang tiada henti mengulas senyum pada bibirnya. Ia terlihat begitu damai, tanpa ada beban.
"Kenapa kamu senyum-senyum terus? Apa kamu sudah menemukan pria yang telah membuka hatimu?"
Ala tersentak oleh pertanyaan Ummi. "Ah, Ummi ... masa gara-gara lagi bahagia kayak gini langsung dikaitkan dengan pria terus? Hufff ..." Ala menghela napas panjang.
"Lalu, kamu kenapa dong? Ceritakan lah pada Ummi, biar Ummi bisa ikut bahagia mendengarnya."
Ala kembali tersenyum menyiratkan wajah bahagia. "Ala merasa bahagia karena sebentar lagi akan melihat Baitullah, Mi. Ala sungguh sangat rindu ingin ke sana. Ummi pasti rindu ke sana lagi kan? Tiga bulan lagi, kita berdua akan berangkat Umrah. Rasanya sungguh tak sabar lagi."
Ummi mengusap kepala putrinya. "Hmmmff, Ummi kira kamu sudah mau membuka hati untuk menikah lagi. Ummi sudah rindu menimang cucu dari anak-anak Ummi."
__ADS_1
"Tunggu dari Aulia atau Alya aja, Mi. Kalau Ala, tak bisa menjanjikannya. Mana ada yang mau dengan janda seperti Ala?"
Ummi mencubit pipi putri sulung yang kini sungguh membuatnya bangga. "Ayo lah? Kapan kamu memberikan Ummi cucu?"
"Desak Aulia atau Alya aja, Mi. Ala udah angkat tangan duluan kalau Ummi minta-minta cucu pada Ala."
Setelah itu, mereka duduk santai pada bangku taman menghirup udara segar pada taman itu. Tak sedikit pasangan muda berlalu lalang di taman ini, membuat Ummi menggelengkan kepala.
"Semakin hari, zaman semakin berubah. Pasangan yang belum menikah bergandengan tangan di tempat umum seperti hal yang lumrah aja saat ini," Ucap Ummi memberi komentar.
"Ala tak ingin berkomentar lebih, Mi. Kalau Ala sih, berpikir positif aja. Siapa tau mereka ingin saling mengenal terlebih dahulu. Supaya tidak salah pilih pasangan, bagai memilih kucing di dalam karung, seperti masa yang pernah Ala hadapi." Ala merenung kembali bagai melompati masa menyakitkan enam tahun lalu.
Ummi terdiam mendengar keluh kesah putrinya ini. Ia, juga merasa bersalah, karena sempat memaksa sang putri untk terus bertahan bersama putra dari sahabat suaminya dulu. Namun, ia tak menyangka, sang putri begitu menderita meskipun dalam waktu singkat.
"Hahahah ...."
Netra Ala dan Ummi beralih pada seorang anak laki-laki kecil yang terlihat sangat girang. Ia menendang bola sendirian ke sana ke mari tanpa ada lawan main.
"Anak itu terlihat sangat lucu ya, Mi?" ucap Ala.
"Iya, dia tampan sekali," tambah Ummi.
Lalu mereka terlibat kembali dengan obrolan ringan tentang masa Ummi yang sudah pernah melaksanakan Haji dengan Almarhum Abi.
Duk
Duk
Duk
Sebuah bola memantul-mantul mendekati Ala dan Ummi yang sedang bercengkrama. Dan, bola itu kini tepat berhenti di kaki Ala.
Ala tersenyum menatap bocah yang kira-kira berusia lima tahunan ini. "Ini bola Adek ya?" tanya Ala.
Namun, anak itu tidak merespon sama sekali. Ala memberi kode pada ibunya untuk menuju tempat bocah tampan itu mematung terus menatap bolanya tadi. Ala mengambil bola tersebut, menyerahkan mainan anak laki-laki ini.
"Ini bolanya ya, Dek?" Ala menyerahkan benda itu langsung ke tangannya.
Anak itu mengangguk dan menerima bola tadi. "Terima kasih," ucapnya.
Ala mengangguk. "Sama-sama." Ala mengacak rambutnya menatap wajah anak ini sangat mirip dengan seseorang.
"Di mana ayah ibunya, Dek?" tanya Ala. Namun, bocah itu tidak memberikan respon.
"Papa Mama?" ulang Ala. Akan tetapi ia masih belum merespon.
"Abi Ummi?" tanya Ala lagi.
"Abi, di sana." Ia menunjuk orang yang tengah duduk pada sebuah kursi roda. Ala melihat dari jauh, seketika langsung terenyuh mengerti kenapa ia bermain sendirian.
"Lalu, Ummi di mana?" Kepala Ala liar mencari sosok wanita yang mengawasi langkah anak ini.
"Ummi, tidak ada." ucapnya.
Mulut Ala membulat kembali mengusap rambutnya. "Ya udah, sekarang mainnya deket-deket Abi aja ya? Jangan jauh-jauh. Nanti Abi kesusahan menjemput kamu."
__ADS_1
Bocah laki-laki itu mengangguk. "Terima kasih, Tante." ucapnya. Setelah itu ia berlari memegang bola menuju ke arah ayah yang tengah menunggu di kursi roda.
"Jangan lari-lari! Nanti jatuh," ucap Ala memperingati bocah itu.
Setelah itu, Ala berjalan kembali pada posisi Ummi yang tengah duduk menunggu pada salah satu bangku di taman ini.
"Huwaaaaaaa ...." Terdengar suara tangisan anak kecil.
Langkah kaki Ala terhenti dan ia memutar tubuhnya. "Astagfirullah ..." Langkah Ala berputar 180 derajat menuju sumber suara.
Ia melihat anak tadi yang bermain bola, jatuh masuk selokan pinggir taman. Dengan langkah cepat ia menuju posisi anak tadi.
Brak
Ala melihat, ayah sang anak jatuh dari kursi rodanya. Ala memandang siapa pun yang ada di sekitar sana, tak ada yang menyadari seseorang yang terjungkir dari kursi roda itu.
Ala mempercepat langkahnya membantu anak kecil yang jatuh tadi. Ala mengangkatnya dan membantu membersihkan pakaian yang ia kotor.
"Cup cup, anak pinter jangan menangis ya? Kan udah besar?" Ala mengusap air matanya.
Bocah itu mengangguk mengusap matanya. Netranya beralih pada sang ayah. "Abiii ... Aaabiii ...." tangisnya melihat ayahnya terhimpit kursi roda yang ia duduki tadi.
Setelah itu, Ala menggandeng anak tadi bergerak secepat mungkin berjalan ke arah pria yang terjatuh dari kursinya.
"Baim ... Baiim ... Tolong anak saya!" teriak pria itu berteriak-teriak karena terkejut mendengar anaknya tiba-tiba menangis dengan sangat kencang.
Ala memanjangkan lehernya mencari orang-orang. Namun, tidak ada yang posisinya lebih dekat sehingga tidak ada yang tahu ada seseorang yang sudah terjatuh di sini.
Ala mulai terlihat kebingungan harus bagaimana. Kalau harus mengejar ke tempat orang yang ramai, malah terlalu jauh dan kasihan orang ini.
"Tolong anak saya!" teriaknya lagi.
"Pak ... Bapak tenang ya? Anak Bapak udah ada di sini." Ala merasa heran karena jelas saat ini bocah ini tepat di sisinya.
"Baim? Baim?" Tangannya menjangkau dan anak kecil tadi berjongkok mengangkat tangan itu ke atas kepalanya.
"Alhamdulillah ..."
Akhirnya, Ala mengerti. Ternyata ayah bocah ini tidak bisa melihat. Wajahnya tidak terlihat jelas, ia hanya bisa melihat sebuah bekas luka yang sangat besar di wajah pria itu. Anak yang tadi di dekat sang ayah, mendekat pada Ala.
"Tante, tolong Abi, Baim. Tolongin, Tante ...." Bocah bernama Baim itu menggoyang-goyangkan rok Ala.
Ala menarik kursi roda yang menimpa ayah Baim hingga pria tadi tak dihimpit lagi oleh benda itu. Ala melirik ke kiri dan ke kanan lagi, masih tidak ada yang berjalan ke arah mereka.
Ala menghela napas panjang. "Bismillah ..."
"Mari, Pak, saya bantu."
Pria itu tersentak mendengar suara Ala. Sementara itu, Ala baru menyadari telinga pria ini sedang terpasang alat bantu dengar. Hati Ala terenyuh, melihat derita pria ini sungguh sangat luar biasa.
Hal berbeda yang dirasakan pria tadi. Hidungnya mencium aroma wangi yang sangat dikenalnya. Namun, ia masih merasa ragu meskipun secara sama ia mendengar suara itu lewat alat bantu yang terpasang di telinganya.
Ala tertatih membantu mengangkat tubuh pria yang lebih besar darinya. Ia fokus tanpa berani melihat wajah itu. Karena ia tak tega melihat wajah itu memiliki luka yang sangat parah.
"Aaagghhh ...." Ala tertatih meletakan pria tadi kembali ke kursi rodanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah ..." ucap Ala bernapas lega setelah berhasil.
"Hum-Humaira?" tanya pria yang ditolongnya tadi.