
Pada jalanan yang diapit oleh rangkaian bukit barisan, sebuah mobil melaju membawa dua insan yang mengulang kasmaran bagai masa baru pacaran seperti dahulu.
Salma memagut satu lengan Syauqi, dan menyandarkan kepalanya pada pundak suami yang menikahinya secara siri. Kendaraan itu melaju di antara senda gurau antara dua sejoli yang merasakan indahnya masa kasmaran. Beberapa tas milik Salma tengah duduk tersusun rapi di bagasi. Mereka memutuskan agar Salma juga turut tinggal di Padang, menyewa rumah di sana, agar Syauqi tidak terlalu jauh mencarinya bila hasratnya tak bisa disalurkan kepada Ala.
"Setiap hari, aku semakin mencintai Abang," kata Salma dengan manja.
"Sepertinya aku juga tidak bisa jauh darimu, Sayang. Aku sangat membutuhkanmu. Aku semakin bergantung padamu." Ia mencium bibir Salma tanpa memperhatikan bahwa mereka sedang berada di jalan yang berisiko tinggi bagi pengeNdara.
Syauqi, yang tengah asyik bercengkrama dengan Salma saat mengemudi, tidak menyadari bahwa ia sedang kurang berhati-hati. Akibat kelalaian tersebut, mobil mereka terbentur hebat dengan pembatas jalan yang cukup tinggi. Benturan itu membuat tubuh mereka terguncang membentur segala sisi yang ada di dalam mobil tersebut.
"Aaagghhhh," rintis Salma terjepit di antara jok yang ia duduki terjungkit dan Salma tersandar di dasbord depan. Dadanya teramat sakit karena benturan bertubi-tubi tadi.
Namun, pria yang tadinya duduk mesra dengannya, ternyata dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tubuhnya terjepit dan pelipisnya mengucurkan cairan kental bewarna merah pekat.
Salma berusala melepaskan dirinya yang tengah terjepit antara jok dan dashbord, tetapi ia tak kuasa melepaskan diri. "Tooolooong! Toolong!" teriaknya.
Orang-orang yang menyaksikan kecelakaan tadi telah berkerumun mengelilingi mobil yang sudah rusak cukup parah. Tak ada bagian yang bisa terselamatkan dan penyok di setiap bagian.
"Ada yang masih sadar! Cepat kita tolong!" ucap warga yang kebetulan melintas juga di sana.
*
*
*
Di tempat lain, Ala duduk di kamarnya dengan pandangan kosong. Ia terus menduga-duga ke mana sang suami pergi dan alasannya. Noda lipstik dan aroma parfum wanita pada pakaian Syauqi sungguh mengganggu pikirannya.
"Apakah itu Salma? Orang yang katanya menjadi sahabat?" Tubuh Ala kembali terguncang dalam tangisan tanpa suara.
"Apakah yang dia mencoba untuk menipuku? Abi, bagaimana ini Abi? Ala sungguh tidak sanggup menjalani ini semua Abi."
__ADS_1
Drrrrtt
Ala tersentak ketika ponselnya bergetar pada nakas di samping ranjang. Ia mengusap air mata dengan cepat, lalu memperhatikan nomor yang tertera tengah memanggilnya. Ala sama sekali tidak mengenal nomor yang tengah menghubunginya.
Dengan ragu-ragu, Ala menjawab panggilan tersebut. "Halo, Assalamualaikum," ucapnya memasang wajah kebingungan.
π²"Walaikumsalam. Apa benar ini nomor istri dari seorang pria bernama Syauqi?"
"Iya, Pak, benar sekali. Saya istri dari pria yang Bapak sebutkan barusan. Ada yang bisa saya bantu?" Ala mendengar suasana orang yang di balik telepon terdengar sungguh sangat ramai. Bahkan, ada suara sirine membuat pikirannya terus melayang pada hal-hal buru.
"Begini, Bu. Suami Ibu tengah mengalami kecelakaan di Sitinjau Lawik."
Degh
"Astaghfirullah, innalilahi wa inna illaihi rajiun." Tangan Ala langsung bergetar dan memegang dadanya.
"Kenapa ia bisa berada di sana, Pak?" tanya Ala semakin bingung dan debaran jantungnya sungguh sangat hebat.
π²"Waah, saya juga kurang tahu, Bu. Yang jelas, saat ini mereka sudah berada di rumah sakit pusat mendapat perawatan darurat."
π²"Suami Ibu dalam keadaan tidak sadarkan diri semenjak kecelakaan itu terjadi. Sedangkan, teman wanita yang satu kendaraan dengannya kini mendapat perawatan medis. Kami harap, Ibu segera datang, dan kami bisa melanjutkan tindak medis berikutnya terhadap suami Ibu.
"Ba-baik, Pak. Saya akan segera ke sana."
Dalam perasaan kacau, Ala mengambil dompet dan memasukannya ke dalam tas. Ia segera menuju rumah sakit tanpa pikir panjang, menggunakan jasa ojek off line yang terlihat olehnya.
Dalam keadaan cemas, Ala segera bergegas meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Ia memanggil ojek secara langsung yang sedang berada di dekatnya. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, ia merasakan gelisah dan takut yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Tiba di rumah sakit, Ala segera mencari informasi tentang keberadaan suaminya. Ia menemui petugas administrasi dan memberikan identitasnya. Petugas tersebut mengarahkannya ke ruang tunggu keluarga di bagian darurat.
Di ruang tunggu, Ala menunggu dengan gelisah. Ia merenung tentang apa yang bisa terjadi pada suaminya dan perempuan yang berada di mobil bersamanya. Segala macam kemungkinan yang buruk menerpa pikirannya, membuat detak jantungnya semakin cepat.
__ADS_1
Akhirnya, seorang dokter mendekati Ala. Ia memperkenalkan diri sebagai dokter yang merawat suaminya. Dokter tersebut memberikan pembaruan tentang kondisi Syauqi.
"Dokter, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Ala dengan suara gemetar.
"Dia mengalami luka parah dan masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kami melakukan semua tindakan medis yang diperlukan untuk stabilisasi. Saat ini, kami sedang menunggu dia sadar dan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut," jelas dokter dengan penuh perhatian.
Ala merasa lega mendengar bahwa suaminya sedang mendapatkan perawatan yang tepat. Namun, kekhawatirannya masih tinggi. Ia bertanya tentang teman perempuan yang ada di mobil.
"Bagaimana dengan teman perempuan yang berada di mobil bersamanya? Bagaimana kondisinya?" tanya Ala dengan cemas.
Dokter memberikan informasi bahwa teman perempuan tersebut juga mengalami cedera serius, namun mereka sedang melakukan segala upaya untuk menyelamatkannya.
Ala mengucapkan terima kasih kepada dokter dan merasa lega bahwa suaminya sedang dalam perawatan yang baik. Namun, keprihatinannya terhadap teman perempuan tersebut tetap menghantuinya.
Dalam keadaan yang penuh ketidakpastian, Ala memohon pada Allah agar suaminya dan teman perempuan tersebut segera pulih dan sembuh. Ia menyandarkan dirinya pada keyakinan bahwa ada harapan di tengah kegelapan.
Ala terus menunggu di ruang tunggu, sambil berdoa dan berharap yang terbaik untuk suaminya dan semua yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.
Mendapat kabar suaminya belum sadar, Ala memilih mencari tahu siapa teman yang ikut celaka bersama suaminya di dalam mobil itu? Namun, saat menyadari, wanita yang tengah diperban kaki dan tangannya itu adalah wanita yang sama persis dengan orang yang bersama suaminya di mall dulu.
"Kamu? Salma, bukan?" tanya Ala melangkah ragu mendekati Salma.
Wanita itu melihat gadis yang baru saja hadir di ruang emergency tempat ia mendapat perawatan. "Ah, ya ... Dari mana kamu tahu?" Sesaat kemudian, ia menyadari sesuatu.
"Bukan kah kamu yang duduk di mall dulu?" Lalu, ia menutup mulut menatap Ala dengan nanar. "Jadi, kamu istri Bang Syauqi?"
"Apa yang terjadi antara suamiku dengan kamu?" tanya Ala dengan suara bergetar.
Salma terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Ala. Ia tak menyangka, gadis yang dulu rusuh di sekitarnya adalah istri Syauqi. Setelah sesaat berpikir, Salma memilih untuk jujur dan mengungkapkan kebenaran.
"Ala, aku harus memberitahumu yang sebenarnya. Bang Syauqi dan aku mempertahankan hubungan yang dulu memang sempat berakhir. Kami, memang sudah melampaui batas selama beberapa waktu. Karena kami saling mencintai. Oleh karena itu, meskipun ia telah menikah, hubungan rahasia ini tak bisa aku pungkiri," ujar Salma.
__ADS_1
"Kami telah menikah tanpa sepengetuanmu."
Bruk ... Ala ambruk dalam tubuh lemah bagai tak memiliki tulang.