Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 71


__ADS_3

Ala merasa terluka dan terkejut mendengar kata-kata kasar itu. Air mata mulai mengalir di pipinya, tetapi dia tetap diam. Dia tidak ingin memperpanjang perselisihan ini atau mengikutsertakan dirinya dalam drama keluarga yang rumit.


Rafatar segera mendekati mereka, mencoba menenangkan situasi. "Apa, Ama, sudahlah. Ini adalah momen yang berharga bagi kita sebagai keluarga. Mari kita lepas masa pelik itu dan fokus pada kebahagiaan kita sekarang. Ala adalah istriku dan ibu dari anak-anakku. Aku harap Ama menghormati dan menghargainya layak aku yang menjadi anak Ama."


Ummi, yang menyadari bahwa perseteruan ini hanya akan merusak suasana, ia pun mengangguk setuju. "Kamu benar, Rafatar. Mari kita berdamai dan menghargai peran masing-masing dalam keluarga ini."


Apa masih terlihat marah, tetapi akhirnya dia mengalah. Dia tahu bahwa melanjutkan perseteruan ini hanya akan merugikan mereka semua. "Baiklah, aku akan mencoba memaafkanmu, Ma. Tapi jangan pernah lagi menyakiti Fatar dan istrinya. Harusnya kamu bersyukur ada yang mau mengurus anakmu dengan baik. Jangan kamu marahi terus."


Venna mengangguk tetapi entah benar-benar tulus atau tidak. "Terima kasih, Pa. Ama tidak pernah bermaksud menyakiti siapapun. Ama hanya berharap keluarga kita dan menantu kita beriringan dengan selaras. Jika ilmu yang Ama berikan diterima dengan baik, bukan kah hasilnya akan baik juga."

__ADS_1


"Tapi, Ma. Apa yang kamu pikirkan baik, belum tentu baik bagi orang lain. Setiap orang memiliki kondisinya sendiri-sendiri, dan sebagai orang luar kita tidak bisa memaksakan apa yang ada di pikiranmu."


Ama menundukan kepalanya. "Maaf, Pa," ucapnya lagi.


Meskipun suasana masih tegang, mereka semua mencoba untuk melanjutkan syukuran dan aqiqah ini dengan cara yang lebih tenang. Mereka menghabiskan waktu bersama anak-anak panti asuhan, bermain dan berbagi kebahagiaan.


Setelah semua usai, semua kembali ke rumah masing-masing. Rafatar mendekap istrinya dengan penuh kehangatan. "Sayang, sekali lagi aku ingin meminta maaf atas sikap Ama kepadamu. Jujur, aku merasa sangat sedih Ama tidak memperlakukan kamu seperti Ummi memperlakukanku dengan baik. Tapi aku yakin, suatu hari nanti, Ama pasti akan benar-benar berubah."


Rafatar tersenyum lembut. "Aku menghargai keunikanmu, Sayang. Dan aku yakin dengan caramu yang penuh perhatian, suatu saat nanti Ama juga akan bisa melihat kebaikanmu. Kita harus tetap sabar dan terus berusaha memperbaiki hubungan ini."

__ADS_1


Ala mengangguk setuju. Mereka berdua saling memberikan dukungan dan janji untuk tetap kuat dalam menghadapi tantangan ini.


Dalam beberapa bulan mendatang, Ala dan Rafatar terus berupaya membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarga Rafatar. Mereka melibatkan diri dalam kegiatan keluarga dan mencoba mempererat ikatan dengan mertua dan sanak-saudara Rafatar lainnya.


Perlahan tapi pasti, suasana di antara mereka mulai membaik. Venna, meskipun masih skeptis, mulai melihat sisi positif dari peran Ala dalam keluarga mereka. Meskipun masih ada gesekan kecil di antara mereka, mereka belajar untuk saling menghormati dan mencari jalan tengah.


Apa, meskipun masih terkadang tidak sepenuhnya menerima Ama, juga mulai melihat upaya Ama dalam membangun hubungan yang harmonis dengan Ala, menantu mereka.


Baginya, Ala adalah pendamping yang setia bagi Rafatar karena telah nyata memperlihatkan keteguhannya di mana Rafatar dipenjara oleh tim jaksa kala Ala sedang hamil muda. Ala adalah ibu yang penuh cinta bagi anak-anak, karena terbukti bahwa anak-anak panti banyak yang dekat dengannya.

__ADS_1


"Ma, harusnya kamu belajar banyak pada menantu kita. Dia masih bisa mengurus keluarga meskipun tetap menjalani kariernya di luar rumah. Bahkan, dia tidak menggunakan jasa ART. Itu sungguh sangat luar biasa."


Venna mendengkus kesal mendengar suaminya terus saja memuji Ala. 'Untuk sementara diiyain aja dulu. Masa seorang Venna disuruh belajar kepada Ala? Terlalu cepat seribu tahun, itu!' batin Venna kesal.


__ADS_2