
Rafatar tersentak mendengar keinginan Salma. Ia tak menyangka ada wanita dengan gamblangnya menawarkan diri pulang ke rumahnya.
"Maksud Ibu, apa? Kenapa harus ke rumah saya?"
"Hmm, saya butuh rumah untuk berteduh, Pak. Jika ada pekerjaan di rumah Bapak, saya akan sangat bersedia untuk mengerjakan segala hal yang saya mampu. Seperti membersihkan rumah dan memasak."
Rafatar menilik kembali wanita yang pertama kali ditemuinya ini. Rafatar melihat Salma dengan penuh kejutan. Permintaannya untuk tinggal di rumah Rafatar terdengar tak terduga. Ia mempertimbangkan situasi dengan hati-hati sebelum memberikan jawaban.
"Bu Salma, saya mengerti bahwa Ibu sedang dalam situasi sulit, tetapi saya harus memikirkannya dengan matang. Saya juga memiliki keluarga dan tentu beriringan dengan tanggung jawab terhadap keamanan mereka. Saya takut keputusan ini akan mempengaruhi dinamika rumah tangga kami."
Salma merasa kecewa dan tidam menerima keputusan Rafatar di dalam hatinya. "Saya mengerti, Pak. Saya memang bukan siapa-siapa di sini. Saya hanya wanita menyedihkan yang dibuang oleh suami. Saya dapat memahami perasaan Bapak yang mencintai keluarga Bapak." Salma menganggukan kepala dan memutar badan dan mulai melangkah pelan. Di dalam hatinya mulai menghitung berapa lama Rafatar akan memanggilnya.
"Tunggu!" ucap pria tampan yang baru saja menolak permintaannya.
Salma menghentikan langkah dan senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. "Kenapa lagi, Pak? Saya akan melanjutkan perjalanan. Maaf sudah mengganggu, Bapak." Meski nada yang dibuatnya terkesan menyedihkan, tetapi rautnya tidak sama sekali. Matanya melirik mencoba membaca gerakan orang yang akan dimangsanya.
"Bu Salma sudah memiliki tujuan? Atau saya antarkan ke terminal? Biar bisa naik bis untuk pulang kampung?" ucap Rafatar.
"Ck!" Salma berdecak dengan raut kesalnya. Namun, ia mencoba untuk tidak menyerah.
"Tidak usah, Pak. Terima kasih untuk perhatian Bapak. Saya akan mencoba menggunakan ijazah sarjana yang saya miliki. Semoga, saya memiliki rezeki di kota ini." Salma memutar badannya kembali menatap Rafatar dengan raut pasrahnya.
__ADS_1
Sementara itu, Rafatar memasang muka heran mendengar pengakuan Salma barusan. "Jadi Ibu ini sarjana? Kenapa tidak memanfaatkan ijazahnya semenjak dulu?"
"Saya hanya ingin berbakti kepada suami saya saja, Pak. Namun, kenyataan yang saya dapatkan sungguh sangat kejam. Suami saya ternyata malah mengusir saya setelah menalak saya. Saya harus menyambung hidup demi anak," ucapnya lagi.
Rafatar menjadi semakin kasihan melihat Salma dan anaknya. "Kalau saya boleh tahu, Ibu dulu kuliah di mana?"
"Apakah Bapak bisa mempekerjakan saya?"
"Ya, tergantung. Jika jurusan Ibu dibutuhkan, akan saya usahakan. Jika tidak, mungkin saya akan meminta bantuan kepada yang lain," ucap Rafatar.
"Dulu saya kuliah di Mesir, Pak."
Wajah Rafatar semakin terkejut mendengar ucapan Salma barusan. "Waah, lulusan luar negeri? Keren sekali!" ucap Rafatar refleks. "Lalu jurusan apa?"
Kali ini Rafatar kembali memberi reaksi terkejutnya. "Jadi, Ibu pernah mengajar di pesantren?"
"Iya, Pak. Tapi, waktu itu hanya sebentar dan saya fokus menjadi ibu rumah tangga. Namun, sepertinya saya akan mencoba kembali bekerja," ucap Salma hati-hati mencoba membaca apa yang ada di kepala Rafatar.
"Jika Ibu adalah lulusan pertanian, mungkin saya belum bisa membantu."
Salma yang mendengar ucapan Rafatar dengan penuh harap, kini menjadi layu. Ia mulai merasa putus asa karena tidak menemukan celah untuk terus berada di sisi pria tampan ini. "Baik lah, Pak," ucapnya pasrah.
__ADS_1
"Namun, jika Ibu memiliki pengalaman mengajar Bahasa Arab, siapa tahu istri saya bisa membantu, Ibu," ucap Rafatar lagi.
"Istri? Jadi Bapak sudah memiliki istri?" Salma mengulangi dengan nada kecewa.
'Yah, sayang sekali,' batin Salma.
"Iya, alhamdulillah sudah memiliki seorang putra juga," tambah Rafatar dengan ringan.
"Istri Bapak pasti sangat beruntung memiliki suami seperti Bapak," puji Salma, meski tak rela.
"Kenapa begitu?" tanya Rafatar terkekeh.
"Karena Bapak terlihat sangat bertanggung jawab terhadap keluarga, dan sepertinya sangat menyayangi keluarga. Tidak hanya itu, Bapak juga terlihat gagah, dia pasti sangat bersyukur memiliki suami seperti Bapak," ucap Salma lagi.
"Justru saya merasa sangat bersyukur memiliki istri saya laksana bidadari surga. Tak ada wanita yang seperti dia. Dia sangat tangguh dan begitu setia mendampingi saya, baik suka maupun duka. Dan, saya rasa istri saya bisa memberikan jalan untuk masalah yang Ibu alami," ucap Rafatar sumringah.
Ia segera mengeluarkan ponsel menghubungi sang istri. Sejenak ia meminta izin dari Salma berbicara sedikit menjauh darinya.
Salma tak henti memperhatikan ekspresi Rafatar yang sedang berbicara dengan seseorang yang ada di ujung panggilan. "Dia benar-benar mencintai istrinya. Itu saat ini, belum tentu nanti," gumam Salma.
Rafatar menyudahi panggilan dan mendekat kembali kepada Salma. "Alhamdulillah istri saya ingin bertemu dengan Ibu. Dia ingin melihat kemampuan Bahasa Arab Ibu, karena dia sedikit merasa ragu jurusan Ibu katanya tidak linier dengan mata pelajaran yang akan diampu. Namun, ayo ikut saya. Siapa tahu istri saya memberikan kesempatan kepada Ibu."
__ADS_1
Salma merasa cukup kebingungan. Namun, ia tetap mengikuti Rafatar dan masuk ke dalam kendaraan yang dikemudikan Rafatar tadi. Kendaraan itu pun mulai memasuki halaman sebuah rumah yang cukup luas, membuat Salma semakin terkesima.
Seorang wanita berhijab muncul dari dalam rumah. Ia sangat terkejut saat melihat wajah istri dari Rafatar ini.