
"La, cengengesan mulu kayak orang kesurupan?" tanya Wawa yang menggoyang lengan Ala minum jus yang ada di hadapannya.
"Eh, ganggu aja?" ringis Ala menyibak tangan Wawa yang mengganggu angannya.
"Mikirin apa hayo? Atau jangan-jangan ..."
Ala menatap Wawa yang masih terus menggodanya. "Apa pun yang kamu pikirkan, itu salah!" sanggah Ala lebih dulu.
"Aku belum mengatakannya!" elak Wawa.
"Aku bisa membaca pikiranmu," ucap Ala memandang Wawa penuh curiga.
"Enggak, ah! Emang kamu pikir aku mikirin apa coba?" Wawa kembali menggoyang lengan Ala.
"Tau ah!" Ala menyedot kembali jus yang tepat berada di hadapannya.
Tanpa mereka sadari, ada sosok yang sedari tadi diam memperhatikan mereka. Rafatar yang duduk bersama teman kampusnya, tak mengedipkan matanya sedikit pan pada gadis berkerudung itu.
Orang-orang yang datang bersamanya saling memberi kode menatap Rafatar yang mematung, tetapi terlihat sedih memandangi gadis yang ia dekati beberapa waktu terakhir.
"Hentikan, Bro! Nggak etis lu terus menunggu dan mengharapkan dia! Kita semua sudah tahu kalau dia itu wanita yang tidak boleh untuk kita dekati! Lu tau kan gimana ketatnya keluarga dia? Suaminya aja seorang guru pondok pesantren, Bro! Jangan terus memikirkan dia!" tegur salah satu teman Rafatar dengan nada serius.
Rafatar menarik napas dalam-dalam, mencerna kata-kata temannya. Dia menyadari betapa rumitnya situasi ini dan bagaimana tindakannya bisa mengganggu kehidupan dan reputasi gadis berkerudung itu. Namun, perasaan yang tumbuh di dalam hatinya begitu kuat dan sulit untuk diabaikan.
"Diketahui atau tidak diketahui, perasaan ini ada, Bro," kata Rafatar dengan suara pelan namun penuh dengan ketegasan. "Gue gak pernah berniat untuk merusak apapun dalam hidupnya. Gue hanya berharap bisa menunjukkan rasa sayangku kepadanya, meski hanya dalam diam."
Teman-temannya saling pandang, mengerti bahwa Rafatar sedang berjuang dengan perasaannya sendiri. Mereka tahu betapa sulitnya melawan cinta yang tak terungkap, tetapi mereka juga khawatir tentang konsekuensi dari tindakan Rafatar.
"Nggak mudah, Bro. Tapi lu harus memilih jalur aman aja deh. Lebih baik melindungi hati dan menghormati pernikahannya," kata teman Rafatar yang lain dengan bijak.
Rafatar mengangguk perlahan, mengucapkan terima kasih pada teman-temannya yang selalu memberikan nasehat yang baik. Meskipun hatinya terluka, dia tahu bahwa keputusan yang bijak adalah menjaga jarak dan tidak memperburuk situasi yang sudah rumit.
"Gue akan berusaha melakukannya," ucap Rafatar dengan tekad yang bulat. "Gue akan menjaga jarak dan berusaha mencari kebahagiaan di tempat lain. Mungkin ada cahaya baru yang menanti di masa depan."
*
*
__ADS_1
*
Saat sore hari, Ala mendapat pesan dari suaminya, Syauqi.
Sy: [ Kamu kuliah jurusan apa fakultas apa? ]
Hm: [ Aku di fakultas teknik ]
Sy: [ Teknik? Kok bisa? Banyak mahasiswa laki-laki dong yang mengelilingi kamu? ]
Hm: [ Iya, memang benar. Tapi ini adalah pilihan dan cita-citaku semenjak dulu. Uda tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri dan hati. ]
Setelah centang dua berubah menjadi biru, beberapa waktu Ala menunggu jawaban. Namun, pesan terakhirnya tak kunjung dibalas lagi.
"Hmm, Uda kenapa ya? Bahkan, Uda tidak tahu jurusan kuliahku." Ala menghela napasnya berjalan ke bagian depan karena jam kuliah hari ini sudah usai.
Hari masih siang, dia sudah memikirkan rencana untuk sore ini. Ia ingin ke pasar terlebih dahulu, membeli bahan untuk dimasak hari ini. Ia mencoba membuka buku resep yang tadi dibeli di koperasi kampus. Kakinya terus melangkah menyusuri trotoar di pinggir jalan dalam area kampus.
Ia tak menyadari ada jalan rusak di hadapannya, terus memeriksa tas. Dan, kakinya masuk ke lubang membuat tubuhnya oleng. "Aaaahhh—?"
Dari arah belakang, pergelangan tangan Ala ditahan oleh seseorang agar tubuhnya tak jadi jatuh. Setelah tubuh Ala seimbang, ia menoleh pada orang yang menolongnya tadi. "Uda?" Ala buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman seniornya ini.
"Ah, harusnya aku mengucapkan terima kasih kepada Uda. Jadi, Uda tidak perlu meminta maaf." Ala masih mengusap pergelangan tangannya yang tadi sedikit sakit karena tergenggam erat oleh tangan Rafatar.
"Kalau begitu, kamu harus hati-hati. Aku pergi dulu." Rafatar segera meninggalkan Ala, yang merenung dalam kebingungan. Ala melanjutkan perjalanannya menuju Halte.
"Ekhem!" Sebuah suara terdengar dari arah belakang Ala.
Ala menghentikan langkah, menyangka orang yang sama masih mengikutkinya. "Ada apa Uda?" Wajah Ala melongo, karena orang yang ada di belakangnya bukan orang yang tadi menolongnya.
"Uda? Kenapa ada di sini?" tanya Ala bingung melihat wajah datar menatapnya dengan dingin.
"Siapa yang tadi memegang tanganmu?" tanya Syauqi, suaminya. Ada semburat merah dalam sikapnya itu seakan menahan sesuatu.
Ala merasa tertegun mendengar pertanyaan Syauqi. Dia melihat suaminya dengan campuran kebingungan dan kekhawatiran di wajahnya. "Uda, maaf, dia hanya seorang senior yang menolongku ketika aku hampir terjatuh. Ala tidak memiliki hubungan khusus dengannya."
Syauqi menatap Ala dengan pandangan tajam. "Apa kamu yakin? Kenapa kau terlihat canggung saat bersamanya tadi?"
__ADS_1
Ala mencoba menjelaskan dengan cepat, "Ala hanya terkejut karena tidak menyangka dia yang menolong dengan tiba-tiba begitu. Namun, kalau tidak ada dia, Ala pasti sudah kesakitan jatuh di sana. Ala tidak punya alasan untuk menyembunyikan apapun dari Uda."
Syauqi menghela napas dalam-dalam, ekspresinya tetap tegang. "Aku khawatir, Humaira. Ada begitu banyak pertanyaan di benakku. Apalagi ini adalah kampus yang mayoritas berisi mahasiswa laki-laki. Kamu itu perempuan, dan kamu itu istriku! Cam kan itu!"
Ala merasa sedih dan kecewa melihat keraguan dalam pikiran Syauqi. Dia ingin membuktikan kesetiaannya, tetapi kesalahpahaman itu telah menanam benih ketidakpercayaan di antara mereka. Dalam keheningan yang menyakitkan, mereka berdiam diri satu sama lain di dalam mobil.
Sungguh Ala merasa bahagia kala suaminya memberikan kejutan indah seperti ini untuk menjemputnya. Namun, situasi ini sunggu terasa sulit.
'Kenapa harus ada Uda Rafatar, tadi? Harusnya aku jatuh saja? Agar Uda Uqi tidak memikirkan yang tidak-tidak terhadapku,' batinnya.
Ala mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia menyadari bahwa dia telah berbicara secara jujur dan terbuka kepada suaminya agar tidak terjadi kesalahpahaman ini. Ketika mereka tiba di rumah, Ala sama sekali tidak bergerak untuk turun.
"Uda, Ala mengerti kekhawatiran Uda. Namun, Ala ingin Uda tahu bahwa Ala hanya cintai dan setia kepada Uda. Uda Rafatar tadi, hanya senior di kampus yang membantu agar istri Uda tidak kesakitan. Kalau dia tidak ada, mungkin Ala sudah kesakitan dan terluka."
Syauqi terlihat masih ragu, tetapi ekspresinya sedikit melunak mendengar ungkapan cinta dari istrinya. "Humaira, hmmm, sebenarnya aku juga mulai mencintaimu. Karena itu rasa cemburu dan kekhawatiran menguasai pikiranku. Suami mana yang rela istrinya dipegang oleh pria lain?"
Ala mengambil tangan Syauqi dengan lembut. "Uda, mari kita bekerja sama mengatasi hal ini. Kita harus membangun kepercayaan yang lebih kuat dalam hubungan kita. Ala siap memberikan penjelasan dan memberikan kepastian kepadamu. Kita harus saling mendukung dan berbicara terbuka satu sama lain."
Syauqi memandang Ala dengan penuh cinta dan kemudian menggenggam tangannya dengan erat. "Baiklah, Humaira. Semoga hal ini tidak terjadi lagi." Syauqi perlahan mendekat pada Ala dan memeluk tubuh sang istri.
"Kenapa semua wanita selalu wangi?" gumam Syauqi mengecup pucuk kepala sang istri.
"Semua wanita? Apa masih teringat pada mantanmu itu?" Suara Ala tiba-tiba berubah ketus.
Syauqi baru menyajadi telah salah berbicara. "Oh, maaf. Bukan itu maksudku."
Ala merasa tersinggung oleh komentar Syauqi tentang wanita pada umumnya dan perasaan cemburu mulai muncul dalam hatinya. Dia mencoba mengendalikan emosinya sebelum berbicara.
"Uda, jujur Ala merasa sedikit terganggu dengan komentar soal aroma wangi itu. Mengeneralisasi tentang wanita berdasarkan pengalaman masa lalu bukanlah cara yang baik untuk membangun kepercayaan di antara kita. Setiap orang unik, dan aku berharap kita dapat fokus pada hubungan kita sendiri tanpa dibayangi oleh masa lalu atau prasangka."
Syauqi melepaskan pelukannya dan mengerti ekspresi kekecewaan di wajah Ala. "Humaira, aku kan sudah minta maaf padamu. Kenapa malah memperbesar masalah kecil itu?"
Ala yang tadinya ingin pergi ke pasar memasak untuk suami tercintanya, kini bagai hilang gairah dan membuka pintu mobil itu turun berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Ia menghempaskan diri ke atas ranjang dengan kasur empuk itu memeluk bantal.
"Kenapa dia selalu seperti itu? Bukan kah aku sudah berusaha untuk terus mengalah padanya? Kenapa dia mengatakan aku suka membesarkan masalah?" tangisnya membenamkan wajah di dalam bantal.
Krek
__ADS_1
Terdengar suara pintu kamar ini dibuka dari arah luar. Perlahan pria itu masuk dan memandang istrinya yang jelas sedang menangis.
"Humaira, apa lagi yang kamu tangisi? Bukan kah kita sudah berjanji untuk menata semuanya kembali?"