
Ustadz Candra yang baru saja menghubungi Ummi, berusaha menenangkan suasana Pondok Pesantren ini yang sedikit memanas. Ia memberi tahukan kepada civitas akademika, baik santriwan, santriwati, majelis guru, dan karyan bahwa mereka sedang menjalani masa penjajakan, alias ta'aruf. Sehingga membuat semua orang yang tadinya sempat heboh kala Ala dibawa pria yang bukan mahram, kini terlihat bernapas lega dan mendukung mereka.
Namun, suasana sungguh berbeda di antara mereka. Ala tak bergeming karena rasa malu yang luar biasa, membayangkan apa yang akan beredar pada esok harinya.
Saat ini, Ala berada di dalam mobil Rafatar. "Kenapa Uda tidak menghubungi aku aja? Biar aku yang keluar menuju tempat keberadaan Uda. Uda tahu sendiri, di sini itu Pondok Pesantren, tempat di mana kami mendidik anak-anak dengan ilmu agama. Tapi, masa melihatku dijemput oleh seorang pria yang bukan suami?"
Rafatar memandang Ala dengan penuh pengertian. "Maafkan aku, Ala. Aku benar-benar tidak memikirkan dampaknya yang bisa menimbulkan kesalahpahaman di sana. Aku sangat mengerti betapa berharganya lingkungan itu bagimu dan bagaimana nilai-nilai agama dijaga dengan sangat ketat di sini. Aku seharusnya berkomunikasi denganmu lebih baik sebelum mengambil keputusan ini."
Rafatar menarik napas dalam-dalam sejenak sebelum melanjutkan, "Aku ingin kamu tahu bahwa niatku adalah baik. Aku ingin membuktikan bahwa aku serius dengan hubungan kita dan ingin melibatkan keluarga kita di dalamnya. Tapi aku mengerti perasaanmu dan rasa malumu. Maafkan aku atas ketidaknyamanan ini."
Ala menatap Rafatar dengan perasaan campur aduk. Ada ketegangan di wajahnya, tetapi juga ada keraguan yang terlihat jelas. "Aku tahu, Uda. Tapi, Uda juga harus mengerti betapa beratnya situasi ini bagiku. Aku sudah pernah merasakan kegagalan dalam pernikahan sebelumnya, dan aku takut menjadi sorotan dan mendapat cacian dari lingkungan ini."
Rafatar mengepalkan tangannya dengan lembut. "Aku mengerti betapa sulitnya bagimu, Ala. Tapi izinkan aku membuktikan bahwa aku akan menjagamu dengan baik. Izinkan aku memperjuangkan hubungan ini bersamamu. Aku siap menghadapi apa pun yang akan datang, selama aku memiliki kamu di sisiku."
Ala masih terlihat ragu, tetapi ada kilatan harapan di matanya. Dia mencoba mengatasi rasa malu dan keraguan yang menghantuinya. "Aku butuh waktu, Uda. Waktu untuk memperoleh kepercayaan diri dan menghadapi reaksi orang-orang di sekitar kita. Aku tidak ingin terburu-buru, tapi jika kamu benar-benar serius, kamu harus siap menghadapinya bersama-sama."
Rafatar menatap Ala dengan tulus. "Ala, aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku baru saja ke rumahmu, meminta izin kepada Ummi secara pribadi. Ummi mengizinkanku untuk mengenalmu lebih dekat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jika kamu yakin untuk lanjut bersamaku, maka tak perlu berlama-lama lagi untuk kita mengikatnya dengan resmi dan halal."
Ala merasa tersentuh. Euforia ini sungguh berbeda dengan yang diberikan oleh Syauqi dulu. "Uda, yang aku butuhkan hanya lah orang yang tulus. Hanya memiliki aku di dalam hatinya. Jika Uda terikat dengan percintaan masa lalu, aku akan memilih mundur."
"Aku tak ingin, dua kali menikah, ternyata keduanya masih terikat dengan masa lalunya. Aku sungguh tidak kuat, jika itu terjadi lagi. Makanya, sebelum hubungan ini semakin dekat, lebih baik kita berdua saling memikirkan apakah kita layak untuk menjalin hubungan yang lebih sakral." Ala menunduk memainkan jemarinya, ada keraguan yang sungguh mengganggu pikirannya.
Rafatar merasakan keraguan dalam kata-kata Ala. Tangannya, terasa gatal ingin menarik dan memasukannya ke dalam genggamannya. Namun, ia segera menahan diri, karena ia tahu bahwa Ala pasti akan marah.
__ADS_1
"Ala, aku mengerti kekhawatiranmu. Aku sangat serius dengan hubungan ini, dan aku memastikan tidak akan membawa beban masa lalu ke dalamnya. Karena, di dalam masa laluku hanya ada nama Humaira, alias Ala."
Ala mengangkat pandangannya, menatap Rafatar dengan perasaan campur aduk. Ada keraguan yang masih terlihat, tetapi juga ada keinginan untuk percaya dan mencoba kembali.
"Uda, kenapa Uda berkata seperti itu? Kenapa ada aku dalam masa lalu Uda? Padahal kita tak memiliki hubungan istimewa dalam bentuk apa pun."
Rafatar melirik tangan Ala dengan erat. Sejenak, ia menggigit bibirnya berusaha untuk menahan diri. "Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa hatiku hanya ada kamu, begitu juga pikiranku selalu teringat saat bersamamu, meskipun aku tak pernah kamu anggap. Kali ini, kesempatan yang ada tak akan lagi aku sia-siakan! Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuktikannya. Aku ingin menjadi pilihanmu yang terbaik."
Ala merasakan kehangatan dalam hatinya. Ada kerinduan dalam hatinya untuk menemukan cinta sejati dan kebahagiaan yang tak tergoyahkan. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mempertimbangkan semuanya dengan bijaksana dan mengikuti hatinya.
"Baik lah, Uda. Jika Uda memang berkata demikian, ayo ... aku ingin mengenalmu lebih baik lagi. Tentunya dengan cara yang baik dan tidak menyeleweng dari yang telah ditentukan agama."
Rafatar akhirnya merasa kelegaan yang teramat hebat. Akhirnya, mulut Ala mengatakannya dengan nyata untuk mencoba memberikan jalan untuk saling mengenal.
Ala mulai terlihat gugup. Namun, ia mengangguk dan tersenyum. Mobil pun melaju memasuki halaman rumah keluarga Rafatar.
"Mari kita hadapi ini bersama, Ala. Aku akan selalu ada di sampingmu, mendukungmu, dan menjaga hatimu dengan baik. Aku berharap kita bisa membangun hubungan yang kuat, penuh cinta, dan berkah. Bersama-sama, kita bisa melewati setiap rintangan dan mencapai kebahagiaan yang kita impikan."
Ala merasa semakin nyaman dengan kehadiran Rafatar. Dia memegang ujung baju Rafatar tersenyum malu.
Ala merasa tegang saat memasuki rumah Rafatar dan bertemu dengan Ama. Namun, Ama tidak memberikan tanggapan yang baik atas kehadiran Ala. Dia terlihat ragu dan tidak senang dengan keputusan Rafatar membawa Ala ke rumah.
"Apa maksudmu membawa perempuan ini ke rumah kita, Rafatar?" tanya Ama dengan nada tajam dan penuh ketidakpercayaan.
__ADS_1
Rafatar mencoba menjelaskan dengan tenang, "Ama, aku ingin memperkenalkan Ala sebagai seseorang yang istimewa dalam hidupku. Kami sedang menjalani masa penjajakan untuk membangun hubungan yang halal dan berkah."
Namun, Ama tetap skeptis. "Bagaimana aku bisa yakin bahwa dia adalah wanita yang pantas untukmu? Dia adalah janda, sudah berapa kali Ama katakan? Apa kamu tidak mendengar apa yang Ama pinta? Cari istri itu bukan istri orang dan bukan mantan istri orang! Kamu ini mengapa tidak mau mengikuti perintah Ama?" Suara sang ibu begitu menggelegar memenuhi ruangan yang mereka tempati.
Hal itu membuat Ala merasa tersinggung dan sedih mendengar perkataan Ama. Namun, dia tetap mencoba menjaga ketenangan dan mengungkapkan keinginannya dengan hormat.
"Ama, saya memahami kekhawatiran Ama. Namun, pernikahan sebelumnya adalah bagian dari masa lalu saya. Saya telah belajar banyak dari pengalaman itu dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya yakin bahwa dengan dukungan dan cinta dari Rafatar, kita bisa membentuk keluarga yang bahagia dan harmonis."
Rafatar juga ikut menambahkan, "Ama, tolong berikan kesempatan kepada kami berdua. Aku sungguh mencintainya dan berkomitmen untuk menjaga dan membahagiakannya. Aku yakin jika Ama mengenalnya lebih baik, Ama akan melihat kebaikan dan kualitas luar biasa yang dimiliki Ala."
Ama masih terlihat ragu, tetapi ia mulai mempertimbangkan kata-kata Rafatar dan melihat rasa serius dalam mata putranya.
"Tapi, Fatar, kamu harus tahu bahwa Ama ingin yang terbaik buat kamu. Jangan sampai kamu terluka hanya karena salah pilih pasangan. Ck, apalagi pasanganmu janda. Mentang-mentang tahu anak saya tampan dan kaya, lalu dengan mudah deket-deket lalu ditangkap diajak nikah? Gaya sih islami, tapi kelakuannya ... Ck ..." Ama menatap Ala dengan tajam dari kepala hingga kaki.
Ala merasa terpukul dan terhin4 atas apa yang baru saja dilontarkan ibu dari pria yang inginkannya untuk lebih dekat. Dia merasa bahwa kesalahannya adalah menjadi seorang janda dan menurut sang ibu, ia tidak layak untuk Rafatar. Ala mencoba untuk teguh, tetapi pasrah. Ala sendiri sudah mempersiapkan diri memikirkan ini mungkin saja bisa terjadi.
"Baik lah, Ama ... maksudku, Bu ... Jika Ibu tidak mengizinkan kami untuk lebih lanjut, saya tidak akan memaksa." Ala bangkit menundukan kepala petanda hormat. "Assalamualaikum," ucapnya berlalu keluar dari rumah ini.
"Ala, tunggu!" Rafatar mencegat kepergian Ala.
"Jangan kejar dia, jika kamu tidak mau di-cap malin kundang!" teriak Ama dengan amarah.
Meskipun hatinya terluka, Ala tetap tegar dan menjaga kehormatannya. Dia menyadari bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginan dan mungkin ini adalah takdir yang harus dia hadapi. Ala menerima keputusan ini dengan lapang dada dan memilih membatalkan segala rasa yang masih belum terlalu ia terima.
__ADS_1