Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 48


__ADS_3

Rafatar diam sejenak, merenungkan kata-kata Ala. Dia menyadari bahwa kebahagiaan dan keberhasilan Ala juga penting dalam hubungan mereka.


"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu terlalu lelah. Dari pagi sampai sore harus bekerja di luar, sore sampai pagi mengurus rumah tangga," ucap Rafatar.


Ala tersenyum sedikit merasa tenang akan setelah mendengar alasan suaminya. "Uda, saat ini selain belum ada orang yang bisa menggantikan kepengurusan yayasan Pondok Pesantren, pada pundakku ini tengah menopang banyak kehidupan. Jika aku berhenti, semua orang yang menjadi tanggunganku akan terkatung-katung. Ummi dan Aulia pasti kebingungan dan tak ada yang membiayai."


"Sementara itu, Alya dan suaminya juga masih belum bisa dikatakan mapan. Karena itu, kali ini aku memohon, Uda, izinkan aku untuk tetap menjalankan kedua kewajiban sekaligus," pinta Ala.


Rafatar menatap Ala yang terlihat bimbang. Ia tak menyangka, istrinya ini menjalani hidup yang cukup berat sebagai tulang punggung keluarga. Ia menghela nafas dalam, memahami beban yang ditanggung Ala.


"Sayang, aku minta maaf karena kurang memahami situasimu. Ternyata, selama ini kamu menjalani hidup dengan sangat berat."


Rafatar memeluk istrinya kembali mengusap rambutnya yang harus digerai bila hanya berdua saat di rumah. "Aku mengerti bahwa kamu memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keluarga dan yayasan Pondok Pesantren. Aku mendukungmu sepenuhnya."


Ala mengulas senyuman lega dalam pelukan Rafatar. "Terima kasih, Uda. Aku sangat beruntung memiliki suami seperti kamu."


"Tuh kan? Kamu baru menyadarinya sekarang? Kalau dari dulu kamu menyadarinya, mungkin kamu tidak akan pernah merasakan sakit." Rafatar terkekeh dan pelukan mesra dilepas kala melihat waktu bergerak semakin siang.


Ala tersenyum bahagia, merasa diberi kekuatan oleh cinta dan dukungan Rafatar. "Aku mandi dulu, ya?"


"Tunggu!" Rafatar menarik tangan istrinya dan mencium kening Ala dengan penuh kasih sayang. "Kita adalah tim yang tak terpisahkan. Aku sudah tidak sabar menambah anggota agar tidak hanya berdua saja."


Ala menarik pipi Rafatar gemas. "Kita baru menikah kemarin, kamu udah minta nambah anggota aja? Kita jalani dan syukuri dulu masa kita berdua ini. Agar kita semakin memahami dan mengenal satu sama lain, baik luar, mau pun dalam."


Rafatar tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya. Ala meronta dalam dekapan Rafatar.


"Uda?" Ala seakan sudah paham apa yang diinginkan sang suami.


"Katanya ibada di pagi hari bisa menambah kelekatan suami istri," Rafatar mengecup pipi istrinya dalam gendongan.


Ala hanya bisa tersipu malu menyembunyikan wajah dalam dada suaminya. "Nanti aku telat bagaimana?"


"Alhamdulillah kalau kamu langsung telat, itu rezeki," ucap Rafatar berkonotasi lain.


*

__ADS_1


*


*


Kehidupan mereka pun dijalani dengan penuh kesibukan. Bahkan, Ala jauh lebih sibuk dibanding Rafatar, yang seorang CEO.


Pagi hari mereka sekedar sarapan roti telur, dan siang makan di lokasi kerja masing-masing. Sore hari Ala pulang, langsung mampir di toko kelontong beli bahan masakan untuk masak sore hari.


Satu bulan pernikahan telah mereka jalani sebagai pasangan, dan semua masih aman dan tentram. Pada akhir pekan, kala Ala mengajak suaminya untuk main ke rumah Ummi. Ketika akan berangkat, kendaraan mertuanya telah terparkir di halaman rumah mereka.


"Assalamualaikum," ucap Ama turun dari mobil, disusul oleh Apa.


"Walaikum salam," ucap Ala langsung mendekati kedua mertua mencium tangan mereka.


Ama memperhatikan Ala dari atas hingga ke bawah. "Mau ke mana? Kok rapi? Mau jalan-jalan lagi? Jadi ini tah kerjanya tiap minggu sampai-sampai nggak mau mampir ke rumah kami?"


Ala tersenyum kikuk segera menyilakan mertuanya masuk. "Bukan begitu, Ma. Hanya saja, kebetulan aku memang cukup sibuk dengan pekerjaan," ucap Ala menyilakan mereka duduk.


"Aku mau menyiapkan minum dulu ya, Ma, Pa. Ngobrol dulu sama Uda ya?" ucap Ala menuju dapur.


Ia masih belum puas, mencoba mengulangi pada meja yang ada di hadapannya. Aliasnya terlihat semakin mengerut.


"Fatar, kapan terakhir kali rumah ini dibersihkan?" tanya Ama.


Rafatar yang tadinya asik ngobrol dengan Apa, langsung menatap sang ibu. Matanya sedikit liar melirik ke atas. "Tadi baru dibersihkan, kok," ucapnya asal.


"Bohong, kalau baru dibersihkan tidak mungkin debunya sampai setebal ini!" ucap Ama.


"Tapi lantai udah bersih kan, Ma? Nggak ada debu? Kalau sofa sih, emang jarang duduk di sana. Jadi wajar aja banyak debunya," dalih Rafatar.


"Kamu ini ya? Ngeyel terus mau belain istri kamu ya? Istri kamu nggak pernah beresin rumah kan? Walau nggak pernah duduk, setidaknya debu dibersihkan," ucap Ama dengan nada penuh penekanan.


"Istriku sibuk, Ma. Dia bekerja dari pagi hingga sore hari. Yang penting lantai bersih aja, bagi kami udah cukup."


"Harusnya, hari minggu itu dia gunakan untuk membersihkan rumah, masak yang enak juga, terus buat nyetrika pakaian untuk seminggu ke depan. Ini jelas-jelas rumah masih kotor malah—"

__ADS_1


"Ma?" Apa memutus ucapan sang istri.


"Biar aja mereka jalan-jalan. Mereka kan butuh hilling melepas lelas setelah penat bekerja dari hari ke hari?" ucap sang suami.


"Harusnya dia mengurangi kegiatannya? Sekarang kan dia sudah jadi istri? Kayak zaman Ama dulu kan setelah nikah semua istri fokus mengurus rumah tangga?" ucap Venna melirik ke arah dapur.


"Ma, zaman dulu dengan zaman sekarang itu udah beda, Ma. Dulu para istri zaman Ama emang kebanyakan hanya tamat sekolah langsung nikah, nggak pakai sekolah tinggi dulu. Jadinya ya mengurus rumah tangga. Menantu kita itu wanita karier, Ma. Tidak bisa disamakan dengan Ama yang telaten mengurus rumah tangga," ucap Apa.


"Kalau gitu, pakai jasa asisten rumah tangga dong? Masa iya dibiarkan kayak gini kayak rumah nggak ada penghuni seperti ini?"


Ala mendengar semua obrolan tersebut merasa sedih. Matanya telah berkaca-kaca menahan gejolak kala cecaran ibu mertua membuat hatinya tersayat.


Ala kembali memilih menyibukan diri di dapur, menyiapkan minuman untuk semua yang ada di sana. Tidak hanya itu, Ala mencuci buah-buahan segar, memotongnya dengan hati-hati, dan menata semuanya di atas nampan. Suara mereka dari ruang tamu terdengar cukup jelas.


"Sebenarnya aku sudah memintanya demikian, Ma. Namun, aku menghormati keinginan Ala untuk tetap bekerja? Aku juga sudah menawarkan menggunakan jasa asisten rumah tangga, tetapi dia tidak setuju. Hidup ini pilihan kami. Kami sudah berusaha menjalani dengan baik. Ama tidak perlu memusingkan masalah ini." Rafatar berusaha membela istrinya.


"Ya nggak bisa dong? Ama sudah memberikan segalanya yang terba—."


"Ma? Please! Nanti Ala mendengarnya dia bisa menjadi sedih," ucap Rafatar melirik kembali ke arah dapur.


Ala merasakan dadanya berdenyut keras karena semua bisa didengarnya dengan jelas. Dan, tanpa ia sadari, air mata hampir jatuh masuk ke wadah minuman yang sedang dia sediakan. Semua ucapan Ama bagai terputar ulang di dalam kepala, terasa menusuk ke dalam hati.


Hatinya tercampur aduk antara sedih dan marah. Namun, ia menyadari. Orang tua suaminya ini berarti orang tuanya juga. Meskipun Ama tidak memahami apa yang sedang diperjuangkannya.


Ala mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengatasi gelombang emosi yang melanda. Dia memilih untuk tetap tenang dan menjaga ketenangan dalam situasi tersebut. Dia tidak ingin memperburuk suasana dengan menanggapi secara emosional.


Setelah mengumpulkan kekuatan, Ala melanjutkan persiapannya. Dia menyelesaikan minuman dengan hati-hati, memberikan sentuhan terakhir yang sempurna, meskipun hatinya masih terasa berat. Dia memasang senyum di wajahnya, siap untuk memberikan minuman tersebut dengan cinta kepada keluarganya.


Dia tahu bahwa mereka mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahami perjuangannya, tetapi dia tidak akan membiarkan celaan dan komentar negatif merusak semangatnya dalam melakukan apa yang telah diusahakannya selama ini.


Saat Ala menghampiri keluarganya dengan nampan minuman, dia memilih untuk memandang mereka dengan tatapan penuh kehangatan.


"Wah, sepertinya obrolan seru banget?" ucap Ala berusaha memberikan senyuman tulus.


"Ala, sebenarnya kamu mau mengikuti kata suami atau hanya katamu sendiri?"

__ADS_1


__ADS_2