Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 47


__ADS_3

*Ga cocok buat cerita "anu" ya ... 🤣🤣🤣*


"Kamu menangis?" tanya Rafatar menarik dagu Ala. Pipinya telah basah oleh air mata karena rasa haru yang luar biasa ia rasakan.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Rafatar kebingungan.


Ala menggelengkan kepala. "Aku bukan menangis karena sedih, Uda. Aku terharu. Ternyata, seperti ini rasanya dicintai. Terima kasih, Uda." Ala kembali memeluk tubuh suaminya itu.


"Ah, aku belum mandi," ucap Rafatar mengendus lengan pakaiannya yang bebas.


"Tidak apa, Uda wangi sekali," ucap Ala masih dalam suara sembab.


Rafatar pertama kali dipeluk seerat ini. Ia mulai merasakan reaksi yang aneh. "Sayang, kalau kamu begini, aku takut kamu akan melemp4rku kembali."


Ala mendongak menatap wajah suaminya. Kali ini, untuk pertama kali ia merasa wajah Rafatar sangat tampan. "Uda, habis pakai apa?" tanya Ala.


"Nggak ada, aku hanya mencuci muka, rencananya mau mandi, tapi otakku terus tidak ingin lepas melihatmu."


Ala tersenyum lembut mendengar kata-kata Rafatar. "Aku juga tidak ingin melepaskanmu, Uda. Kita bisa mandi bersama, mengisi bak mandi dengan air hangat dan saling membersihkan satu sama lain." Entah keberanian itu datang dari mana, membuat Ala dengan mudahnya berkata demikian.


"Ala? Apa benar kamu ingin melakukannya?" tanya Rafatar dengan senyum penuh arti.


"Ah, bukan itu, tapi maksudku—"


Rafatar tak menyiakan saran Ala, karena dia merasa terikat oleh kedekatan yang baru saja mereka bagikan. Dia mengangguk setuju, merasakan ada desakan, keinginan dan kebutuhan dari dalam sana.


Ala berjalan malu-malu, kikuk, dan bingung atas apa yang keluar begitu saja. Rafatar merangkulnya mesra menuju kamar mandi, mengisi bak mandi dengan air hangat, dan sang suami mulai membuka pakaian satu per satu.


Ala seketika menutup mata dan memutar tubuh. "Ah, aq tunggu setelah Uda aja." Ala berjalan keluar dengan jantung sudah tidak bisa dikondisikan. Ini adalah kali pertama melihat 'itu' dan sebelumnya belum pernah melihatnya.


Rafatar menahan Ala dan melucuti pakaian sang istri, tetapi Ala tak bisa berbuat apa-ap. Ala memejamkan mata menghela napas panjang. 'Kewajiban istri!' tekannya dalam hati


Meski gugup, mereka berdua merendam tubuh mereka dalam air, sentuhan hangat, kecupan, dan sentuhan lain menguatkan ikatan emosional untuk saling berbagi dan memberi.


Di bawah cahaya temaram, mereka saling mencuci rambut dan memijat lembut satu sama lain. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan, bahasa tubuh mereka berbicara dengan penuh kelembutan dan keintiman.


Setelah selesai mandi, mereka keluar dari bak mandi dan membungkus diri dengan handuk. Ala dan Rafatar saling menatap dengan mata penuh cinta.


"Terima kasih, Uda, karena hari ini kamu mengajarkan aku arti sejati dari cinta dan hmmm ... aku rasa tidak perlu mengatakannya," ucap Ala dengan suara lembut.

__ADS_1


Rafatar meraih tangan Ala dengan penuh kasih. "Kamu adalah segalanya bagiku, Sayang. Aku bersyukur memilikimu sebagai istriku. Kita akan selalu menjaga dan memperkuat hubungan ini dengan saling menghormati, memahami, dan mencintai satu sama lain."


"Ayo kita salat Isya dulu, dilanjut salat sunah, dan sunah rasul," goda Rafatar.


Setelah kewajiban mereka laksanakan, mereka saling berpelukan kembali, membiarkan rasa cinta dan sentuhan lembut melingkupi mereka.


"Eh, jangan dulu, jangan dulu." Ala merasa kacau, gugup, dan takut saat suami telah berada di atas tubuhnya di dalam selimut putih.


"Apaan sih? Kayak yang belum pernah aja?" Rafatar yang sedari tadi berusaha menahan diri, kali ini sudah tidak bisa lagi untuk melepas dahaganya.


Malam ini menjadi momen yang tak terlupakan, terdengar sedikit teriakan, ringisan, dan kepanikan hampir putus asa karena sama-sama belum menemukan titik kenyamanan masing-masing.


*


*


*


Alarm pagi bergema menandakan waktu telah menunjukan pukul empat pagi. Biasanya Ala melaksanakan solat sunah dan berzikir setiap hari. Namun, kali ini ia terlihat kesakitan dalam pelukan suaminya.


"Ah, bagaimana ini? Aku tidak sanggup untuk bangkit dan mandi," rintih Ala.


"Belum waktunya subuh, kamu istirahat dulu," ucap Rafatar memeluk tubuh istrinya.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi? Bukan kah ini bukan yang pertama kali bagimu? Kenapa tadi malam begitu sulit?" bisik Rafatar memeluk Ala dari belakang.


"Tadi malam, adalah kali pertama bagiku melakukannya." Ala memutar tubuhnya, dan Rafatar kembali mendekapnya.


"Masa sih? Kamu kan sudah pernah menikah?"


"Ya, aku memang pernah menikah. Akan tetapi aku adalah istri yang terabai dan tidak pernah disentuh oleh suamiku dulu. Mungkin aku kurang menarik," gumamnya menyandarkan kepala pada tempat paling nyaman ia rasakan. Dada Rafatar, sungguh mampu membuat ia tenang.


"Bodoh sekali lelaki yang tidak tertarik padamu. Tapi syukur lah, aku bisa menjadi orang pertama yang benar-benar memilikimu seutuhnya."


Ala tidak menggubris, dia sudah terlalu nyaman menyandarkan wajahnya pada dada Rafatar.


"Sayang, sebelum azan, kita ibadah lagi yuk?"


*

__ADS_1


*


*


Setelah malam penyatuan itu, Ala menjadi gadis manis terhadap suaminya. Ala malu-malu melihat sprei putih hotel ini, terbercak beberapa noda merah hasil ibadah mereka untuk pertama kali.


"Terima kasih, Sayang. Apakah masih sakit?" tanya Rafatar.


"Iya, sakit, apalagi saat buang air kecil, perihnya kayak disayat sembilu," ringisnya.


"Maaf ya, tapi aku tidak bisa menahannya lagi, apalagi saat kita mandi berdua," sesal Rafatar tapi terlihat masih menginginkannya lagi.


"Iya, tidak apa. Itu adalah kewajibanku, aku istrimu, tidak mungkin aku menolak jika suamiku menginginkannya."


Rafatar kembali memeluk Ala dengan penuh cinta. Ala pun sudah tak lagi merasa canggung saat Rafatar menggandengnya dengan hangat sepanjang menikmati bulan madu mereka mengelilingi kota wisata itu.


Perjalanan menikmati pemandangan di Ngarai Sianok, hingga berfoto di Jam Gadang, mereka lewati dengan penuh cinta. Rafatar melihat istrinya mulai lelah, karena perjalanan di kota ini menuntut tenaga yang lebih kuat, karena harus melewati perjalanan naik dan turun dataran tinggi.


"Sayang, ayo naik sini!" Rafatar menawarkan punggungnya.


Ala tersenyum menggelengkan kepala. "Nanti Uda malah makin lelah. Aku bisa jalan sendiri," ucap Ala.


"Kalau begitu, kita duduk dulu untuk istirahat di sana!" Rafatar melihatp penjual gorengan yang sangat ramai didatangi pembeli.


Ala mengangguk setuju dan mereka bergandengan saling menautkan jemari kala berjalan berdua. Suasana sejuk di kota ini menambah kemesraan mereka hingga terus menghapus segala jarak dan rasa canggung.


Beberapa hari di Bukittinggi, membuat mereka semakin dekat dan mesra, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke Padang, melanjutkan rutinitas bekerja dan sebagai pasangan suami istri.


Ala langsung dibawa ke rumah yang sudah dibeli Rafatar, saat kabur dari ibunya. Rumah yang lumayan luas untuk mereka berdua, kini telah dihuni oleh sepasang pengantin yang menikmati masa kasmaran.


"Uda, nanti kalau aku mulai bekerja, mungkin untuk sarapan pagi dan makan siang aku tidak bisa memasakannya. Tapi, pada sore hari, setelah pekerjaan selesai, aku akan memasak lebih. Kira-kira, Uda keberatan atau tidak?" tanya Ala sedikit ragu-ragu.


"Hmmm, apakah kamu akan terus bekerja seperti itu? Kenapa tidak fokus saja di rumah menjadi istriku? Bukan kah, ibadah terbaik istri untuk suaminya itu ialah melayani suami dan keluarga?" ucap Rafatar.


Ala mendengar kata-kata Rafatar dengan perasaan campur aduk. Meskipun ia menghormati pendapat suaminya, ia juga ingin mengejar karir dan mencapai impian pribadinya.


"Uda, aku mengerti bahwa dalam ajaran agama ada nilai-nilai mengenai peran istri dalam melayani suami dan keluarga. Namun, aku juga percaya bahwa Allah memberikan bakat dan kemampuan kepada setiap individu untuk mengembangkan potensi mereka di berbagai bidang, termasuk dalam dunia karir. Aku ingin menjadi istri yang mendukungmu dan juga mengejar impian pribadiku. Apakah kamu bisa mendukung dan memahami pilihan itu?"


Jangan lupa follow akun IG Author yaah : @sofie.espada

__ADS_1


FB: Sofie Amelia


Makasiii ... 🄰


__ADS_2