Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 25


__ADS_3

Syauqi menulis sebuah pesan untuk istrinya yang tadi ditinggal dalam keadaan terlelap.


[ Humaira, tiba-tiba aku ada urusan di asrama Pondok Pesantren. Ada masalah di asrama yang harus aku urus. Mungkin ini akan cukup lama, tidak usah menungguku. Besok kan akhir pekan. Mungkin aku akan pulang agak siangan. ]


Lampu pada ponsel Ala menyala sejenak dan redup kembali. Ala tampak pulas tidur dengan senyum merekah di wajahnya tanpa mengetahui apa yang tengah terjadi pada dirinya yang bersuamikan pria manipulatif seperti Syauqi.


Suaminya Syauqi melaju di tengah gelapnya malam melewati jalan yang diapit rangkaian Bukit Barisan, menuju kota tetangga, demi membayar rasa hausnya yang saat ini sudah sampai ke ubun-ubun. Setelah sampai, ia langsung disambut oleh Salma dengan penuh cinta langsung memadu kasih di antara mereka.


*


*


*


Karena sedang tanggal merah, Ala dengan sendirinya bangun sedikit kesiangan. Apalagi akhir minggu adalah waktu dia bisa menghabiskan lebih banyak waktu di rumah karena tidak ada jadwal kuliah.


Ia bangun dengan perasaan nyaman, menengadahkan kedua tangannya berdoa karen masih bisa bangun dalam keadaan sehat tak kurang satu apa pun. Ia teringat saat tertidur saling berpelukan dengan suaminya, tadi malam. Kepalanya liar mencari keberadaan lelaki tampan itu.


Sisi ranjang di sebelahnya tentu saja kosong karena matahari telah bersinar dengan begitu terangnya. "Ah, Uda mungkin sedang bersiap-siap."


Ala bergerak cepat menuju kamar mandi membersihkan diri sembari menghindari keadaan yang selalu kebanjiran bila hari-hari pertama pada siklus bulanannya.


Tak lama, ia telah berganti pakaian segera menuju dapur. Bahan-bahan di dalam kulkas telah mulai habis. Ia mengusap dagu teringat rencana ke pasar yang batal karena terus bermanja seharian dengan suaminya.


Bibir Ala kembali terulas senyum manis yang tergambar begitu saja karena hubungannya dengan sang suami terus menjadi semakin rapat. Leher Ala kembali memanjang mengintari pandangannya mencari teman yang tinggal satu rumah dengannya.


Setelah memastikan tidak satu pun bayangan sang suami terlihat, Ala mulai menaiki anak tangga menuju lantai dua. "Ah, aku merasa canggung berjalan ke sini karena memang dilarang Uda. Apa Uda kembali tidur di kamar itu?"


Perlahan, Ala membuka pintu kamar suaminya. "Astaghfirullah," ucapnya melihat kamar yang cukup berantakan.


Pundaknya jatuh dan pasrah. "Emang semua laki-laki tidak bisa membersihkan kamarnya kah?" Ala bergerak dengan sendirinya membersihkan kamar itu dan menarik sprei dan sarung bantal untuk diganti.


Pakaian suaminya pun berserakan di pojok kamar dan dikumpulkan untuk dicuci bersama dengan pakaiannya yang lain. Sebelum dicuci, ia memastikan tidak ada benda yang terselip dalam pakaian sang suami memeriksanya satu per satu.


Namun, satu kemeja putih yang ia ingat digunakan suaminya beberapa hari lalu saat keluar kota terselip sedikit noda bewarna merah. "Apa ini?"

__ADS_1


Ala, bingung dengan noda merah pada kemeja putih itu, memeriksa dengan seksama. Dia bertanya-tanya apa yang bisa menyebabkan noda tersebut dan mengapa suaminya tidak merawatnya. Keraguan dan kekhawatiran mulai menyelimuti pikirannya saat dia mencoba memahami situasi tersebut.


Dia memutuskan untuk menghadapi Syauqi mengenai kemeja yang terkena noda dan keadaan kamar yang berantakan. Di dalam hatinya, ia merasa curiga dan khawatir tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Ia mengecek dan memastikan apakah noda merah itu sejenis noda apa. Ia pun mengendus pakaian yang awalnya disangka beraroma kecut. Namun, matanya terbuka lebar dan ia terlihat kebingungan.


"Ini aroma parfum langgananku."


Sekilas, ia teringat akan ucapan tanpa sengaja kemarin. "Ah, tidak mungkin kan ini maksudnya semua wanita wangi? Semua wanita?" Ia menatap kembali noda merah itu.


"Ini lipstik, di pakaian Uda?" Tangan Ala bergetar. "Uda?"


Ia bergegas turun meninggalkan sisa yang masih cukup berantakan di kamar atas. Hatinya terasa tak sabar lagi ingin berbicara dengan suaminya, Syauqi. Ia segera membuka ponsel dan ternyata memang ada pesan dari suaminya.


"Humaira, tiba-tiba aku ada urusan di asrama Pondok Pesantren. Ada masalah di asrama yang harus aku urus. Mungkin ini akan cukup lama, tidak usah menungguku. Besok kan akhir pekan. Mungkin aku akan pulang agak siangan."


Ala mengulangi membaca pesan itu. Ia teringat pada Apak, yang menjadi pengurus Pondok Pesantren tersebut. Ala segera menghubungi Apak dan langsung dijawab oleh orang yang ada di sana.


"Assalamualaikum, Apak."


Ala tertegun mendengar cerita apak. Suaminya sama sekali tidak menceritakan berita gembira itu kepadanya. Namun, ia memilih untuk tidak menceritakan ketidaktahuannya.


"Iya, Pak. Alhamdulillah. Terima kasih ya, Pak sudah menjadikan suami Ala sebagai orang penting di sana. Padahal, dia kan baru saja masuk sebagai guru di sana."


πŸ“²"Iya, tidak apa Ala. Lagian, ini Pondok Pesantren kan milik keluargamu. Apak hanya membantu mengurus aja. Alangkah baik jika suamimu ikut mengurusnya juga."


"Ooh, begitu ya Pak. Terima kasih ya, Pak, udah memberikan kepercayaan dengan tugas besar ini kepada Uda-nya Ala. Oh ya, Pak. Kata uda asrama di pondok pesantren ada masalah. Kira-kira masalah apa? Apa perlu Ala ke saba juga untuk bantu-bantu?"


πŸ“²"Alhamdulillah semua aman terkendali, Nak. Jadi kamu tidak perlu khawatirkan tempat ini. Ada Apak yang siap sedia menyelesaikan semuanya."


Ala kembali tertegun dengan informasi barusan yang diberikan apak kepadanya.


"Oh begitu ya, Pak? Kalau begitu, apa Uda Uqi ada di sana?"


Terdengar suara tawa renyah dari saudara kandung dari ayahnya ini. πŸ“²"Begini ya kalau pengantin baru? Kalau suaminya hilang sedikit saja langsung ditanya kepada semua orang."

__ADS_1


"Hehehe, soalnya Ala membutuhkan bantuan Uda, Pak. Apa Apak bisa membantu Ala untuk memanggilkan Uda sejenak?" ucapnya berbohong.


"Lho? Dia tidak di sini La? Mana mungkin akhir pekan ini dia akan mau mampir ke sini? Sementara santriwan santriwati kita saja diberikan waktu untuk liburan dan jalan-jalan rehat bersama keluarga."


Ribuan paku seakan menghujam jantung Ala. Ia menyadari sang suami tengah berbohong kepadanya.


Ala merasa terpukul saat menyadari bahwa suaminya telah berbohong padanya. Pesan yang ditinggalkannya hanyalah sebuah alasan, dan dia tidak pernah menyebutkan tentang posisi barunya di pondok pesantren. Keraguan dan kecurigaan melanda pikirannya saat ia berusaha memahami situasi ini.


Dengan hati yang berat, Ala memutuskan untuk mengambil langkah-langkah lebih lanjut. Dia menyadari bahwa dia perlu menghadapi Syauqi dan mengklarifikasi segala hal yang terjadi.


Ala mengepalkan tangannya dan mengambil napas dalam-dalam. Dia memutuskan untuk menghubungi Syauqi dan meminta pertanggungjawaban atas kebohongannya.


Ia menekan nama sang suami sembari menunggu panggilan dijawab. Namun, operator seluler memberi notifikasi bahwa panggilannya tidak dijawab. Ala segera menuliskan pesan kepada suaminya.


[ Assalamualaikum, Uda. Uda lagi di mana? ]


Pesan yang ia tulis hanya bewarna abu-abu centang dua.


"Ya Allah, ke mana suamiku? Semoga suamiku baik-baik saja."


*


*


*


"Bang, kenapa Abang tidak tinggal selamanya di sini saja bersamaku? Semenjak menikah, aku memilih berhenti bekerja menjadi guru di Pondok Pesantren tempat kita mengajar bersama kemarin. Aku merasa yakin untuk menjadi ibu rumah tangga saja melayani suamiku dan membesarkan anak-anak kita nanti." Salma menyandarkan diri memeluk suaminya di atas ranjang.


Syauqi membalas pelukan itu dengan hangat. Ia mulai merasa candu dengan Salma. Karena Salma ia merasakan nikmatnya lepas dari dahaganya sebagai seorang pria. Kali ini, kepada Salma pula lah ia melampiaskan hasrat membara kepada Humaira.


"Aku baru menyadari indahnya pernikahan bersamamu, Sayang. Memang harusnya bersama denganmu semua kisah ini berlabuh."


Sentuhan intens kembali membuat dua insan dimabuk kepayang itu melebur berdua tanpa mengetahui ada seseorang yang menangis dan meronta di dalam dada.


Ala sungguh merasa bingung harus mengadu kepada siapa kali ini. Jika ia mengadu kepada Umi, ia takut bila Umi akan khawatir berlebih. Jika mengadu pada mertua, tentu mertuanya selalu membanggakan putranya itu.

__ADS_1


"Ya Allah, hamba harus bagaimana?" Air mata Ala terus terjatuh tanpa suara.


__ADS_2