
Pria yang tak lain adalah suaminya saat ini, menarik kerudung Salma dengan kasar. "Kau berani membohongiku ya? Cepat serahkan uang yang kau dapatkan! Jika tidak, kau yang akan aku jadikan sebagai sumber uangku!" Pria itu mendorong Salma dengan cukup kuat, ia tak memedulikan ada bayi kecil yang tergantung dalam gendongannya.
Beruntung, Salma berhasil mengendalikan keseimbangannya, sehingga ia selamat tanpa jatuh dan tanpa benturan.
"Kenapa kau begitu jahat?" tangis Salma menatap, Riko, suaminya.
"Jahat?" Riko menatap Salma dengan senyum sinisnya. Ia mendekati dan menjepit dagu Salma dengan kasar.
"Kau bilang aku jahat? Lalu kau apa, hah?" Jepitan itu dilepaskan dan Riko membelakangi Salma.
"Aku pikir, kau itu seorang wanita soleha yang bisa membawaku ke surga. Namun, ternyata, kau tak ada bedanya dengan wanita j*l*ng!"
Salma tersentak mendengar hinaan yang begitu gamblang dilontarkan oleh suaminya itu. "Kalau kau memang tak cinta padaku, kenapa kau tak melepaskanku? Talak saja! Lepaskan aku dari genggamanmu!"
Riko kembali memutar tubuhnya menatap Salma dengan lantang. "Melepaskanmu?" Bibirnya tersenyum sinis. "Tak akan! Kita akan ke neraka bersama!"
Riko menatap kaleng-kaleng sussu yang tadi ia lempar. Satu alisnya naik dan sejenak melirik Salma yang menangis memeluk anaknya. Setelah itu, ia berjalan cepat menarik kantong itu dan mengeluarkan dua benda yang masih tersegel itu.
"Hmmm, ini sufor mahal. Bisa dijual lagi." Riko meninggalkan dapur dan segera menarik kaus oblong yang tergeletak di lantai. Ia langsung memasangnya dan pergi membawa kantong tersebut.
"Mau dibawa ke mana?" Salma berusaha mengejar dan menahan langkah Riko.
"Ini dijual setengah harga di rumah tetangga pasti laku keras! Kau diam aja! Tak usah menungguku!" Riko berlalu dan membiarkan Salma dan anaknya menangis karena ulahnya.
__ADS_1
Tangisan bayi perempuan yang ada dalam dekapannya semakin menjadi. Salma menyadari dan mengusap punggung bayinya itu.
"Maaf, Nak. Kamu pasti lapar? Ama akan buatkan sussu untukmu."
Salma kembali ke dapurnya. Di sana masih tersisa satu kaleng yang udah dibukanya tadi. Salma segera mengulang proses pembuatan sussu pada botol anaknya. Ketika dot telah masuk pada mulut sang buah hati, tangisan itu reda dengan seketika. Salma menghela napasnya berat.
"Oh, Tuhan. Kenapa Kau begitu kejam padaku? Apa salahku? Kenapa harus seperti ini jalan yang Kau berikan padaku?" ungkapnya dalam kesedihan.
Namun, beruntung ... Masih ada satu kaleng sussu yang bisa ia berikan kepada sang buah hati. Namun, itu tentu tak akan bertahan lama.
Krucuuuk
"Bagaimana ini?" Salma mengusap perutnya. Ia mengecek penanak nasi yang ada di meja makan. Ternyata semuanya sudah habis. Tak satu pun yang tersisa meski sekedar satu atau dua butir nasi pun.
Salma menatap penanak nasi itu dengan nanar. "Suami sialan! Dia menghabiskan semuanya tanpa menyisakan sedikit pun untukku!"
Tubuh Salma menjadi layu dengan seketika. "Apa yang harus aku lakukan? Ke mana lagi aku akan mencari makan?" ringisnya menahan lapar.
Salma kembali meninggalkan rumahnya dengan langkah kaki yang terseok. Semenjak kecelakaan bersama Syauqi dulu, ia tak bisa lagi berjalan dengan baik. Gadis kecil yang sudah terbiasa dengan keadaannya, tak terganggu sedikit pun dalam tidurnya.
Ia berjalan tertatih menuju warung tempat biasa ia datangi. "Kak, saya mau hutang beras lagi. Jika saya memiliki uang, saya berjanji akan membayarnya dengan segera," ucap Salma setengah memaksa.
"Hutang lagi?" Pemilik warung berdelik menatapnya dengan ragu. Ia segera membuka nota bon atas nama Salma.
__ADS_1
"Hutangmu semenjak satu bulan lalu saja tak pernah kau bayar! Kali ini berani kali kau berhutang tanpa rasa malu?"
"Ayo lah, Kak. Satu kilo saja? Aku janji jika sudah punya uang akan membayar hutang-hutang itu." Kali ini, nada suara Salma menjadi lebih rendah.
Sebuah mobil berhenti tepat di warung itu. Seorang anak kecil turun dan setengah berlari memasuki warung tersebut.
"Jangan lari-lari di warung orang!" ucap seorang pria yang keluar dari pintu kemudi.
Namun, anak kecil itu seakan tak mendengar ucapan ayahnya. Dia terus melaju dan mencoba memilih jajanan yang dia inginkan. Di sebelah ibu-ibu yang berdebat dengan pemilik warung, anak itu melihat sosis dan permen kesukaannya.
Tanpa pikir panjang, anak itu menyelip dan mencoba menarik toples yang berisi jajanan yang tampak sedap di matanya. Akan tetapi, sebuah tangan menarik bahunya dengan kasar.
"Ini anak kecil tak punya sopan santun apa? Apa kau tak lihat saya sedang berbicara dengan dia!" bentaknya menunjuk ke arah pemilik warung.
Baim, sang anak kecil termangu mendapat perlakuan kasar. "Maaf," ucapnya menundukkan kepala.
"Kau ini tak diajarkan oleh ibumu? Kalau ada orang berbicara, jangan lewat di antara mereka?" ucap ibu yang menggendong bayi tak memedulikan nada suaranya terdengar sampai ke seberang jalan.
"Heh, kamu! Jangan marahi dia! Dia itu pelangganku! Kalau kamu memarahinya, dia tak mau lagi belanja di warungku." Pemilik warung mendekati Baim, menatap Salma dengan tajam
"Kamu tak apa, Nak? Mau beli apa?" tanyanya berubah lembut kepada Baim.
Baim masih menundukan kepala.Baim tergugu karena kejutan luar biasa dari wanita yang menggendong anak ini. Sejenak ia melirik pada Salma yang baru saja memarahinya.
__ADS_1
"Baim, kamu kenapa?" tanya pria yang baru memasuki warung.
Salma refleks memutar badannya, karena mendengar suara yang ia hapal.