Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 65


__ADS_3

"Apa yang Ama katakan? Bagaimana mungkin Ama bisa melakukan hal seperti itu?"


Rafatar merasakan gejolak dan keputusasaan yang tak terkatakan. Dia merasa terjebak di antara cinta pada istrinya, tetapi ada rasa enggan pada bayi yang memiliki diagnosa yang kurang baik.


"Ma, bagaimana pun bayi itu anakku juga. Ama tidak bisa memutuskan itu dengan semena-mena. Jika Ama memutuskan dengan sepihak, berarti Ama juga ikut memutuskan hubungan denganku menjadi anak, Ama."


"Fatar! Kamu makin berani ya menantang Ama?"


"Maaf, Ma. Jika Ama terus seperti ini, mungkin hanya dar4h yang menjadi pengikat antara aku dengan Ama." Fatar memutar badan hendak beranjak.


"Oh begitu? Baik lah, jika ini adalah keputusanmu, terserah kamu! Nanti kalau terjadi apa-apa dalam keluarga kalian, Ama anggap kamu bukan anak Ama lagi!"


Rafatar merasa hancur dalam dada. Akan tetapi, ia sungguh bimbang tidak tahu harus berbuat apa dan berlaku seperti apa lagi.


"Ma, aku akan menerima dan berusaha mencintai bayi ini. Aku akan berjuang untuknya, meskipun semua orang memandang sebelah mata. Setidaknya kami adalah orang tua terpilih," ucapnya gemetar menahan kepedihan dari apa yang baru saja ibunya lontarkan.


"Bagaimana pun, aku akan tetap menanamkan di dalam jiwa, Ama adalah orang yang melahirkanku. Maafkan aku, Ma. Aku pergi."


Namun, Venna tetap diam dengan sikap dinginnya. Dia menolak mendengar dan memahami perasan putra semata wayangnya, dan enggan menatap kepergiannya.


"Ma? Kenapa kamu begitu keras kepala?" ucap suaminya muncul dari arah kamar.


"Kamu mau tahu bagaimana rasanya jika Ala ditinggalkan oleh putramu? Baik lah, kamu akan merasakannya malam ini," ucap suaminya.


"Apa? Maksud apa gimana?" tanya Venna dengan bingung.


"Aku menalakmu, mulai malam ini kamu bukan istriku lagi!" ucap ayah Rafatar beranjak menarik kunci mobil dan keluar.


"Udaaaaaaa!" teriak Venna.

__ADS_1


*


*


*


Rafatar berusaha mencari Ala setelah berbicara dengan ibunya. Namun, malam yang sudah beranjak ke dini hari, membuatnya kembali memilih menunggu hingga mentari menampakkan dirinya.


Kali ini, ia memilih menunggu di dalam kendaraannya tanpa memicingkan mata sedikit pun. Azan subuh pun menggema, ia melangkah sedikit lunglai menuju mushola yang ada di dekat rumah mertuanya ini. Setelah melaksanakan kewajiban, ia menunggu di beranda rumah.


Ummi adalah orang pertama yang membuka pintu rumah itu. Rafatar mengejar Ummi duduk bersimpuh di hadapan wanita yang melahirkan istrinya.


"Ummi, maafkan aku Ummi. Tidak bisa menjadi suami yang baik untuk anak Ummi."


Ummi tak bergeming melihat sosok yang duduk bersimpuh di kakinya. "Bukan kah ibumu meminta kalian berpisah saja?"


"Maafkan aku Ummi. Aku tidak akan berpisah dengan Ala."


"Ummi, aku mencintai Ala. Maafkan aku yang sempat meragu akan takdir yang tengah mempermainkan kami. Namun, aku sudah merenungkan segalanya. Aku akan menerima semuanya dengan ikhlas, sebagaimana Ala telah sabar menunggu aku lepas."


Tubuh Ummi yang tadinya tegang, kini terlihat mengendur. Terdengar helaan napas panjang. "Baik lah, kamu boleh berbicara dengannya." Ummi menggeser tubuhnya memberikan jalan bagi sang menantu.


"Terima kasih Ummi." Rafatar bangkit dan berjalan menuju kamar istrinya. Ia mengetuk pintu kamar itu. "Assalamualaikum, Sayang."


Dari dalam seorang yang bersimpuh di atas sajadah melirik ke arah pintu. Wajahnya tengah basah oleh luapan air mata.


"Sayang, kita harus bicara. Tolong, bukakan pintunya.


Namun, tidak ada jawaban dari dalam kamar Ala. Rafatar merasa semakin cemas dan frustasi. Dia mencoba lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut.

__ADS_1


"Sayang, aku minta maaf kan segala kesalahan dan khilafku. Aku ingin bicara dan meluruskan semuanya. Tolong, berikan aku kesempatan."


Namun, pintu tetap terkunci dan ruangan itu tetap sunyi. Rafatar merasa putus asa dan duduk di lantai depan pintu kamar Ala. Dia merenungkan situasi yang rumit dan berusaha mencari jalan keluar.


'Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara agar aku bisa memperbaiki segalanya? Aku mencintai Ala, dan tentu harus mencintai bayi ini juga. Bagaimana aku bisa membuat semuanya kembali seperti sebelumnya?' ucap Rafatar di dalam hati.


Rafatar merasa kalut dan kehilangan. Dia merenungkan tentang masa depan mereka, tentang bagaimana dia bisa mengubah pikiran Ala dan mendapatkan dukungan dalam menghadapi situasi ini.


'Aku tidak boleh menyerah. Aku akan terus mencoba, berjuang, dan mencari jalan keluar. Aku harus meyakinkan Ala bahwa kita bisa menghadapi ini bersama-sama,' batin Rafatar kembali.


Rafatar bangkit dari lantai dan berjalan keluar melewati Ummi. Meskipun dia ditolak saat ini, dia tidak akan berhenti berusaha. Dia akan mencari cara untuk membuka hati Ala, membuatnya melihat cinta dan harapan yang bisa mereka berikan pada anak mereka.


Aku akan berjuang untuk keluarga kita, untuk bayi ini, dan untuk cinta yang kita bagi. Aku akan terus berusaha dan tidak akan menyerah.


Rafatar memutuskan untuk mencari dukungan dan saran dari orang-orang terdekat mereka. Dia tahu bahwa situasi ini terlalu rumit untuk diselesaikan sendirian, dan dia membutuhkan perspektif baru.


Rafatar mengingat bahwa teman baiknya, Rudi, adalah seseorang yang selalu siap mendengarkan dan memberikan nasihat yang baik. Tanpa ragu, Rafatar menghubungi Rudi dan bercerita tentang situasi yang sedang dihadapinya.


"Rudi, gue benar-benar bingung. Gue dan Ala menghadapi situasi yang sulit terkait kelahiran bayi kami yang memiliki kondisi khusus. Gue mencoba untuk mendukung Ala dan bayi ini, tetapi Ama sangat keras dalam pendiriannya. Gue gak tahu harus bagaimana."


"Tenang, Bro. Gue ngerti bahwa ini bukan situasi yang mudah bagi kalian. Tetapi, perlu diingat bahwa dia adalah orang yang lu cinta semenjak dulu. Kalian telah berjanji untuk saling mencintai dan memiliki komitmen bersama. Dalam situasi seperti ini, komunikasi yang jujur dan empati sangat penting," ucap Rudi turut prihatin.


"Gue sudah mencoba berkomunikasi dengan Ala, tetapi dia menolak untuk bertemu dan berbicara. Gue merasa putus asa," resah Rafatar.


"Mungkin lu perlu memberikan waktu bagi Ala untuk merenung kan segalanya. Sementara itu, lu bisa mencari informasi lebih lanjut tentang kondisi bayi dan mencari dukungan dari keluarga atau lembaga yang memahami situasi ini. Juga, jangan ragu untuk menghubungi profesional kesehatan yang berpengalaman dalam masalah ini," ucap Rudi.


"Terima kasih, Bro. Gue rasa itu adalah langkah yang masuk akal. Gue harus fokus pada kebaikan keluarga kami. Gue akan mencoba mencari informasi dan dukungan yang dibutuhkan."


"Tetaplah kuat, Bro. Gue yakin kalian bisa melewati ini bersama. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kalian membutuhkannya. Gue di sini selalu ada jika lu butuhin gue." Rudi memberi dukungan penuh pada teman kecilnya itu.

__ADS_1


Setelah berbicara dengan Rudi, Rafatar merasa sedikit lebih tenang. Dia segera melanjutkan mencari informasi yang dibutuhkan.


"Tingkat akurasi test prenatal adalah 99 persen. Entah kenapa aku masih berharap satu persen itu ada," rintihnya di saat membaca informasi yang didapatkan.


__ADS_2