Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 20


__ADS_3

Syauqi, yang merasa terjepit oleh ancaman Salma, terpaksa menerima kondisi yang dibuat olehnya. Dalam hatinya, dia baru menyadari bahwa ini bukanlah cinta sejati. Akan tetapi, rasa takut akan dampak yang lebih buruk yang membuatnya menyerah.


"Ck, baik lah! Ayo sekarang kita temui orang tuamu. Tapi jangan pernah berpikir bahwa ini akan mengubah kenyataan menginginkan akhir pernikahanku dengan Humaira. Aku hanya melakukannya demi menghindari konsekuensi yang lebih buruk," ucapnya dalam ragu.


"Baguslah, Bang. Abang telah membuat keputusan yang tepat. Dan jangan khawatir, aku akan memastikan bahwa video itu tidak akan pernah terungkap." terang Salma merasa telah memenangkan permainan.


Syauqi dengan ragu menulis pusan kepada istrinya.


[ Humaira, aku ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan di luar kota. Aku harus pergi sekarang juga. ]


Ala yang masih di kampus tersenyum ceria ceria mendapat pesan dari suaminya. Ada rasa haru di dalam hati karena ini adalah kali pertama baginya sang suami memberi kabar apa yang akan dia lakukan. Padahal, selama ini tidak pernah sama sekali.


[ Baiklah, Uda. Apa yang terjadi? Apakah semuanya baik-baik saja? ]


Syauqi berusaha tenang dalam membaca pesannya.


[ Ya, semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya perlu menyelesaikan beberapa hal di luar kota. Jangan tunggu aku, kamu tidur saja dengan lelap. ]


Ala yang masih dalam prasangka baik, menerima alasan sang suami.


[ Baiklah, Uda. Hati-hati di jalan ya. Aku tidak sabar menunggu kepulangan Uda. 🥰 ]


Syauqi merasa bersalah teramat luar biasa. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain.


[ Tentu, Humaira. Aku akan menjaga diriku. Terima kasih atas pengertiannya. ]


Setelah mengirim pesan tersebut, Syauqi dan Salma segera pergi menuju Solok, kota keluarga Salma. Saat tiba di rumah keluarga Salma, mereka merasa gelisah dan khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.


Syauqi berperang di dalam batinnya. Saat ini, keluarga Salma telah menyiapkan segalnya untuk pernikahan siri yang akan mereka laksanakan.

__ADS_1


'Aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri. Bagaimana aku bisa melakukan ini kepada istriku, Humaira.'


Salma menggenggam tangan Syauqi yang terus terlihat cemas. "Bang, apakah kita bisa melaksanakannya sekarang? Seharusnya aku lah yang menjadi pertama untukmu. Namun, dari pada tidak sama sekali, aku menerima jika hanya menjadi yang kedua."


Syauqi memandang Salma dengan kebingungan. "Aku tidak tahu, Salma. Kaku membuatku terjebak dan tidak memiliki pilihan lain. Tapi hatiku selalu meragukan keputusan ini."


Ketika mereka masuk ke dalam rumah keluarga Salma, sesuatu yang berbeda mengisi hati Ala. Ia begitu gembira, perubahan suaminya semakin intens dari waktu ke waktu. Meskipun tengah sibuk dengan kegiatan kuliahnya, ia sama sekali tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi di balik layar rumah tangga mereka.


Ala mengobrol dengan temannya. "Wa, aku sangat senang dengan perkembangan hubungan kami. Uda Uqi berubah menjadi lebih perhatian dan penyayang. Aku merasa kami semakin dekat."


Sementara itu, Salma merasa bahagia karena usaha ia untuk mendapatkan lelaki yang ia cintai beberapa tahun ini berbuah manis. Salma tersenyum dengan kepalsuan. "Bang, ini adalah hari bahagia kita. Telah lama kita mendambakan masa ini. Namun, kenapa kamu terlihat murung?"


Syauqi memasang ekspresi campuran antara keraguan dan kekhawatiran. "Aku tahu, Salma. Tapi ini melebihi apa yang aku harapkan."


"Bang, aku mohon jangan merusak suasana. Ini adalah keputusan terbaik lillahi ta'ala untuk kita berdua. Kita akan melebur menyatukan cinta kita dalam ikatan suci," ucap Salma yang jelas memamerkan kebahagiaannya.


Tak lama kemudian, pada sebuah rumah, dua tangan tengah berjabatan dan serah terima Salma sebagai istri Syauqi tengah dihaturkan. Suara gema 'sah' pun membuat senyum Salma semakin mereka. Mereka berdua telah menjadi pasangan yang dihalalkan oleh agama.


Pada hari pernikahan, keluarga Salma dengan penuh sukacita menyambut Syauqi sebagai anggota keluarga baru. Meskipun ada perasaan canggung dan gelisah di dalam diri Syauqi, dia berusaha tersenyum dan menjalankan perannya sebagai suami Salma.


"Bang, aku bahagia bisa menjadi istrimu." Salma tanpa malu memeluk Syauqi yang sedari tadi membisu dalam keceriaan yang dirasakan istrinya.


"Syukur lah," ucap Syauqi yang tak tahu harus bagaimana dengan pernikahan ini.


Meskipun kebahagiaan terlihat di wajah Salma, hati Syauqi masih dirundung rasa bersalah dan dilema. Ia merasa sedih karena mengetahui bahwa pernikahan ini berarti dia harus meninggalkan Humaira, wanita yang lebih dulu ia nikahi.


Waktu terus berjalan. Syukuran dalam keluarga Salma akan pernikahan kecil ini baru saja usai. Namun, di tengah upaya Salma yang terus melekat pada suaminya, Syauqi tetap merasa hampa. Hati dan pikirannya masih tertuju pada Humaira, istri pertamanya yang tidak tahu apa pun tentang pernikahan siri mereka.


Pada malam yang penuh cinta, Salma dengan penuh kelembutan membuka dirinya dan mencoba membuat Syauqi merasakan kedalaman cinta mereka sebagai pasangan suami istri.

__ADS_1


"Sayang, mari kita merasakan cinta kita yang tak terelakkan. Biarkan hati dan tubuh kita menyatu sebagai satu." Salma tampak begitu bergairah, menyentuh bagian-bagian tertentu memancing sang suami.


Sebagai lelaki normal, sentuhan intens itu tentu membuat Syauqi tergoda. Akan tetapi ia merasakan keraguan. "Salma, aku ... Hmm, apakah harus saat ini juga kita lakukan?" Ia teringat akan pernikahannya dengan Ala, yang belum tersentuh sedikit pun.


Namun, dengan kelembutan sentuhan pada titik-titik tertentu, membua ketekunan Salma berhasil mengalahkan keraguan Syauqi. Dia mulai melepaskan diri dan merespons rayuan Salma dengan perasaan yang tumbuh di dalamnya. Karena tak bisa ia pungkiri, ada cinta untuk Salma yang tumbuh dalam waktu sekian lama. Mereka berdua mengalami momen kebahagiaan yang intens, melupakan sejenak kekhawatiran dan dilema yang ada.


Di tempat lain, Ala merasa gelisah karena tidak dapat menghubungi suaminya. Ponsel Syauqi tidak dapat dihubungi, dan rasa khawatir mulai menghantuinya.


Di tempat lain, Ala tak mengerti mengapa ia merasa gelisah. "Mengapa Uda tidak bisa dihubungi? Apakah ada yang tidak beres?"


Hati Ala dipenuhi dengan kecemasan dan pertanyaan yang tak terjawab. Dia merasa ada yang tidak beres dan rasa cemas semakin membesar dalam dirinya.


*


*


*


Pagi harinya, setelah momen intim dengan Salma, rasa bersalah yang besar menyerang hati Syauqi. Dia merenungkan keputusannya yang menyakitkan terhadap Humaira, istri sahnya. Mereka belum pernah mengalami momen keintiman dan rasa cinta yang seharusnya ada antara suami dan istri, tetapi lebih dulu ia rasakan bersama Salma, wanita yang baru ia nikahi.


Syauqi duduk sendiri di tepi tempat tidur, wajahnya dipenuhi dengan ekspresi campuran penyesalan dan kesedihan. Pikirannya terus terbayang pada Humaira, yang tidak tahu apa-apa tentang pernikahan siri dan perselingkuhan yang terjadi di belakangnya.


"Humaira, aku meminta maaf. Aku mengecewakanmu sebagai suami. Keputusan yang kuambil adalah salah, dan kau tidak pantas menderita karena kesalahanku." bisiknya.


Dia merasa merenggut hak Humaira untuk memiliki hubungan suami-istri yang sehat dan penuh cinta. Rasa bersalah itu semakin membebani hatinya, dan dia merasa tertekan dengan kebohongan dan pengkhianatan yang ia lakukan.


Namun, pada saat yang sama, Syauqi juga merasa terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh Salma. Rasa takut akan konsekuensi yang lebih buruk terus menghantuinya, membuatnya terjebak dalam lingkaran ketidakpastian.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa memperbaiki keadaan ini tanpa melukai siapa pun?"

__ADS_1


__ADS_2