Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 59


__ADS_3

*Lagi ada kemalangan, jadi update buat sekedar ambil absen yah*


'Sepertinya, Ama memang tidak pernah berempati padaku,' batin Ala sedih.


Sementara Rafatar mengangguk kepalanya, "Aku berjanji akan bertanggung jawab atas pilihanku sendiri. Tentunya kami tidak akan membuat keluarga menjadi malu atau terganggu. Kami juga ingin memiliki kehidupan yang harmonis dan saling mendukung satu sama lain."


Ala memaksakan senyuman meski hatinya merasa getir mendengar ucapan suaminya tersebut. Dia merasa bahwa tidak ada sedikit pun kemajuan dalam hubungannya dengan ibu mertuanya.


"Baik, Ma. Terima kasih, Ma," ucapnya menahan rasa sedih di dalam hati.


Sebenarnya ia merasa sangat bahagia dengan kebebasan yang didapatkan oleh sang suami. Namun, mood nya berubah drastis karena ucapan mertuanya tadi. Berbeda dengan Rafatar, suaminya terlihat sangat gembira setelah mendapatkan kebebasan. Rafatar mengetahui perasaan yang terbersit di dalam hati Ala, dan dia berusaha menghibur dan memahaminya.


"Sayang, aku tahu kamu sangat sedih. Ini bukanlah hal yang mudah bagimu. Tapi percayalah, Ama pasti bisa berubah dan menerima pernikahan kita ini dengan mata terbuka. Atau, apa perlu aku ceritakan bahwa kamu itu janda perawan yang masih belum tersentuh?" bisik Rafatar, suaminya.

__ADS_1


Wajah Ala merona dengan seketika. "Hmmm, aku rasa tidak usah, membayangkannya saja sudah membuatku malu," balas Ala.


"Kalau begitu kamu harus yakin kita bisa melewati ini semua. Meski pun tidak mulus dan begitu banyak cobaan, tetapi bila bersama, aku yakin kita pasti bisa. Aku sangat berterima kasih atas kehadiranmu menerimaku menjadi teman hidupmu. Ini adalah hal terindah meski ada batu kerikil dan tajam di setiap langkah yang kita lewati dan Ama adalah salah satunya"


Ala menganggukkan kepala, mencoba menghilangkan rasa sedih yang menghampirinya. Dia menyadari bahwa proses pemulihan hubungan yang baik dengan ibu mertuanya akan memerlukan waktu dan kesabaran.


"Mungkin kita hanya perlu memberikan waktu bagi Ama untuk memahami dan menerima situasi ini," kata Ala dengan penuh harapan.


Rafatar menggenggam tangan Ala erat-erat. "Jika Ama masih bersikeras, nanti kita anggap bahwa diri kita buta akan perilaku Ama, dan tuli bagai tidak mendengar setiap cecaran yang Ama lontarkan."


"Tapi sayang, tidak mungkin kita bisa tuli dan buta selamanya," kata Ala dengan lembut. "Kita harus tetap menjaga hubungan yang baik dengan keluarga, meskipun sulit. Kita perlu berusaha mencapai titik di mana kita bisa saling mengerti dan memahami untuk memperbaiki situasi ini."


Rafatar menganggukkan kepala, mengecup kening Ala. Mereka berdua pulang ke rumah saling melepas rindu setelah sekian waktu terpisah oleh keadaan.

__ADS_1


*


*


*


Waktu terus berlalu, Rafatar kembali memulai bisnisnya yang sempat karam oleh pengkh!anatan Galih, orang kepercayaannya. Ala pun kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai pengurus yayasan Pondok Pesantren dengan usia kehamilan yang terus bertambah.


Pada usia kehamilan mencapai tiga puluh minggu, Rafatar mengantar Ala untuk pemeriksaan kehamilan di sebuah klinik spesialis ibu dan anak. Mereka tiba di klinik dan langsung menuju ruang tunggu. Suasana di klinik terasa tenang dan nyaman, memberikan rasa kenyamanan bagi mereka berdua.


Ala duduk dengan hati yang berdebar-debar, merasakan gerakan bayi di dalam kandungannya. Rafatar duduk di sampingnya, memegang tangannya dengan penuh perhatian. Mereka saling bertatapan dengan penuh harap, menanti giliran dipanggil oleh dokter.


Setelah beberapa saat, mereka dipanggil masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter yang ramah menyambut mereka dan mempersilahkan Ala berbaring di tempat pemeriksaan. Dia memeriksa denyut jantung bayi dengan cermat, memeriksa pertumbuhan dan kondisi kesehatannya.

__ADS_1


"Hmmm, apakah sebelumnya Bapak dan Ibuk pernah melakukan pemeriksaan kehamilan sebelumnya?"


__ADS_2