
Venna mencoba bergerak ingin memeluk Ala, ternyata tubuhnya terasa sangat kaku. Tangannya yang tadi dipaksa untuk bergerak, semakin lama semakin mati rasa. Sehingga, tangan itu jatuh begitu saja seperti tak ada daya dari genggaman Ala.
Ala merasakan keanehan pada mertuanya ini, ia melirik wajah Ama yang tampak penuh kebingungan. "Apa yang Ama rasakan?" Ala mencoba menarik tangan mertuanya itu.
"Ama tidak tahu kenapa Ama jadi kaku seperti ini." Venna membesarkan matanya liar menatap liar ke segala arah dengan wajah panik.
Ala menarik tangan sang mertua dan memijit-mijit tangan wanita yang dipenuhi oleh perban itu. "Bagaimana, Ma? Ama bisa merasakannya?"
Ama menggeleng cepat. "Coba kamu lakukan dengan lebih kuat lagi!" pintanya.
Ala mengangguk dan memijit dan menekan tangan mertuanya dengan lebih bertenaga. "Bagaimana, Ma? Sudah terasa, Ma?" tanya Ala memastikan apa yang sempat terlintas dalam pikirannya.
__ADS_1
Venna kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Coba lebih kuat lagi!" Venna hampir berteriak, tetapi, ia tak kuasa. Tubuhnya ringkih, dengan rasa sakit menjalar pada sekujur badan terasa mendera. Suara yang keluar hanya berupa ringisan, menunjukan ketakberdayaannya saat ini.
"Apa yang terjadi padaku? Ala! Katakan! Kenapa Ama tidak bisa bergerak?" Venna mulai berbicara tak beraturan, ia diserang rasa panik karena tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ama tidak bisa bergerak? Kaku?" tanya Ala kebingungan.
Venna, yang mulai sadar bahwa dirinya yang saat ini hanyalah seorang wanita lumpuh, meronta dan merasa marah pada dirinya sendiri. Rasa frustasi dan keputusasaan memenuhi pikirannya saat dia menyadari keterbatasan yang mengikatnya.
Ala memeluk Venna mencoba menenangkan mertuanya. Akan tetapi, tubuh mertuanya itu menjadi semakin kejang karena ketakutan.
Dia mencoba menggerakkan tubuhnya yang lumpuh, tetapi tak ada reaksi. Tangisnya mengalir deras, dan dia merasa kesedihan yang tak terhingga.
__ADS_1
Ala, yang berusaha menengangkannya merasa sedih dan turut menangis, merasakan penderitaan dan pertentangan dalam hati Venna. Dia mencoba menghibur ibu mertuanya untuk tenang.
"Ma, aku tahu ini sangat berat bagi Ama. Tapi Ama jangan khawatir, aku akan menemani Ama. Kita akan menghadapinya bersama-sama. Keterbatasa ini tidak akan mengubah apa-apa. Ama adalah wanita sekaligus ibu yang kuat. Karena itu Ama harus tenang!" ucap Ala yang masih berada di sisinya.
Venna menatap Ala dengan mata yang penuh emosi. "Tapi bagaimana aku bisa melakukan segala hal yang biasa kulakukan? Bagaimana aku bisa memeluk cucuku? Bagaimana aku bisa bergerak bebas seperti dulu? Kamu hanya bisa bicara! Kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya!"
Ala pun mencoba menjawab dengan lembut, "Kita akan mencari cara untuk mengatasi ini, Ma. Kita akan mencari bantuan dan mencari solusi bersama-sama. Tapi yang terpenting, kami semua akan tetap berada di sisi Ama, dan membantu Ama hingga bisa bergerak, serta berjalan kembak."
Meskipun penuh keraguan, Venna mulai mengerti bahwa kehidupan yang baru menantinya akan berbeda, tetapi itu tidak berarti dia harus mengabaikan nilai-nilai dan cinta yang dimilikinya. Dia harus mulai menerima kenyataan ini dan berjuang untuk menerima dirinya yang baru. Prosesnya tidak mudah, Venna masih mengalami perasaan frustrasi dan kesedihan di sepanjang jalan.
"Kenapa Tuhan? Kenapa harus aku yang mendapatkan ujian bertubi-tubi ini? Aku sudah berbuat baik kepada semua orang ya Tuhan. Tolong kembalikan semua tentang diriku yang baru saja Engkau kunci, Tuhan ...."
__ADS_1