Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 28.


__ADS_3

Bibir Ala bergetar mendengar nasihat dari sang ibu. "Umi, Ala tidak kuat lagi."


Umi mengusap punggung putrinya ini. "Tunggu sebentar ya? Umi mau membeli air dulu agar kamu menjadi lebih tenang."


Umi beranjak dari posisi putrinya yang terlihat benar-benar tak berdaya dengan keadaan. Posisi kekosangan Ala kembali digantikan oleh ayah mertuanya. Sementara itu, ibu mertua yang tadi menuduh dan terus menyalahkan Ala, berdiri cukup jauh dan menunduk malu karena teringat atas perbuatannya kepada menantunya tadi.


"Ala, Ayah tahu ini sangat berat bagimu. Namun, jika kamu memang sudah lelah, kamu bisa memikirkan pernikahan ini kembali."


Sementara itu, wanita yang tadi sengaja menjaga jarak dengan sang menantu, kini menatap Ala dengan wajah sendu. Hatinya didera rasa bersalah yang amat besar karena wanita yang bernama Salma tadi terang-terangan mengatakan bahwa Syauqi adalah istrinya.


"Ala lelah, Yah? Ala rasa, usaha Ala selama ini untuk menjadi istri yang baik untuknya tidak membuahkan hasil. Dia lebih memilih kekasihnya untuk bersama. Aku ... Aku hanyalah orang yang menyela di tengah kala cinta mereka menggebu-gebu."


Ayah dah Ibu mertuanya saling bertatapan. Ayah mencoba memahami perasaan Ala yang begitu terluka dan kecewa. Dia mengangguk dengan penuh empati.


"Ala, pernikahan adalah perjalanan yang panjang dan penuh tantangan. Makanya tak heran jika orang mengatakan bahwa menikah adalah ibadah seumur hidup menjadi ladang pahala bagi mereka yang sabar menjalaninya."


"Kadang-kadang kita harus menghadapi situasi yang sulit dan pilihan yang sulit. Namun, itu bukan berarti kamu harus menanggung semuanya sendiri. Jika kamu benar-benar lelah dan merasa tak bisa melanjutkan, kamu perlu memikirkan kebahagiaan dan kesejahteraanmu sendiri."


Ibu mertua yang tadi menunduk perlahan mendekati Ala. Dia merasa sangat menyesal atas perlakuannya yang tidak adil dan menyalahkan Ala karena tidak memercayai apa yang diucapkan Ala tadi.


"Ala, maafkan Ibu. Ternyata, Ibu adalah mertua yang buruk. Padahal, Ibu sudah berusaha untuk menjadi orang yang akan menjadi contoh bagimu kelak. Namun, Ibu telah salah bersikap dan tidak seharusnya menuduhmu seperti tadi."


Ala menundukkan kepalanya menatap kaki yang telah gentar saat dibawa berdiri. "Ala rasa tidak ada yang perlu dimaafkan, Bu. Di sini, kita sama-sama menjadi orang yang bodoh dalam masalah ini. Namun, Ala memastikan ... Hubungan menantu dan mertua di antara kita tak akan pernah berakhir." ucap Ala yang masih belum bisa menatap mata kedua orang tua suaminya ini.


Ayah dan Ibu tersenyum. "Syukur lah, Ala. Ayah merasa sangat bersyukur saat Faisal menyerahkanmu untuk menjadi istri Syau—"


Ucapan Ayah terhenti sebelum ia menyelesaikan bicaranya. Satu tangan Ala menggantung, membuat Ayah melihat jelas telapak tangan gadis ini."Maaf, Yah. Ala belum selesai berbicara."


"Oh, ya maaf. Lanjutkan lah."

__ADS_1


Ummi yang tadinya pergi mencari minuman telah datang menbawa kantong yang berisi beberapa botol air mineral. "Ala, minum dulu. Biar hatimu lebih tenang."


Ala menganggukan kepala membaca basmallah sebanyak tiga kali dan meneguk air sebanyak tiga kali. Setelah itu, ia terlihat sedikit lebih tenang.


"Ibu, Ayah ... Ala berjanji tidak akan mengakhiri hubungan indah di antara kita. Namun, sepertinya tidak lagi bisa menjalani dengan Uda Uqi. Izinkan Ala untuk berpisah—"


"Ala!" cegat Ummi.


"Berpisah dengan Uda Uqi, karena Ala tidak bisa lagi menjalani hari sebagai istrinya." Ala kembali melanjutkan ucapannya.


"Ala?" Suara Ummi semakin tegas, tetapi Ibu menggelengkan kepala.


"Biar kan Ala berbicara. Karena, memang dia lah yang merasakan sendiri bagaimana kehidupannya dengan Syauqi."


"Bukan kah Ala dan Uqi baik-baik saja? Ummi tidak pernah mendengar kabar buruk tentang rumah tangga kalian. Kenapa begitu tiba-tiba? Apa yang kamu pikirkan Ala? Apa kamu lupa, menikah dengan Syauqi itu adalah wasiat Almarhum Abi. Bukan kah kamu sudah berjanji untuk itu?"


"Jika kamu mengakhiri pernikahan kalian, apa yang harus Ummi katakan saat bertemu di alam barzah nanti dengan Abi?"


"Ummi, Ala memahami bahwa ini adalah wasiat Almarhum Abi. Ala juga ingat janji yang aku buat saat menikah dengan Syauqi. Tetapi, pernikahan kami tidak lagi seperti yang Ummi bayangkan. Ada ketidakbahagiaan dan kehancuran di dalamnya. Ala tidak ingin hidup dalam penderitaan dan mempertahankan hubungan yang tidak bahagia ini."


Ummi mencoba menenangkan diri sejenak, lalu dia melanjutkan dengan suara lembut. "Ala, setiap pernikahan memiliki masalahnya sendiri. Tidak ada pernikahan yang sempurna. Tapi, sebagai seorang istri, kamu harus mencoba untuk menyelesaikan masalah tersebut dan tetap setia pada janjimu."


Ala menangis tersedu-sedu. Hatinya terbelah antara kewajiban sebagai anak dan keinginannya untuk menemukan kebahagiaan sejati.


"Ummi, selama ini Ala telah mencoba. Aku telah berjuang sekuat tenaga untuk menjadi istri soleha bagi Uda Uqi. Tapi, nyatanya Ala diabaikan, tidak dicintai, dan tidak hanya bertemankan air mata. Ala pernikahan ini sangat lah tidak sehat. Ala ingin menemukan cinta dan kebahagiaan yang sejati, baik untuk diriku sendiri maupun untuk Syauqi."


Ibu dan Ayah mertua saling pandang, tampak bingung dan sedih. Mereka tahu bahwa keputusan ini sulit bagi Ala, dan mereka juga mencintainya bagai putri mereka dengan tulus.


"Ala, kami mencintaimu dan hanya ingin kebahagiaanmu. Tapi, kami harap kami bisa mempertimbangkan kembali keputusanmu dengan matang sebelum menyesal. Pernikahan adalah komitmen yang sakral. Janganlah terburu-buru dalam mengakhirinya."

__ADS_1


Ala melirik ke arah sebuah ruangan di mana ada wanita yang dicintai suaminya. "Ayah dan Ibu tidak perlu merasa khawatir. Jika Ayah dan Ibu merasa Uda membutuhkan istri dalam masa berat ini, dia telah memilikinya, dan itu bukan aku."


"Mungkin, aku akan memikirkannya. Akan tetapi, dalam waktu yang sangat panjang."


Ala bangkit dan berjalan membiarkan orang tua suaminya termagu dengan jawaban yang ia berikan. Ummi pun tergopoh tampak canggung pada dua besannya itu.


"Saya akan mengikutinya. Assalamualaikum." Ummi kembali mengejar Ala dan akhirnya ia menangkap sang putri.


Namun, putrinya ini terus berjalan tak mengubris panggilan wanita yang melahirkannya ini. Ala segera menuju parkiran, tempat mobil yang membawa ibunya ke sini. Setelah melihat kendaraan antik mewah milik sang ibu terparkir, Ala masuk dan menghempaskan diri.


"Dek Ala? Mau ikut pulang bersama Umi?" tanya Pak Rahmad, supir keluarga mereka.


Ala tidak memberikan jawaban dengan mulutnya. Ia hanya mengangguk, tetapi rautnya terlihat dingin.


'Mulai hari ini, tak ada lagi air mata untuknya, tak ada lagi cinta yang hanya aku rasakan sendiri ini, tak ada lagi nama Syauqi di dalam hati ini,' batinnya sendu sedan.


Tak lama kemudian, pintu kendaraan dari sisi lain terbuka. Umi masuk dan membelalakan matanya. Ia memukul lengan Ala penuh amarah. "Kamu ini Ala? Kenapa bisa jadi seperti ini? Mana Ala putri kami yang penurut dulu?" cecar ibunya kecewa.


"Pukul Mi! Pukul aja Ala! Kalau perlu hilangkan dan ten9gelamkan Ala dari bumi ini. Ala rasa, Ala tak layak hidup lagi sebagai anak Ummi dan Abi."


...****************...


Yuhuuu, siapa yang ingin tahu visual Ala dan Syauqi yang ada dalam pikiran Author? Kakak boleh follow IG author ya: @sofie.espada



Atau, add friend Author atas nama Sofie Amelia, makasi ya 🥰


__ADS_1


...🥰🥰🥰...


__ADS_2