
"Humaira? Humaira?" Pria itu menyusuri rumah, tetapi semua hanya senyap tak ada suara.
Ia mengetuk pintu kamar sang istri, tetapi tak ada jawaban membuat tangannya dengan begitu saja menarik knop pintu kamar tersebut. Ternyata, kamar itu juga kosong.
"Berarti, orang tadi memang kamu, jadi kamu sudah mendengar semuanya?" gumamnya.
Lelaki berperawakan datar itu melangkahkan kakinya dengan perlahan. Kepalanya memutar melihat betapa rapinya kamar ini, sungguh sangat berbeda dengan kamar yang ia gunakan.
Kepalanya kembali berputar memperhatikan setiap sisi dan sudut kamar ini, kamar yang harusnya mereka berdua tempati, dan ukurannya memang lebih luas dibanding kamar yang lainnya.
"Setiap malam, aku mendengar dia mengaji. Namun, mana Alquran yang ia gunakan?" Pria itu tertarik mengotak-atik mencari kitab suci umat muslim. Namun, ia tak menemukannya sama sekali.
"Atau jangan-jangan ia membaca Alquran dari ponsel?" Ia melanjutkan menilik ke tempat lain, kali ini pada lokasi penting bagi seorang wanita yakni pada cermin rias tempat sang istri bersolek.
Tak banyak benda yang ada di sana. Dan di sisi paling pinggir, tampak sebuah buku, mirip diari. Tangannya bergerak begitu saja menarik benda tulis itu.
Beberapa kali buku kecil yang cukup tebal diputar dan ditilik. Ada rasa ingin tahu di dalam hatinya tentang apa yang ditulis gadis itu. Namun, akhirnya benda itu diletakkannya kembali.
Sejenak, ia melihat jam yang melingkari tangannya. "Hmmfff, kenapa dia belum pulang juga?"
"Awas kalau pulang nanti!" gumamnya lagi.
Syauqi akhirnya memilih keluar dari kamar ini dan menuju kamarnya membersihkan diri. Waktu terus bergerak menuju malam hari, sang istri masih belum pulang. Ia baru saja kembali dari mesjid yang ada di kompleks perumahan tempat mereka tinggal.
__ADS_1
Kruucuuuk
Suara dari dalam perutnya tak dapat lagi berdusta dan meronta untuk diisi. Akhirnya, ia memeriksa kulkas, mencari sesuatu yang bisa ia masak. Ia memutuskan membuat omelet, masakan yang simpel kala mandiri di Kairo, dulu.
Tak lama kemudian, ia telah menyelesaikan masak membuat omelet. Ia sengaja membuat dua porsi, disiapkan untuk istrinya. Namun, setelah makanannya habis, Humaira, sang istri belum kembali juga.
Ia menatapi makanan yang telah dingin di piring yang disiapkan untuk istrinya. Ada rasa sedih dan kecewa melihat makanan itu tidak tersentuh. Dengan kesal, ia menutup makanan itu dengan tudung.
"Atau, ia pulang ke rumah Umi?"
Syauqi mengambil kunci mobil dan setengah berlari menuju kendaraan itu terparkir. Dengan sedikit ngebut ia menuju rumah mertua. Azan Isya berkumandang dan ia segera menghentikan mobil, melaksanakan salat isya berjamaah.
Dalam sendunya, ia tampak khusyuk berdoa. Entah apa yang ada dalam pikirannya, ia terlihat cukup gundah. Usai menangkupkan kedua tangan, Syauqi bangkit dan kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua istrinya.
Suasana rumah itu sudah begitu sepi. Namun, tak mengurungkan niatnya dalam pencarian Humaira. "Assalamualaikum."
Dari dalam rumah, Umi terdengar heran mendengar suara pria yang datang pada malam ini. Ia yang baru usai melaksanakan salat isya, perlahan bangkit, meskipun masih terbalut dalam mukena.
Leher Umi memanjang mencoba melirim siapa yang ada di luar sana.
"Assalamualaikum, Umi. Ini Syauqi."
Mendengar nama sang menantu, Umi menghela napas lega. "Walaikum salam, Nak Syauqi." Umi memutar kunci membuka pintu rumah.
__ADS_1
"Loh, kok sendiri?" Umi kembali memanjangkan leher berusaha menengok ke arah mobil menantunya yang terparkir.
Syauqi sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diberikan mertua. Namun, ia segera merubah ekspresi keterkejutannya dengan mencium tangan sang mertua.
"Iya, Mi. Saya hanya sendiri. Tadi kebetulan lewat sini jadi mampir sebentar untuk bertemu Umi."
Bibir Umi membulat. "Ooh, begitu. Umi kira kamu datang bersama Ala. Ayo masuk dulu!"
Syauqi menggelengkan kepalanya tersenyum menutupi rasa khawatirnya. "Humaira sendirian aja di rumah. Saya harus segera kembali."
"Oh, jadi kamu buru-buru. Tunggu, jangan pergi dulu! Kamu tunggu sejenak ya? Umi baru masak rendang. Ala sangat suka rendang buatan Umi. Nanti kamu bawa sekalian ya?"
Syauqi mengangguk datar, padahal di dalam hatinya saat ini telah khawatir, takut ketahuan jika sang istri tidak kunjung kembali, usai melihat ia berjalan berduaan dengan wanita lain.
Umi masuk dan Syauqi mulai mondar-mandir sibuk dengan pikirannya. "Humaira, kamu ke mana? Apa yang kamu pikirkan?"
Beberapa waktu kemudian, Umi muncul memberikan rantang berisi masakan buatannya. "Nah, ini. Kalau belum dimakan, masukan ke dalam kulkas dulu ya? Nanti tinggal dipanaskan."
"Baik, Umi. Shukran ...." Syauqi pamit mencium tangan Umi dan beranjak meninggalkan rumah mertuanya.
Setelah cukup jauh, kendaraan dihentikan. Kedua tangannya mengusap kepala dalam rasa bingung dan kalut.
Ia mengambil ponsel, mencoba menghubungi sang istri.
__ADS_1
[ Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Silakan coba beberapa saat lagi! ]
"Humaira, kenapa panggilanku kau tolak?"