
Suara bayi perempuan itu terdengar sungguh sangat tinggi. Riko tak memedulikan tangisan yang membuat semua hati yang mendengar merintih, kasihan pada bayi yang diletakan begitu saja di atas jalan parkiran.
"Ibunya saja tak memedulikannya. Apalagi aku! Mau nangis atau mau m4ti sekalian pun gue udah gak peduli!" Riko menatap Salma dengan nanar.
"Jadi, lu itu selingkuhan bini gue?" tanya Riko, bergantian menatap Syauqi.
"Bukan!" ucapnya pendek.
"Kalau elu emang minat sama dia, silakan ambil! Gue juga udah gak minat lagi sama dia. Udah bekas orang, hidupnya penuh drama, dan ternyata pernah membuang suami dan anaknya. Sebelum gue yang dibuang, gue talak sekalian dia," ucap Riko enteng tanpa beban .
Tatapan Riko kini beralih kembali ke arah Salma. "Hei, betina! Jika emang udah muak sama gue, ya udah, mulai hari ini kau kutalak! Talak tiga sekalian. Anakmu itu, silakan mau kau apakan. Mungkin akan sama seperti anakmu yang dulu, bisa kau buang atau kau jual, gue udah gak peduli! Barang-barang yang ada di rumah, jika tidak dijemput sampai sore ini, maka jangan kau harapkan lagi! Gue jamin, esok hari udah nggak ada lagi!"
Riko meludah kasar seolah jijik dengan semua yang ada. Setelah itu, ia pergi tanpa menoleh ke belakang sedikit pun meninggalkan mereka.
"Huwaaa ...."
Suara tangisan yang sangat keras seolah tak mengusik Salma. Dia hanya termangu dengan apa yang baru saja ia dapatkan.
"Sepertinya dia salah sangka," ucap Syauqi menatap bayi yang mulai merangkak mendekati Salma.
"Ini salahmu!" ucap Salma dengan lantang.
__ADS_1
"Kenapa begitu? Aku tak berbuat apa-apa denganmu." Syauqi tak mau kalah.
"Pokoknya, ini salahmu! Kau telah membuat aku diceraikan oleh suamiku!"
Kali ini, bayi itu telah berada di kaki Salma. Tangannya menggapai Salma memohon untuk segera digendong olehnya. Salma menatap bayi itu dengan nanar, masih diam membiarkannya menangis.
"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat angkat dia!" ucap Syauqi.
"Apa pedulimu?" balas Salma.
Sejenak, rahang Syauqi mengeras karena rasa kesal yang sangat besar terhadap Salma. Namun, ia memang tak peduli. Tak ada niat dan minat untuk memperbaiki hubungan dengan wanita ini.
"Terserah!"
Deru halus mesin tadi, telah terdengar menyala. "Bang, kau harus bertanggung jawab! Kau yang telah membuatku menjadi janda pria keparat itu! Setelah ini, aku tak tahu harus tinggal di mana karena aku telah diusir olehnya!"
Salma berupaya untuk mengejar, tetapi sang bayi telah lelah untuk menangis. Mobil yang dikendarai Syauqi pun mulai bergerak menjauh, tetapi kali ini Salma sudah tidak bisa bergerak.
Salma menatap sang bayi dengan wajah kesalnya. "Kenapa kau menangis terus? Apa kau tak cukup puas dengan ayahmu itu?" Akhirnya Salma menarik bayi itu menaikannya ke dalam gendongan.
"Cih, apa yang harus aku lakukan padamu?" bentaknya pada bayi yang mulai mengurangi ritme tangisannya.
__ADS_1
Syauqi terus melajukan kendaraan roda empat yang ia bawa. Sesekali ia menoleh pada spion menatap pantulan Salma.
'Astaghfirullah, semakin jelas bagaimana tabiatnya,' ucap Syauqi di dalam hati.
'Kekhilafanku sungguh sangat fatal karena begitu mudah tergoda kepada wanita. Tapi aku tak menyangka, dia sungguh berbeda pada saat di Kairo dulu. Atau, selama itu aku hanya menutup mata, karena aku sangat mencintainya?' Syauqi terus bergulat di dalam hatinya.
'Dan, karena dia pula aku membuang berlian yang sangat berharga. Ana, apa aku salah masih mengharapkanmu? Meskipun aku selalu mendoakan keluargamu bahagia di dalam mulutku, tetapi hatiku selalu berkata lain.'
Syauqi menatap Baim yang sedari tadi diam menatapnya. Ia mengerti arti tatapan itu. Baim terlihat kebingungan dengan situasi yang ada. Apalagi, tiba-tiba ia dimarahi oleh seorang wanita yang baru pertama kali ia jumpa. Hal yang lebih mengejutkan lagi, wanita itu ternyata adalah ibu kandungnya. Ia tampak cukup tertekan dengan hal yang mendadak seperti ini.
Syauqi mengusap kepala Baim. "Ayo, makan jajanannya!" ucap Syauqi mencoba mengalihkan pikiran Baim.
"Tapi, Abi ... kenapa ibu yang tadi bilang ibunya Baim? Apakah Ummi turun dari surga?" tanyanya memasang wajah polosnya.
Syauqi tersenyum kecut mendengar pertanyaan Baim ini. "Menurutmu, dia seperti apa?"
"Dia seperti nenek sihir yang suka makan anak-anak, Bi. Tak mungkin kan, Abi pernah menikah sama nenek sihir?"
...****************...
Mampir yuk kakak sama karya kece temen author yaaah
__ADS_1