
Lanjutan....
Genta semakin menjadi. Ia mendorong sedikit demi sedikit tubuh Anya sehingga terbaring di atas kasur. Lalu ia menindih tubuh Anya tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Bibir Genta lalu turun, merambah ke arah dagu Anya, lalu turun lagi mengecupi sepanjang leher jenjang Anya.
“Genta...shh” Anya mendesah. Mendengar desahan Anya sembari memanggil namanya membuat Genta tersenyum senang. Karena bagi Genta, saat Anya memanggilnya dengan hanya menggunakan namanya saja, ia merasa tidak ada jarak sedikit pun di antara dirinya dan juga Anya.
“Hemm..” Genta tidak menjawab. ia hanya menggeram sembari mengecupi sepanjang kulit halus Anya.
“Kita nggak boleh...” Anya menahan erangannya. Astaga, apa yang sedang terjadi dengannya?
Genta menghentikan aksinya, lalu mengangkat wajahnya ke arah Anya.“Kenapa?” tanyany bingung.
“Umm, kita nggak boleh melakukan lebih.”
“Kenapa? Apa karena kita belum menikah?” tanya Genta lagi.
“Ya, itu salah satu alasannya.”
Genta mendengus, sebelum kemudian ia bangkit dan duduk di pinggiran kasurnya. “Ayo kita menikah.” ajakan Genta mengejutkan Anya, tapi kemudian Anya dapat menguasai dirinya saat menyadari jika Genta pasti hanya bercanda.
Anya bangun dan duduk di sebelah Genta, ia tersenyum kemudian meraih jemari Genta.
“Menikah bukan perihal yang gampang, lagi pula, bukanya kamu harus ke luar negeri?”
“Ya, tapi aku bisa menikahimu sebelum aku pergi.”
“Genta, bukanya aku menolak tapi-”
Genta berlutut seketika di hadapan Anya yang masih duduk di pinggirang kasurnya. Ia meremas jemari Anya dan berkata, “Kita akan menikah dalam waktu dekat, dan kamu akan tetap menjadi milikku, terikat denganku meski aku tidak berada di sisimu.” Kesungguhan yang terdengar dari kata-kata Genta membuat dirin Anya luluj seketika, ia terpana dengan ketulusan yang tampak pada diri Genta. Benarkah Genta akan menikahinya dalam waktu dekat? Sungguhkah?
Satu minggu setelah kejadian di dalam kamar Genta, Genta benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Anya sempat bingung seketika, Genta tiba-tiba mengajaknya keluar dari rumahnya. Keduanya ternyata menuju ke sebuah hotel, di mana saat itu di sana sudah ada penatap rias lengkap dan penata busana.
“Ini, ada apa?” Anya masih bingung dengan apa yang di lakukan oleh Genta.
Genta tersenyum, jemarinya mengusap lembut pipi Anya, dan ia berkata, “Kita akan menikah hari ini.”
“Apa? Maksudnya?”
“Ya.” Genta melirik ke arah jam di tanganya.
__ADS_1
“Tiga jam lagi penghulunya akan datang.”
“Penghulu? Ku pikir kamu nggak serius dengan hal ini.”
“Aku serius, makanya aku melakukan ini semua untukmu. Kita akan benar-benar menikah sore ini.”
“Lalu bagaimana dengan keluarga kita?”
Genta terdiam sebentar. “Aku akan memberitahukan mereka nanti.” Pada detik itu, Anya merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Genta, dan entah kenapa, ia mulai merasa ragu dengan lelaki itu.
Tidak lama setelah itu. “Sah.” Suara-suara itu masih terngiang di telinga Anya. Suara seorang penghulu yang baginya masih cukup muda, lalu beberapa saksi yang di siapkan oleh Genta, dan juga beberapa teman-teman Genta yang datang di sana. Tak ada yang Anya kenali sama sekali kecuali Genta dan beberapa teman lelaki itu yang pernah di kenalkan padanya. Dan kini, dirinya sudah seperti orang linglung ketika ia sibuk memikirkan apa yang baru saja terjadi dengannya.
“Hei, apa yang kamu pikirkan?” Sentuhan jemari Genta di pundaknya membuatnya terlonjak seketika. Dengan spontan Anya menjauh, lalu ia menatap Genta yang ternyata sudah selesai mandi dan hanya mengenakan kimononya saja.
“Kenapa? Ada yang kamu pikirkan? Kamu, tampak takut denganku.”
Genta mendekat. “Kenyataan kalau kamu sudah menjadi istriku?”
“Ku pikir, ini salah. Seharusnya kalau kita menikah, kita harus melibatkan orang tua dan..”
Genta menangkup kedua pipi Anya seketika.
“Kapan?”
“Setelah aku siap.”
“Apa yang membuatmu tidak siap? Apa karena status sosialku?”
Genta diam seketika.“Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu ingin aku menarik kata-kataku di depan penghulu tadi? Dengar Anya, apapun yang kamu pungkiri sekarang, kamu sudah menjadi istriku, pernikahan kita sah di mata agama.”
Anya hanya menunduk, dan ia tak dapat membantah apapun. Ya, memang mereka sudah menikah, dan statusnya kini sudah berubah menjadi istri dari seorang Genta Wira Jaya.
“Maaf, kalau aku sudah membuatmu takut, atau membuatmu tidak nyaman! Aku hanya ingin membuat ini mudah untuk kamu dan aku.” Anya, tapi ia tentu tidak dapat menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Genta kembali mengusap lembut pipi Anya, kemudian ia mengangkat dagu Anya.“ Jadi kamu mau memaafkan aku, kan?” tanya Genta memastikan.
Anya menatap Genta, dan mau tidak mau ia tersenyum kemudia mengangguk lembut pada sosok yang ada di hadapannya tersebut.
Genta semakin mendekat, bahkan ia sudah menempelkan tubuhnya pada tubuh Anya. “Jadi, apakah alu sudah bisa meminta Hakku?" Sungguh, pertanyaan yang terlontar dari bibir Genta tersebut sehera membuat Anya bimbang. Apa karena ini Genta menikahinya secara diam-diam? Hanya karena lelaki itu ingin memiliki tubuhnya tanpa kata dosa yang membayanginya?
__ADS_1
“Kamu akan menyukainya.” Suara Genta terdengar lembut, terdengar seperti mantera yang mamou menenangkan hati Anya.
Saat ini, keduanya masih berada di dalam kamar hotel yang sudah di sewa oleh Genta.
Kamar yang akan menjadi saksi penyatuan antara dua insan yang tengah di mabuk asmara.
Anya sudah terbaring di atas kasur tanpa sehelai benang pun. Begitu pun dengan Genta yang juga sudah polos dengan posisi menindih tubuh Anya. Keduanya sudah sama-sama panas, sama-sama bergairah karena pemanasan yang sudah cukup lama di lakukan oleh Genta terhadap tubuh Anya.
Namun, saat Genta akan menyatukan dirinya, ia melihat ketakutan yang tampak jelas di mata Anya, hingga kemudian ia mengatakan pada Anya jika semua akan baik-baik saja.
“Aku tidak akan menyakitimu, Anya. Percayalah.” Lagi-lagi, Genta mencoba menyakinkan Anya.
“Umm, ini. Ini pengalaman yang pertama untukku, jadi aku takut-”
“Tidak ada yang perlu kamu takutkan.” Genta memotong kalimat Anya dengan cepat. “Aku akan membuat ini menjadi indah untuk kiya berdua.” ucapan Genta terdengar seperyi sebuah sumpah., hingga membuat Anya kembali terpana, ia menganggukan kepalanya begitu saja. Lalu tak lama, ia merasakan pusat gairah Genta menyentuh titik sensitifnya.
Anya merasa tidak nyaman, ya, tentu saja. Masalahnya ini adalah pertama kalinya ia melakukan hal sedekat ini dengan seorang lelaki. Memperlihatkan setiap jengkal dari tubuhnya terhadap lelaki tersebut, walau kenyataannya mereka baru saja melakukan sebuah pernikahan kilat. Namun tetap saja, itu tak mengurangi ketidak nyamanan Anya pada kejadian ini.
Anya mengerang, ketika merasakan Genta mencoba menyatukan diri dengan dirinya, Lelaki itu tampak kesulitan. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain mengerang kesakitan. Lalu Genta menghentikan aksinya, ia kembali menatap wajah Anya dan tersenyum lembut kepadanya. “Jangan tegang, aku tidak akan bisa melakukannya kalau kamu saja tidak menerimaku sepenuhnya.”
“Lalu, apa yang harus kulakukan?”
“Nikmati saja.”
“Rasanya tidak nyaman.”
Jemari Genta terulur, mengusap lembut bibir ranum Anya. “Aku akan membuatmu lebih nyaman, aku akan membuatmu menerimaku sepenuhnya.” setelah ucapanya tersebut, Genta kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Anya, melumatnya dengan lembut, hingga membuat Anya melupakan ketidaknuamanannya. Anya tergoda, Anya kembali merasakan gairahnya kembali terbangun, hingga ia tidak sadar jika Genta kembali memasukinya sedikit demi sedikit.
Genta mencobanya secara pelan, agar ia tidak menyakiti diri Anya. Genta bahkan melupakan gairahnya sendiri yang seakan ingin meledak karena melihat tubuh panas Anya. Tiba saatnya ketika Genta menemukan penghalang di antara mereka, dengan pelan tapi pasti, Genta mendorong lebih keras lagi, hingga tubuh mereka menyatu dengan sempurna.
Anya mengerang kesakitan, Genta tahu itu. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan karena memang seperti itulah prosesnya. Yang bisa Genta lakukan hanyalah menenangkan Anya kembali, membangun gairah dari wanita tersebut dengan cara mengecupi sepanjang kulit halusnya.
Apa yang di lakukan Genta nyatanya tidak sia-sia, ketika ia mendengar erangan Anya berubah menjadi desahan demi desahan pendek yang menggoda. Anya kembali bergairah, Genta tahu itu, dan Genta memutuskan untuk menggerakan tubuhnya sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, mencari kepuasan untuk dirinya dan juga diri Anya. Oh, betapa indahnya pengalaman pertama mereka, pengalaman pertama yang membuat tubuh keduanya ingin terus melakukannya.
Bersambung....
Halo teman-teman,saya disini ingin mencoba membuat novel bergenre Romantisme yg esentrik:v, jadi mohon dukungannya dan saran agar saya lebih bersemangat dalam mengerjakan novel ini.
Ya novel ini original buatan saya jadi waktu upnya tidak menentu,author usahakan akan up setiap hari !!!!
__ADS_1