
KE ESOKAN HARINYA DI MANSION MERTUA.
"Bunda, bolehkan aku memotret bersama Ayah?" tanya Reina.
Tanpa menunggu jawaban Luna. Triis menjawab "Ya."
Luna meringis senyum paksa, ingin sekali menjawab "Tidak."
Tak ingin menolak potretan kedua anak Luna yang humor tawa dan merasa senang memotret, ia segera menampakan hasilnya.
Kedua anak Luna memeluk satu sama lain, Lalu Triis spontan memeluk Luna, untuk mengucapkan terimakasih.
Braaagh!!
Luna menepis pundak Triis, menolak lingkaran tangan Triis kala itu dan berbisik.
"Apa yang kamu lakukan?" Luna menatap Triis yang melakukan sesuatu dan mengambil kesempatan di depan kedua anaknya.
"Diamlah, sejenak ku mohon jangan bergerak!"
"Kenapa jika bergerak?" tanya Luna.
"Kau akan merasakan hal yang lebih nyaman dan membuatkan adik untuk menemani Rean dan Riana setelah ini!"
Ccciieh...,, bisa bisanya ia ikut memeluk diantara kedua sang anak. Batin Luna menggerutu.
Deuugh.
Luna terdiam pias. Ia tak mengharap ini semua terjadi. Makan malam jika bukan karena janji kedua anaknya. Ia sudah malas berurusan dengan makan malam dengan pria atapun cinta yang membuatnya bodoh.
Apa mama Maya sengaja pergi begitu saja, karena ingin melihat kedua anakku makan bersama dengan Bunda, serta Ayah biologisnya. Kondisi ini membuat aku pening. Pikiran Luna menatap sang anak tapi hati dan pikirannya tak singkron.
"Bunda dan Ayah, apakah bisa tinggal bareng. Supaya Rian selalu ditemani dan bermain bersama. Ya kan dek?"
Makan malam hening, Luna menggaruk gatal kepala rambut yang tak gatal. Ia memikirkan jawaban yang tepat dan memberikan penjelasan. Luna merasa tak percaya malam ini kedua anaknya berfikir secepat itu.
Triis tersenyum senang.
"Ya pasti."
"Apa maksudnya, kamu berjanji pada kedua anak kita?" menatap tajam.
"Hei, dia anak darah dagingku juga bukan. Memang salah jika aku berjanji?" bisiknya.
Menyebalkan sekali sikap Triis, membuat Luna tak berkutik di hadapan kedua anaknya.
Sementara kedua anaknya ikut saling berbisik mengikuti Triis, dan gaya duduk yang sok cool Rein. Sementara Riani ikut centil berbisik pada sang kakak. Luna tertawa lucu menatap aksi kedua anaknya saat itu.
Beberapa jam kemudian.
Makasih Ayah, udah buat kami ceneng cama Bunda!
Kedua anak itu memeluk pria kokoh tinggi, hidung mancung menyerupai kedua anaknya. Luna tak bisa mengelak karena memang dia itu ayah biologisnya, tapi ia takut Triis akan terus mendekatinya dan memakasa kembali.
Hal yang ingin ia lakukan adalah, menjauhkan kedua anaknya pada pria yang mendekatinya sekalipun bukan Triis kelak, karena ia masih tak percaya akan perubahan Triis seratus persen.
"Sayang, ayo masuk dengan bi ratna ya!" kedua anak itu berlari masuk kedalam rumah, ia tersenyum sementara Rein melambai tangan pada Triis. Riani membuat kiss pada telapak tangan dan memberikan pada Triis yang ia sebut Ayah. Sehingga Luna terkejut dan Triis tersenyum bahagia ikut membalas.
__ADS_1
"Andai aku bisa setiap hari seperti ini. Ternyata berkeluarga itu sangat bahagia ya?"
Luna menatap Triis dan mematahkannya.
"Ya. Tapi lebih aman dan bahagia. Kamu segera pergi tak pernah kembali. Sudah malam tak ada yang perlu dibahas kan!"
Luna pamit dan Triis menariknya.
"Izinkan aku menginap di kamar kedua anak kita Luna?"
"Tidak Triis. Pulanglah ke mansion Mama. Apartmentmu masih luas bukan. Selama aku di sini, hanya kedua anakku yang bisa tinggal. Kamu tidak!"
"Kita belum selesai, mengapa kamu menjauh dan tak sadar. Aku mendekati bukan karena kedua anak itu benar darah dagingku saja, tapi aku mulai mengagumimu Luna!"
"Tidak ada kamus cinta Triis, bagiku hidupku hancur karena kamu!"
"Luna aku akan memperbaiki dan membuatmu bahagia di sisiku."
lontaran spontan Luna membuat Triis ingin memperbaikinya.
"Akan memperbaikinya. A-Akan. Luna mengulang menatap Triis. Jadi kamu benar belum berubah, sudah jelas batinku menolak dan ragu."
Triis menarik kembali dan memeluk Luna. Luna ingin melepas, tapi pelukan itu semakin erat.
"Triis. Anda sudah melewati batas, ini di depan rumah. Saya takut tetangga lewat dan mengkerumuni aksi ini, lepaskan!"
Triis masih tersenyum dan menahan, ia kembali memeluk erat Luna. Ada rasa nyaman dalam tubuh Luna, selama itu ia selalu menyendiri dan melakukan hal bodoh bersama Sean. Tapi aliran pelukan itu berbeda dari wanita yang selalu memuaskannya.
"Maafkan aku Luna. Aku ingin sekali kembali padamu. Ku mohon!"
"Triis. Jangan bahas lagi, aku takut hatiku tersakiti. Jujurlah kamu menginginkan apa, aku sangat takut kamu melukaiku. Yang akan menyebabkan luka pada kedua anak kita kelak!"
Beberapa tahun merasakan dikhianati. Tapi keberadaan Luna dan kedua anaknya, membuatnya hidup dan bergairah kembali. Tapi penolakan Luna membuat ia masih mencari kepuasan pada satu wanita yang Luna kenal tanpa sengaja, memberikan hati cinta seiring waktu.
Luna sulit mengatur nafas. Ketika Triis mendekatinya dan kepala Triis bersandar pada pundak Luna. Sehingga Luna luluh dan menoleh menatap Triis yang melow.
"Triis ini sudah malam. Pulanglah!" Luna melembut sabar.
Beberapa saat Luna membiarkan Triis memeluk dan bertumpu sandar pada tubuh mungilnya. Lalu Triis melepas eratan itu dengan senyuman.
"Sampai jumpa, selamat malam calon ibu dan istriku!"
Luna terdiam dan membuyarkan perkataan Triis. Ia segera masuk dan berlari menutup pintu.
Sementara jahil Triis tertawa membiarkan ekspresi Luna yang terkejut tadi.
"Tingkahmu seperti tadi sangat lucu Luna." lirihnya.
Tapi satu hal yang perlu di urus adalah membangunkan adik kecil yang lama tak keluar dari sangkarnya untuk kembali tidur setelah beberapa hari, Sean kembali ke kotanya.
Luna aku harus mendapatkan hatimu! Malam ini panas sekali, mengapa aku jadi tidak sabaran ketika mendapat pelukan sandaran serangan tiba saat kedua anak kita tadi memintanya.
Mengapa itu sedikit membuat aku candu ingin selalu memeluknya.
"Luna kamu harus bertanggung jawab apa yang kamu lakukan, kamu telah membangunkan rasa itu menjadi zona nyaman. Jika kelak kamu mengetahui hubunganku dan Sean. Aku harap semua baik baik saja." lirih Triis.
Luna menatap di balik jendela kamar, ia melihat Triis dan mobilnya sudah tidak ada. Setelah membersihkan diri ia mengingat kejadian manis hari ini, ia tak sengaja memeluk sandar Triis saat Rian memintanya.
__ADS_1
Tapi ia tersenyum ketika Triis mencari tau kebenaran, mengapa ia mencari tempat tinggal Bukle dan mengagumi seseorang. Lalu tanpa persetujuannya ia membuat surprise kecil untuk membuat bahagia kedua anaknya.
"Aku kenapa seperti ini, tidak Luna. No cinta Luna cukup sampai sini, berfikir tenang jangan memikirkannya lagi. Triis pasti akan kembali menyakitimu lagi kelak."
***
Jam walker membangunkan Luna di pagi Hari. Ia menatap samar akan tanda peringatan di ponselnya. Hari ini adalah hari dimana kelahiran Triis, tapi Luna berusaha untuk tidak memikirkannya.
Di meja makan Luna memberikan sepotong roti sarapan masing masing dua buah untuk kedua anaknya. Ia masih bingung untuk memberitaukan kedua anaknya, karena ia tak ingin terlibat untuk memberikan hal kejutan, membuat Triis salah paham padanya.
"Nyonya. Ada telepon dari Oppa. Katanya mau bicara pada Kedua cucunya!"
"Ya. Bi silahkan saja, nak jangan berebut ya. Gantian nanti bicara sama oppa!"
"Ya Bunda."
Anak Luna tetaplah masih anak anak. Iya berjanji tetap saja masih berebut sehingga mereka menggemaskan saat menerima telepon dari sang kakek. Luna kembali serius memakan sarapannya.
Namun ia terbatuk ketika ia mendengar pujian. Teriakan Reina sang putri yang bersuara bass itu berteriak.
"Apa. Ayah hari ini ulang tahun?"
"Oppa. Ayo kita buat surprise, Rein akan minta Bunda ke mansion hari ini ya?"
Uhuuuk.. Uhuuuk. Luna terbatuk membuat tatapan bibi memberikan sebuah air minum.
"Makasih ya bi."
"Apa ada masalah non?"
Luna menggeleng, ketika kedua anaknya telah kembali ke meja makan. Tepat di hadapannya. Mereka langsung mendekat disebelah pangkuan kiri dan kanan.
"Bunda. Aku boleh meminta satu permintaan gak?" tanya Rein.
"Ayo. Kita ke mansion Oppa dan Oma!"
"Untuk apa nak. Kita baru kemarin loh?" Luna berlagak tak ingin tau, padahal ia berusaha menghindar.
"Ayah ulangtahun. Oma lagi buat kejutan loh?"
"Ayoo. Bunda kita pergi!"
Luna tak bisa mengelak, ia menatap bibi untuk ikut juga dan bersiap. Lalu meminta mang karso dan security menjaga rumah dengan aman.
Horee.. Horee Bunda is the best. Bunda terbaik.
Teriakan kedua anak Luna. Senyum bahagianya adalah utama, ia kini berusaha menerima kenyataan. Seberapa jauh ia menghindar, tapi cara Tuhan mendekatinya benar benar di luar dugaan.
***
Mansion Mertua, kedua anak Luna menutup matanya. Sehingga Luna ingin menolak, tapi takut menyakiti kedua anak anaknya itu.
"Yeeiy. Aku seneng kak" teriak putri Luna.
Luna berdiri di ruang tamu pertengahan tangga. Ia menutup mata dengan suasana lampu dipadamkan. Ia berusaha tidak terbawa suasana jika Triis datang, semua ia lakukan karena kemauan kedua anaknya.
Praaagh.. Praaagh. Suara fantopel berbunyi, Luna mencoba tegar dan tidak gugup.
__ADS_1
Tbc.