HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
INGIN HIDUP KEDUA


__ADS_3

Matahari di sinar pagi telah memupuk dicahaya kedua kelopak mata Luna. Ia terbangun dan menatap langit di kamarnya.


Hari ini ia akan menemui kedua mantan mertuanya. Mama maya dan Papa stevanus orang ternama di ibu kota. Sekaligus temu kangen pada kedua anak kembarnya.


Ada rasa sedih saat ia membuka laci, menatap album terpampang jelas Ayah dan Ibu serta dirinya ketika masih ada dan berkumpul. Apalagi semalam Luna hampir kepergok oleh Ummi, yakni bu dari pria surgawi yang ia kagumi. Hingga pupus harapan Luna berdoa mendapatkan calon suami sepertinya karena ulah Triss semalam.


"Ayah. Ibu. Luna resah, luna memikirkan Triis. Apa dia benar benar telah berubah. Hari ini Luna akan melihat toko kue yang dibuat Mama Maya. Otomatis Luna terikat bersamanya bukan karena Triis, selain kedua anak Luna. Ia sangat baik, tapi berbeda dengan Triis. Apa yang harus Luna lakukan?" benak Luna.


TOOOK... TOOOK.


"Luna kamu sudah bangun. Apa kamu tidak terlambat, penerbanganmu siang kan?"


"Yak Bukle. Luna sedang bersiap sebentar Lagi."


Satu jam kemudian, setelah sarapan bersama. Luna pamit pada Bukle dan Pakle. Ia lalu pergi ke ustadzah ummi Nur di tepi ruangan santriwati.


Tak lama taksi online menjemput sehingga ia pamit dengan sopan. Meski hatinya resah memikirkan.


Apa Gusti allah akan memberikannya suami seperti pria surgawi yang ia bayangkan.


"Assalamualaikum. Luna pamit, terimakasih Ya. Bukle jaga kesehatan ya!"


"Walaikumsalam." serentak bukle dan beberapa orang dari mereka semua menjawab.


--- **BEBERAPA JAM KEMUDIAN** ---


[ Luna sayang. Kita ketemu ditoko kue ya. Mama akan sharelock. Mama sedang ajan Rein dan Reina ke pertemuan Oppa Stev! ]


Luna menerima pesan singkat dari Mama Maya. Sehingga ia yang telah berada di mansion, segera mengambil kunci mobil dan menuju ketempat yang di tuju.


Luna ingin melihat sudah seperti apa toko kue nya yang sedang dibangun dan dipercantik oleh Agency, dimana Mama mertua mempercayakan pada seseorang. Ia yang telah menyelesaikan perekrutan karyawan kini berlalu dengan sebuah laptop dan mengemas beberapa keperluan yang diperlukan setelah di tuju oleh Mantan mama mertua untuk terlibat.


Tak sedikit pun, setiap jam mama Maya selalu memantau dan menghubunginya melalui sambungan ponsel.


Luna turun dan memarkir mobil, ia lantas menatap beberapa pekerja sedang mundar mandir. Luna terkesiap jika semuanya diluar ekspetasi.


"Sudah mulai Rapih, sepertinya tinggal finishing." Luna pun melangkah dan mencari keberadaan pria yang bernama Riano.


Satu sampai lima langkah seorang pekerja meneriakinya, Luna mendongak wajahnya menatap pria yang memanggil itu.


"Awas mbak...!"


Luna terkesiap menatap dan hanya berdiri diam karna panik. Tak lama tubuhnya di topang oleh seseorang.


Bruuugh.. Sebuah papan tebal hampir mengenai tubuh Luna.


Tapi seseorang menopangnya sehingga mengenai punggungnya dan Luna selamat.


"Toloooong....!" teriak Luna meminta bantuan.


Diruang tak jauh, toko kue yang terdiri dua lantai. Satu ruangan yang sudah rapih namun masih pekat bau cat putih pria itu dibaringkan.


"Terimakasih ya menolongku, aku sudah mengolesi obat ini di punggungmu agar tidak memar, Apa ingin ke rumah sakit ?"


"Tidak perlu. Jika saja kamu yang kena, sudah pasti keluargamu akan menuntut, itu bisa jadi masalah untuk kinerja perusahaan kami. Karena telah lalai mbak." balasnya.


"Memang sekejam detail itu ya keluarga mama Maya?"ucap Luna.


"Heuumph..sudah pasti, perusahaan Tuan besar itu kan, semua pasti serba di urus dalam hal apapun. Mana berani aku mendekat lebih jauh. Apalagi melawan pengawalnya.

__ADS_1


Spontan pria itu membalas.


Luna terdiam, ia menatap dan berbicara pada pria itu.


"Siapa namamu?"


"A-aku. Riano."


"Coba kamu ulangi tadi kamu ingin mendekati, maksudnya?" Luna tersenyum jahil.


"Maksudku.. mana mungkin tadi aku bisa sedekat itu, Jika tadi kebetulan menolongmu." sedikit mengeles Riano.


Luna tersenyum, ia menepuk pundak Riano.


"Auuw sakit Non." Luna tersenyum membalas.


"Sudahlah jangan manja, bisa setir mobilku gak.. aku ingin ke tempat furniture. Ada yang ingin aku beli?" lalu Luna melangkah lebih dulu dan melempar sigap kunci mobilnya.


Riano menangkap kunci mobil itu, lalu ia tersenyum sendiri. Sudah lama ia mengetahui tentang Luna, karena ia adalah pekerja orang kepercayaan keluarga Steva.


"Haah..aku bodoh begitu saja bicara. Jangan bermimpi Riano. Kamu tidak akan bisa mendekati wanita yang berkeluarga wah. Apalagi mantan suaminya yang seram itu." batin.


"Riano..ayo kenapa masih diam, pake senyum senyum lagi!"


"Ooowh.. oke."


Riano pun langsung berdiri tegap dan melangkah kakinya dengan cepat, melewati Luna. Ia meminta pekerja kawan lainnya untuk merapihkan dengan baik. Karena ia akan mengambil barang penting bersama Nona Luna atas perintah Nona itu, ia kini tak bisa menolak.


Tentu saja pekerja disana yang sedang merapihkan cat dan sebagainya tau. Siapa Luna itu.


"Dasar pria magang masa percobaan, lagi-lagi dia beruntung. Mendapat custumer menantu pemilik perusahaan ternama. Lihat saja nanti aku akan menggesermu!" ucap pria bernama Toni sebagai bantuan mandor.


Luna sedikit menatap Riano yang hanya diam saja dan menatap sebuah lukisan.


"Ambil lukisan itu juga ya pak..ini cardnya!"


"Baik nona." ucap kepala toko kasir.


"Riano, tak jauh dari sini ada rumah makan kita makan siang dulu ya?"


"Tapi.. sepertinya ga bisa, aku masih dalam jam kerja. Lagi pula nasi box sudah ada pasti untuk seluruh karyawan dilokasi." balas Riano.


"Aku sudah meminta izin sih, setelah makan siang kamu tak perlu kembali, kan ada Toni backup karyawan lama. Kamu nurut aja, lagi pula kamu sakit punggungnya. Harus diobati dengan tidak terlalu di forsir."


Mengingat perkataan Luna, ia lupa akan atasannya bilang. Jika menantu keluarga dari perusahaan itu meminta, lakukanlah jangan membantah.


"Baiklah.. kita makan siang."


Satu jam, Luna telah memesan dan mulai menyantapnya.


"Kok ga dimakan, ga suka ya?"


"Bukan begitu, tapi.. saya?"


Riano takut akan tagihan. Siapa yang membayar, ia menatap dompet hanya dua lembar uang merah.


"Sudah dibayar.. anggap aja rasa terimakasihku." senyum Luna.


"Kenapa kamu baik padaku Non Luna?"tanya Riano.

__ADS_1


"Eheuum.. memang salah ya, sudah lah makan dulu saja.


Luna yang sedang menyuap makanan, menatap lucu tertawa melihat ekspresi wajah pria di hadapannya.


"Nanti aku jelaskan, tak perlu melirik ke kiri ke kanan. Tak ada pengawal keluargaku. Keadaan itu hanya ada jika ada mereka datang ke rumah. Aku tinggal tak serumit yang kamu bayangkan!"


Riano terdiam, ia senyum melanjutkan kenapa bisa begitu, ia pun menyimpulkan dan dengan penasaran ingin tau.


"Kenapa bisa begitu, kamu dibedakan?"


"Sudahlah. Ayo dimakan, nanti dingin!"


Riano menelan sesuatu, ia menghabiskan air dalam seteguk gelas besar. Membuat Luna terkejut.


"Kamu habis lari marathon ya?" ucap Luna dan ia tersenyum kembali makan dengan lahap.


***


Setelah Makan Luna Berlalu Ke Tempat Pemancingan!!


Luna duduk di bidak tanah, bertumpu ilalang daun. Ia meletakan alas koran dan termenung. Lalu menatap beberapa orang diujung sudut sedang memancing ikan. Tak lama Riano ikut duduk disebelahnya.


"Sayang sekali andai kedua orangtua ku masih ada." lirih Luna.


Riano paham, wanita itu sebenarnya kesepian dan ia mencoba mendengarkan apa yang ada di benak hatinya, selama ini memendam perasaan kecewa tapi tak bisa diutarakan.


Setengah jam Luna mengoceh dan ia hanya terdiam menjadi pendengar yang baik.


"Kamu tau, Jika aku tak menikah dengan keluarga saat ini. Saat ini, mungkin kehidupan aku akan sulit karena sebuah kesalahpahaman, aku ingin sekali mondok jika dilahirkan kembali."


"Luna aku paham. Baiklah kita sekarang teman. Jika ada hal apapun nomor ku dua puluh empat jam penuh akan selalu siaga, sama siaga selalu mendapat pekerjaan dari keluarga Tuan Steva. Karena aku tak suka melihat wanita menangis." ucap Riano.


Luna tersenyum, ia pun mengajak Riano dan berlari memutar pemandangan yang memang tak pernah ia rasakan. Ia memang sengaja menambah pertemanan begitu saja, mengingat ia dahulu adalah penjual anak ikan.


"Sungguh hari yang indah. Riano bagaimana kita ikut memancing?"


"Oke..jika kamu mau."


Dua jam mereka asik tertawa seru, dikala pemancingan. Tak lama dering ponsel Luna berdering.


[ Ya. Ada apa Triis? ]


[ Kau dimana Luna. Bukankah, kamu telah datang mengambil keputusan? ]


[ Aku datang untuk kedua anak kita. Dan usaha mama yang sedang membutuhkan pekerja. Tolong jangan bahas lagi, kamu bisa menikah lagi Triis. Tapi tidak dengan aku! ]


Tuuutt..Tuuuutt. Luna mematikan ponsel.


***


Sementara Di Apartement Triis.


"Dasar wanita belalang. Kepar-at. Awas saja kamu Luna, aku akan memberikan balasan untukmu yang mempersulitku." lirih Triis.


"Honey. Kenapa kamu tidak jujur saja. Menikah untuk semata kebohongan di hadapan kedua orangtuamu. Setelah dapat cerai lagi, agar tidak rumit!" titah Sean.


Triis melirik Sean yang memeluknya dari belakang. Meski dengan emosi ia terbawa hanyut dalam asmara, lalu jatuh lebih dalam ke cover putih beselimut putih, yaitu ranjang asmara.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2