
"Maafkan aku mas. Aku selalu saja menaruh curiga padamu." batin Luna menatap sang suami.
Luna kembali menemani sang anak, ia menatap lagi lagi selang infus harus masuk kedalam tubuh kecilnya melalui nadi tangan. Itu adalah vitamin terbaik untuk menguatkan kedua anaknya tidak mudah kambuh, menahan rasa sakit ketika mimisan dan pusing terjadi.
Luna begitu sedih, ia memiliki kedua anak yang tak bisa terlalu lelah. Hal itu membuat ia ingin menambah mongmo'gan. Tapi ia harus bicarakan pada kedua anaknya agar ia merasa tetap disayangi atau dilupakan.
"Kamu memikirkan apa sayang?"
"Mas. Kamu tau, aku tadi berfikir apakah kita bisa program kembali anak. Tapi aku takut Rein dan Reina terkucil. Aku takut mereka berfikir karena kita memiliki dia yang berbeda."
"Kita akan berusaha bicara di lain waktu. Setelah ini kita harus meluangkan waktu berdua. Apa kamu mau ikut denganku?"
"Ini sudah malam mas, pukul delapan. Memang mau kemana?" tanya Luna.
"Ikutlah. Aku sedang ingin banyak berbicara padamu. Lebih tepatnya, kita curhat sambil menikmati alam segar." Luna mengangguk.
"Aku selimutkan Rein dan Reina ya mas."
"Heuuuumph. Sayang Ayah dan Bunda. Selamat bobo nak. Mimpi indah, jangan lupa bahagia nak." kecup Luna di sambung tambah oleh Triis
"Makasih. Ayah Bunda, I love You. Tetaplah seperti ini Bunda, kami menyukai dan bahagia!"
Tentu sayang. Triis mengecup pipi kedua anaknya, ia mengelus kening dan mengucapkan selamat malam. Tak lama Luna pun mematikan lampu dan kembali menutup pintu kamar kedua anaknya.
Ranjang mereka berbeda saling bersebrangan. Mengingat usia mereka yang masih muda lima tahunan. Membuat mereka berada dalam satu kamar, tapi berbeda ruang dan kasur bed.
"Mas usia mereka harusnya terpisah kamar. Bagaimana kita bicarakan pada Reina?"
"Tak usah khawatir sayang. Reina hanya masih penakut. Hal itupun membuat Rein semakin melindungi adiknya. Sama seperti aku yang akan selalu ada dan melindungi kamu."
"Mas gombal terus."
Luna tiba saja mendapat pesan, Jika Bukle masuk rumah sakit. Hal itu membuat ia beban pikiran dan Terdiam. Triis meraih ponsel Luna dan membacanya. Lalu memeluk istrinya untuk menenangkan.
"Kamu harus sabar. Besok pagi kita akan ke malang setelah pertemuan pak Albert kita akan menjenguk Bukle Srie."
"Mas. Jika aku meminta izin untuk pergi ke malang bagaimana. Aku duluan?"
Triis merasa berat, tapi ia pun mengangguk. Ia mengizinkan sang istri pergi lebih dulu. Tak berselang lama mereka yang telah ada di kamar.
Hal rutin seperti pada umumnya. Mereka mandi, mengganti baju. Luna telah memakai piyama tidur dengan balutan luar blazer sutra Triis yang masih membersihkan diri di kamar kecil. Luna yang ingin menarik tirai merasa sangat tertarik ke arah sana.
"Lovely. Kamu berbohong padaku?"
"No. Percaya padaku, itu bukan aku. Percayalah kita jelaskan nanti tapi tidak di sini oke!"
__ADS_1
Luna melihat Keiy dan Erico sedang beradu bicara. Hal itu membuat ia penasaran, tapi ia urungkan untuk tak mencampurinya. Menatap Keiy yang ngambek pergi lebih dulu, di susul oleh Erico membuat ia ingat akan masa muda beberapa tahun dulu.
"Ternyata kehidupan seleb. Sama seperti wanita biasanya, hanya gelar saja bukan?" senyum Luna menutup tirai.
"Sayang. Lihat apa, kenapa menatap ke arah luar sana?"
Luna berbalik, menatap tubuh maskulin sang suami yang polos berbalut Handuk. Mendekat ke arah Luna kala itu. Luna semakin mundur, Triis semakin maju, membuat tingkah Luna yang gelagap malu adalah kepuasan Untuk Triis yang semakin gemas.
"Kenapa menghindar. Aku bertanya mengapa tidak dijawab?"
"Mas. Kamu bertanya tapi seperti ingin memakanku. Bagaimana aku tidak gugup."
Triis semakin tertawa, hal konyol yang di lontar sang istri begitu polos. Sudah banyak wanita yang ia temui, tapi hanya Luna yang membuat ia candu.
Setelah kepergiannya dan merasa dirinya aneh tak bergairah pada wanita lain. Hal itu pula membuat ia mengejar Luna. Tapi perasaan itu menjadi dendam, saat bersama kedua orangtuanya memutuskan memberikan hak waris pada Luna.
Terlebih Luna jatuh cinta pada Erland yang menemani kepedihannya beberapa tahun silam.
Tapi seiring waktu, mengubah menjadi dia yang selalu cinta pada Luna. Ia sadar dulu mengabaikan Luna. Seolah hukuman baginya yang harus ia terima.
Seiring projects bertemu Sean guna mendekati Triis untuk mencari sumber menolong Luna. Tapi kala itu mereka terlibat asmara satu sama lain, Triis merasa senang karena hasratnya bisa terlepas, tanpa memikirkan wanita yang menaruh hati padanya selama dua tahun silam.
"Mas. Apa kamu bisa jujur padaku. Aku ada pertanyaan yang mengganjal selama ini?"
Masih dalam mode menindih Tubuh Luna, Triis yang mencium ceruk leher Luna terhenti.
Luna pun tak ingin berdosa, hasrat sang suami sedang meminta jatah. Ia pun membalikan tubuh sang suami, sehingga ia berada di atasnya. Triis hanya bersandar dan meregangkan kedua tangannya diatas leher. Menikmati setiap inci saat Luna memanjakannya.
"Mas. Ini handuknya, sudah jangan menambah lagi. Aku remuk jika kamu memintanya berkali kali dalam beberapa jam. Mengapa kamu masih saja On?"
"Karena kamu membuat aku candu sayang."
Kembali menggigit ceruk leher Luna. Kembali pula gigitan gigitan halus kecil di mulut Triis. Melahap setiap inci dua gunung kembar membuat Luna terpedaya lemas.
"Kamu nikmati saja sayang. Aku tak akan berhenti sebelum dia tertidur benar."
Luna hanya menutup mata dan membuka kembali. Ia tak tahan akan aksi Triis yang benar membuat dia lelah tapi sangat membuatnya ingin dan ingin. Hanya sikap malu di benak Luna yang tak bisa terang terangan dalam memuaskan.
PAGINYA
"Mas. Sudah pagi Ayo bangun!"
Triis membuka matanya. Malam yang dahsyat tanpa henti membuat dirinya semakin ingin tidur dan berlama lama di kamar bersama Luna. Meski menjelang pagi dan cahaya masuk pun, Triis selalu betah berlama disana asalkan ada Luna.
"Bilang bibi. Kita sarapan dikamar saja!"
__ADS_1
"Mas. Nanti mama gimana, ga enak dong?"
"Mereka pasti paham sayang." Luna hanya menuruti.
Ia memencet tombol telepon genggam yang menempel di dinding. Meminta asisten membawakan rak dorong makanan ke kamarnya.
Luna pun menceritakan, jika kedua anaknya akan pergi checkup bersama Opa dan Oma. Ia telah meminta izin untuk kita pulang hari ini.
"Lalu Rein dan Reina bagaimana?"
"Kedua anak kita tak menyukai perjalan dan pesawat. Ia meminta kita pergi tak mengkhawatirkannya. Aku jadi sedih, aku takut mereka bersikap itu karena kondisinya Mas?"
"Anak kita terlalu dewasa. Ia berfikir tak ingin menyusahakan dan membuat panik. Aku akan membuat kejutan agar Rein dan Reina tak kesepian sayang."
Luna pun menatap sebuah buku hitam. Ia melihat dengan jelas, jika itu adalah sekolah ternama.
"Mas. Tapi kenapa secepat ini?"
"Aku yakin dia akan suka. Bersekolah yang bisa kerumah. Atau pun ia datang. Mereka yang bersekolah di sana, memiliki riwayat sakit yang sama bahkan lebih. Tapi keceriaan dan bahagia mereka motivasi kembali sehat delapan puluh persen. Itu adalah visi misi mereka selain anak anak yang berkebutuhan khusus. Mendapat pendidikan sama seperti anak yang sehat pada umumnya. Bahkan kegiatan mereka jauh lebih terampil yang kudengar."
"Tapi mas. Gimana kalau Reina menolak?"
"Aku akan menyulapnya. Ruangan mansion ini luas. Aku akan meminta dekor, agar menyulap ruangan seperti ruangan sekolah yang ia lihat pertama kali. Jadi anak kita akan tetap semangat bukan?"
Luna kembali memeluk Triis. Rasa terimakasih akan sikap pada kedua anaknya itu. Ia kembali menetes bulir air mata kebahagian saat menatap wajah sang suami.
Bagimanapun Triis melakukan semua itu karena mereka adalah kedua anaknya. Darah dagingnya, mana mungkin tak memberikan yang terbaik bukan.
"Aku engaap sayang. Kamu membuat Juniorku sesak saat ini."
"Mas. Aku memeluk tubuhmu. Tanpa menyentuh ju-niormu. Mengapa kamu segamblang ini. Membuat aku malu saja?"
Triis kembali menarik Luna. Membuka segala tali piyama. Rambut yang basah, membuat Luna kembali menahan rasa. Meski ia bangun tidur, usia yang jauh darinya tiga belas tahun. Tapi ia sadari ketampanan dan sesuatu yang di miliki suaminya adalah anugrah.
"Kamu memang pria Perfect mas. Mengapa aku baru menyadarinya?"
"Dan kamu adalah wanita pendampingku yang sempurna. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku selalu berusaha menjadi pria dan suami sempurna di matamu. Jangan ragukan aku!"
"EUUUU..., MAS."
Triis memulai aksinya, ketika Luna meregangkan kedua pangkal kakinya. Triis membuka mulut untuk menautkan pada ranum Luna.
Tapi tak begitu lama. Tiba saja ketukan pintu membuat aksi mereka menjadi buyar
Tok ... Tok ...
__ADS_1
TBC.