HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
ACARA E FILM


__ADS_3

"Jangan angkat sayang. Aku tak mau seseorang menganggu kita!"


"Mas. Aku takut itu penting, tapi aku akan menurut. Aku akan mengubah note sibuk. Semoga Sean mengerti untuk memberi pesan saja."


"Ya. Itu lebih bagus sayang."


Dalam perjalanan dengan memakan waktu beberapa Jam. Kini mereka menghadiri dan berjabat tangan pada Pak Albert. Triis ikut menimbrung karna Luna terkejut ia adalah salah satu nama investor terbesar di perusaahn E-Film.


"Mas. Lagi lagi kamu mengikatku?" senyum Luna.


"Jangan menatap aku seperti itu. Wajahmu membuat aku ingin menarik sayang!"


"Maaas." Teriak manja Luna karena malu.


Tak lama seseorang meminta Triis menuju sudut ruangan kanan. Meski hal itu membuat luna kesal, betapa tidak Klien wanita. Dia mengakui ingin bicara tentang perihal penting di perusahaan. Tapi meminta sang istri tidak mengekornya.


"Dengan mbak Luna?"


"Ya. Pak saya sendiri ada apa ya?"


"Mohon maaf. Saya hanya mengantar, mohon di isi dan tanda tangani. Terima paket dari seseorang yang berharga dan penting untuk nona!"


Luna pun menurutinya. Setelah pria kurir itu pergi, ia menatap dan melihat sehelai kertas yang tertulis kala itu dengan sempurna. Dengan malu dan tersenyum Luna membaca kata demi kata yang membuatnya tertawa renyah.


"Apa ini, bucket bunga dan satu kotak paket jelas terlihat di mejanya. Terlihat nama pengirim.


"Untuk istriku. Luna tercinta."


Luna mendengus perlahan dan ia mengatur nafas dalam - dalam. Ia menatap Triis belum sampai, ia ambil bucket bunga itu dan ia hirup dengan kesal, ia pun berusaha senang akan manisnya perlakuan Triis.


"Mas. Kamu bisa semanis ini juga, meski aku kesal karena tadi kamu memintaku pulang. Tapi Klien wanitamu menarikmu karena urusan penting." gumam Luna.


"Sedang apa sayang,?" tutur Triis. Yang datang berlawanan. Ia baru tiba dan masuk keruangan.


"Mas. Kamu sudah selesai. A-aku hanya. Ini Mas." menunjukan kotak dengan malu.


Triis membuka dan mengalungkan kalung pada leher indah Luna. Sehingga mereka saling menatap satu sama lain.


Mata Luna membulat sempurna. Ia pun menjawab.


"Mas. Bunga ini cantik sekali terimakasih aku suka. Terlebih kalungnya!"


Meski batin Luna berlawanan ingin rasanya melempar karena masih kesal. Bagaimana tidak Klien wanita itu terlihat manja dan aneh saat meminta suaminya pergi kesatu sudut tanpa di ekor sang istri. Namun Luna lemah jika sudah ada Triis dihadapannya.


Hal itu karena ia tidak tega mencampakan terang terangan. Mengingat sikap manis, ia takut Triis mempunyai kemauan aneh padanya.


Luna pun perlahan mengerjakan tugas klien yang tertinggal, sesekali ia menatap paket bungkus coklat kedua itu dan akhirnya ia membukanya. Saat Triis meninggalkannya kembali ke salah satu Klien.


Namun baru setengah ia buka terlihat jelas, isinya adalah satu buku berjudul dengan tulisan yang sangat mencolok dan besar.

__ADS_1


Judulnya. Panduan Kisah Romantis Di Ranjang


"Apa?"


Luna menatap jendela ruang Triis. Ingin sekali menghampiri dan mencakar seorang pria di hadapannya kala itu. Andai tidak ada klien, ia sudah pasti mencakarnya karena sikap suaminya benar benar memalukan. Bagus saja ia membuka hanya seorang diri.


"Bisa bisanya kamu kirim aku ini Mas."


Tak lama ponsel luna berdering, terlihat nomor telepon kantor toko Cake Sweet. Saat ponsel berbunyi. Luna pun mengangkatnya.


"Ya hallo, ada yang bisa saya bantu?"


Tak lama mata Luna membulat menatap ruangan terbuka Triis dengan beberapa klien, suara dan gayanya. Benar saja ia yang menghubungi.


"Sudah buka kadonya, bagaimana apa suka?"


Belum mendapat jawaban dari Luna. Triis terkejut karena diabaikan.


"Garang sekali Luna ku ini. Tapi aku suka." batin Triis.


"Mas. Kamu membuat aku malu, bagus tidak ada orang lain yang menemaniku tadi."


"Kita pelajari halaman lima puluh empat ya sayang!"


"Maaas." teriak Luna. Tapi Triis hanya membalas tawa.


Saat Luna keluar ruangan bersama Triis untuk print, semua menatap Luna dengan hormat. Ia bingung mengapa semua karyawan E- Film menjadi baik. Terutama dia yang benar benar tidak menyukai keberadaaan Luna. Bahkan ia pernah beradu kesal, karena mereka mendekati dengan manis di hadapan suaminya kini.


Semua terdiam kaku. Luna pun menghampiri Angel, dan ia berbisik karena mereka takut akan siapa Luna.


"Maaf. Kami tak berani, mohon maaf jika kami pernah buat salah ya Luna!"


Luna mengkirilit alis ke arah suaminya. Apa semua ini ulah suami gagahku.


"Owh! Luna membulat dan berbicara.


"Kalian seperti biasa saja, jangan kaku seperti ini. karena aku tidak biasa mendapat perlakuan seperti ini, lagi pula masa kontrak ku tak akan lama. Akan ada pengganti setelah aku. Jadi kalian nyaman berekspresi seperti sedia kala saja!"


Luna pun berlalu keruangannya, dengan wajah panas dingin. Ia tak biasa diperlakukan hormat. namun saat ia menutup mata sudah ada seseorang di hadapannya.


"Kenapa kamu sepertinya tidak baik, ayo ikut sudah waktunya jam makan siang, aku sudah memesan!"


"Maaf Mas. Aku ingin sendiri biar aku makan siang dengan yang lain saja, tak perlu repot mengurusiku." balas Luna,


Namun triis tak menerima penolakan.Tangan Luna di genggam paksa. Sehingga semua mata karyawan membulat menatap iri.


Luna pun keluar bersama Triis dari ruangan besar itu, melintas beberapa meja karyawan yang menatapnya dengan sempurna dan Angel, yang tak suka Luna pun terkejut.


"Apa jari Luna telah melingkar cincin dan seperti couple bersama pak Triis. Apa mereka?"

__ADS_1


Angel pun menutup mulutnya dan diam dengan kaku dimeja itu. Terutama Nayla dan Sandra menghampiri Angel untuk meminta informasi detail.


"Diamlah kalian semua, aku rasa ini hanya kebetulan. Tapi jelas minggu lalu. Asistennya berada diruangan hotel berbintang. Katanya acara bahagia."


Semua mata membulat karena takut, khawatir, karna beberapa yang menyentil dan tak suka terang- terangan pada Luna kala itu. Ia takut akan dipecat.


Luna yang telah sampai, diajak oleh Triis. Ia ketika akan turun terjatuh tak sengaja. Namun cekatan Triis membuka seat belt. Luna menatap Triis dengan dekat dan tersenyum.


"Terimakasih Mas."


Saat ia turun. Triis menggapai tangan Luna dengan memegang telapak tangannya dengan erat dan tersenyum. Luna bagai kehilangan kesadaran dengan manis perlakuan Triis, meski ia selalu mengingat Erland sesekali. Tapi Triis selalu melakukan hal manis sekecil apapun.


"Sadar Luna. Dia Triis bukan Erland."


Belum Luna berbicara panjang. Mulutnya di bungkam oleh jari Triis. Itu menandakan agar Luna untuk diam.


"Euuum. Mas jangan lakukan hal yang membuat semua karyawan takut padaku!"


Luna pun memundurkan wajahnya. Ia kembali tersenyum dan melepas Seat belt. Tapi cekatan Triis membantunya membuat Luna bahagia.


"Ayo kita, makan siang jangan sampai kamu terlambat dan sakit!" titah Triis.


Hingga mereka makan siang bersama. Perlakuan Triis jauh lebih manis.


"Apa dia sedang berusaha keras untuk mengambil hatiku?"batin Luna.


"Apa jantungmu berdegub Luna?"tanya Triis.


"Maksud Mas apa?"


"Aku pastikan aku akan membuat debaran itu tak beraturan jika bersamaku." tutur Triis menunjuk dada Luna yang kenyal.


***


"Mas. Kita akan terlambat tidak. Kemo kedua anak kita bagaimana?"


"Sayang. Jangan khawatir, kita akan mengunjunginya. Mereka akan bahagia melihat kita dan kita bisa tidur bersama nanti malam."


"Mas. Kamu selalu On jika bicara tidur. Wajahmu membuat aku takut. Aku takut kamu berbuat hal aneh padaku lagi?"


"Sayang. Aku serius, kali ini tak bercanda."


Senyum renyah tawa Triis. Membuat hati Luna berbunga, belum pernah ia merasakan jatuh cinta setelah pernikahan. Membencinya membuat aku selalu memikirkannya bahwa takdirku apapun itu yang terjadi. Milik Triistan. Pria berkebangsaan batak dan eropa.


Perlakuanmu. Aku akan bertahan, aku akan menjadi istri dan wanita perfectmu mas. Semoga aku bisa tahan akan wanita yang mencoba mengganggu dalam hubungan rumah tangga kita. benak Luna.


"Sayang. Kenapa melamun?" tanya Triis.


"Mas. Aku tersipu malu, aku mencintaimu Mas."

__ADS_1


Triis tersenyum mendengarnya. Tapi raut wajahnya berubah ketika seseorang tiba datang padanya.


TBC.


__ADS_2