HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
KETAKUTAN TRISS


__ADS_3

Luna segera bangun dan beranjak. Sementara Triis segera mengacak rambutnya merasa kesal. Luna membuka pintu, tak lama ia membawa beberapa makanan yang telah di dorong oleh babysister.


Triis dengan cekat membantu dan menutup pintu kamar, menarik tangan Luna dan memulai aksi yang sedikit terganggu tadi.


"Mas. Kamu ga sabaran sekali?"


"Karna kamu. Aku jadi ga sabar sayang, mengapa kamu selalu membuat aku candu."


***


Setibanya di bandara. Luna menunggu dan tak lama dering ponsel Triis berdering. Luna terkesiap menatap ponsel Triis. Terlihat nama Sean, ia pun mengambil ponselnya dan menatap nomor itu berbeda, segera Luna copy dan mengganti namanya.


'Mengapa nomor Sean. Apa dia sahabatku. Jika ia mengapa menghubungimu mas. Ada apa sebenarnya?'


"Sayang. Kok diem, kita sebentar lagi boarding. Owh ya, kamu lihat ponsel ku?"


"Ini Mas. Tadi kamu meletakkanya di tas bukan?" tanya Luna sedikit kecut. Luna pun tersenyum seolah tak melihat apapun. Ia berusaha untuk berfikir positif.


Setibanya di rumah sakit, Luna menjenguk sang bibi. Bukle Srie, ia yang jauh lebih sehat dari kabar sebelumnya diberitakan.


"Bukle. Apa yang sakit?"


"Udah gak apa -apa. Bukle yang ga hati hati, akibat kecerobohan bukle jadi sakit. Terjatuh dan menjadi bengkak kakinya. Hingga menjalar ke seluruh tubuh. Kamu apa kabarnya sayang?"


"Bukle. Ga usah khawatir, Luna baik - baik saja. Dan terimakasih bucket kiriman Bukle. Luna bahkan ingin mengundang Bukle ke mansion mertua Luna. Tapi mengingat sekarang..?"


"Ya. Nanti setelah membaik ya. Asalkan kamu sehat, kedua anak anakmu semakin baik baik saja. Bukle seneng, bahagia juga udah dijengukin, sekali lagi selamat atas pernikahan kalian."


Triis yang awalnya membiarkan Luna pergi, ia mengantar sampai bandara. Sehingga mereka berpisah.


Triis menemui klien penting bersama Erico sang adik. Lalu menyempatkan ke suatu bisnis kuliner cake sweet. Tak lupa ia mengabarkan jika ia sedang di cake sweet mengkroscek puluhan karyawan.


"Haaah. Mama memberikan usaha ini, seharusnya memang aku percayakan pada Luna. Ia pun bergegas meminta meeting dadakan, karyawan yang terdiri delapan puluh delapan orang itu. Membuat Triis tak hafal, menatap banyaknya pengunjung ia harus bicara pada Luna agar terjun langsung pada usaha yang di titah Mama.


"Siapkan meeting sekarang!" titah Triis pada Ebon.


Tak menunggu lama, beberapa karyawan kepercayaan dan bagian gudang pun segera masuk ruangan meeting. Sehingga Triis bekerja beberapa jam kedepan, terpisah dengan Luna yang di rumah sakit.


***


Tredeeth.. Tredeeth. Ponsel Luna berdering.


"Ada apa nak?" tanya bibi.

__ADS_1


"Hanya pesan dari suami bukle. Menanyakan kabar bukle, dan kapan kembali." Luna sedikit terdiam.


"Bukle senang. Kamu ada yang menjaga, ada suami bukle juga Luna sekarang. Ga perlu khawatir, pasangan pengantin memang harus selalu bersama bukan?"


"Bukle. Bukan maksud begitu, bisnis mertua Luna banyak. Selain pemilih jaringan IT. Kuliner dan butik mama mertua Luna. Luna sedikit lelah jika harus menghafal banyak nya karyawan, jika di total mungkin ratusan dalam satu manajemen."


"Alhamdulillah. bersyukurlah, pandai pandailah merawat dirimu sayang. Godaan mu pasti berat?" senyum Bukle pada Luna.


Luna merasa sedikit tersambar, merasa perkataan bukle ada benarnya. Ia pun berlama lama berbicara setelah membalas pesan dari Triis.


Tak lama, seorang suster masuk. Luna menunggu diluar guna mencarikan bubur. Tak menutup kemungkinan, ia memesan tiket pesawat ke ibu kota. Ia ingin membuat surprise pada sang suami.


"Mas. Aku akan membuat kamu terkejut dengan kedatanganku tiba tiba."


"Terimakasih." Luna segera kembali ke kamar Bukle. Ia sengaja keluar mencari bubur terenak, bubur Tuna dari restoran pilihan, ia tak melupakan makanan kesukaaan dan membeli hadiah serta beberapa buah untuk bukle Srie.


"Maaf Pak. Ada yang ingin bertemu."


Triis menaikan alis, menutup pulpen dan melettakan diatas berkas.


"Siapa. Wanita atau Pria?" tanya Triis.


"Wanita pak. Saya menyuruhnya untuk menunggu di loby ruang khusus tamu."


"Mas. Kamu pasti suka, aku membelinya tapi turut ikut serta membuatnya khusus di dalam." lirih Luna.


Triis segera menuju ruangan di mana tamu menunggunya. Lalu ia mengibaskan mata ketika seluruh karyawan menunduk hormat.


Cekgrek ...


"Kamu. Haaah, untuk apa kamu datang lagi?"


"Mas Triis. Kamu ga bisa seperti ini, aku jauh datang menagih janjimu. Kamu harus menikahi aku mas!"


"Jangan bicara omong kosong. Pergilah kita tak mengenal!"


"Mas. Kamu ga bisa begitu saja mengusirku. Aku hamil, aku hamil darah dagingmu." teriaknya.


Triis terdiam, ia begitu tak percaya. Ia yakin jika Sean hanya berpura pura.


"Pergilah. Aku tidak percaya."


Triis segera memanggil security. Ia meminta agar wanita seperti ini tak lagi masuk kedalam tokonya.

__ADS_1


"Maaaas. Aku tunggu dalam dua minggu, jika tidak Luna akan tau. Cepat atau lambat, ia harus menerima. Jika suami yang ia banggakan. Telah kembali pada tabiatnya. Mas anak ku, tidak bisa kau putus untuk tak menemuimu!"


Kedua security hadir. Ia menunduk dan kode Triis adalah agar menyuruh wanita itu pergi.


"Maaf Bu. Sebaiknya ibu harus.."


"Aku akan pergi. Jangan pernah sentuh tangan aku kacung hitam!" tutur Sean.


"Ya salam. Habis makan apa itu ya ibu ibu. Ayo son kita came back. Permisi pak, kami kembali."


Triis mengangguk. Ia membiarakan kedua satpam itu pergi. Lalu ia kembali keruangannya. Ia menghubungi Ebon untuk membuntuti Sean dan benarkah dia hamil atau pura pura. Triis meminta tes dna pada Sean.


Hal itu membuat Ebon kebingungan. Triis segera menunduk. Hal apa yang harus ia lakukan untuk jujur dan bicara. Seolah masalah dari apa yang ia lakukan, kecerobohannya membuat ia yang ingin bahagia menjadi boomerang.


"Luna. Aku tak ingin kamu pergi lagi. Tapi aku harus apa, apa kamu akan menerima. Aku menikahi sementara bersama Sean. Tapi dia adalah."


Aaaaarggh. Triis kembali mengepal tangan. Ia tak menyangka jika hal serumit ini akan datang di saat ia mulai bahagia. Ia baru berfikir, andai semua wanita menuntutnya. Apa yang harus ia lakukan, wanita bernama Sean. Memang berbeda dan tak akan menyerah begitu saja.


***


Luna yang telah sampai di toko cake sweet. Ia segera meminta security membantunya. Hal yang membuat Luna tersenyum adalah semua orang menatapnya dan menunduk.


Di satu sisi, Sean mencibir kan senyuman. Ia tak rela jika Luna selalu dalam keberuntungan . Ia menginginkan apa yang Luna punya menjadi miliknya.


"Selamat sore Bu." tutur kasir dan beberapa karyawan.


"Ya. Apa pak bos ada?" senyum ramah Luna.


"Ada. Dari ruang tamu, kini pak bos di ruangannya bu."


"Baiklah terimakasih."


Luna segera membuka pintu. Tapi saat ia ingin mengetuk, rasa diamnya mulai membisu. Ia mendengar Triis memerintahkan seseorang untuk menyingkirkan. Luna menutup mulutnya apa masalah terjadi sehingga ia menyuruh pengawal untuk membereskannya.


'Mas. Aku ga mau kamu melakukan hal buruk dan kejam. Aku akan mencoba membuatmu jadi pria lebih sabar tanpa emosi.' batin Luna.


Triis kembali memijit kening. Memutar kursi dan hanya memutar mutar kursi. Ia tak bisa menerima perlakuan Sean yang tiba begitu saja datang.


Toook... Toook.


Luna pun menoleh, tak lama Triis membuka pintu perlahan. Ia mengira Sean masih kembali padanya, sehingga membawa sebilah gunting kecil untuk berjaga jaga.


"Haiiiay. Aaaakkh. Maaaas, ini aku Luna. Kamu kenapa?"

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2