
Triis menuju arah seseorang sedang berdiri. Ia tepat berdiri dihadapan sosok wanita yang ia kenal meski masih dalam balutan hijau menyala di lingkaran mata, yang menutupinya. Seolah itu adalah pencahayaan satu satunya ketika gelap.
"Luna. Kau menyambutku?" lirih Triis.
Luna terdiam kaku, ia masih berharap Mama segera menyalakan lampunya. Karena Triis berbisik dan mengigit kecil telinganya. Sedikit ingin berteriak tapi ia tahan.
Cegleek ... Surpriseeeee. Kejutaaaan !!
Triis malu. Ia segera menatap seisi ruangan, kedua orangtuanya membuat kejutan bersama dengan Luna dan kedua anaknya. Ia pikir Luna sedang memberikan surprise jawaban menerima untuk menikah kembali dengannya.
"Ayah. Selamat hari Lahir."
"Ayah. Bahagia selalu sama Bunda. Ayah seneng gak?"
"Terimakasih sayang. Mmmmuaach. Mmmmuaaach."
Triis mencium peluk pada kedua anaknya itu. Ia menempelkan wajah yang terhimpit ketika kedua anaknya mencium pipi kiri dan kanan. Sontak sang kakek dan nenek melihatnya ikut bahagia.
"Triis. Selamat hari lahir, doa terbaik untukmu Nak!" tutur Papa.
"Selamat hari lahir sayang."
"Terimakasih Mah. Pah. Triis senang dan terkejut sekali."
"Bunda ga kasih selamat sama Ayah?" Tanya kedua anaknya bersamaan.
"Eeeum. Ya, Bunda pasti akan berikan selamat. Selamat hari lahir Ayah the best Rein dan Reina."
"Terimakasih ibu super best kedua anak ku."
Luna pias pucat, Mama maya dan papa Steva ikut menggoda. Sehingga mereka melanjutkan makan bersama. Setelah meniup kue ulang tahun. Memotongnya dan berakhir bahagia haru malam itu.
Satu menit, lima menit hingga sepuluh menit keadaan aman. mereka berdiri dan saling diam. Triis meminta maaf, tapi Luna menatap Triis yang terkejut akan kesal ia yang mengigit telinganya kala itu.
"Ada apa, terpesona menatapku seperti itu ya?"
"Siku-mu berdarah, merah terluka Triis."
Luna bergerutu kesal, kenapa harus terpesona padanya. Sementara Triis menarik senyuman.
Luna bergegas mengambil kotak obat, ia segera menarik paksa Triis. Padahal jelas kesalahan sengaja Triis yang sengaja menyengkat kaki Luna setelah mengantar kedua anaknya tidur ke kamar. Tapi ia mengeles dengan berkata terbentur tak sengaja.
Luna segera mengobati luka, setelah itu membiarkan lengan kemeja mengantung tinggi dan melipat, sehingga luka itu terkena udara angin agar cepat kering.
"Bagaimana, masih sakit?"
"Ya, masih perih sekali!"
Triis lagi lagi jahil, ia sengaja ingin melihat Luna meniup lukanya. Dengan wajah panik sendunya mirip putri dongeng, bibir kecil tipis itu membuatnya goyah. Ada rasa yang tak enak, tak lama semua lampu tiba saja mati padam. Sehingga mereka terdiam dan memutar mata dan berdiri bersamaan.
"Haaah. Owh tidak bagaimana ini Triis. Aku akan mencari pak satpam untuk menyuruh membenarkannya."
"Sudahlah tenang, ini sudah malam dan hampir pagi. Biarkan saja, tetaplah duduk tak bergerak. Jika tidak aku akan .."
Triis berdiri dan menarik tangan Luna. Ia menyusuri tangga darurat. Sepanjang langkah Luna amat lelah, namun sampai diujung kamar.
Pintu Apartmen itu tak dapat terbuka, ia menatap mata apa harus kembali naik tangga ke bawah, Luna pun pegal dan mencopot heelsnya. Ia pasrah dan duduk bagai anak SD. Sementara Triis masih menatapnya dan menghubungi bantuan. Ia menghubungi agar Ebon segera membantunya keluar yang terjebak dan terkunci di basment Apartmentnya.
Mengingat setelah acara, ia di minta mama Maya untuk menemani Triis mengambil suatu barang penting karena pagi sekali akan ada acara di mansion. Luna terpaksa menuruti ketika telah anaknya tidur di bantu Triis menggendongnya.
__ADS_1
"Siapa satpam itu, besok ku berikan dia surat SP!" ketus Triis, yang sudah gerah bercucur keringat, mencari celah pintu ingin keluar.
"Cepat cari bantuan Triis. Apartement sebesar ini masih saja bisa padam lampu!"
Luna yang ingin berdiri terkejut karena sebuah kecoa berada ditiang tangga, ia histeris dan berteriak mendekati tubuh Triis yang sedang menelepon pun ikut terkejut.
"Huuuuaaa.. ke- coa. Kecoo-ooaa Triis!"
Luna berhenti menatap, saat keringat itu amat banyak di tubuh Triis. Jasnya yang dibuka dan kancing terbuka dua membuat belahan roti sobek perfect.
"Ada apa, hanya kecoa kau takut?" lirih Triis. menatap Luna. Tapi tangan yang kanan masih cool menempelkan ponsel ketelinganya.
Gleuuk. Luna menunduk dan menoleh membelakangi tubuh Triis. Tapi ia sudah membangunkan singa yan sedang di ujung tanduk terbangun dalam suasana terjepit.
Triis segera merengkuh tubuh Luna, ia memutar tubuhnya berada diatas kungkungannya, bersandar pada tembok dan memeluk erat setelah menjatuhkan senter dari ponselnya.
"Triis. Anda harus sadar, kita hanya status orangtua!"
"Memang kenapa?"
"Tidak boleh seperti ini Triis. Aku tak menyetujuinya!"
Sluuurp. Katup mata dan ranum Luna pias membeku. Ia sulit bernafas dan tak percaya.
Triis tak dapat menahan, ia membuka kancing dan mengecup jenjang leher Luna. Meski Luna menepis tangan kokoh Triis sangat liar membuatnya terlunta untuk melepas.
"Triis. Cukup hentikan!" Uuukhg. Sluuurp. Menutup kembali rapat ranum Luna.
Luna memintanya agar berhenti, tapi Triis mencium ranum bibir yang beberapa saat menempel, kini membasahinya dan saling bersentuhan. Triis menyusuri dan membuat tanda sesuatu di leher Luna. Ia merembuk kedua rambut Luna dengan halus dan saling menatap.
Luna yang lelah menolak ia terdiam beberapa saat, ketika Triis menyudahinya. Meski ia tak ternoda kembali, tapi perlakuan paksa Triis membuatnya malu. Ia memang lemah, ia memang tak bisa menghindar, ada sesuatu yang tumbuh dihatinya. Meski ia selalu ingin menepis, tidak ada cinta! tidak membutuhkan pendamping hidupnya kelak.
"Kenapa aku harus terjebak seperti ini. Aku kenapa selalu luluh padamu?"
"Apa maksudmu Triis?"
"Aku menyentuhmu tanpa sadar, karena aku gila dan ingin kamu kembali padaku Maaf!"
Luna yang berdiri, ia jatuh duduk. Namun Triis menopang dan berusaha menjadi sandaran. Lalu ia kembali memegang tungku leher Luna.
"Seberapa aku berusaha menjauh. Mengapa takdir harus menyatukan kembali. Mengapa kamu jahat Triis. Kamu jahat padaku, aku ibu kedua anakmu. Apa aku wanita permainanmu?"
Luna memukul Triis.
"Aku tak akan melakukan kesalahan lagi. Aku mohon maafkan aku! Aku akan berusaha memperbaikinya, menjadikan dirimu satu satunya istri yang aku cintai." bisiknya membuat Luna Hanyut.
Beberapa saat kemudian, Ebon tepat menyalakan lampu. Ia menelusuri dimana keadaan tuannya itu.
Sehingga Luna sudah keluar. Triis masih menatap Luna yang membisu.
"Luna. Kau tidak ingin pulang, ayo masuklah ke mobil biar aku antar."
"Tidak perlu, anda lebih dulu saja!"
Triis merasa tak enak, sesuatu membuatnya candu. Jika serangan dadakan menyentuh peluk tubuh pria, apa salah? tanya Triis. Ia masih mengejar Luna yang tiba saja berjalan mengabaikan menjauh darinya dengan berlari. Tanpa aba aba Triis mengejarnya.
"Masuklah, aku antar sudah malam. Soal tadi maaf. Wajar bukankah pria normal?"
Luna terhenti melangkah, menatap Triis semakin geram, perlakuan tadi seperti tak ada harga diri. Harusnya perkataan maaf. Bukan mengatakan yang membuatnya geram.
__ADS_1
"Pergilah Triis yang terhormat dari hadapan saya!"
Triis menaikan alis, ia tak menunggu lama. masih menatap mata Luna yang kesal padanya. Lalu ia menarik Luna agar masuk kedalam mobil secara paksa.
"Lepasin Triis!" menepuk bahu Triis ketika digendong paksa.
Triis tak berhenti. Ia menggendong paksa Luna masuk kedalam mobil. Setelah masuk, ia memerintahkan agar Ebon menjalankan dan mengantar Luna.
Wajah Luna menatap cermin, ia menoleh membelakangi tubuhnya. Ia tak berani menoleh kearah Triis. Karena rasa malu, apalagi di depan Ebon ia memaksa dan menggendongnya.
"Aaarrgh!! hari apa ini. Kenapa aku kesal sekali, ini namanya pelecehan." batin Luna. Ia memutar mata, memikirkan segala cara untuk keluar dan lepas dari tatapan sikap Triis.
Ada rasa bahagia, senyum tertarik diwajah Triis. Ia menatap Luna.
"Aku harap kamu peka Luna, sikapku adalah keseriusan selain tanggung jawabku di masa lalu yang membuatmu terkunci!"
"Anda tidak perlu berbicara dan menatap terus, cobalah mata anda menyingkir!"
"Memang kenapa?"
"Aku tidak suka Triis."
"Apa karena pria dihadapanamu terlalu tampan?"
Triiis sombong, lalu melirik Ebon yang menertawakannya.
"Kau Ebon, menyetir saja. Tak perlu melirik ke arah belakang!" ketus Triis.
Ebon pun terdiam dengan merinding melihatnya.
Di Rumah :
Sesampai didepan rumah Luna. Triis meminta Ebon keluar dari mobil. Ia mengunci pintu mobil tanpa celah, Luna terkejut mengapa ia tak boleh turun.
"Kau pulang dengan Taksi!" titah Triis. Ebon hanya pias dengan menurut akan perintah tuannya itu.
Triis meregangkan tubuhnya dan memegang tangan Luna untuk tetap tinggal, memeluk dan mengepal tungku leher Luna yang pas dengan tangan kokohnya.
"Apa mau anda?"
"Diamlah, aku hanya ingin kamu peka. Aku akan menebus janji, bertanggungjawab padamu. izinkan aku membahagiakanmu Luna!"
"Apa maksudnya?" Luna memutar mata. Ia tak ingin terlena, hanya berpura pura bodoh.
"Maaf, tidak bisa!"
Luna membuka kunci mobil, namun tak bisa terbuka.
"Triis anda tidak bisa seperti ini. Keluarkan saya!"
"Aku ingin malam ini Luna. Aku sudah tidak tahan penolakanmu. Begitu lama kamu membuat aku kesepian.
Triis segera berpindah menyetir. Lalu ia meminta seluruh security yang berjaga di rumah untuk cuti selama dua hari. Tak menunggu lama, mobil masuk dan gerbang tertutup rapat. Dirumah kediaman Luna yang diberikan oleh orangtua Triis. Triis cukup pandai memerintah. Tak ada satupun di rumah itu, sedangkan bi inah dan mang karso berada di mansion mertua menjaga anaknya setelah acara surprise.
Triis menutup gerbang tertutup rapat di basment parkiran yang berleter X LUAS. Ia segera memarkir di atap balkon rumah itu.
Triis membuka mobil atasnya terbuka menembus dan menatap langsung langit langit di malam hari menjelang pagi.
"Triis jangan seperti ini, mari kita bicarakan!"
__ADS_1
Sreettth.. Kancing kemeja Luna hanya ditebas sekali semua sudah copot.
Tbc.