HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
CARI BUKTI


__ADS_3

"Tapi .. Lovely, ka Triis sangat."


Ssssst!!


Erico membelai bibir manis dan melikuknya dengan jari. Lalu mengecup, menutup mulut sang istri. Tak ingin terlalu banyak ansumsi.


Ia hanya bersyukur sang istri tak ditemukan oleh sang kakak yang terobsesi padanya, bersyukur kala itu sang istri belum ada di Apartment kala itu.


***


"Bagaimana, apa sudah dapat donor golongan O?"


Triis pertamakalinya ia mengkhawatirkan Luna. Akan dokter yang berbicara detail. ia kini telah hamil. Ada rasa takut ketika perlakuan yang ia lakukan secara bringas, sehingga Luna mendapatkan pendarahan dan kini ia kehabisan darah. Jika tidak ia pasti akan kehilangan kembali darah dagingnya.


Sebodoh dan bejadnya aku. Ketika tau seseorang telah mengandung anak ku. Hal yang aku ingat adalah Bunda. Meski sudah di alam berbeda, alasanku sama.


"Hanya ingin membuat Bunda selalu tersenyum."


"Tuan, Maaf Tuan Triis. Apa anda mendengar saya?"


Triis terperanjat. Ia masih bingung akan dirinya yang masih duduk melamun dan tertidur. Ebon memberitau jika sudah ada pendonor darah untuk Nyonya Luna.


"Siapa dia?"


Tak lama, Triis menatap Erico dan Sang papa datang. Sementara ia mencari tau keberadaan pendonor. Triis berusaha berdiri dan bangkit tak menoleh pada papa dan adiknya itu.


"Ka, jangan cari Keiy. Dia sedang mendonorkan darahnya untuk Luna. Hargailah istri kakak. Karena aku dan Keiy..." sejenak terdiam.


"Apa yang ingin kamu katakan?" Triis berusaha tak menatap Erico. Posisi menyamping dan kedua tangannya berada dalam saku celana. Ia berdiri tegap seperti malas mendengar Erico bicara.

__ADS_1


Erico menjawab dan bicara. "Aku dan Keiy telah menikah, aku harap kakak bisa menerima dan memperlakukan istri kakak dengan baik!"


Triis terdiam, mengepal amarah. Ia menatap Erico dengan Tajam.


Ssssiiiiet.


BRAAAGH


ia meninju tangannya ke sisi tembok. Hal yang dilakukan sang papa adalah melerai akan perselisihan antara kedua anaknya itu.


"Bisakah kalian berdiskusi kelak. Erico tinggalkan Kakakmu yang masih penuh amarah. Temanilah istrimu!"


Erico melangkah pamit ke ruangan dimana sang istri berada, lalu menatap kaca dan melihat Istrinya sedang menatap Luna. Erico merasa kasihan pada Luna, tapi apa pantas aku melindunginya juga.


"Tidak, ini hanya sebatas kepedulian saja!" lirih Erico.


Triis meninggalkan area rumah sakit, ia tak menghiraukan perkataan sang papa yang sedang memintanya berbaik belas kasih pada istrinya.


Erico membusurkan kedua tangan untuk meraih sang papa yang akan terjatuh. Kini mereka saling bicara di suatu kantin.


Papa, jika Erico bisa membantu. Apa ini adalah. "Sebenarnya apa semua ada kaitan adanya Erico dan Mama?"


Tidak. hanya salah paham nak, sudah pasti kematian bunda Triya karena penyakit tanpa kami ketahui. Termasuk Triis yang selalu mengira Mama mu adalah penyebab orang ketiga. Jelas ini bukan salah Mama mu Erico. Semua papa yang salah. Papa dahulu menikahi mama mu, lalu karena bisnis keluarga papa harus menikah dengan Triyana dan melahirkan Triis lebih dulu. Tak jauh beda, saat mamamu pergi. Papa menemukan lagi. Saat itu sulit tapi kami menjalin kembali dan adanya dirimu kini.


"Jadi jangan menyalahkan dan maaafkan Triis kakakmu!"


***


Sementara Luna yang telah sadar, ia saling menatap wanita nona bintang itu.

__ADS_1


"Kenapa anda tidak membiarkan saja. Kenapa harus mendonorkan. Bahkan darah yang langka kini aku diselamatkan, padahal aku berharap aku tak selamat!"


"Luna. kita impas, katakan apa yang bisa aku bantu. Jangan panggil Nona Bintang. Kita sudah bagian keluarga!"


"Tapi aku bahkan tak akan bisa meraih cintanya Tuan Triis. Dia hanya mencintai anda Nona."


Keiy tersenyum, ia kembali duduk dan mendekat dan menggenggam tangan Luna. Percayalah jika kamu bisa bekerjasama padaku, kamu pasti akan mendapat hasilnya. Perlahan Triis akan bisa membuka dan menyadari jika ia mencintai kamu, semua perlu proses dan waktu Luna.


Saat ini Triis hanya obsesi bukan cinta. Semua karena masalah keluarga, suatu saat kamu akan mengerti. Itu mengapa aku tak mempercayai hati Triis untukku, bahkan tak sedikit aku goyah. Jika dari sudut manapun dia pria lebih dewasa dan lebih segalanya dari pria yang aku cintai.


"Bagaimana caranya, jika kamu bisa membuktikannya?"


"Luna. Aku harap kamu bisa bijak dalam mencerna. Pintar dan berfikir sebelum memulai. Triis menyukai wanita yang perfect. Satu hal dia sangat mencintai almarhum Bunda. Kamu bisa cari kebenarannya. Karena aku tak tau pasti, Bunda Triya mempunyai catatan kecil, kurasa semua ada disana. Aku tidak tau apa isinya, tapi jika kamu bersabar."


Luna memeluk Keiy. Tak terasa bulir air mata mengalir begitu saja sehingga ia merasa beruntung dipertemukan dengan wanita yang amat baik.


"Terimakasih Nona bintang. Aku akan menganggap anda sebagai kakak. Bolehkah?"


"Tentu. Aku bisa jadi sahabat, teman dan apapun itu. Yang jelas satu hal tak bisa dihindari adalah kita kakak dan adik ipar bukan?"


Hahaaaa... eeeeuuuuhuum. Mereka berdua saling memandang. Hingga kala itu seseorang masuk dan berkata.


"Apa sudah selesai Nona. Tuan Erico telah menunggu di luar!"


Keiy melirik Luna. "Kosim, bagaimana dengan Luna. Apa Triis masih di rumah sakit ?"


Sejenak seisi ruangan terdiam. Tanpa di jelaskan raut wajah Kosim pun. Keiy tau jika Triis pergi mengabaikan Luna yang sedang hamil dan terbaring hampir kritis.


"Luna, jangan bersedih. Lihat ada siapa yang datang?" tunjuk Keiy, saat pintu seseorang tiba.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2