HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
APA AKU BODOH


__ADS_3

Bagaimana tidak ia mulai jatuh pada perlakuan Triis saat ini, ia tak ingin mengingat masa masa pahit terulang.


Duduk termenung adalah cara Luna menenangkan sesaat. Karena pesan itu membuyarkan Luna yang lemas, menjadi gugup setelah mandi beberapa saat. Ia duduk dan ragu untuk membuka nomor yang ia selipkan di ponselnya, sekilas ia ingin tau nomor siapa yang masuk di ponsel suaminya.


Masih dalam gemetar.


Luna mencoba memencet nomor yang tertera tadi, ia segera menempelkan di telinganya, saat Triis ke dapur. Lalu beberapa saat nomor itu tersambung.


"Ya. Halooo .. Halooo. Hei siapa disana, kamu bermain main meneleponku ya."


Luna hanya mendengar tanpa berkata sepatah pun. Ia jelas mendengar suara sahabatnya sendiri. Tak terasa air mata jatuh begitu saja, membuat pikiran nya kacau dan berpikir tak baik.


"Mas. Suara itu, apa dia sahabatku. Jika benar apa yang kalian sembunyikan di belakangku. Sakit sekali sesak hatiku sakit kini." lirih Luna menunduk.


Ceklek.


"Sayang. Aku sudah membuatkan nasi goreng cinta. Aku telah membuatnya selama tiga kali. Dan ini adalah rasa yang paling enak."


Luna menatap sang suami, ia tersenyum tak ingin mengambil kesimpulan. Baginya ia akan mencari tau sendiri apakah suami yang kini ia harapkan berubah benar benar mencintainya dan baik padanya.


"Mas. Kenapa sampai tiga kali?" tanya Luna.


"Entahlah. Aku ingin memasak untukmu dengan cinta. Tapi yang pertama gagal karena asin, yang kedua hangus."


Luna tertawa renyah. Ia tak menyangka jika suaminya begitu perhatian. Lalu ia kembali melupakan kejadian saat mencurigai nomor di ponsel yang ia hubungi.


Aaaaaak ..


"Enak Mas. Kamu sangat pintar sekali." suapan diberikan oleh Triis. Luna memakannya dengan menatap penuh pada suami tercinta.


"Jangan terlalu memuji sayang. Mas malah merasakan ada yang kurang." balas Triis.


"Aku akan memberi nilai tujuh. Karena aku yakin, nasi goreng yang kamu buat. Dengan cinta tulusmu."


Luna. Triis saling menyuap. Hingga lahapan terakhir membuat godaan Triis, ia menyuapkan padanya tapi tak sampai. Hingga berakhir di mulut Triis suapan itu.


"Mas. Kamu jahil." tawa Luna.


"Maafkan aku. Ternyata aku memang pantas jadi chef bukan?"


"Kamu terlalu sombong. Itu pasti karena kamu tadi banyak menghabiskan keringat, rasa laparmu lebih besar dari kegiatanmu tadi." goda Luna.

__ADS_1


Triis meneguk segelas air. Ia mulai memicik mata sebal dan menggoda.


"Benarkah. Kalau begitu aku akan mengulangi bakar keringat bersamamu. Okee."


"Aaakh. Tidak Mas. Ampun, aku hanya bergurau tadi."


Luna berlari kecil. Ia tak ingin sang suami kembali menindasnya. Lalu ia berhenti di satu tempat, saat seseorang tiba saja datang. Luna memang keluar dari kamar dan menuju tangga bawah.


"Ada apa sayang?" tanya Triis.


Triis kembali mendapatkan sang istri. Memeluk tubuhnya dari belakang, tak lama ia pun sama terkejut menatap seorang wanita telah datang menunggunya di ruang tamu bawah.


"Maaf Tuan. Ada tamu, ingin bertemu dengan Tuan." ucap asisten.


"Mas. Siapa wanita itu?" tanya Luna.


"Aku tak mengenalnya. Aku berani bersumpah Sayang."


Meski masih mode menggelengkan kepala. Triis tetap turun kebawah anak tangga bersama Luna. Di pikiran hati Luna sangat cemas, karrna ia merasakan ketakutan yang mendalam.


"Apa dia wanita tadi yang suaranya mirip dengan Sean. Sahabatku?" batin Luna.


Selamat siang Pak Triis. Mohon maaf saya mengganggu. Kebetulan saya lewat, saya menyampaikan berkas dari Tuan Seo. Undangan briliant dan pesanan satu set perhiasan diamond untuk wanita tercinta bapak. Akan segera di kirim secepatnya.


Luna menatap penuh karyawan itu, melihat tanda nama pengenal bernama Sinta. Dari Briliat Sain Diamond.


Triis tersenyum menatap Luna. Luna pun sama halnya, suara wanita tadi berbeda. Ia akhirnya ikut duduk ketika Triis memintanya untuk duduk.


"Mas. Kejutan apalagi, ini berlebihan."


"Mas tidak akan mengecewakanmu. Sudah sayang, kamu adalah ibu dari anak anakku. Sampai akhir keadaan apapun aku tetap mencintaimu."


Luna semakin tersipu. Lagi lagi ia kembali hanyut dalam buaian kejutan sang suami. Meski beberapa saat ia sempat takut.


Sakit dan curiga akankah suaminya kembali mengkhianatinya. Tapi pikiran itu kembali ia buang jauh jauh untuk kembali menaruh percaya seratus persen.


'Aku tak ingin berprasangka buruk padamu mas. Apapun kelak, aku akan berusaha mencoba mempertahankan pernikahan kita.' batin Luna bergeming, ia tak peduli selagi ada anak kembarnya. Luna akan mencoba menahan rasa sakit berkepanjangan menjadi hal ibadah kelak di akhir nanti.


***


Tlith! Jarang. Goyang ... Hahaha ( nada dering ponsel Sean )

__ADS_1


Sean kembali memencet nomor ponsel Triis. Tapi seperti biasa, Triis masih memblokirnya. Ia berusaha menghindar dari segala hal yang Sean ucapkan. Triis masih tak percaya akan Sean yang benar mengandung anaknya.


"Baiklah. Jadi Triis sudah di ibu kota, aku bisa kembali menemuinya di kantor. Tapi apa dia sering ke toko cake sweet. Rencanaku harus berhasil, jika tidak bagaimana nasib anak ku dalam kandungan nanti kelak." gumam Sean.


Sean mempunyai ide rencana baik. Ia mengambil ponsel lama, nomor yang hanya Luna simpan. Ia menanyakan sedang dimana, karena ia ingin sekali bertemu.


"Mas. Besok rencana setelah ke kantor. Kamu mau kemana?" tanya Luna.


"Ya. Aku sudah pasti akan menjemput permaisuriku ini. Kenapa bertanya sayang?" tanya Triis. Ia tersenyum manis dengan kedua jari tangan yang masih mengetik beberapa laporan.


Luna berdiri, ia menuangkan teh hangat. Lalu mengaduk dan memberikanya pada sang suami.


"Jika sudah lelah. Ayo istirahat Mas!"


"Ya. Sayang sebentar lagi, owh ya. Tadi mau bicara apa?"


Luna kembali terdiam. Ia bingung haruskah ia meminta izin pada Triis untuk bertemu Sean. Tapi ia juga tak bisa sembunyi - sembunyi.


"Hai. Sayang, apa yang kamu pikirkan?"


Wajah Triis membuat Luna terkejut, hanya sejengkal nafas mereka saling bertautan dengan amat dekat. Terbukti deru nafas Triis saat bicara harum dengan khasnya. Daun permint yang selalu ia kunyah, setelah dicampurkan teh hangat membuat ia ingin berlama lama.


"A-aku. Aku mas, eum .. itu. Ekh anu mas. Aku ingin izin besok boleh?"


"Izin apa sayang. Katakanlah!"


"Sean besok ingin bertemu denganku. Ada hal penting katanya. Apa boleh?"


Deuuugh. Triis terdiam, ia bingung harus bicara apa. Sejujurnya belum sanggup untuk menemui Sean, apalagi membicarakan kebenaran pada Luna.


'Sayang. Aku sangat benar berubah menjadi diriku yang lebih baik. Tapi disaat seperti ini, apa kamu sanggup bertahan atas kesalahan dan kecerobohan masa laluku?' batin Triis.


"Maaas. Kok bengong. Boleh atau Tidak, jadi aku kabarin Sean."


"Bisa di lain waktu sayang. Mas besok ada pertemuan sambutan penting. Jika kamu tak datang bersamaku, aku akan merana."


Luna hanya bisa bingung, ia bingung mengapa Suaminya melarang. Apa suara wanita itu benar Sean. Akhirnya ia menuruti untuk menunda dan mengabarkan pada Sean. Luna berinisiatif untuk mencari tau antara Triis dan Sean.


"Baiklah Mas, aku akan dampingi mas terus." balas dengan senyuman indah.


'Semoga dugaan ku selama ini salah Mas. Jika benar. Entah apa yang harus aku lakukan.' batin Luna.

__ADS_1


Luna sedikit menempelkan tangannya pada hatinya. Hal itu membuat ia duduk dan menemani sang suami yang masih berkutat dengan laptopnya.


TBC.


__ADS_2