
"Kamu tau Luna. Karena Rivano telah lama bekerja dari keluarga temurun kami. Hingga ia menjadi tangan kanan papa sekarang. Dulu dia bermain dengan Triis saat kecil. Tapi Triis angkuh ketika tau ia adalah anak supir papa, dia mulai menghindar hingga sekolah di amsterdam kala itu!"
Luna pun mengerti dan mengangguk. Sesampai di rumah sakit, Luna meminta izin untuk menghubungi Triis.
"Kalau gitu papa duluan ya!"
"Ya. Pah, Luna akan menyusul setelah ini."
Berbeda hal, Triis kembali menatap jam. Ia tak ingin mood Sean semakin jelek. Karena tak ingin bayinya cemas di usia kandungan muda. Hal itu Triis menyiapkan makan malam romantis, meski dalam benaknya campur aduk.
'Sayangku. Luna maafin Mas malam ini.'
Ada rasa bersalah Triis. Ia membohongi Luna keluar kota untuk acara bisnis. Tapi ia menikahi Sean secara siri karena takut Luna tau dan meninggalkannya.
"Auuuw... hiih kenapa tak hati hati kau berjalan." ucap Luna.
Seorang pria menatap wanita yang benar cantik tapi seperti tak asing ia lihat.
"Nona. Apa aku pernah bertemu ya sebelum nya?"
"Kau bukan minta maaf malah termenung!"
"Maaf Nona saya tidak sengaja, sekali lagi saya minta maaf. Kenalkan saya dokter Ramon!"
Luna terdiam bingung, apa pria ini adalah mukzijat Erland. Ia begitu mirip sekali, sehingga Papa mertuanya memanggilnya.
"Maaf. Saya harus segera pergi."
Ramon yang menatap wanita tak pernah ia lihat kecantikan nya. Benar benar kota padat ini adalah surga nya wanita di dunia. Bagai bidadari yang hidup di kota padat ini benar benar nyata.
"Baiklah, tak apa lain kali hati - hati!" Ramon pun mengambil satu paper bag yang terjatuh dan memberikan pada Luna.
Luna maju tiga langkah. Sementara Ramon menatap nya dari belakang dan sedikit maju menatap wanita itu, dari samping dan mendengarkan wanita itu berbicara melalui sambungan ponsel.
"Hello ia aku. Aku janjian dengan paman Albert untuk pekan nanti. Akh tidak aku tidak sedang janjian dengan laki laki lain. Yang benar saja ada papa mertuaku di sini. Ia aku mengantar tapi Papa memanggil dan mungkin sedang ke toilet."
Ramon pun terlena dan tersadar ketika wanita yang sedang menerima panggilan dan mendekat ke hadapannya itu sedang cemas. Sehingga jelas ia terlihat gugup.
"Kau kenapa masih disini. Satu lagi kamu tadi menatapku?" tanya Luna.
"Maaf saya tidak sengaja, kamu wanita tercantik seperti bidadari yang pernah saya lihat detik ini!" balas Ramon tersenyum.
__ADS_1
Luna pun menggelengkan kepala nya. Ia tersenyum jika orang suruhan suaminya memarahinya karena ia melihat aktifitasnya di ponsel.
"Baiklah terimakasih pujiannya. Lain kali jangan sembarang menatap wanita. Apalagi wanita telah bersuami!" tutur Luna dan berlalu pergi.
Gleuuuk.
Tak lama Ramon pun terdiam ketika wanita itu berkata seperti itu. Hingga pria paruh baya menghampiri wanita itu.
"Apa katanya wanita bersuami?" gumam Ramon tak percaya.
Luna pun mengekor kemana papa mertuanya, meski pria tadi sedikit mirip Erland. Tetap saja dia adalah orang berbeda yang tak mungkin sama.
"Nyonya dan Tuan besar mari jika sudah selesai kita hampir terlambat!"
Ramon pun terdiam ketika seorang pria memanggilnya nyonya dan berlalu melangkah meninggalkan rumah sakit.
Ramon yang terdiam menatap aduhai. Wanita terlihat masih muda ternyata sudah mempunyai suami.
"Apa mungkin suami nya pecemburu. Tapi jelas jika dia istriku di desaku kelak. Mungkin bapak bapak tua, anak muda hingga anak kecil pasti mengantri ke warung demi melihat bidadari seperti nya, belanjaan full omset pasti hahaha." gerutu Ramon kala itu.
***
Hari sudah menjelang sore, Luna pun pamit, setelah sampai di mansion. Ia menatap sang papa mertua telah pergi ke kamarnya.
"Mas. Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Kamu tau, aku tadi mengantar papa. Karyawan kepercayaannya kritis." gerutu Luna.
Luna kembali ke kamar, ia menatap cermin dan membersihkan polesan sisa make up naturalnya. Memikirkan Triis tanpa kabar membuat ia curiga dan kembali takut. Hingga akhirnya Luna kembali beranjak, untuk tidur berlalu ke kamar kedua anaknya di Kediaman Mansion keluarga Triis.
Tak lama, Triis telah sampai dirumah, tujuan nya pada sosok Istrinya dan memberikan makanan kesukaannya. Rein dan Reina ikut bergabung menggendong sang ayah. Triis pun memeluk sang anak dengan senang.
"Ayah mengapa seorang Ayah tak menghubungiku dari kemarin. Bunda cemas loh?"
"Maafkan Ayah ya sayang. Ayah terlalu sibuk, ponsel ayah rusak sehingga tak bisa mengabari kalian." kecup Triis pada kening kedua anaknya.
Tiba saja Luna terdiam. Triis menatapnya yang mendengar perkataan kabar Luna yang cemas. Ia merasa sedih karena merasa bersalah akan anaknya yang belum mengetahui Ayahnya kembali melukai batin ibunya.
"Mas. Kamu sudah kembali, maaf aku tidak tau. Karena ponselmu tak aktif kenapa. Apa ada masalah?" tanya Luna.
"Maafin Mas. Sekarang kita makan dulu ya!" titah Triis mengajak sang istri makan bersama dengan kedua anaknya.
Triis menjelaskan hingga detail. Jika pekerjaannya sangat banyak, terlebih ponselnya yang rusak. Lalu jaringan yang tak memadai kala itu di proyek.
__ADS_1
Luna hanya mengangguk dan senyum. Ia tetap mengkesampingkan batinnya yang menolak jika sang suami telah membohonginya. Karena alat detek yang ia lihat adalah suaminya masih berada di satu kota.
'Apa yang kamu sembunyikan Mas. Aku akan mencari tau sendiri.' batin Luna mengunyah makanan, masih mode menatap senyum wajah suami.
"Mas. Anak anak sudah tidur siang. Kita nonton drakor ya?"
"Heuumph. Baiklah Mas akan temani kamu sayang."
"Brugh. Mas jangan seperti itu!" Lemparan bantal ke arah wajah Triis hingga ia meloncat kaget.
"Astaga kamu selalu saja kdrt pada Mas ya?" ucap Triis.
"Salah Mas sendiri, kenapa tertawa dan melamun sendiri. Sementara film belum aku putar."
Triis pun mengangkat Luna ke ruang tamu kamar. Ia rindu dan ingin bermain pada sang istri kala itu.
"Mas kenapa ajak aku pindah ke ruang tamu kamar?"
"Kamu sudah pasti tau sayang. Mas ingin memanjakanmu."
Luna hanya tersipu malu. Ia pun menuruti aksi suami yang menginginkannya. Hingga tiba malam mereka larut. Aksi menonton drakor adalah sebuah acara, yang kini menonton aksi mereka yang sedang mesra.
Luna hanya pasrah dan menatap kearah jendela. Triis mengajak Luna ke balkon teras depan bersantai dengan teh hangat.
Triis menceritakan hari ini dan berdiskusi apa yang ia temui, tak terasa jam sudah pukul dua malam. Triis pun meminta Luna untuk istirahat sejenak.
Luna tersenyum haru karena disaat sulit, bingung akan perasaannya. Luna selalu mendukungnya dan membantu Triis dalam kegiatan apapun. Tak lama Triis kembali kesal, karena la segera menatap seseorang menghubunginya.
Saat ponsel nya berdering Luna pun meminta Triis untuk mengangkatnya dan menatap ke arah belakangnya.
Triis terkejut karena lagi lagi sang istri selalu percaya apapun yang ia katakan.
"Mas angkat dulu ya."
"Heuuumph. Ya mas, aku akan buat teh dulu."
Luna menutup pintu kamar. Dalam hatinya ia mengintip aksi bicara sang suami yang diam diam kala itu.
"Sampai kapan kamu bersembunyi dariku Mas." gumam Luna, yang menyembunyikan sakit hatinya.
Dalam batin Luna. Ia sudah mulai curiga saat lokasi suaminya bukan di luar kota. Ia masih harus dengan hati hati untuk mencari tau apa yang di lakukan sang suami.
__ADS_1
"Jika kamu mengkhianatiku lagi. Aku harus bersikap apa padamu mas." benak Luna.
TBC.