
Praaaagkh. Triliiing.
Triis menjatuhkan sebuah Gelas, sehingga semua tamu dan orangtuanya menatap ke arah Triis saat itu. Luna pun menatap Triis dengan melotot karena terkejut. Sementara Keiy menatap ke arah Luna yang diam saja akan gugup.
Keiy meminta asisten kebersihan untuk membersihkannya.
"Triis, kenapa menjatuhkan gelas itu. Apa karena melihat Luna yang berbeda malam ini." tutur Papa.
Triis menaikan alis, mencoba tersenyum di hadapan semua tamu. Sesungguhnya ia terpesona akan penampilan Luna malam ini. Tapi ia masih bersikap angkuh. Triis pun meminta maaf dan menghampiri Luna.
"Ya, maafkan saya. Tadi saya memang terpesona pada istri saya ini."
Luna terperanjat senyum, ia merasa senang pertama kalinya ia di puji. Oleh pria yang kini ingin ia perjuangkan. Lalu Triis merangkul peluk dan mengimbangi alunan music dansa sambil berbisik pada Luna.
"Hei, kau jangan merasa tersanjung. Apa kau mencoba ingin tampil perfect. Aku lakukan tadi karena tak ingin membuat malu papa. Jangan merasa kau akan menang, kau tidak bisa membuat aku cinta dengan wanita sepertimu. Dasar wanita penuh siasat."
Luna tetap menampilkan senyuman, ada rasa sakit saat Triis berbisik seperti itu. Ingin rasanya ia berlari dan menangis untuk menghindari kerumunan orang penting saat ini.
Perih luka yang kau berikan, walau diriku tak bisa. Saat diriku engkau sisihkan. Aaaakh sudahlah apalah daya. Aku memang tergoda oleh pria yang membuatku manis dalam satu malam. Sungguh sakit dalam bercinta. Tatapan dan senyumanmu tak sebanding rasa sayangku. Meski aku tau semua itu bukan untukku Triis.
Luna berbisik dalam hati, meski alunan dansa masih mengimbangi dan ia menutupi rasa wajah yang sudah memerah dan ingin mengembang. Tak bisa dipungkiri Triis yang menatap Luna, ia tersenyum miring agar Luna menyerah, sehingga ia bisa mendapatkan janji Keiy untuk meninggalkan Erico.
"Setelah acara ini. Aku akan bermalam di Apartmentku. Sudah ada gadis yang menungguku untuk bermalam dan bersenang senang. Apa kau akan menemaniku menontonnya?"
"Apa wanita?"
"Yap. Aku harap kau pikirkan dan menyerah Luna. Hahaaaa." bisik kembali Triis.
Luna masih menampakan senyuman pada wajah Triis, ia berharap Tuhan dapat membolak balikan hati suaminya kini.
"Apa yang kamu lakukan itu salah suamiku, aku akan bersabar dan tahan akan semua perlakuanmu. Aku akan berusaha dan beri aku waktu bahwa aku yang terbaik dari wanita yang singgah padamu!"
"Kau mengancamku, memang kau siapa Luna. Wanita sepertimu seharusnya menikah dengan pria, biar ku tebak, Kuli bangunan. Tukang Ojek atau seprofesi denganmu Luna. Tukang ikan yang bau amis. Hahaaaa jangan kecut tersenyumlah, bagaimana benar ga?"
__ADS_1
Luna ingin sekali menampar pria yang mengajaknya Dansa. Tapi ia tak sampai hati membuat onar. Meski Tris selalu memancing dan membuat irisan luka di hati yang akan membekas. Tapi ia selalu sabar memaafkan.
'Apa aku benar jatuh cinta. Pria macam apa yang aku nikahi. Sampai hati dia tega terang terangan membuat aku ingin menyerah.' batin Luna.
Triis melepas eratan dansa ketika music berhenti, sebelum lampu menyala Triis sudah beranjak pergi dan meninggalkan Luna seorang diri.
Luna masih menyembunyikan kesedihan dan kekecewaanya. Luna menatap Keiy dan Erico sangat bahagia dan mesra. Tak lama sang mertua menyapa dan mengajaknya bergabung.
"Luna, dimana Triis?"
"Eeeekhm dia. Maksud Luna tadi tak sengaja menerima panggilan sedang keluar sebantar Pah, Mah."
"Benarkah, kamu tidak bohong pada papa Luna?"
"Ya, Luna benar kok. Tadi samar mendengar jika Triis bilang. Ada Urusan yang amat penting ga bisa ditunda."
Papa Steva mengrenyit dahi, ia sulit mencerna dan menegangkan rahangnya.
"Sudah malam, masih sibuk. Apa ada tugas kantor yang harus dikerjakan semalam ini?"
Luna tersenyum, ia tak mungkin bicara jujur. Jika Triis meninggalkannya karena ingin melanjutkan hasratnya dengan gadis sewaan yang membuat Suaminya puas akan hobinya itu.
"Bagaimana bisa aku mencintai, jatuh cinta pada suamiku yang mempunyai kebiasaan tak lazim. Terlebih ia mencinta wanita lain yang ada dihadapanku secara gamblang?" benak Luna.
***
Ke esokan harinya. Luna yang memakai dress kuning bermotif bunga salem dibawah lutut. ia segera melaju dengan sebuah taksi menepi di Apartement sang suami.
Luna menarik nafas, ia berusaha ingin membuka pintu dengan id card. Namun pintu itu telah terbuka. Seorang gadis keluar sepagi ini dengan jalan yang tak biasa.
Luna hanya menelan saliva. ia benar benar tak tahan akan sikap Triis seperti ini, ia hanya pernah disentuh oleh Triis saat malam pertama saja. Namun pelukan suatu malam yang manis Triis dan kecupan sentuhannya membuat ia jatuh tak bisa di singkirkan.
"Aku harus lebih ekstra sabar. Luna kebahagianmu harus melewati tebing dan puncak krikil yang menancap. Aku yakin dengan aku apa adanya. Perlahan Triis akan berubah dan sadar."
__ADS_1
Luna masuk, ia mendapati suatu ruangan dan kamar yang amat berantakan. Perlahan ia membersihkannya. Dengan sapu tangan ia menatap lingerie sobek dan sebuah tissue serta pengaman pria ketika berhubungan berceceran di lantai.
"Ya ampun, apa aku akan bertahan, melihat tingkah suami yang dikirim Tuhan padaku seperti ini setiap saat. Tak hanya melukai batinku saja. Tapi beban mental dan jiwa ku perlahan akan terganggu." lirih Luna.
Beberapa saat. Luna menggunakan celemek. Ia membuntal rambut dengan cepolan. Luna berusaha memasak dan membuat makanan kesukaan Triis.
Triis yang mencium Aroma sesuatu yang pekat. Dia terbangun dan menyibak selimut dan melangkah pada sebuah pengecap penciuman yang tajam itu.
"Hei. Kau sepagi ini sudah menggangguku tidur."
Luna menoleh dan tetap tersenyum.
"Maaf aku membangunkanmu. Meski ini libur tapi kamu harus membersihkan tubuhmu agar hangat Triis. Aku sudah menyiapkan air hangat dan menuangkan Aroma theraphy agar tubuhmu rileks. Setelah ini kamu bisa sarapan. Aku ga akan mengganggumu lagi setelah ini. Aku akan pergi membiarkanmu tenang!"
Triis menaikan alis, 'Apa maksudnya setelah mengganggu, dasar wanita aneh. Sudah jelas aku selalu membentak dan menyakiti kata kata yang keras. Kenapa dia masih tetap tersenyum. Apa dia tidak waras?' batin Triis.
Triis segera merendamkan tubuhnya. Ia tersenyum akan seisi ruangan yang telah di siapkan. Juga melihat seisi ruangan telah rapih, harum dan bersih.
Aku harus memberi piala pada Luna dan memberi penghargaan. Heuump.. kira kira apa yang tepat ya?
"Istri ku pembantuku. Owh tidak lebih tepatnya. Istriku membersihkan sisa malam indah suamiku. Oooowh tidak tidak tepat. Terlalu panjang itu."
Luna yang merapihkan kasur, ia berdiri di tepi pintu kamar mandi. ia mendengarkan Triis yang sedang bicara sendiri dengan aneh.
"Mengapa aku lucu saat kamu berbicara sendiri Triis. Apa sebenarnya yang membuat sikapmu berubah?" benak Luna.
Luna menatap seisi ruangan, ia segera meneliti apa ada satu benda berharga yang bisa mengubah Triis di masa lalu yang tak seperti sekarang.
Beberapa jam kemudian. Luna hanya menelan saliva, saat Triis sarapan tak mengenakan pakaian, ia hanya memakai handuk menutupi bawahnya dengan belahan tubuh yang terpampang setengah telanjang.
"Aku akan pergi sekarang. Maaf jika aku merusak moodmu akan hadirnya aku Triis."
Triis yang memakan sepotong sandwich berisi olesan Tuna cincang dan lobster dibalut sayuran tomat dan selada serta saos. Berhenti makan dan menatap Luna.
__ADS_1
Tbc.