
Luna dan Erland duduk di tepi makan es krim. Saat itu mereka asik bermanja tawa. Tapi suatu ketika ia kehilangan kendali saat Luna membayarnya. Luna merasakan jika Rian ada di sampingnya sedang menggenggam celah lengan bajunya. Sementara Erland membawa Riana ketoko mainan dan melihat lihat.
"Rian, kamu dimana nak?"
Luna panik, ia mencari dan berkeliling. Dia juga menghubungi Erland yang ia pikir diajaknya. Sehingga mereka berpencardan berfikir mengejar anaknya menyusul Erland.
"Tuan, anak itu menggambar di mobil Tuan!"
"Biarkan saja, aku ingin melihatnya. Jangan turun. Biarkan dia menyelesaikannya. Tunggu ia selesai melukis di mobilku!"
Triis menatap bocah yang ia ingin cari, Ia tersenyum karena mata dan wajahnya mirip seperti ia kecil. Kebiasaannya menggambar di suatu kendaraan adalah hobinya.
"Luna, jika dia anaknya. Kamu tidak bisa mengelak dia putraku!"
Dua puluh menit kemudian.
RIAN... Teriak Luna.
"Nak, kamu gak apa apakan. Bunda cari kamu, maafin bunda Ya!"
Rian menatap Bundanya yang panik, tanpa menyadari sepasang sorot mata tertegun menatap wanita yang ia cari ada di dekat hadapannya.
__ADS_1
"Luna istriku. Jadi dia benar putraku." Luna terdiam ketika pintu mobil terbentur untuk di tutup.
Triis tak menunggu Lama ia turun. Tapi Luna terkejut dan akan meminta maaf karena sebuah mobil mewah telah di coret oleh putranya.
Luna menatap jenjang kaki pemilik mobil itu, ia melirik dan meminta maaf. Masih dalam menunduk tanpa melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Tuan, anda pasti pemilik mobil ini. Saya akan mengganti rugi atas khilafan yang anak saya lakukan. Saya mohon maafkan!"
"Mengganti rugi dengan kembali?"
Luna terdiam, ia menatap dari sudut ujung pantopel itu. Lalu ia menatap pria yang bicara padanya. Sehingga mereka saling menatap dan memandang, terdiam beberapa menit.
"Bunda, kenapa diam. Ayo kita susul adik!"
Dengan mulutnya yang bergetar, bibir terkatup katup berat. Luna terpaksa berbicara dengan kata yang membuat Triis kesal.
"Cukup. Anda siapa Ya. Maaf saya tidak mengenal anda. Mungkin anda salah mengenali Orang. Ayo nak kita pergi!"
LUNAAAA .... Teriak Triis.
Saat menatap Luna pergi begitu saja. Triis ingin sekali memeluk anaknya.
__ADS_1
"Tuan, bersabarlah. Jangan gegabah karena suasana hatinya sedang tidak baik!"
Aaaargh! Sial. Sudah bertemu dia masih tak menganggapku. Triis meninju spion mobil mewah hingga tangannya terluka. Lalu masuk kedalam mobil dan menenangkan hatinya. Triis menyadarkan apa yang harus ia lakukan agar Luna mau kembali.
"Kau, cepat turun. Cepat ikuti Luna dimana ia tinggal!"
Ebon pun turun, ia membuntuti Luna kala itu, ia menatap Luna dari kejauahan setelah beberapa menit. Ebon menatapnya di celah dinding tukang gulali.
"Tuan Triis. Jika melihat Luna dipeluk oleh pria yang pernah ada di hadapannya. Pasti akan mengamuk. Tapi apa Luna telah menikah lagi, tapi jelas ia tak bisa menikah sebelum di cerai oleh tuan Triis." lirih Ebon.
"Luna, tenanglah kamu kenapa menangis?"
Erland memeluk Luna, sementara masing masing mereka menggendong sang anak.
"Bunda tadi dimalahin sama Om. Bunda maafin Rian ya. Udah buat nda sedih tadi!"
Luna tersenyum pada anaknya. Ia menenangkan jika bukan salah putranya ia menangis saat ini.
"Mas, kita pulang sekarang. Aku ga mau lama di sini!"
"Baiklah. Kita pulang, setelah tenang kamu harus cerita padaku ya."
__ADS_1
Tbc.