HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
PERGI DENGAN MANTAN


__ADS_3

"Ya, benar pak. Di sana telah tertera nomornya!" tutur Sari.


"Jadi yang bener yang mana nih nomornya, enggak aktif loh?" tanya Ebon.


"Maaf om, jika tidak nyambung ke bu ein, ke bu Una aja." jawab satu karyawan. Ia menyodorkan kartu nama dan memang selama ini Luna dan Sein mengenalkan nama singkat agar aman.


Triis segera memencet ponsel, namun tak ada jawaban dan diluar jangkuan. Tak lama ia mengambil kartu nama itu, ia memencet nomor bernama Una Alexander. Triis jadi teringat sang istri, yaitu Luna Alexander Al bari.


Luna terdiam, kenapa nomor panggilan masuk tak dikenal tiba. Ia keluar kamar tak asing, sudah pasti Sein jika tidur mematikan ponselnya. Alhasil ia harus mengangkatnya.


"Halo, ya selamat siang. Dengan siapa?"


Triis terdiam, ia masih mengenal suara itu. Sudah lama ia tak mendengar suara lembut dan merdu ketika bicara, meski lewat sambungan ponsel. Triis terdiam tak berkata sepatah katapun karena terkejutnya.


Haloo... haloo, Haah orang ini pasti usil.


"Bunda ian dan adek udah mau susu!"


Oke nak. Sebentar bunda selesaikan telepon dulu ya, kalian naik ke kursi biar bunda buatkan oke!


Triis masih mendengar suara perempuan dan anak kecil itu! ia segera meminta kasir Cafe untuk meminta data alamat pemilik cafe Luse di mana letak rumahnya.


Sementara kedua anaknya menunggu sang bunda membuatkan susu ke arah dapur.


"Tunggu ya nak, nanti bunda sekalian siapin Sandwich selai coklat!"


"Oke Unda." serentak sedikt cadel.


Treddth. Treddth. Dering ponsel.


Bunda, ada telepuuun ponselnya bunyi teluuus! Luna tak mendengar, Rian pun mengangkatnya dan berbicara.


[ Haloooo.. ia ni nomol bunda aku. Uncle siapa ya? telepun bunda lagi aja nanti. Soalna Bunda aku lagi buatin susu. Aunty Sei lagi bobo ga bisa diganggu Uncle! Eeeum. Lumah aku di.. ga boleh, Bunda ga boleh kasih tau alamat rumah kalau ga kenal, Uncle telepun lagi aja nanti sama bunda Ya! ]


Pembicaran Rian bocah itu dengan cepat dan fasih meski sedikit cadel.


Tuuuut. Tuuuut. Nada ponsel di tutup.


"Anak kecil yang mengangkat, anak itu cadel tapi fasih sekali. Dia tegas ga boleh kasih tau alamat rumah disuruh Bunda, gimana Tuan?"


Triis meregangkan kedua tangannya. Ia berdiri dan menatap jam yang melingkar. Ia berharap itu adalah mereka yang selama ini ia cari.


"Baiklah, besok kau cari tau semua pemilik gerai ini!"


Karyawan kasir tertegun, ia menatap pengunjung Sultan itu telah pergi, ia memberikan pesan pada bu Sein jika cafe telah sepi.


Tak menunggu lama gerai pun tutup, Sein meminta Sari membereskan segala hal. Juga membawa laporan malam ini ke rumah.


"Sein, kamu suruh karyawan kita kerumah, suruh dia naik taksi aja. Trus lihat jangan sampai ada mobil yang membuntuti, bilang Sari ya!"


"Beres Na. Hadeuuh kok berasa nyawa terancam ya, tapi cepat atau lambat Triis akan tau keberadaan kamu dengan kedua anakmu kan?"


Luna tak menjawab. Masih tak bisa bersama dan kembali. Karena Triis akan perlakuan yang selama ini membuatnya kecewa. Terlebih ia merasa terhina saat bersamanya.


"Ini sungguh membuat aku frustasi, jika aku mengingat itu. Semakin aku ingin menghindar. Aku punya kalian jadi ga perlu Triis."

__ADS_1


"Baiklah, tapi kenapa kamu ga terima aj sih. Si Erland mantanmu itu, yang suka seharian di sana. Aku lihat dia aktif bener menyukai kamu loh, masih menunggu kamu loh. Dia udah bantu banyak, baik lagi. Kamu ga inget waktu lahiran Dia nemenin kamu. Setia banget dia nungguin kamu loh Na, kali aja kamu nikah Triis mundur kan?"


"Trus, kamu si Vero juga deketin kamu. Kamu ga terima Sein?"


Yeeeah! susah kalau udah ngobrol sama kamu Na, malah balik tanya lagi? Sein menarik nafas. Dia segera membuka bell dan terlihat Sinta yang datang. Mengingat kasir ada dua orang.


"Sari, amankan. Jangan pernah kasih tau alamat bos kamu ya pada siapapun oke!"


"Iya bu, paling juga Mas Erland sama mas Vero yang lemes itu kalau ke cafe. Sari selalu jaga rahasia yang ga boleh orang tau!"


"Rahasia apa ?" tanya Luna.


"Rahasia rumah kediaman bu bos Sari lah."


Owh! Luna dan Sein tersenyum, ia mengira rahasia tentangnya bocor oleh Sein.


Beberapa jam kemudian, ia pulang diantar oleh Luna menuju Taksi.


"Sari, ini tips dan ongkos kamu pulang. Besok kamu libur ya, sekalian carikan orang untuk security ya!"


"Siap bu." balas Sinta.


Tak lama, Luna masuk ia terkejut akan Rivand yang tiba saja keluar dengan piyama tidur menangis.


"Handsome mama, pasti mimpi ya. Ayo nak, kita masuk!" Luna menggendong Rian ke dalam rumah.


Namun tak jauh, sebuah mobil Navy doop. memutar pelataran rumah Luna.


"Kita kehilangan jejak karyawan kasir itu, pasti ia tau rumah bosnya. Sebaiknya kita lanjutkan besok!" titah Ebon. Triis pun menaikan alis tanpa menyerah.


"Tuan, ini sudah malam. Jangan bilang saya harus mengetuk pintu semua rumah ini. Kita sudah berputar tujuh kali. Bagaimana mereka terganggu menghubungi polisi?"


Ebon menghela nafas, melihat Tuan Triis sudah mengeraskan rahang yang terlihat urat. Lalu menurut dan keluar dari mobil. Sesaat ia ingin masuk, tak lama ia terkejut akan mobil yang memarkir. Ebon terhenti dan menatap dua pria turun masuk kedalam rumah tersebut.


"Tuan, sepertinya salah sasaran. Rumah ini bukan yang kita pikirkan?"


Menatap kasihan, Triis pun meminta Ebon untuk masuk kedalam mobil. Melanjutkan misi esok hari.


"Haaah. Baguslah aku selamat malam ini." lirih Ebon.


Ke Esokan Harinya.


"Sayang, siang nanti mama jemput ya!"


"Oke Bunda."


Rian dan Riana menjawab sedikit cadel. Segera masuk kedalam sekolah less tiga bahasa. Tak lama Erland menghampiri Luna.


"Uncle Elan." teriak Riana. Anak itu segera memeluk kembali melewati sang bunda saat akan masuk kedalam sekolah.


"Wah, kamu datang. Pantas bunda dicuekin kalau ada Uncle Elan ya?" bisiknya.


Luna tersenyum menatap Erland. Sebenarnya ia merasa canggung akan statusnya. Kebaikan Erland sangat luar biasa, Riana putrinya sangatlah dekat padanya. Bagaimana tidak sejak kecil ia sudah selalu bersama dan bertemu.


Erland seorang dokter dan pemilik klinik Animal. di beberapa tempat, ia juga memiliki pabrik fashion Distro. Semenjak lepas dari pengacara, ia menjalani bisnis bersama Luna.

__ADS_1


"Luna, dari sini mau langsung ke gerai?"


"Gerai, ada Sein Mas. Kayaknya aku mau lihat pertunjukan di gedung tepi pantai. Kayaknya ada banyak pengrajin."


Baiklah, Mas temanin ya. Kebetulan satu arah, lagi ga sibuk kok.


Luna tersenyum mengangguk.


"Baiklah kalau Mas ga keberatan." balas Luna.


Dengan sebuah motor besar, kali ini Erland membonceng Luna. Jaket, topi dan kacamata hitam diberikan agar Luna terlindungi dengan cepat ia memakainya.


"Thanks Mas."


Di tepi pengrajin, Luna melihat lihat apa saja yang lucu, benda yang unik dari tangan buatan.


"Kayaknya ini lucu deh Mas?"


Erland membungkus beberapa kaos couple berwarna putih untuk dirinya, Luna dan kedua anaknya.


"Mas mau ambil buat siapa?"


"Buat aku, kamu dan Kedua calon anakku. sore nanti kita main air di pantai gimana?"


Luna tak enak jika menolak, baiklah kita jemput anak manis dan bertanya padanya ya Mas.


Luna pun terkejut, Erland membeli banyak kaos hitam sangat banyak.


"Mas itu buat apa banyak sekali?"


"Buat karyawan di gerai kamu Na." Luna pun semakin terharu dan senang akan loyalnya Erland.


"Mas, kamu ini aneh deh. Harusnya bosnya yang belikan. Tapi ini malah kamu Mas. Aku jadi malu kalau kaya gini."


"Bukannya makin enak ya Lun?" goda Erland.


Erland pun membelai pucuk rambut Luna. Sehingga saat itu, Luna terkejut dan saling menatap. Karena sehelai rambutnya di sentuh dan di selipkan ke telinganya. Erland sosok pria yang lembut membuatnya hanyut.


Tanpa disadari, ada sepasang sorot mata tajam mengintai. Memotretnya dan mengirimnya pada seseorang kegiatan Luna yang telah lama di cari.


"Luna, apa kamu masih menunggu Ayah kandung Rian dan Riana?"


"Eh .. Itu A-kuu. Mas kita pergi ke arah sana ya!


Erland menarik tangan Luna. Dia tak bisa menunggu lebih lama.


"Na, aku butuh kejelasan hatimu. Masih kah ada sedikit masa lalu kita pernah bersama terulang?"


Luna menetes airmata. "Mas, aku takut akan pernikahan. Karena Ayah dari kedua anakku. perlakuan mereka saat itu. Aku jadi sulit untuk berkomitmen."


"Sssst. Aku paham Traumamu. Aku akan menunggumu Na. Maaf Mas memaksamu kali ini." Erland memeluk Luna.


Beberapa saat kemudian, mereka pergi dan bergegas melangkah. Luna tak enak hati, tapi saat itu ia menatap kantong jas Erland terbuka dan ada sebuah kotak cincin.


"Mas, berhenti sebentar!"

__ADS_1


"Ada apa, Na?"


Tbc.


__ADS_2