
Beberapa Hari kemudian, Luna mengajak Triis ke suatu tempat. Luna menahan sesak, kala pertemuan diam diam dengan sahabat yang ia percayai bisnis, kini bukan saja Cafe Luse yang di hak paten milik Sean. Tapi suami milik Luna, Sean memastikan jika ia benar dinikahi suaminya dan ingin Triis menjadi miliknya utuh, dan akan melahirkan anak yang sehat tidak seperti Luna.
Luna hanya menyempitkan mata menatap Triis, dan mengingat perkataan Sean beberapa hari lalu. Ia menghela nafas panjang. Ketika telah sampai di tempat yang di tuju.
"Kita sampai sayang. Mas akan turun memesan ya."
"Ya. Mas, kita langsung ke nomor 114. Aku sudah memesannya."
Triis menoleh dan menatap Luna dengan tak biasa. Tapi ia menyingkirkan kemungkinan yang ada di pikirannya kala itu.
Luna tiba saja memeluk Triis saat membuka pintu mobil. Triis mendapati istrinya yang aneh, lalu menoleh menatap wajah sang istri.
"Apa kamu menginginkannya sayang?" senyum Triis.
'Aku menginginkan kamu jujur padaku Mas! kenapa wanita itu Sean.' batin Luna.
Triis menggendong Luna dari dalam mobil menuju paviliun yang telah disediakan oleh Sean. Luna hanya merangkul tungku leher sang suami, tanpa suaminya tahu.
Tepat lima kilo meter Triis terkejut akan seorang wanita yang membawa tas kecil memandangnya.
"Sean." lirih Triis, Luna pun menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Mas. Turunkan aku, hai Sean kamu di sini juga. Aku senang kita bertemu."
Luna memeluk Sean. Sementara Triis yang masih diam tak berkutik memandang Sean yang tersenyum miring.
'Kamu ga bisa lari dariku Triis, karena Luna sudah tahu.' batin Sean.
"Mas. Ayo kenalkan, kamu dah tau kan. Dia Sean, yang cafe Luse. Aku sengaja janjian karena mau bahas hal penting. Ya kan Sean?" tanya Luna berpura bodoh.
"Ya Luna. Ada hal yang jauh lebih penting dari soal usaha kita." balas Sean.
Triis mengepal kesal. Ia memencet tombol pesan untuk Sean. Agar ia tak macam macam. Hal itu membuat getar ponsel Sean dari tasnya. Ia melirik dan tersenyum akan sebuah ancaman.
Luna pun yakin, jika Sean mendapat pesan dari suaminya. Ia hanya pasrah dan bisa bersandiwara pada keadaan. Seolah ia menutup mata dan telinganya. Karena ia menginginkan sang suami mengungkap kejujuran padanya.
"Mas. Aku akan bertahan sampai kamu meminta maaf dan jujur padaku." gumam Luna penuh harap, seolah hatinya beku dan air matanya mengering.
Tak menunggu Lama. Sean ikut kemana paviliun mereka menginap. Luna meminta Sean menginap sebelah kamar darinya. Hal itu membuat Triis tak menyetujuinya dan meminta pulang.
"Mas. Aku minta maaf, semua yang memesan Sean. Aku akan sebelah kamar. Mas tunggu di kamar ya!"
"Baiklah. Jangan terlalu larut sayang. Mas akan menunggumu!"
Triis memegang muka saat Sean ingin menghampirinya. Luna menoleh kebelakang dan mengajak Sean pergi. Hal itu membuat mata Sean mengedipkan jahil pada Triis.
__ADS_1
"Piciiiik. Wanita itu benar benar menemui aku. Bagaimana jika Luna tau, sayang aku ga bermaksud dengan semua ini, menyembunyikan semua ini."
DI KAMAR LAIN :
"Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku Sean." tanya Luna melempar buku kecilnya.
"Kenapa kamu tak mengungkap hari ini Luna."
"Aku bukan kamu yang mudah percaya. Bagaimana bisa aku percaya jika dia adalah anak Triis?"
"Kamu bisa lakukan saat ini. Aku ga masalah, aku hanya ingin suamimu menjadi ayah biologis yang bertanggung jawab. Nafkah lahir dan batin."
Luna ingin sekali menampar Sean. Tapi ia tak sampai hati, ia tak seharusnya menyalahkan Sean. Tapi ia juga ingin memberi pelajaran pada Triis sekuat apa ia meski asalnya ia rapuh dan hancur.
"Oke. Setelah bayi itu lahir, aku akan tes DNA. Tapi aku pinta kamu tak perlu bicara pada Triis jika aku sudah mengetahuinya sejak lama. Aku sudah lama mengendus hubungan kalian. Tapi kondisi kedua anakku tak boleh tau jika ayahnya memiliki dua istri. Aku ga mau kehilangan anakku Sean."
"Jadi aku harus jadi madu suamimu sampai kapan. Ini ga adil Luna."
"Kecilkan suaramu. Aku hanya meminta waktu, aku akan mengalah. Asalkan kamu tak membocorkan dan datang saat aku dan Triis bersama kedua anak anakku!"
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" ungkap Sean.
"Kau akan sama kehilangan bayi, pengakuan dan tak mendapat Triis sesuai kemauan." ancam Luna.
"Hahahaha. Baiklah, aku tau. Aku percaya janjimu selalu tepat Luna. Tapi aku harus mencari angin. Jika kamu melihatku memeluk Triis. Kamu harus tahan cemburu di villa ini. Bagaimanapun aku istrinya juga bukan. Hahahaha."
"Wanita seperti ini kamu pertahankan. Apa karena ia mengandung bayimu yang sehat Mas. Mengapa kamu lakukan ini padaku lagi. Setelah Sean, apa ada wanita lain Mas." gumam Luna, ia berlalu pergi meninggalkan kamar Sean.
Di sudut kamar Triis memakai piyama biru. Ia menatap balkon dengan memegang tungku besi. Triis memejamkan mata, ia yakin yang memeluknya adalah Luna.
Tapi Sean tersenyum tanpa berkata, ia hanya melirik kearah Luna dengan senyum miring.
Luna sangat sakit melihatnya. Ia bergegas keluar pergi tak izin pada Triis. Karena ia tak sanggup melihat semua pandangan.
"Seperti inikah rasanya berbagi suami Mas."
Luna kembali disakiti. Di awal pernikahan yang terpaksa Triis bermain wanita. Tapi kini ketika manis kembali karena kedua anaknya yang leukimia, ia harus di terpa dengan madunya adalah sahabat nya sendiri.
"Bagaimana mungkin. Sahabatku adalah madu suamiku. Dia wanita yang aku kenal, saat berjuang bersama pahitnya hidup. Tapi bagaimana bisa mereka melakukan semua ini."
Luna mengepal tangannya. Ia yakin jika semua ini adalah ujiannya. Ia harus kuat demi kesehatan kedua anaknya yang masih harus berjuang dengan ikatan dirinya yang bersatu.
"Setidaknya aku menutup mata dan hati demi Rein dan Reina. Kedua anak anaku yang harus bahagia. Aku meletakkan kebahagianku demi kebahagian kedua anak anakku yang utama." lirih Luna.
"Kau gila. Pergi kamu dari sini Sean!"
__ADS_1
"Mas. Aku juga istrimu. Aku butuh nafkah batin juga. Jika kau tak mau, aku akan mengatakan pada Luna saat ini!"
"Kau gila Sean." teriak Triis.
Ssssst... Mas Tidak ada yang tau. Luna pergi keluar membawa mobil. Ia akan pergi dan kembali pagi, lihat saja pesan sms di ponselku.
Triis mengambil ponsel Sean. Ia membacanya dan tak percaya Luna meminta izin lewat Sean. Ia menghubungi Luna tapi ponselnya tak aktif. Hingga Triis yakin, jika Luna telah tahu semua ini.
"Enyahlah kau Sean, aku akan menyusul Luna pergi." cetusnya beranjak mengambil jaket. Sementara Sean, hanya senyum menyeringai, menahan Triis keluar, kala Sean membuka kancing baju.
Luna tau, jika Sean menginginkan bermalam pada Triis. Bagaimanapun ia adalah istri dari suaminya. Ia hanya bisa pergi merenung akan kesedihan di tepi cafe tebing.
Cafe milik ustad yus muda. Tapi hanya anak anak bawahan preman yang insyaf yang berjaga di cafe itu. Tapi mengingat hal yang tak mungkin Luna tutupi adalah perasaan hatinya patah berkeping keping.
Ia pasti membayangkan ******* wanita lain terlebih ******* Sean dengan suaminya. Hal itu membuat ia terpukul harus menahannya.
"Aku harus menunggu selama tujuh bulan. Selama itu aku akan tau jika dia benar anak dari suamiku. Tapi apa aku benar harus merelakan?" Isak tangis Luna menunduk menutupi wajahnya.
"Ijong. Siapa tamu wanita itu, sepagi ini sudah pukul dua dini hari?" cercahhya dari sudut lorong lain.
"Ya pak bos Yus. Sudah tiga jam wanita itu hanya memesan minum. Makanan tak dicolek, hanya menangis terus terusan. Kayaknya lagi patah hati."
Mendapat penjelasan dari karyawan bernama ijonk. Yus langsung mengamati di meja depan, tanpa Luna sadari.
'Apa dia Luna. Untuk apa dia di sini semalam ini, kamu sudah jauh dari wanita teman kecilku yang aku kenal Luna. Apa perkembangan zaman di kota menjauhkanmu dari pencipta. Tidakkah kamu tau, ujianmu adalah teguran agar kamu segera mengadu padanya.' batin Yus, dari jarak jauh.
"Kamu jahat Mas. Aku masih menyimpan rahasia meski aku sudah tau dari awal. Aku menyembunyikan semua ini karena kedua anak kita. Aku tak punya keluarga lagi selain kedua anak anakku tumbuh dewasa. Apa kamu sedang senang malam ini karena aku tinggalkan. Huhuhu."
Yus. Mendengus nafas, ia terhanyut ikut sedih karena mendengar Luna. Tanpa Luna sadari di balik punggungnya adalah teman kecilnya yang mengamati dirinya. Memantau dirinya, karena wasiat budhe dan almarhum kedua orangtua Luna. Perasaannya bukan sekedar kasihan tapi pyur teman kecil yang ia kagumi ia tunggu.
'Semoga tuhan menyatukan kita dan meridhoi. Aku akan berusaha menuntun kamu kembali Luna. Sadarlah aku bisa jadi kakak atau teman kecilmu. Jika kamu membutuhkan, aku bersedia mendengarkan kamu saat ini di tempat lain.' Yus dari jauh.
Luna kembali memutar mobil. Meninggalkan cafe itu sejak pukul enam pagi. Tanpa menyadari. Yus muda setia dibelakangnya tanpa mendekati, ia hanya mengamati dan memantau dari jauh dengan setelan topi dan jas hitam.
Sesampainya Luna telah tiba di villa. Ia menuju kamar kediaman. Ia menatap kamarnya tak ada Triis. Melihat kamar yang rapih, jelas tak di tiduri dari semalam.
Sehingga Luna menuju anak tangga dan menatap pintu Sean. Ia mendengarkan dengan pelan apa ada suara di sana.
"Uuuuuuhk. Mas aku mau lagi, aku minta lagi. Kamu tau hamil muda membuat aku rindu memelukmu saja tak cukup!"
"Cukup Sean. Sudah pagi, aku takut Luna telah kembali."
Luna hanya terdiam. Ia kembali ke kamar tanpa menoleh ke arah manapun. Ia merapihkan koper dengan pelan hingga ia tersandung sebuah vas jatuh kala itu.
BRAAAAGH... TRILIIIING.
__ADS_1
Dengan cepat Luna berlari. Triis segera mengambil kemeja dan merapihkan segalanya. Meninggalkan Sean sendiri kala itu.
TBC