HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
SI KUCING ELANG


__ADS_3

"Tentu. Tak masalah, ikutlah dengan saya bu inah!"


Bi inah yang cemas, ia memberi kabar pada asisten Ebon. Jika nona Luna pingsan begitu saja. Ebon yang mendapat kabar pun mencari celah, ia mencari waktu yang tepat untuk mengabarkan pada Tuan Triis.


 


"Bagaimana Dok?" tanya bibi inah.


Dokter El pun memberitau jika keadaan Asam lambungnya kumat.


"Apa majikan ibu sedikit Stres. Saya minta di perhatikan pola makan dan usahakan dia jangan terlalu banyak berfikir!"


Dokter El memberikan Resep dan suntikan. ia juga meminta kepada ibu separuh baya itu alamat tinggal.


"Baiklah. Saya sudah menyimpan nomor Dokter. Jika terjadi sesuatu saya akan menghubungi Dokter!"


Tak lama, sebuah mobil datang. Supir dan pengawal membawa Luna pergi dari klinik itu. Meski itu adalah klinik hewan, tapi dokter El bisa mengatasi penyakit awal ketika pasein mengalami gejala tak baik di berbagai rumah sakit. Hanya saja kliniknya sedang renovasi sehingga Luna diperiksa di ruangan klinik sang teman dari dokter El yang sedikit sempit. Karena ia sedang tak bertugas dan rekan sesama dokter sedang cuti.


 


Ke Esokan Harinya.


Luna menatap seseorang di balik punggung. Kepalanya terasa berat, dan berkunang lemas. Jika diperhatikan sosok tubuh pria itu adalah Triis.


"Mas, kamu datang. Ada hal apa?"


"Kamu wanita bodoh ya. Bukankah di villa ini kamu bisa damai. Kenapa bisa sakit. Apa kau rindu denganku?"


Luna terdiam, ia menatap jam dinding sudah sangat siang. Pantas kepala nya berat ia tidur terlalu lama.


"Mas, aku ga ngerti maksud kamu apa. Tapi aku senang kamu berkunjung. Setidaknya aku tidak terlalu sepi."


"Sepi.. ?" Triis menaikan alis dan meminta Luna untuk segera sembuh.


Karena Triis memintanya melakukan sesuatu. Jika Sang ayah dari Luna akan baik baik saja, maka hal yang harus ia lakukan adalah menuruti perintahnya.


"Mas, tapi kamu ga melakukan hal lebih parah lagi kan. Aku mohon hentikan kasian Keiy!"


Hahaahaa! Belum aku memberitaumu. Kamu sudah berani ya? baiklah. Lihat dan tunggu dua hari. Ebon akan menjemputmu dan kau baca segala hal untuk kau lakukan!


Lagi lagi Luna bersedih. Ya diabaikan dan merasa takut akan rencana suaminya itu. Jika ia tidak melakukannya. Bagaimana mungkin ayah menerima akibatnya?


"Ayah. Luna akan berusaha sebaik mungkin melindungi Ayah dari jauh." lirih Luna.


Luna berdiri dan menatap arah balkon. Matanya terperanjat ketika melihat seorang pria dengan baju putih.


"Pria itu mencurigakan sekali?" Luna memilih mengabaikan. Setelah tiga puluh menit ia membersihkan diri.


"Non, buka pintunya. Ada yang mau mengecek kondisi Non Luna!"


Luna membukanya, ia mendengarkan bi inah berkata hal panjang dan serius. Ia pun menyuruh Dokter itu masuk kedalam. Luna terdiam ketika dokter itu adalah pria yang ia lihat berdiri di balik pohon.

__ADS_1


"Anda dokter?"


"Ya. Saya akan mengecek, kondisi anda hari ini!"


Luna merasa janggal. Meski wajah dokter itu seperti ada luka bakar di pipi. Tapi suaranya mengapa mirip Erland.


"Dokter El. benarkah nama anda?"


"Ya. Benar ada yang bisa saya bantu Nona. Perihal kondisi nona saya akan mengecek kembali dua hari lagi. Saya permisi!"


Luna ingin saja mengatakan, jika dua hari lagi ia tak ada di villa ini. Tapi apalah daya ia tak bisa menahan, lagi pula ucapan Triis bisa benar bisa meleset.


Luna masih menatap pria itu pergi dari atas balkon. Tubuhnya merasa tak asing akan sosok pria yang memeriksanya.


"Erland, kenapa aku jadi ingat dia. Suara dokter itu mirip sekali. Bahkan dari punggung saja mirip. Tapi wajahnya berbeda meski menyeramkan di bagian pipi."


Bi inah masuk, ia membawakan makanan, susu dan buah. Seketika Luna teringat Elang.


"Bi, lihat Elang gak?"


Bi inah pun menggeleng, karena sejak Tuan datang. Tak berani mengeceknya dan ia melihat Ebon membawanya keluar.


"Aaakh, aku harus cari Elang. Kasian dia di luar!"


Non, jangan diluar sudah mendung. Mohon kembali non!


Luna begitu saja berlari melewati pintu halaman belakang, ia tak meperdulikan rasa laparnya. Baginya Elang sudah seperti teman di saat ia sedih dan sepi.


"Elaaang.. Elaaang kamu dimana?" teriaknya.


"Dokter El. Maaf apa dia Elang. Saya mencarinya. Bisa anda berikan pada saya!"


Dokter El tersenyum. Bahkan kucing peliharaan yang ia kirim ternyata diberikan nama yang indah.


"Jadi anda menamainya elang?"


Luna terdiam malu. Mendekat pada Dokter El. Membuat ia teringar Erland. Hobi yang sama penyuka sesama kucing.


"Ya, hanya dia teman dari kesepian saya."


"Baiklah. Saya percayakan padamu. Lain kali jangan sampai menelantarkannya lagi. Saya akan mengambilnya!"


Luna terdiam, ia mengambil Elang. Dia pun memeluk dan menciuminya.


"Maaf Elang. Aku tak memperhatikanmu. karena aku sakit, begitu kamu tak ada. Aku mencarimu. Syukurlah aku menemukanmu!"


El menatap Luna. Ia sengaja menyamar dengan wajah baru, identitas baru hanya ingin melihat Luna. Tugasnya menjadi pengacara sirna karena pria disamping Luna yang berkuasa.


"Ada apa yang terjadi padamu Luna. Ayah bari berkata kamu bahagia. Tapi ternyata terlihat tidak. Jika aku dapat kesempatan lagi. Aku akan membawamu dan membahagiakanmu!"


Luna menatap Dokter El dan pamit namun begitu saja hujan turun sehingga mereka terjebak di halte menunggu hujan. Luna pun diberikan mantel oleh dokter El. Tapi ia membalutnya untuk kucingnya itu agar tidak kedinginan. Sehingga membuar El tersenyum bahagia menatapnya.

__ADS_1


***


Dasar Bodoh, Cari dia jangan biarkan kabur!


Triis kembali ke villa dan ia menatap Luna tak ada. Sebenarnya ia bingung akan perasaannya. Satu hari tak membentak Luna membuat dirinya kesal. Ada suatu mainan baru dalam benak Triis. Karena melihatnya teraniaya suatu kepuasan sendiri.


"Luna, Awas saja jika kamu berani kabur dari Villa ini!"


"Tuan. Nona Luna keluar hanya mencari Elang. Dia tidak kabur."


"Elang siapa dia, beraninya dia membawa seseorang masuk kedalam villa ini. Dasar ****** licik!" Triis mengepal kedua tangannya.


Ingin Ebon berkata, jika Elang adalah nama peliharaan kesayangan Non Luna. Tapi Tuannya sudah pergi dengan amarah dan jenjang kaki panjangnya melangkah ke arah halaman belakang dengan sebuah payung.


Hujan telah sedikit berhenti.


Luna segera pamit, ia menunduk pada dokter El.


"Mau saya antar nona?"


"Jangan dokter. Saya tidak ingin merepotkan."


Dokter El pun tak memaksa, ketika Luna pergi berlari menuju arah berbeda. Ya ia hanya menatap dari jauh apakah wanitanya itu baik baik saja.


Triis selama tiga puluh menit tak mendapati Luna. Ia kembali pulang. Sesaat dia sampai depan pintu. Tangannya menebas jas mahalnya karena terpecik hujan. Ia memberikan payung dan membuka jasnya. Melempar kesembarang dan pengawal itu menangkapnya, merapihkan.


"Luna, kau berani keluar dari villa ini. Apa hal kamu menemui Pria lain. Dasar ******."


Triis menjabak rambut Luna. Ebon ingin sekali melerai tapi sorot mata tajamnya menatapnya, hingga ia tak berani.


"Mas, apa maksudmu. Aku hanya mencari Elang. Dia hilang?"


"Elang, pria mana yang berani ke villa ini?"


Luna terdiam, tak lama suara kucing menghampiri Luna.


Meeeooow... Meeeooow. Berlari ke arah Luna.


"Kucingku namanya Elang. Kalau gitu saya permisi ke kamar. Saya harus mengganti baju dan mengeringkan Elang. Permisi Mas."


Triis terdiam, ada rasa malu. Ya menatap tajam pada Ebon.


"Kau habis, gajimu di potong karena membuat aku malu dan jatuh saat ini!"


Triis pergi beranjak ke ruang fitness. Ebon dan pengawal ingin sekali tertawa terbahak bahak. Jika Tuannya telah salah menerka.


"Tuan. Apa sikap anda sudah menaruh hati untuk Luna?" lirih Ebon


Elang jangan pergi, Meiooow. Kucing Luna berlari memojok. Ketika seseorang telah berdiri di belakang tubuh Luna.


"Ada apa Elang, kenapa kamu seperti ketakutan?"

__ADS_1


Luna menoleh dan terkejut, ikut menjatuhkan makanan kucing. Sehingga membuat kamar berantakan.


Tbc.


__ADS_2