HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
DI KEJAR MANTAN


__ADS_3

"Sungguh indah lantunan itu. Apa aku harus menetap di pondok ini, setelah lulus S2 ku disana?" benak Luna.


"Ndok. Kamu mikiran apa?" tanya Bukle.


"Aku. Aaakh enggak kok. Heeum Luna hanya, mana berani Luna memikirkan lebih sosok pria surgawi salah satunya menjadi imam Luna kelak."


"Maksudmu. Ust muda Yus?" tanya Bukle.


"Aaakh. Luna ga berani bukle. Bukankah wanita baik baik akan mendapatkan pria baik baik pula?" tanya Luna.


"Jika semua diberikan yang baik. Bagaimana cara Tuhan menyadarkan kesalahan fatalnya. Sungguh dua insan saling melengkapi. Jika diberikan kedua yang baik. Ia maha berencana akan sesuatu yang tidak bisa kita pikir dan cerna dalam sekejap. Udah malam ayook tidur!"


Luna pun mendengar ketika seseorang masuk dan menunduk.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam. Bukle ke depan dulu ya Luna."


Luna mengangguk senyum. Ia menatap kedua orangtua paruh baya berada di depan ruang tamu. Mengintip di balik tirai pintu adalah cara syaiton, tapi ia tak berani karena baginya ia adalah wanita yang tidak sempurna. Tapi jika mendapat sosok pria yang sempurna seperti pria surgawi itu apakah terlalu berat permintaanku. Aku pasti akan kecewa, lagi pula aku tidak pantas jika meminta lebih. Sosoknya adalah wanita yang ahli juga yang harus dia dapat, tak seperti aku.


"Begini maksud kami datang selarut ini, terimakasih atas repotnya kalian yang membantu acara, apalagi secara dadakan. Kebetulan saya dan Abi tak sengaja lewat jadi mampir!"


Ustadzah Umi Nur dan Ustad Abidin Khoirin yang terkenal di pandang itu memberikan satu amplop coklat kecil.


"Akh. Saya merasa tak enak, sebenarnya kami yang selalu merepotkan. Dengan kami tak di acuh di libatkan saja, kami sudah bersyukur pada yang kuasa. Ia tak pernah membuat kami sulit sejak kejadian .."


"Jangan terlalu larut Bu srie. Ia maha segalanya, jangan bersuudzon padanya!"


"Astagfirullah. Baiklah terimakasih sekali lagi menyadarkan kami Umi. Ustad!" Obrolan pun semakin tak jauh, sehingga mereka pamit.


Saat itu Luna segera membalikan tubuh, tapi nahas. Keningnya terpentuk ia tau hal bodoh perbuatannya. Menjadi tatapan penghuni ruang tamu menatap ke arahnya dengan terkejut.


"Bu srie. Siapa gadis itu?" tanya Umi.


"Aaakh. Luna sini sayang! dia keponakan almarhum Kakak saya. Sudah lama tinggal jauh, dan sangat bahagia ketika ia datang mencari saya. Ia adalah keluarga satu satu saya Ummi. Sejak siang sudah ingin mengenalkan, tapi karena acara tadi. Saya jadi lupa, maaf Umi dan ustad jika saya belum bertemu untuk meminta izin lebih dulu!"


"Rumah ini, tempat tinggal ini. Hanya pemilik yang tinggal yang berhak memberi izin. Mengapa harus menanyakan pada kami, cukup mengenalkan saja. Kami senang Bu Srie!"


"Mampirlah. Ke pondok Umi Nak Luna. Insyallah kami terbuka menyambutnya."


"Terimakasih. U-Umii Nur. Pak Ustadz." tutur Luna malu menunduk memberi salam. Tak menempel kedua tangannya pada Ustadz.


Seperginya orang terpandang itu. Luna meminta maaf karena tadi sedikit menguping. Ia penasaran dengan seluruh kegiatan pondok ini. Dia mengatakan pada bukle dengan serius.


"Bukle. Pasti ustadzah umi beruntung dapat pak Ustadz pemilik pondok ini, Lalu begitu-pun sebaliknya kan. Sudah pasti pasangan serasi surgawi akan bertemu nanti kan?"

__ADS_1


Bukle Srie dan Pak Srie saling menatap dan menelan sesuatu seperti terasa kering.


"Sudahlah. Semenjak kamu datang, bukle jadi sering ghibah deh. Ayo besok di lanjut, bukannya kamu mau pergi urusan pekerjaan juga kan!"


"Iyak. Bukle, maaf ya Luna jadi banyak tanya, habis Luna tersirat begitu saja ini lidah, kagum akan suasana di sini."


Esok Harinya.


Mentari telah pagi di sinari bulan di pagi hari. Gemerlap mendung mengisi suasana kala ini. Luna menatap jam walker, ia menyimpitkan kedua matanya.


"Aaakh. Aku kesiangan, gimana bisa dapet calon imam surgawi kalau sering telat bangun terus. Tumben bukle ga bangunin ketuk pintu kamar aku?" lirih Luna.


Luna segera bergegas, dalam benaknya ia masih memikirkan kehidupan yang lama ia tinggali. Andai ibu masih hidup, menuruti tinggal di sini pasti tidak akan terjebak oleh pria bernama Triis. Apalagi bertemu nona bintang, aku harus menggantikannya. Tapi nahas malah aku yang terjebak dalam dunia mereka.


"Luna. Tidak ada yang tak mungkin, setiap apapun kehidupan yang kamu alami. Semua akan ada hikmahnya, kamu sudah bersiap rapih ya?"


"Aakh. Ya bukle. Luna akan pergi sebentar, ga akan lama dan janji sebelum sore sudah sampai!"


Sepamit Luna yang pergi, Ia memesan taksi online. Luna segera menemui seseorang yang kebetulan project ada di malang. Luna di buat kagum, pemandangan yang indah membuat Luna teringat Erland. Andai ia masih ada, mungkin ia tak akan kesepian bukan.


Luna menepi setelah taksi berhenti pada tujuannnya. Dompetnya yang jatuh, tiba saja terlintas fotonya dengan kedua anaknya. Juga ada Triis di sudut, foto itu di ambil jauh setelah kedua anaknya mengetahui sosok ayah sebenarnya. Hal itu membuat Luna terdiam beberapa saat.


"Apa aku harus memberikanmu kesempatan Triis. Bagaimana jika kamu hanya bersandiwara?" benak Luna.


"Eeihkhy. Luna kamu di sini juga?"


"Sha, kamu di sini juga?"


"Ya. Aku sedang menemui seseorang, aku janjian ga jauh dari sini. Lain kali mampir kerumah ku ya Luna. Tapi sekarang aku buru buru. Bye!"


"Eeekh!" Luna pun tak jadi memanggil, ketika ponselnya berdering. Ia memang sedang bertemu dengan sekretaris pak Bondan.


"Baik saya sudah sampai. Sebentar lagi saya akan sampai bu. Saya sedang mencari nomor meja yang ibu berikan!"


-- Resto Malang --


Luna pun berjabat tangan memperkenalkan diri. Membahas segala hal yang harus ia ikuti sebelum kontrak berakhir. Ia harus mengejar deadlinenya. Ketika semua pembahasan hampir satu jam. Hingga berakhir pamit dan Luna kembali memasukan segala berkas kedalam tasnya.


"Haaah. Akhirnya, mengapa aku jadi lapar. Aku senang hari ini, terimakasih zat pencipta. Hari ini aku bahagia."


Luna berdiri, namun wajahnya terkejut ketika tatapan pria tinggi dengan sorot mata tajam menatapnya. Luna segera melangkah mundur.


"Mau kemana?"


"Triis. Lepas! kamu ga bisa seperti ini. Apa sih kemauanmu. Apa tidak ada hal penting selain mengurusiku?"

__ADS_1


"Aku sudah bilangkan, Jangan lagi menghindar. Kemanapun kamu melangkah, aku akan tau dimana keberadaanmu!"


Luna menepis tangan kokoh Triis. Meski berkali kali sulit, ia menginjak kaki Triis. Dan mengancungkan pertanyaan.


"Triis. Aku sangat ragu, lebih baik kamu berterus terang. Aku sangat tak mempercayaimu, ada hal tatapan raguku. Aku takut memberimu kesempatan!"


Triis terdiam, ia tau apa yang ada di pikiran Luna memang tepat. Tapi untuk saat ini ia tak mungkin menjelaskan sebenarnya.


"Maafkan aku. Luna kamu adalah wanitaku, aku memang tak bisa mengontrol emosiku. Tapi aku akan mengendalikannya. Terlebih jika kamu menjauh, aku merasa takut dan emosi. Jangan menjauh dariku!"


"Lepasin Triis. Jangan seperti ini, aku malu. Kamu ga bisa memelukku di tempat umum seperti ini!"


Luna pun terbuai, ia akhirnya merangkul punggung Triis. Kala itu ia merasakan apa benar Triss tak seperti dahulu, ia pun berbisik.


"Aku akan menemuimu. Tapi saat ini aku sedang mengejar pekerjaan baruku selama dua pekan. Kita akan berkomunikasi seperti biasa. Pergilah, tempat tinggalku, tidak akan bisa kamu langkahi dengan bebas Triis!"


"Baiklah. Aku menunggumu. Biar Ebon mengantarmu Luna!"


Luna menolak, ia menjelaskan dan memilih pulang dengan taksi online. Triis mengantarnya hingga di pelataran depan resto berbintang. Seperginya Luna tak terlihat, Triis tersenyum dan menepuk kedua tangannya.


"Kau mulai masuk perangkapku Luna!"


"Honey. Aku cemburu saat kamu memeluk Luna tadi." tutur Sean tiba saja datang, berdiri menyamping.


Triis melirik dan memberikan kecupan di pipi. Aku minta maaf, tapi tak ada hal lain. Aku harus melakukannya Sean. Berhentilah cemburu berlebih padaku!


***


Luna berlari mencari Bukle. Ketika itu ia mendapati santriwati yang menyapanya. Luna pun menyapa kembali dengan salam dan senyuman. Ia membalutkan selendang di atas kepalanya dan berjalan menunduk.


Dengan rasa khawatir akan bahagia pekerjaan barunya. Ia berjalan cepat dan tak sengaja menabrak seorang pria.


"Astagfirullah." menoleh, membuang muka dan kembali berdiri mengambil tasbih. Lalu berdzikir menyebut asma tuhan. Meminta maaf akan tindakan hal detik ini yang tak sengaja dan lalai tak berhati hati berjalan karena fokus pada sebuah buku dari Abi.


"Aduh. Apa sedosa itu menabrak wanita seperti saya?" lirih Luna. Menepuk celananya, lalu ia meminta maaf. Sekali lagi saya minta maaf Ustad muda!!


"Permisi. Saya duluan!"


Luna ditinggalkan, meski pria surgawi itu membuat ia kagum. Tetap saja ia masih belum mendapat informasi lebih.


"Entah darimana. Aku harus memulainya. Pria surgawi itu benar benar sulit untuk berkomunikasi. Apa harus mengkhitbah-nya baru aku bisa tau?"


"Huuush. Luna nggapain kamu kumat kamit di sini?"


Luna menoleh dan menyeringis pada Bukle. Menggaruk kepala yang tak gatal kala itu. Tak lama sebuah mobil mewah masuk membuat mata Luna dan Bukle tertantang untuk mencari tau siapa pemiliknya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2