HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
LANCANG TRIIS


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan Triis. Semua menatap kita?" tanya Luna.


"Aku hanya mengelap bibirmu yang basah. Maaf aku menembaknya."


Luna pun mendorong halus tubuh Triis. Ada suatu getaran ketika Triis menahannya. Luna menyosongkan tubuhnya dan menghindar dari Triis kala itu.


"Nak. Bunda keatas dulu Ya. Sekarang waktunya mandi!"


"Oke. Reina ikut sama bunda. Kakak Rein jadi berenang sama Ayah kan?" tanya Reina.


Luna pun menggandeng tangan putri kecilnya. Sementara Triis bersama dengan putra kecilnya. Ia merasa tak tahan, ingin rasanya ia bersama dengan Luna seperti pertama kali. Ia sadar jika hidupnya lebih berwarna ketika mempunyai keluarga.


Beberapa Saat Kemudian.


"Ebon. Kau sudah membuat semua nya beres. Aku ingin terlihat perfect, tak ada yang salah sehelai pun!"


Setelah menerima panggilan dari Ebon. Triis segera berlalu dan melangkah, ia membuat suatu rencana indah. Agar Luna tak lagi menolaknya.


"Aku tak suka penolakan. Luna kau aman, aku harus lembut padamu. Tapi setelah nanti, kau akan tau akibat hukuman dariku!" benak Triis.


Mentari telah menggelap. Sore hari telah beranjak kepada sang penciptanya. Luna mengenakan mukena dan melakukan hal biasa seperti umat lain pada umumnya. Ia berpasrah pada sang pemilik yang mampu mengetarkan hati dan membulak balikan hatinya dan keadaan.


Ia pernah menerima dan menyukai Triis tapi seiring keberadaan waktu dan ia tak sanggup, ia menemukan sosok Erland sang cinta pertamanya. Hal itu membuat ia kagum dan tak bisa melupakan kenangan manis. Serta kenangan pahit ditinggalkan. Ia pun sadar jika sang cinta tak boleh begitu mendalam, karena cinta yang kekal hanya pemiliknya.


"Aku berdoa dan memohon padamu. Apa aku harus memberikan kesempatan pada pria yang pernah menjadi suamiku. Entah demi kedua anak kami, atau hanya untuk pria yang memang telah berubah." lirih Luna.


Luna kembali merentangkan kedua tangannya yang pegal. Kala itu kedua anak dan mertua serta Triis telah pergi ke bandara urusan pekerjaan dan kembali ketempat tinggal di ibu kota. Luna pergi ke kampus dan menjalankan suatu bisnis dari jarak jauh bersama sahabatnya yaitu Sean yang selalu mengirim file sebuah cafe usaha mereka di bali.


"Sean. Ya kamu benar benar telah mempunyai kekasih. Kamu kok ga bilang sama aku, lalu bagaimana kabarmu?" tanya Luna.


"Aku akan mengenalkannya padamu Luna. Tapi aku harap kamu tak terkejut, karena kami bertemu dan bersama karena waktu dan tak tau kapan cinta itu tumbuh. Eeeuukh aku jadi malu membicarakannya!"


Sambungan lewat ponsel pun berakhir. Luna paham akan sahabatnya itu yang malu malu ketika ingin mengenalkan kekasihnya. Luna menerka nerka, apa Varo atau pria lain yang tak ia ketahui.


Luna pun mendapat notif pesan. Kini ia melihat sebuah email. Owh ya, ia pernah membuat cerita naskah untuk perfilman. Erland mempunyai sang paman yang dekat dan pernah mengenalkannya. Ia seorang sutradara dan hanya orang tertentu yang bisa mengirim naskah menarik padanya untuk dijadikan drama romance serial bersambung dan kilat.


Luna tersenyum, menarik senyuman itu kembali la menatap sosok punggung dibalik tirai musholla. Di halaman kampus asing terlihat sedikit yang seagama dengannya. Tapi meski begitu mereka ramah dan tak pernah Luna temukan orang yang tak baik ketika ia menimba ilmu. Hal itu membuat mata Luna terkesiap ketika pria itu tak memandangnya seperti pria lain ketika melewatinya.

__ADS_1


Pria itu menunduk melewati batas dimana pembatas Wanita dan Pria dengan sebuah tangga. Dia menunduk dan mengangguk ramah ketika memakai sandal dan berlalu pergi tak menatap wanita yang lewat memperhatikannya meski telah berada di luar musholla. Hanya sesama mahram ia menatap dan menyapa angguk.


'Pria itu. Apa aku bisa mendapat calon imam yang bisa menuntunku?' benak Luna.


Luna pun menutup pejam matanya. Ia menyebut nama asma allah dan menyadarkan dirinya. Sudah lama ia tak pernah menginjak musholla hanya sebatas di rumah meski bolong, tapi ketika cobaan mendera membuat imannya semakin kuat untuk mendalami ilmu akhirat selain ilmu dunia yang ia kejar agar seimbang.


"Ayah. Luna akan menjadi wanita baik baik, yang akan selalu mengirimi doa untuk Ayah. Maafkan kekhilafan aku tuhan!" tatap Luna pada langit yang biru kala itu.


 


Triis menatap tajam. Setelah ia melewati masa jaya perusahaan yang tak jadi bangkrut. Ebon merasa ikut senang, lalu ia mengantar beberapa file untuk di berikan. Namun tiba saja sebuah ponsel Triis berdering dan terlihat notif pesan yang terpampang ketika layar itu terlihat jelas menyala dan kembali redup.


Ebon sang asisten telah lama mengenal anak dari bos besarnya. Ia terkejut dan berharap hubungan Triis bersama sahabat Luna adalah sebatas usaha project.


Ia meyakinkan dirinya jika Triis memang tulus mendekati Luna, bukan karena sebuah hak perusahaan Keluarga Steva yang memberikan wewenang dan nama perusahaan atas nama kedua anak Triis dan membubuhi nama Luna.


"Kau lihat apa? Pergilah aku masih banyak pekerjaaan!" titah Triis.


Ebon segera keluar, ia pergi dan begitu saja menutup rapat pintu kebesaran kantor. Terdengar Triis yang sedang menghubungi seseorang berdiri dengan tegap serta tangannya ia kerahkan kedalam saku celana. Meski dari balik jendela Ebon paham dan meyakinkan jika Triis menghubungi klien penting, bukan wanita itu.


"Mengapa ulah bosku yang senang. Aku yang berdetag takut, bagaimana jika ada hal yang tak ku ketahui jika Tuan besar tau?" benak Ebon.


***


 


"Sama sama Luna. Syukurlah keadaan mu baik, dan tak sengaja kamu berada di dalam negri ini. Aku tau bakat kemampuanmu, tapi meski begitu tetaplah mendalami karakter peran yang kamu tuju. Semoga ketika selesai hasilnya memuaskan!" ucap Hendro baskoro.


"Terimakasih. Saya akan bekerja keras agar tidak mengecewakan pak."


Luna pun pamit, tak lama ia menatap jam sudah hampir larut. Ia memesan ojek online karena hari ini ia tak membawa mobil, sejenak ia sadar jika hal sudah selarut ini tak baik untuk ia pulang ditengah jalan yang sedikit sepi.


"Menunggu di sini tak baik Luna. Ayo saya antar sampai depan agar menemukan taksi!"


"Tapi Pak. Saya ?"


"Masuklah. Kita searah, namun di perlintasan keramaian kamu akan dapat taksi. Jika berjalan dari sini sulit jam sudah gelap seperti ini!"

__ADS_1


Luna pun mengekor, masuk dan setelah mendapat taksi ia bergegas keluar, pamit dan berterimakasih pada pak Hendro yang telah bersedia membantu menumpanginya kala itu.


Sesampai di rumah, Luna kembali mendapat pesan. Ia menatap bucket di depan pintu amat banyak.


Triiiing.


"Sudah diterima bucketnya?"


Luna terdiam dan kembali memasukan ponsel kedalam tasnya. Lalu ia mengambil kunci untuk segera keluar, hal itu pun membuat Luna mengabaikan pesan Triis. Ia tak ingin banyak berharap apa yang Triis lakukan dan benar berubah semanis ini.


Mengingat perlakuan Triis yang berubah total ia takut jika ia terjebak pada perasaan dan kehidupan yang kembali menyakitkan.


"Kenapa sudah satu jam. Kamu tidak membalasnya Luna. Apa sesibuk itu?"


Luna kembali menatap ponselnya. Lalu ia kembali membuka laptop dan mengerjakan sebuah tugas saat di kampus. Setelah itu ia menatap file demi file yang di minta oleh pak Hendro.


"Aku harus mulai dari mana. Baiklah sebuah grafis dan cover menarik. Judul yang di minta dan sinopsis yang trend adalah seorang tentang pria yang mencari cinta sejati."


Luna terdiam, ia lupa akan cinta sejati itu seperti apa. Ia mulai mencari sebuah film romance agar mendapat gambaran naskah yang ia kirimkan di dua pekan ini. Luna tak bisa menggambar akan cinta sejati, baginya ia hanya berharap.


Jika seorang wanita baik akan mendapatkan pria yang baik. Maka kehidupannya pasti akan sempurna dan tak ada celah dosa.


Tapi bagaimana jika seorang wanita sabar mendapat pria yang sangat tak bisa menghindar dari kebiasaan buruknya?!


Luna teringat Triis. Ia menatap ponselnya dan terlihat banyak sekali pesan yang tampil dan panggilan tak terjawab dari Triis. Hal itu karena ia sengaja silent agar ia fokus pada waktu yang padat menatap laptopnya. Tak berselang lama matanya mulai mengantuk, ia tak tahan hingga tertidur di sebuah narkas meja dan begitu saja terlelap.


***


Sebuah pagi menyinari di balik tirai yang tak sempat Luna tutup dari semalam. Ia pun mengucek mata dan terkejut akan seseorang yang telah berada disampingnya.


Ia mengingat ia tertidur di meja, lalu mengapa ia sudah berada di kasur besar. Luna melirik dan menatap bajunya masih utuh hanya dibalutkan selimut tebal.


"Apa yang kamu lakukan, mengapa kamu bisa masuk ke kamar ini?" tanya Luna.


Seorang pria yang ia kenal pun mengangkat tangan, ia berusaha menunjukan sebuah kunci agar Luna paham. Jika ia mempunyai kunci cadangan rumah yang ia tinggali.


"Kamu lancang sekali!"

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2