HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
BUKAN LUNA YANG DULU


__ADS_3

Luna menemuinya. Luna pun meminta kedua anaknya ke kamar untuk berganti baju dan tidur siang. Hal itupun di bantu oleh babysister dan Triis ikut pamit untuk mengantarnya ke kamar.


Luna tak bisa melarang, jika ia bertengkar dan meminta Triis untuk menjauhi kedua putra putri anaknya. Otomatis akan melukai batin kedua anak saat itu.


Hal ini membuat pikirannya serba salah, karena ia tak menginginkan untuk kembali pada suami iblis yang pernah menyakitinya, bahkan selalu bermain wanita membuatnya masih sesak dan sakit hati.


"Kemana wanita sialan itu, cepat suruh dia kemari!"


"Ada apa Tante. Maaf membuat lama menunggu, saya hanya terlambat beberapa detik bukan?"


Tante Rieta mendekat ke wajah Luna. Ia menampar Luna dengan keras, sehingga Kala itu wajahnya terlihat merah. Sein yang ingin melerai, Luna segera memberi tangan agar tidak ikut campur. Sementara Triis yang turun kebawah tangga ikut menatap dan berjalan menghampiri.


"Tante. Jika ada hal penting kita bicarakan, silahkan duduk!"


"Ga usah basa basi, aku minta kamu pergi dari rumah ini. Rumah ini milik Erland kan, kau sudah memerasnya dan membuat masa depannya hancur. Lalu kau masih bisa tinggal di rumah ini!"


"Rumah. Haaah, tante jangan ucap aku penyebabnya. Rumah ini adalah sah milik saya, hasil kerja keras saya. Meski sebelumnya milik Erland, tapi saya sudah membelinya dua tahun lalu. Tante lupa bukankah hal kesempatan ini, tante ingin memerasku untuk sebuah judikan?"


PLAAAGGKH.


Sebuah tamparan kembali pada Luna, Rieta sang mama dari Erland memang mempunyai kebiasaan buruk. Hal itu membuat Luna semakin tidak ingin lemah, karena Erland membuat dirinya menjadi wanita kuat dan berani. Ia sadar levelnya sudah tak lagi miskin, hal itu membuat orang kaya semakin semena mena padanya kala itu. Dan itu tak ingin terjadi kembali.


"Kau membual Luna, wanita seperti apa yang ingin di nikahi Erland. Haaaah?"


"Yang jelas, aku tidak seburuk yang tante lakukan. Aku tau apa yang ada di pikiran tante, hanya uang dan popularitas."


Reita menatap kesal, sementara ia melirik pria diatas tangga dan membuat alibi agar Luna tidak tenang. Luna menatap Tante Reita yang tersenyum miring seolah merencanakan sesuatu padanya kelak. Hal itu membuat Luna harus semakin kuat untuk menjalani kehidupan tanpa bantuan Erland.


"Jadi, setelah Erland tiada. Kau membawa pria masuk kedalam rumah?"


"Tante, tidak usah memperkeruh. Aku sudah katakan jika kehidupan yang aku jalani lebih baik dari Tante!"


Hahahaahaha ... Rieta tertawa dan menepuk pada wajah Luna. Ia melirik penuh dendam dan berkata hal yang logis tak masuk akal.


"Baiklah. Aku pastikan kamu tidak akan tenang, aku tidak akan diam jika kamu bisa tidur nyenyak Luna. Aku tau kamu memeras Erland dan akan kembali pada suami lama mu ini kan, setelah semuanya terkeruk habis. Aku yakin kematian Erland ada hubungannya dengan kalian berdua. Tunggu saja aku akan kembali Luna!"


"Cukup Tante. Jangan membuat kesabaran dan telingaku sakit. Aku orang yang tidak akan diam, sekalipun Tante orangtua. Aku akan maju untuk melindungi Luna. Dia bukan wanita seperti itu!" tutur Triis.


"Lalu, jika Luna bukan wanita seperti itu. Kau pria seperti Apa?"

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Luna terdiam, Ia masih amat sakit akan berduka kehilangan Erland. Kini ia di ingatkan oleh sosok Triis padanya.


Tanpa basa basi, Tante Reita pergi tanpa pamit. Sein meminta Luna beristirahat. Tapi Triis menahan tangan Luna.


"Jam sepuluh malam. Aku ingin berbicara padamu. Ku mohon Luna!"


Luna menatap Triis, ia sebenarnya malas untuk kembali dekat. Jika bukan karena kedua anaknya, Luna sudah pasti akan menutup pintu dengan rapat. Ia juga tak ingin pindah, karena kediamannya kini, banyak moment romantis dan indah untuk bisa di lupakan begitu saja.


"Bagaimana Luna. Aku mohon!" tanya kembali Triis.


Luna hanya menganguk, ia tak bisa banyak berkata. Dan hal itu membuat Luna semakin lelah untuk emosi. Ia hanya mengangguk dan berjalan melangkah ke anak tangga. Kemana lagi jika tidak tidur di samping kedua anaknya itu.


Beberapa saat di kamar, Luna menatap surat merah dan kotak kunci. Ia teringat ketika Varo memberikannya dan meminta Luna untuk menepati janjinya. Perlahan ia membuka dan kembali membaca, ia lalu menatap sebuah kartu atas nama Luna, pantas saja beberapa saat Erland meminta data untuk membuatkan sesuatu. Rupanya ia telah menyiapkan segala hal untuk masa depan kebahagiannya.


Luna, kembalilah kuliah. Aku sudah menyiapkan segala hal sampai kamu Lulus. Selama lima tahun, aku ingin menjadi sayap dalam jiwamu. Kamu wanita perfect yang pernah ada dan selalu aku cinta.


Luna kembali menangis, ia menyapu airmata di belahan pipinya. Hal yang tak bisa ia bendung adalah membuat hatinya hampa. Tapi ia pernah memimpikan menjadi seorang dokter, maka langkah yang harus ia ambil adalah. Kembali kuliah dan membesarkan kedua anaknya.


Karena mengingat usianya yang berusia 26 tahun, tidak akan terlambat jika ia masih mau berusaha mengejar untuk masa depannya kelak, karena ia adalah tulang punggung bagi kedua anaknya itu saat ini, bagi Luna Erland adalah cerminan ayah untuk kedua anaknya.


"Aku akan kembali kuliah Mas, terimakasih kamu pria terhebat yang aku kenal. Aku berharap kita akan di pertemukan jika takdir kita di lahirkan kembali." lirihnya.


Menjelang malam, ketika kedua anak Luna telah tertidur. Luna telah berganti gaun tidur berwarna hitam panjang, yang di balutkan luaran panjang. Membuat ia tampak elegant meski dengan gaya rambut yang terurai dan di jepit di tengah oleh pencapit rambut kecil.


Toook ... Toook.


"Luna, Triiis menunggu di luar. Aku harus jawab apa, apa kau ingin menemuinya?" tanya Sein. Ia mengetuk pintu kamar Luna.


"Ya. Sein, aku akan segera turun. Biarkan dia menunggu!"


Luna sengaja mengulur waktu, ia mulai menjadi wanita yang penuh dendam. Triis pernah melakukan hal bodoh, tapi aku bukan dia yang sering berganti pasangan.


"Aku akan membuatmu lelah, berhenti berharap untuk kembali Mas." benak Luna.


Triis yang telah membawa seutai bucket. Ia terdiam menatap jam ketika Luna setengah jam tidak juga turun. Ia menanyakan selalu pada Sein tapi jawabnya sama. Hampir satu jam ia duduk dan berdiri, ia pun tetap menunggu Luna tiba. Mengingat waktu telah malam dan kedua anaknya telah tidur. Ia tak mungkin memaksa untuk menerobos kamar Luna, meski Sein kala itu telah keluar dengan sebuah tas untuk pergi.


"Mas, jika mengantuk pindahlah. Akan aku suruh Ebon untuk menjemputmu!"


Triis yang duduk menutup mata dengan satu jarinya ke kening, ia langsung menatap Luna dan tersenyum.

__ADS_1


"Aakh. Aku hanya sedikit mengantuk karena angin. Tapi kamu sudah turun aku yang salah, memintamu bertemu di jam yang tidak tepat."


Luna menatap sebuah bucket bunga. Ia lalu menatap bunga indah itu, tapi perasaannya kini hampa, tidak ada lagi harapan jika ia membuka hati dan memaafkan perlakuan Triis beberapa tahun silam.


"Ada apa mas, apa kamu ingin teh?"


"Aku membawakan bunga untukmu. Semoga kamu menyukainya. Aku mengajakmu makan malam di halaman rumahmu. Apa boleh?"


Luna ingin sekali menolak, tapi ia tak sampai hati. Ia berbelas kasih dan menyuruh Triis masuk kedalam rumah. Ia membuatkan sesuatu makanan yang simple dan meletakkannya di meja makan. Lalu Luna duduk saling berhadapan. Triis amat sedih, karena ia melihat Luna bukanlah lagi Luna yang ia kenal, atau ia saja yang tak mengenal sikap Luna kala itu.


Beberapa menit kemudian, Luna dan Triis masih mengunyah dalam diam. Tapi Triis tetap saja memandang Luna tanpa berkedip.


"Eheuum ... Luna, aku tau kamu akan pergi mendaftar kuliah. Tapi beberapa hari lagi aku akan pergi ke ibu kota. Apa kamu bersedia ikut denganku, bersama dengan anak anak. Kita mulai dari awal, aku tak akan mempersulitmu dan membantumu dalam hal karier?"


Treeeng. Sendok garpu Luna hentikan. Ia mengelap bibir dan meneguk segelas air mineral.


"Mas, aku bisa hidup tanpamu. Jika kau berbicara memintaku untuk kembali. Jawabanku adalah kamu tau kan. Jangan bahas masalah ini lagi jika kamu tetap bersikeras, aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan anak anak!"


Triis menatap Luna, ia ikut berdiri. Ingin sekali ia menampar Luna yang kurang ajar dan berani menolaknya. Tapi ia tahan dan tetap dengan bersabar untuk melembutkan hati Luna, bagaimanapun ia menginginkan Luna dan kedua anaknya. Ia ingin Luna kembali seperti dulu mencintainya, ia yakin jika kebersamaan dengan Erland. Triis dapat menghapusnya dan mengulang kembali.


"Baiklah, aku minta maaf!"


SEPERGINYA TRIS.


Triis meminta Ebon melakukan suatu hal. Tak lama bibirnya tersenyum saat pemikiran Ebon masuk akal untuk merebut hati Luna kembali.


"Aku patut mengancungi jempol, kau harus membantuku merebut hati Luna. Aku harus menghapus moment kebersamaanya dengan pria sial itu!" Ebon hanya manggut.


Di Kamar :


"Aaakh tidak. Mengapa badan kalian panas, kamu demam sayang. Bunda akan segera bawa kalian ke rumah sakit ya!"


Luna mencari Sein, ia lupa jika Sein sedang pergi dan pembantu pun tak ada. Karena ia hanya ada di jam pagi sampai siang, terlebih babysister sedang cuti pulang kampung. Luna menatap ponsel, ia malu jika harus meminta Triis menolongnya. Jika saja kedua anaknya tidak kembar, mungkin ia bisa pergi sendiri. Alhasil ia harus menghubungi Triis yang sudah semalam ini.


"Mas, bisa kerumah sekarang. Rein dan Reina demam tinggi. Aku hanya sendiri, tak bisa menggendongnya semua!" terpaksa Luna memjatuhkan harga dirinya pada Triis.


Tbc.


 

__ADS_1


__ADS_2