
Triis menatap Sean tak jauh menghampiri mobilnya. Luna segera menengok ke samping kaca, sebelum Triis mengalihkan dan menyalakan mesin mobil.
"Kita berangkat sayang!"
"Mas. Tunggu itu Sean. Aku keluar sebentar ya?"
Triis ingin menolak, tapi apalah daya Sean sudah mendekat dan berlari. Luna pun sudah keluar dari pintu mobil dan memeluk sahabatnya itu.
Triis merasa bersalah, ia juga lama menghindar karena memang sudah tak bergairah lagi dengan Sean. Jika boleh waktu diputar, sudah pasti ia tak akan tergoda dan memberi celah Sean masuk kedalam permainan liarnya.
"Maafkan Aku sa-yang. Aku belum jujur. Aku akan mengakhiri dan membereskan sahabatmu!" lirih Triis masih dalam mobil.
Seeeaaaaan. Teriak Luna.
"Luna. Sudah lama sekali aku rindu, bagus kamu memberitauku. Jika kamu pergi ketampat ini."
"Ya. Sean, kamu mau pulang. Sekalian aku antar, bareng dengan suamiku Triis ya?"
"Suami. Kamu kembali lagi Lun?"
"Heuuumph. Takdir dan demi kesehatan kedua anakku. Kamu menginap dimana?"
"Aku di hotel tak jauh. Lagi pula ingin bertemu kekasih." goda Sean menatap Triis yang dari bilik kaca mobil menatapnya.
Kau mencoba bermain api denganku. Kau mencoba mengatakan saat ini, kau akan tamat di tanganku wanita murahan! Triis mengepal di jarinya masih menatap Sean dengan tajam, tapi ketika Luna menengok ia akan tersenyum manis.
"Mas. Jika kita searah kerumah mama. Apa kamu bersedia menepi di hotel SE. Sean sedang bertemu kekasihnya. Ya kan Sean?"
"Ya. Kamu juga pasti mengenalnya Luna. Aku menghampirinya karna dia sedang mencoba menjauh."
Luna terdiam, ia menatap sang suami menatap Sean dan membuang muka. Tapi ia berfikir positif dan berusaha menguatkan Sean.
"Sean. Sabar ya, aku tau semua pria selalu merasa bosan. Tapi dia pasti akan kembali padamu. Ketika dia sadar cinta itu besar padamu. Aku yakin dia sedang ada masalah, meski aku belum mengenalnya. Aku yakin kamu akan bahagia dengannya!" balas Luna.
Apa maksudnya. Istriku bilang akan kembali lagi padanya. Doa macam apa yang istriku katakan. Triis menatap kesal.
"Thanks. Luna, aku harap kedepannya kamu bahagia dan tak kecewa lagi ya."
"Sean. Sudahlah, aku yakin suamiku sekarang tidaklah seperti dulu. Ya kan Mas?"
Luna mencoba menepis, karna ia tak ingin mengingat hal pahit dahulu.
Triis masih terdiam. Keningnya berkeringat, ia baru pertama kali terjebak dalam wanita yang pernah berarti di hidupnya. Bodohnya bermain dengan wanita dari sahabat istri yang ia cintai kini.
"Mas. Kamu kok diam, kenapa?"
"Haaah. Ya sayang, aku sedikik lelah. Kita jalan sekarang!"
__ADS_1
"Kau akan merasa kesal bersalah. Aku akan terus menagih janjimu Triis!" batin Sean.
Dua puluh lima menit, perjalanan itu lancar. Tanpa adanya kemacetan. Triis merasa kesal karna Sean mengejar ia ke penang. Bahkan Erico tau hubunganya dengan Sean. Ia khawatir Sean akan mengunjungi kediamannya di penang.
"Thanks ya Luna. Triis, aku pergi dulu."
"Ya Sean. Owh ya, aku ada di sini beberapa hari, nanti aku tanya mama. Bolehkan kamu menginap dirumahnya. Kamu kan sahabatku, suami dan mertuaku pasti ga keberatan. Ya kan Mas?"
Sean tersenyum jahat. Ia tau Luna sangat baik tanpa menggodapun Luna sudah masuk perangkapnya.
"Mas. Gimana?"
"Ya. Terserah kamu saja Sayang." senyum Triis.
Sean pun pamit, ia see good bye mencoba melambai tangan ketika mobil Triis dan Luna menjauh. Tapi ia masuk kedalam hotel dan memesan untuk menyusun rencana.
"Triis. Jika kau tak menepati janji menikahiku, aku akan membongkar semua pada Luna. Kau akan menyesal kehilangan Luna kelak." lirih tertawa Sean kala itu.
***
"Malam Mah."
Luna masuk menyapa seluruh anggota. Terutama kedua mertuanya. Ia tak jadi hadir kerumah sakit, karna proses kemo sudah berakhir di rumah. Seorang dokter dan suster pribadi telah di boyong untuk merawat kedua cucunya.
Semua agar fasilitas dan kenyamanan kedua cucunya tetap terjaga. Mengingat rumah sakit adalah kamar yang tak ingin kedua anaknya drop karna mereka tak menyukainya.
"Ya. Mah, Luna daan Triis masuk dulu ya?"
"Ya. Menantu sayang, mama ijinkan."
Luna begitu malu. Apalagi tatapan Triis menggoda menggandeng tangan dan melingkarkan ke pinggangnya.
"Mas kamu bikin aku malu deh tadi."
"Kamu malu. Bukankah aku suamimu, mama mertua sama seperti ibumu bukan?"
"Ya. Mas, jangan lagi buat pipi ku merasa merah dan panas ya?"
Triis kembali mengecup gigit halus telinga dan jenjang leher Luna. Luna merasa salah tingkah, ketika sudut sesuatu terasa keras menyentuh area bawahnya.
"Mas. Aku harus mandi dulu, kita tadi sangat lelah beraktifitas bukan?"
"Kita lakukan lagi. Setelah itu mandi dan turun kebawah. Kamu tak ingin suami mu sesak disini. Saat nanti kita turun, makan bersama bukan?"
"Mas. Kamu benar benar lihai menggoda wanita."
Aauuuw. Entah apa yang membuat Triis candu jika berdua dengan Luna. Ia sadar jika nanti larut malam, tak akan ada waktu bermesraaan saat bersama kedua anaknya. Bahkan ia benar benar membuat dirinya selalu ON ketika disamping istrinya.
__ADS_1
"Sayang. Apa yang kamu buat dengan diriku. Mengapa aku tak bisa menahan jika kita berdua seperti ini?"
"Mas. Kamu berlebihan, ayo kita mandi. Ingat jangan melakukannya lagi, Mama dan Papa pasti sudah lama menunggu kita!"
"Aku tak janji."
Triis membopong Luna ke kamar mandi. Mereka berendam dan memainkan kembali. Setelah itu mereka segera bersiap dan terasa sangat lapar Triis kala itu. Berbeda dengan Luna tubuhnya remuk merasa hancur tulang belulangnya.
"Pakai lipbalm dikotak yang aku beli tadi sayang!"
"Mas. Kamu masih sempat membelikan hal ini lagi?" menatap terharu.
"Aku ga mau. Setelah kamu melayaniku, wajahmu pucat seperti tidak makan dua hari!"
"Jahat sekali kamu mas. Tega huhuu." Triis hanya membalas tertawa pada Luna.
Luna memukul manja dada Triis. Ia lagi lagi dibuat malu. Ia pun menyemprotkan parfum yang disukai Triis dan memakai make up yang baru saja diberikannya.
"Kamu pasti membelinya. Mengganti yang kemarin ya mas?"
Triis melingkar pinggang Luna. Mereka saling menatap meski luna masih memoles lipbalm mahal dan bermerk itu di bibir manisnya.
"Jangan mencoba menggodaku. Aku akan melakukan lagi seperti ini!"
"Auuuw. Mas aku minta maaf. Ampun ampun mas!" Triis menggigit dan membuat tanda sesuatu di gunung kembarnya dan meremasnya.
"Baiklah. Aku sudah lelah, aku akan maafkan kali ini. Tapi jika kamu memulainya. Aku tidak janji sayang."
"Ya. Mas baik aku minta maaf!"
Luna hanya menggeleng kepala. Lalu mereka turun bersama Triis ke bawah anak tangga. Luna menatap kediaman di penang sangat luas juga. Beruntung sekali dan di setiap kamar mempunyai dinding kedap suara. Jadi hal berteriak semaumu saat bermanja. Hal itu tak akan terdengar dari luar kecuali jika pintu terbuka akan sedikit terdengar dari luar yang lewat.
"Lama sekali sayang?"
"Pasti itu Mah. Mereka apa lagi, kamu tidak tau anak kita. Apa lagi mereka masih pengantin baru?"
Luna duduk dan mulai memerah kembali. Ketika kedua mertuanya lagi lagi menggoda.
"Anakmu pasti akan membuat seluruh mansion dengan anak anak kecil. Kemauan mama dan papa bukan?" balas Triis.
"Hahahhaaa. Ya, lakukanlah Triis!" senyum tawa sang papa.
"Udahlah. Ayo kita makan, kamu tau kita juga pasti akan kedatangan tamu sebentar lagi!"
"Siapa Mah?" tanya Luna.
TBC.
__ADS_1