HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
MENYANDRA ANAKKU


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Kedua anak Luna telah tertidur. Sementara ia duduk di teras dan Erland masih menemaninya agar Luna tenang.


"Luna, minumlah ini, secangkir coklat hangat akan membuatmu tenang!"


"Makasih Mas."


Perlahan Luna menceritakan, dengan gemetar dan takut ia masih di selimuti rasa takut. Erland masih tenang dan cool dalam menyimak. Dia menggengam tangan Luna dan menyandarkan kepalanya ke pundaknya.


"Tenanglah, aku yakin kamu kuat!"


"Tapi Mas. A-ku aku takut jika."


Dimalam ini, di saat pembicaraan kita belum selesai langkah kita tersandung. Mari kita saling memeluk dan merangkul satu sama lain.


"Jangan menatapku seperti itu Mas. Aku tak ingin terjadi sesuatu. Senyum dan tatapan tajam yang dalam itu. Aku menyadari tapi aku takut melangkah lebih serius." batin Luna.


Hatiku telah mengatakan, bahwa aku telah jatuh cinta padamu. Aku menerima apapun dari dirimu Luna. Aku siap menghadapi masa lalumu, Duhai hidupku, dambaanku. Luna kamu yang pertama bagiku. Percayalah padaku. Lirih Erland.


"Mas, tapi Aku."


"Luna asalkan kamu berjanji untuk berpegang erat. Aku ga mau kamu menangis lagi!" lirih Erland.


Luna menatap dan yang menyapu air mata di pipinya.


Luna masih menatap wajah Erland dan wajah mereka amat dekat, hanya sejengkal nafas mereka saling memandang.


Di satu sudut, Ebon menatap dengan teropong dan memata matai Luna. Kini ia harus melaporkan apa saja yang Luna rencanakan. Tapi langkah kayu patah terdengar.


Menoleh ternyata Triis telah melihatnya dan tak tahan ingin menghampiri.


LUNA. Teriaak Triis.


Luna dan Erland terkejut akan kedatangan seseorang yang telah menghampiri di halamannya. Ia tak ingin kedua anaknya terbangun dan terganggu.


"Luna, masuklah aku akan menemuinya!"


"Tapi Mas El.. "


Erland pun memberi isyarat. Jika ia akan baik baik saja. Tapi Luna tahu sifat Triis seperti apa.


"Luna, tunggu aku ingin bicara padamu sebentar!"


Luna pun menoleh, menatap Erland tak enak hati. Luna pun memberi kesempatan Triis berbicara atas desakan Erland agar Luna mau mendengarkannya.


"Aku ingin kamu pulang, kita bersama kembali. Aku minta maaf Luna. Akan aku tebus segala kesalahanku!"


Luna terdiam beberapa saat, seorang Triis bisa merendahkan harga dirinya. Ebon pun tak percaya akan hal yang di lakukan tuannya. Tapi Tiga tahun kebelakang, Triis memang berubah semenjak ditinggal oleh Luna. Pikir Ebon menatap dari kejauhan.


"Bagaimana caranya aku bisa melihat kedalam matamu, bagaimana aku bisa percaya padamu Mas?"


"Berikan aku kesempatan lagi Luna!"


"Mas, Cukup Mas. Setiap hari aku selalu saja memikirkanmu, setiap hari aku menahan rasa sakit itu. Tapi dirimu mengabaikanku. Bahkan kamu melupakan darah dagingmu saat pertama kali aku hamil. Kamu bicara kita hanya partner sampai pernikahan selesai bukan?"


Triis menarik tangan Luna, ia salah dan meminta maaf atas perlakuannya. Ia sudah banyak berubah dan tak akan mengulanginya.

__ADS_1


"Maaf Mas. Aku tidak bisa!"


"Luna, aku bahkan belum menceraikanmu. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu. Dimana kamu tinggal aku akan menculikmu kembali kehidupan kita yang ..."


"Stoop.. Bung. Beri Luna waktu untuk tenang!"


Triis mendorong Erland. Saat ingin mengejar Luna. Ia sudah masuk dan mengunci pintu.


Sementara Luna di kamar menangis dan hatinya yang luka kini basah kembali. Ia ingin memulai bahagia tapi Triis mengacaukannya.


"Kamu jahat Mas. Kamu jahat denganku!"


Huhuuu Luna menangis tersedu sedu, nafas dan hidungnya berat bagai tersumbat menahan tangisan. Ia berusaha tidak menangis keras agar Anak tak bangun dari tidurnya.


 


"Baiklah. Kau menang kali ini. Tapi jangan bermimpi kau akan mendapatkan Luna. Bung ingat itu!" ancam Triis.


Erland terdiam, membiarkan Triis pergi. ia segera menjaga di depan teras. Berusaha agar Luna di dalam tetap tenang. Sehingga ia tertidur di kursi terasnya.


Luna terbangun di saat pagi sekali, ia melupakan Erland. Dengan mata yang masih mengantuk dan hitam karena gelisah. Luna turun ke anak tangga. Tak sengaja ia menatap Erland yang menjaganya tidur di atas kursi dengan meringkuk kedua tangan.


"Mas, bangun. Ayo bangun pindahlah. maafkan aku!"


Erland mengucek mata, ia tersenyum menatap Luna. Aku tau, kamu lelah jadi aku tak menganggumu dan aku tertidur di sini Luna.


"Mas, aku tau kamu baik sekali. Tapi apa kamu bisa berkomitmen dan membantuku sekali lagi?"


"Apapun itu aku akan di sampingmu Luna!"


"Ssst! Luna. Aku akan menunggumu. Pelan pelan saja. Jangan terpaksa, sebuah pernikahan dengan paksa. Aku akan sedih."


Luna begitu terharu, ia benar benar melupakan sosok Erland dan menyesal pernah mencintai Triis. Baginya ia ingin membuka kembali hatinya. Karena kedua anaknya harus memiliki seorang papa yang baik.


"Ini sudah terlalu pagi, aku akan pulang. kabari aku Ya. Masuklah diluar dingin Luna!"


"Ya Mas. hati hati ya."


 


Esok Harinya.


Sesaat Luna yang berada di kedai. Sein pun mencatat laporan bulanan. Ia menunggu kedatangan kedua anaknya yang di jemput oleh Erland di sekolah. Ia berusaha ingin membuat kejutan kala itu.


"Erland. Aku akan menerima lamaranmu!"


Tapi satu pesanpun begitu saja membuatnya terkejut. Ketika ia membuat sandwich dengan buatan tangannya.


"Luna, Riana dan Rian, udah ada denganku. Kemarilah seorang diri. Tanpa perlu memberitau siapapun!"


Blok BG Jalan Teratai No. 119.


Luna panik, ia menghubungi Mas El tapi tak tersambung. Lalu tanpa pamit ia segera mengambil tas dan pergi begitu saja.


Sein tak menyadari karena sedang sibuk.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, Sein meregangkan otot tangannya. Lalu ia menoleh dan tak melihat Luna.


"Osin, Sinta kemana bu Una?"


"Tadi pamit pergi sebentar bu. Ga bilang mau kemana, soalnya buru buru sekali."


Sein terlihat aneh, ia segera menghubungi Luna. Namun dengan cekatan tiba saja. Erland datang mencari Luna.


"Loh, aku kira kalian janjian. Tadi Luna pergi ga bilang, aku juga ga tau. Ada masalah apa kalian?"


"Baiklah Sein. Aku akan mencarinya. terimakasih Ya!" tutur Erland.


Sein menohok, ia membuyarkan pikirannya mengapa sahabatnya itu aneh sekali. Ia kembali sibuk karena tiba saja cafe semakin ramai. Sehingga Sein yang berusaha ingin mengejar jadi menundanya.


 


***


Di Berbeda Tempat.


"Kamu jahat Triis. Kamu melakukan ini dan menculik anak anakku."


"Jangan terlalu keras, Luna kamu masih istriku. Mereka anak anakku juga bukan. Ayo nikmatilah kebersamaan kita sebagai keluarga bahagia!"


Luna duduk, ia menyingkirkan tangan Triis yang menyentuhnya. Luna masuk menuju ruangan di mana kedua anaknya telah di sandra dan di sabotase. Luna memikirkan pasti Erland panik begitu tau jika kedua anaknya di jemput tak ada di sekolah.


"Bunda." teriak kedua anaknya.


"Nda, Uncle bilang dia Ayah. Apa itu benar?"


Luna terdiam, ia menatap Triis yang tersenyum lebar dan menaikan alis berusaha meyakinkan kedua anaknya itu.


"Kamu jahat Mas, kamu benar benar kejam datang seperti ini!"


"Jangan terlalu keras, itu menakutkan bagi kedua anak kita!" bisik Triis.


Triis mengagandeng anaknya. Lalu menatap Rian yang begitu mirip dengannya. Sementara putrinya memiliki wajah perpaduan antara dirinya dengan Luna


"Kemarilah Nak. Akan aku tunjukan sebuah album yang membuatmu yakin!"


"Mas, cukup jangan lakukan itu!"


Ssssstt! Aku akan berhenti setelah semuanya selesai. Tapi Rian sang putra meminta bundanya tenang.


"Nda, Rian gak apa apa. Bunda jangan cemas ya!"


Bruuuuugh!! pintu terbuka begitu saja.


Luna, menatap kearah belakang. Mencari sumber suara apa. Terlihat di depan teras, ia berusaha menghampiri tapi tangan Triis mencegahnya untuk diam tanpa melepas.


"Dia datang. Jadi aku harap kamu bijak Luna, jika kamu masih menginginkan melihat kedua anak kita. Aku akan membawanya pergi jika kamu masih memilihnya!"


"Mas, kamu benar benar jahat." lirih Luna.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2