HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
PAPA MERTUA TAHU


__ADS_3

"Bu. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Nila.


Luna pun tersadar, hingga ia mengabaikan melihat seseorang itu. Dalam batin nya, ia pasti telah salah orang.


Sementara Nila dan Rivano yang menyetir dalam satu mobil. Mereka menatap sesekali dan memerhatikan sikap bos mudanya itu pada Luna.


"Sebenarnya apa yang di lihat wanita ini. Kenapa aku jadi penasaran?" batin Rivano.


"Bu bos. Kok tadi aneh, apa perasaanku aja. Dia liat cowo ganteng yang aku lihat juga." benak Nila.


Sesampainya di gang perumahan Nila. Luna menatap karyawannya yang berterimakasih. Sementara mobil kembali melaju. Luna pun meminta Rivano untuk mampir membeli sesuatu minuman yang hangat.


"Minuman apa. Sudah semalam ini bu?" tanya Rivano.


"Adakah bandrek. Atau jahe susu, saya ingin meminumnya sekarang juga!" titah Luna.


Tak lama, disaat amat malam. Luna mendapat pesan jika sang suami telah kembali. Hal itu pun meminta Rivano menyetir lebih cepat ke mansion.


"Sayang. Bagiamana acara tadi?" tanya Triis.


Luna malu, karena sang suami telah mengecupnya tanpa melihat jika di belakang ada Rivano sang karyawan, mengantar.


"Eheuum. Kalau begitu saya pamit pak. Bu."


Triis mengkerenyitkan dan mengkode mata. Ia lalu mengajak Luna ke anak tangga. Seolah tak memperdulikan siapapun di sekitarnya itulah sikap Triis. Luna hanya menuruti tak menoleh karena malu kala itu.


"Mas mandi dulu ya?"


"Ya mas."


Tak lama Luna melihat pesan muncul di ponsel Triis. Ia melihat pesan itu kembali.


Tlith.


[ Sebenarnya siapa orang ini. Mengapa dia meminta suamiku bertanggung jawab. ] batin Luna kembali meletakkan ponsel Triis.


Keesokan harinya Luna berusaha menguntit kegiatan Triis. Ia pergi kesebuah toko untuk membeli alat bantu kecil, sebuah alat perekam suara. Setelah itu ia segera pergi ke cake sweet guna mengkroscek kegiatan seperti biasa. Hal yang Luna bahagia hari ini adalah adanya Rein anak laki lakinya.


"Mas pergi dulu ya."


"Ya Mas. Hati hati, daaadah.. Reina. Baik baik sama Oma dan Ayah ya!" menatap mobil hingga pergi.


Setelah beberapa saat Luna meninggalkan Rein di tempat kerjanya, karena ia berusaha melihat pembukuan Nila.


"Sudah lama di sini adik kecil?" tanya Rivano pada anak kecil itu. Rein pun menjawab dengan nyaman.


"Paman kesini menemui siapa, kita main paman. Aku bosan!" tutur Rein.


Tak lama Luna kembali menatap Rein yang meminta gendong kuda pada Rivano. Seolah tak enak menatap karyawan lain yang ingin masuk. Luna pun menyapanya dan meminta sang buah hati turun.

__ADS_1


"Rein. Paman sedang bekerja sayang. Ayo duduk nak!"


"Tak apa bu. Hanya anak kecil. Saya tak bisa menolak, karena pria kecil ini juga bos saya bukan?" senyum Rivano.


Luna pun meminta seluruh karyawan kembali bekerja. Sehingga Rein kala itu tersenyum manis.


***


Apartemen Baru.


"Mas terimakasih aku harap kamu tetap selalu mengunjungi ku, bahkan aku bingung aku harus apa di Apartment ini sendirian!"


"Tak perlu kamu bersedih. Sean aku sudah seharusnya bertanggung jawab, maaf karena masuk dalam kehidupan ku. Tapi satu hal istriku kembali kamu harus seperti ini, ada asisten yang menemanimu setiap hari tapi kita tidak tinggal di apartment bersama. Aku akan bertanggung jawab untuk anak dalam kandunganmu. Tapi jangan pernah muncul apalagi mengusik istri dan anak ku!"


Sean merangkul peluk tubuh Triis dari belakang, ketika itu pun Triis menatap helaian lembaran foto hasil Usg yang diberikan Sean.


Triis membalikkan tubuhnya dan menatap Sean, ia bingung untuk meninggalkan Sean dan memberikannya tunjangan dan kemewahan.


Tapi ia tidak tega karena Sean juga tak mempunyai siapapun. Sama hal seperti Luna. Bagaimanapun Sean adalah kesalahannya juga. Terlebih ia sedang mengandung anak dalam rahimnya.


"Honey... kenapa diam?" tanya Sean. Yang sedang menatap sang suami dari sahabatnya itu. Ia diam memandang.


"Ada yang kamu ingin bicarakan honey?" tanya kembali Sean.


"Aku mau kamu sehat dan bayi kita sehat. Jangan berpikir aneh aneh aku akan berkunjung. Tapi jangan menghubungi ku di malam hari ketika Luna ada!"


"Aku bisa tinggal dan menemani mu keluar kota honey. Izinkan aku ya?" Sean tersenyum getir.


Triis pun bertekuk dan menyandarkan telinganya ke perut Sean.


Meski ia penasaran dan bahagia ketika ada janin hidup darah dagingnya. Ia teringat bagaimana Luna saat hamil bahkan ia tak disampingnya dan perkembangannya pun jauh ia tak merasakan sehingga ia mempunyai anak kembar dengan kesehatan yang harus infus setiap waktu.


Anakku sehat selalu dalam perut Mama ya, papa akan selalu ada untukmu. batin Triis mengelus perut Sean.


"Sean aku harus kembali ke kantor nanti malam kita makan bersama. Tak perlu masak aku sudah menyiapkan nya. Jaga dirimu dan istirahat yang cukup ya!"


Mendapat perlakuan manis membuat Sean menurut. Dan ia tak sanggup jika merelakan Triis untuk Luna. Meski dia istri sah sang suami, tapi ia berhak atas segalanya.


"Maafkan aku Luna. Maaf karena aku mencintai suamimu. Tapi ini bukan salahku, aku terlanjur mencintainya!" gumam Sean, kala Triis sudah pergi.


***


"Suami mu sudah bisa dihubungi Luna?" tanya Mama yang sedang menjahit sulaman.


Papa mertuanya juga yang sedang menyiram bunga anggrek persis disampingnya.


Luna pun menggeleng dan berkata. Jika Triis akhir ini sulit dihubungi. Selalu membuat khawatir, sehingga tatapan Reina dan Rein mendekat pada sang Bunda.


"Nanti Luna coba hubungi lagi Mah."

__ADS_1


Semenjak Triis pergi keluar kota bersama Erico. Luna merasa Triis orang yang sulit ditebak. Ketika dibutuhkan sulit tapi tiba tiba sudah ada dihadapannya. Apa kehidupan sebelumnya memang Triis seperti itu, selalu membuat khawatir.


Mama maya menatap Suami dan menggeleng. Mereka saling menatap karena takut Triis berulah kembali.


Sementara Luna yang menatap album terdiam lama hingga tak sengaja jarinya tertusuk isi staples yang merekat pada plastik album.


"Auuw... sakit." telunjuk Luna pun berdarah dan perasaan nya sedikit sakit.


Sementara Reina yang ada di ujung sang nenek begeser duduk tak sengaja. Ia mendekat memeluk Bunda. Luna hanya bisa menyaksikan perlakuan manis buah hatinya.


"Bunda lain kali hati hati!" titah Rein.


"Ya. Sayang, ayo kalian sudah mengantuk belum?"


"Bunda aku mengantuk." ucap Reina.


Baiklah sayang kita akan pergi ke kamar, dan bergulat manja dengan dongeng. Luna pun pamit pada mertuanya menggandeng sang anak dengan bahagia menuju anak tangga.


Dua jam berlalu.


Rivano telah menatap satu helai kertas. Dan ketika ia membuka nya, rasa getar tubuh itu jelas terlihat ia bingung akan hasil tes DNA yang tak sesuai prediksi nya.


Rivano yang bekerja pada orang kepercayaan Steva. Mertua Luna atau tepatnya ayah dari Triis. Ia di minta memata matai langkah anaknya Triis. Karena sebagai seorang ayah, yang ia takuti anaknya melakukan hal kesalahan, yaitu menyakiti wanita.


"Sial apa kau lakukan tanpa aku tau. Apa saat di luar kota Sean benar menikahi suami bu bos. Bagaimana jika bu Luna tau jika Sean adalah sepupuku. Kenapa lagi lagi dia berbuat ulah merebut suami orang?" gumam Rivano.


Saat Rivano sedang mengendarai mobilnya terhenti. Rem mendadak blong. Ia pun berusaha untuk menghindar agar tak mengenai pejalan yang melintas. Lima menit, sepuluh menit. Setir tak terkendali kala itu. Rivano pun melintas ke tepi pohon untuk menabrak nya hingga asap dan mobil depan itu hancur.


Matanya berkunang dan berbayang semakin samar. Ia menatap senyuman wajah wanita separuh baya dan anak kecil berpakaian putih menyambutnya.


"Mama. Adik, maaf aku ceroboh, tapi jangan jemput aku. Tugas ku pada keluarga Steva belum selesai." mata Rivano pun tertutup


Sementara Luna yang telah kembali ke kamar. Ia segera mendekat pada Papa mertuanya di ujung balkon. Melihat tatapan cemas dan muram, membuat Luna mendekat dan bertanya.


"Ada apa Pah?"


"Luna. Temani papa untuk ke rumah sakit bisa. Rivano masuk rumah sakit!"


"Apa. Kok bisa, papa dapat kabar darimana?"


"Baru saja. Ada seseorang yang menghubungi papa Luna."


Luna pun mencoba menghubungi Triis. Apa dia akan pulang atau tidak. Karena ponselnya tak aktif, Luna terpaksa pergi tanpa meminta izin pada suaminya.


Luna pun segera mengambil kunci mobil. Menitipkan pada mama mertuanya agar anak anaknya tidak rewel.


Dalam posisi mode cemas. Luna terdiam memikirkan, sebenarnya Rivano itu siapa. Kenapa Papa mertuanya secemas itu.


"Pah. Apakah perlakuan papa pada semua karyawan seperti ini. Luna jadi salut." senyum Luna menyempit saat papa mertuanya kala itu menatapnya dengan sorot tajam, papa mertuanya syok kebingungan haruskah ia bilang jika putranya menikahi sahabat Luna, partner kedai di Bali.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2