
Berbeda hal di tempat lain, Sean amat kesal karena Luna menolaknya.
Luna. Kamu tidak pernah menolak bertemuku. Semua pasti ide suamimu kan. Lihat apa yang akan aku lakukan kelak! batin Sean.
Sean segera mengambil tas. Ia mengambil ponsel dan berlalu mengambil koper. Dan separuh baju ia masukan kedalam tas.
Sementara terbesit ia menatap cafe Luse ia alihkan pada beberapa karyawan kepercayaannya.
[ Aku tau. Kita merintis cafe ini. Dimana kita dimasa sulit saat itu Luna. Tapi anakku, aku membutuhkan suamimu juga. Jika aku harus menjadi madu, aku harap kamu bisa menerimanya.] lirih Sean.
"Mas. Kamu akan pergi berapa lama?" tanya Luna.
"Sayang. Aku akan meninggalkanmu hanya untuk dua hari. Jaga dirimu, ingat jangan menatap pria selainku!" titah Triis.
Luna segera merapihkan dasi sang suami. Ia pun mengambil koper sang suami yang telah disiapkan beberapa waktu. Triis yang rindu hangat pelukan Luna, ia segera memejamkan mata dalam mode memeluk Luna dari belakang.
"Mas. Ini sudah rapih, jangan merusaknya!"
"Aku hanya ingin memelukmu. Karena kelak Mas akan memeluk guling nanti malam. Doakan agar klien kelas besar berjalan dengan lancar. Mas dan Erico akan segera memberi kabarmu, jika pulang lebih awal. Mas akan segera pulang menemuimu."
"Mas. Tak perlu khawatir, Aku akan selalu menunggumu." senyum Luna.
Triis saling memandang, hingga kecupan mereka pun dimulai dan berangsur lama. Triis mulai menyukai Luna yang ahli, ia yang memutar dan menari seolah sarapan semangatnya sebelum pergi.
Luna kembali menghandle toko cake sweet. Triis dan mama mertua memintanya untuk fokus pada bisnisnya. Hal itu Luna sadari karena pemutaran naskah film saat bekerja sama dengan klien Triis. Ia telah menunggu beberapa kabar baik, sehingga ia menyibukkan diri di toko cake sweet.
Luna segera mengecek laporan. Meminta Rivano, karyawan kepercayaan sang papa mertua. Meminta rekapan stok gudang.
"Maaf Bu. Ada tamu yang ingin bertemu." ucap Rivano.
"Ya. Suruh dia masuk, dan ini berkas yang saya sudah tanda tangani. Terimakasih atas kerja kerasnya Rivano." senyum Luna.
Rivano keluar dengan hati berbunga. Ia memang menganggumi wanita muda itu, meski beberapa saat pernah menolongnya. Tapi cinta bukan berarti harus memiliki bukan. Biarlah rasa itu di simpan sendiri. Gumam Rivano keluar pintu.
{ Selamat siang. Aku datang kembali, Apa kau harap aku kembali. Aku sudah datang Luna. }
Seseorang berbicara, suara yang tak asing. Membuat Luna terkesiap menoleh dan berdiri tegap. Ia terkejut apa yang ia lihat adalah benar nyata. Ingin sekali ia memeluk erat kekasih yang dulu, yang ia sangat rindukan. Kenapa kau begitu mirip. Apa kamu sekejam itu padaku Erland.
Luna memukul bidak dada tubuhnya. Lalu ia merangkul pundak amat erat, yang ia inginkan adalah kembali bersama dan memulai hidup janji menikahi bersama di cintai. Tanpa sadar saat di toko, nyata nya Luna ketiduran dan bermimpi Erland mengunjunginya.
"Bu. Bu Luna bangun bu!" titah karyawan bernama Nila.
Luna tersadar dan menoleh ke sekeliling. Ia mengucek mata dan berfikir nyata. Sayangnya ia tersenyum paksa, bangun dan membenarkan dirinya untuk bangun.
"Ya. Ada apa kalian disini?"
"Ibu ketiduran. Maaf saya mengganggu, tapi tamu yang tadi mas Rivano bilang. Dia menunggu sudah hampir satu jam." ucap nila.
"Apa satu jam. Suruh dia masuk saja, saya akan ke toilet sebentar!"
__ADS_1
Luna merunduk, ia ternyata mimpi. Sudah amat bahagia ketika benar ia bertemu Erland. Tapi benar saja ia membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi.
Sudahlah Luna, dia tidak akan kembali. Kehilangan dalam musibah tembakan. Sudah pasti ia telah tiada, Erland kau tak akan bangkit lagi dari alam kubur. Dan aku sudah menikah dengan mas Triis, sadarlah Luna!
Luna menatap cermin, rasanya kosong dan hampa. Meski kedua mertua yang amat baik. Ia memang sepakat kembali menikah karena kedua anaknya, ia mulai mencoba melupakan Erland. Membuka kembali pada Triis. Posisi itu menggantikan pertunangan yang telah tersebar.
Meski ia mencintaiku, tapi hatiku masih separuh terukir nama Erland. Dingin nafas berat Luna saat ini.
'Luna. Apa yang kamu pikirkan, apa karena rasa ragu kembali muncul. Masihkah aku bisa mempercayai suamiku?' batin Luna.
Dalam kaca Luna kembali menatap seseorang. Ia seperti berhalusinasi melihat Erland yang tersenyum padanya dan berbicara.
'Sayang, kok melamun? Ingatlah aku selalu berada di sampingmu, menunggumu benar benar bahagia.'
'Hah. Mas Erland, apa kamu nyata? nyawaku masih belum kumpul. Mas Erland benarkah itu kamu?' menoleh kaca
'Aku tau di hatimu masih mengharapkan kita bersama bukan?'
Luna mencoba menyentuh kaca itu, perlahan ia mulai menitikan air mata. Ya Luna hampir lupa, mencari kebenaran siapa orang yang menembak kala itu pada malam indah mereka berdua, sehingga ia masih selalu dalam bayang Erland.
'Maaf Mas. Aku telah kembali menikah. Aku minta maaf!'
'Syukurlah, aku bahagia kamu mengatakannya Luna.'
Luna masih tak percaya, tak lama sebuah pandangan sosok Erland tak ada. Ia mencuci muka kembali, berharap itu adalah halusinasinya lagi.
Luna kembali keruangannya. Ia menghapus sisa make up dan air mata yang membuat matanya sembab. Ia oleskan bedak tipis basah agar wajahnya terlihat segar. Luna segera menemui tamu penting, ia meminta maaf telah membuatnya menunggu lama. Hingga beberapa jam kesibukan mereka berangsur berbicara panjang akan persiapan klien yang meminta kue untuk pernikahan.
"Terimakasih nyonya Luna. Saya permisi!"
Luna pun mengabarkan pada Triis. Jika esok ia akan hadir pada tamu undangan Nona Jussung, adik dari Tuan Albert. Sehingga Luna pun mendapat izin dari Triis.
Di hari resepsi pernikahan.
Di depan penghulu, Luna yang dibalut kebaya salem gold berpayet emas. Ia menatap sang mempelai. Serta Rivano bersama Nila sang karyawan yang ikut hadir di acara itu.
"Loh liat bu bos kita No?" tanya Nila pada Rivano.
"Iyee. Cantik ya die, bukan berarti gw ga boleh berhenti kagum kan la?" balas Rivano.
Nila hanya menggeleng kepala. Tak menyangka jika pria yang ia ingin gebet, menyukai bos wanitanya.
"Inget. Jangan sampe pak bos serem liat lo mandang kaya gitu. Bisa abis loh!"
"Gak akan. Kan gw orang kepercayaan Bokap bos suami bu bos kita."
"Sombong loh. Awas lo jatoh, udah cepet kita udah selesai ni cake pernikahan dua belas tingkat." ketus Nila setelah mengikat pita kue tinggi itu.
Bulir air mata pecah, Luna ikut menangis haru. Ia tak lupa memvideokan kegiatannya menjadi tamu penting.
__ADS_1
"Terimakasih sayang. Maaf kamu harus datang bersama karyawan papa."
"Gak apa Mas. Ada Nila sama Rivano, tanpa mereka aku sepi. Tugas mereka sudah selesai, tapi aku menahannya." sambungan ponsel Luna berkomunikasi, pada Triis.
Rivano dan Nila yang berada di belakang bos mudanya. Ia hanya menatap iri melihat sebuah percakapan itu.
"Nil. Gw yakin, dia wanita baik. Dia bener bener bos yang baik hati. Mana ada tugas kita kelar, kita di ajak jadi tamu vvip. Pake dibeliin baju segala kan tadi?"
"Heuumph. Batik mahal nih, gw mau cuci loundry ajalah. Biar aweet yaa gak."
"Yaah. Jiwa meronta lo mulai lagi Nil." ketus Rivano.
Percakapan Nila dan Rivano segera berlanjut makan. Melupakan menatap bos mudanya yang masih berbicara manis duduk dengan tertawa malu.
Luna tersenyum menatap Triis. Lalu mereka saling menyapa rindu dibalik kota yang berseberangan. Luna masih diam ketika menatap Triis, entah perasaan apa membuat ia semakin sakit, ia menatap sang suami seperti ada yang ganjal.
Kala itu ia menatap Erico membukakan pintu di belakang tubuh sang suami. Dan menutup kembali, terlihat seorang wanita samar tapi tidak jelas ia lihat.
"Mas. Akan hubungi kamu lagi ya sayang. Mmmuuuach, jaga diri. Hati hati pulang sampai rumah kabarin Mas Ya!"
"Ya. Mas, sampai jumpa." bye, menutup ponsel.
Luna kembali menutup ponsel. Ia juga merasa bersalah, hatinya masih ada Erland. Tapi apakah masih bisa di bilang mencintai. Atau hanya perasaan bersalah, karena sampai saat ini belum bisa menemukan siapa pelaku dari kematian Erland.
Hal itu memang Luna masih belum menemukan sosok pria, yang mencintai amat dalam padanya tapi berujung maut.
"Bu. Setelah ini apa ada yang bisa kami lakukan?" tanya Nila. Tersadar membuat lamunan Luna kembali senyum.
Luna menatap Nila dan Rivano. Ia lalu bicara pada mereka, kita pulang saja. Kalian naik mobil saya saja. Saya akan antar sampai rumah.
"Tapi Bu."
Rivano segera menginjak kaki Nila. Lalu bicara jika ia dengan senang hati tak menolak.
"Terimakasih. Kalau gitu Rivano, kamu nyetir ya. Terus kita antar kerumah Nila, setelah itu kamu antar saya ke mansion. Kamu tidak apa, nanti saya pesankan taksi!"
"Gak apa bu. Saya siap dengan senang hati tak menolak." senyum Rivano.
Karena jujur Rivano senang dan sudah terbiasa keluar masuk mansion bosnya, maklum orang kepercayaan. Benak Rivano.
Tak lama, Luna membalikan tubuhnya. Setelah berpamit pada keluarga pengantin. Ia terkejut akan seseorang yang mirip dengan wajah yang amat ia kenali.
Rivano dan Nila pun saling menatap kebingungan. Baru pertama kali mereka melihat bos nya menatap seperti orang kehilangan dan di pertemukan kembali.
"Bu bos kenapa No?"
"Ga tau. Kaya orang lagi rindu ga ketemu satu abad ya." balas Rivano.
Sementara Luna masih diam berdiri, menatap dengan bingung. Ia tak percaya apakah yang saat ini ia lihat. Nyata atau kembali halusinasi.
__ADS_1
TBC.