
"Mas. Kapan datang, sejak tadi aku ga lihat kamu?" lirihnya.
"Mas. Ada disampingmu, kamu hanya terlalu fokus untuk melamun. Ayo mama sudah menunggu kita!"
Triis mengecup pipi kedua anaknya. Menyapa pada orangtuanya dan membicarakan sesuatu hal di kantor semakin bagus. Bisnis kulinernya semakin lancar. Luna hanya bisa memotong potongan daging, lalu menatap aksi suaminya yang sedang bicara kala itu.
"Sayang. Makanlah, aku sudah memotongnya untukmu!"
"Maas. Tapi aku.."
Lagi lagi Luna tersenyum malu, ia melupakan kejadian kecurigaannya tentang pesan. Tak lama Luna nampak bingung akan tingkah kedua adik dan kakak yaitu suaminya kini.
Bagaimana tidak, aksi mereka seperti sedang memberi dan membalas pesan. Namun gelagat mereka yang aneh membuat Luna menjadi penasaran.
"Mas. Makan dulu, ponselnya letakan di meja nakas ya. Ga enak dong Maas!"
"Ya nih. Erico juga menyebalkan Lun. Dari tadi aneh aja. Masa aku perhatiin. Erico dan Triis seperti ada sesuatu. Aneeeh bukan?" gumam Keiy setelah mengunyah makanan.
"Sudah, sudahlah. Ayo lanjut, kita makan sekarang!"
Luna terdiam, tak ada angin dan hujan di pagi hari. Terlihat, asisten pembantu di mansion meminta maaf karena mengganggu.
"Tuan. Nyonya, maaf ada tamu di depan."
Hingga semua menatap dan melihat, siapa yang datang.
"Suruh dia masuk bi. Memang tamu siapa, apa kamu Pih?" tanya Mama Maya.
"Mih. Aku tidak ada pertemuan kali ini."
Kedua orangtua Triis saling menatap, lalu ia menatap kedua anak lakinya dan menayakan.
"Apa kalian mengundang tamu Triis. Erico?"
Mereka yang sedang melahap pun menjadi menganga tercengak. Luna dan Keiy kebingungan menatap aksi suaminya yang aneh kala itu.
"Mas."
"Lovely."
Teriak halus para istri mereka, dua pria itu menjatuhkan nasi dan lauk dari dalam mulutnya. Meneguk segelas air putih agar bisa menjawab.
"Aku tidak." jawab Triis dan Erico bersamaan.
"Bi, memang tamu itu mencari siapa?" tanya Luna.
"Ya. Benar juga, mengapa harus lama menunggu jawaban. Ya bibi siapa yang ingin bertemu dengannya?"
"A-anuuu. Nyonya,Tuan. Itu dengan nona Sean. Ingin bertemu Den Triis."
__ADS_1
Triis terbatuk batuk. Lalu Luna bingung, apa yang dimaksud sahabatnya.
"Sean. Apa dia sahabatku mas. Mengapa dia mencarimu?" tanya Luna menatap.
"Itu pasti rekan manajemen klien. Ya benar sekali, tolong segera dia tunggu di ruang tamu kerja ya bi!" titah Triis sedikit gugup.
Erico menatap sinis pada sang kakak. Bisa bisanya wanita yang menyebalkan, bisa tau mansion yang di tinggali.
'Ka Triis benar benar gila. Masa dia membiarkan wanita lain masuk ke sini.' lirihnya.
Triis menginjak kaki Erico. Hal itu agar ia diam tak banyak bicara, namun Luna segera berdiri dan mengahampiri ruang tamu kerja.
"Luna sudah selesai. Biar Luna menemui untuk menyambutnya."
"Sayang. Tunggu sebentar, aku juga selesai.
Luna berjalan mengitari anak tangga. Disusul oleh Triis. Tak lama Triis terkejut seorang wanita dengan berbalut blazer hitam putih membalikkan tubuhnya.
"Dengan Tuan Triistan?"
"Ya. Saya sendiri."
"Siapa anda ya?" tambah Luna.
"Pak Triistan, Ibu. Perkenalkan saya Senada dari asisten pak Albert. Mengenai project E-film, saya hanya bertugas mengantar ini saja. Tuan albert meminta saya harus menemui langsung."
Triis dan luna segera mengambil kotak kecil itu. Lalu terlihat sebuah tiket bali, liburan kecil untuk mereka datang menghadiri Gala E-Film.
"Ya. Selamat ya sayang." kecup Triis.
"Eehueuuum. Mohon maaf pak, saya permisi dan pamit kalau begitu!"
Luna dan Triis merasa malu. Sakin bahagianya ia melupakan asisten suruhan pak Albert. Di luar dugaan Erico mengintip dari balik celah tembok, menatap sang kakak dengan menghela nafas rendah.
"Baguslah. Aku kira..." lirik Erico.
"Lovely. Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Keiy.
Erico segera mengajak sang istri ke lain tempat. Membiarkan kedua pengantin sedang bahagia di ruang tamu sana. Aksi mereka pun di intip pula oleh kedua mertua. Triis menggendok Luna dengan bahagia karena ia telah menjadi wanita perfect selain seorang ibu untuk anak anaknya.
"Aku mencintaimu Luna. Aku mohon, percayalah aku hanya sayang padamu!"
"Mas. Udah dong mas, malu. Turunkan aku!"
Reina dan Rein tiba saja bergelayut pada kemeja sang Ayah. Triis terdiam ketika sesuatu, ada yang menariknya. Luna pun tersipu malu.
"Aaakh. Kalian sedang apa di bawah, mengapa Ayah tak tau jika kalian ada di dekat Ayah Nak?"
"Heuuuump. No good, kenapa ayah seperti anak kecil. Apa aku juga bisa menggendong, seperti Ayah menggendong Bunda?" tanya Rein.
__ADS_1
Reina hanya menggelengkan kepala menatap aksi sang Bunda.
Triis pun memberi perkataan, jika tadi sang Ayah dan Bunda sedang bahagia. Hal itupun membuat Luna sedih, karena ingin sekali ia mengajak sang anak.
"Mas tapi. Aku berharap kita mengajak Rein dan Reina."
"Oke. Kalau begitu kalian sehat terus, kalian berdua akan ikut bersama Bunda dan Ayah minggu depan. Ok!"
Yeeeeeiiiy. Kedua anak mereka saling adu tos dan melingkar berlari kecil pada sosok tubuh sang Ayah. Luna tertawa kecil, lagi lagi ia tak meragukan kesetian dan sikap suaminya kala itu.
'Maafkan aku mas. Aku akan percaya penuh padamu. Demi keluarga kita yang utuh dan bahagia apapun itu, aku akan menutup mata.' batin Luna.
***
Di berbeda tempat, Sean merasa kesal. Ia masih memikirkan rencana. Bagaimana untuk menghancurkan Luna dan Triis dengan cantik. Hal utama baginya adalah Triis yang selalu ada waktu padanya, hal itu pun ia tak bisa lakukan selama Luna berada di rumah mertua yang berkuasa.
"Aaakh. Rencana ini pasti berhasil, Luna aku akan membalas Triis yang membuat aku hancur. Kini ia harus hancur juga, setelah itu ia pasti akan kembali padaku!"
Perlahan Sean berjalan menatap cermin. Ia tertawa tawa menatap aksi nya, ia begitu senang dengan pemikirannya. Rencananya pasti tak akan salah sedikitpun.
***
"Mas. Aku terima telfon dari bukle dulu ya?"
Triis mengangguk. Ia masih setia menemani kedua anaknya di sofa ruang tamu. Mengajak sang anak menonton film kesukaan. Ketika itu mereka berebut untuk menonton sesuai keinginan mereka.
"Kak Rein. Cinderella aja!"
"No dik. Kaka ingin menonton film Hulk. Itu bagus dik."
Triis melerai, ia akhirnya meminta kedua anaknya untuk berlapang. Ia meminta Rein dan Reina suit jari.
"Oke. Batu, kertas, gunting." kedua anak Luna bersamaan. Akhirnya film Hulk adalah film pertama yang mereka putar. Triis pun dengan sigap ia menyalakan dan membantu sang anak untuk bersiap menonton dengan nyaman.
"Oke. Raja dan Ratu Ayah. Kalian sudah siap, rileks dan nikmatin tontonan movie ini!"
"Oke Ayah."
Tak berselang lama, Triis mendatangi Luna. Ia mendekatkan kepalanya berada di pundak Luna. Namun ia terkejut ketika sang istri mengeluarkan air mata.
"Mas. Aku minta maaf. Telah menunggumu lama disana."
"Sayang. Mengapa kamu bersedih?"
"Mas. Bukle sedang jatuh sakit, aku harus pergi ke malang. Bagaimana besok dengan toko Mama. Aku ga bisa temani kamu mas?"
Triis tersenyum, ia bicara jika dia akan selalu mendampingi kemanapun Luna pergi. Hal itu membuat Luna kembali tersipu dan kagum.
"Maafkan aku mas. Aku selalu saja menaruh curiga padamu." batin Luna menatap sang suami.
__ADS_1
Tbc.