
"Ada apa pak. Kenapa berhenti?" tanya Luna.
"Maaf Nona. Tapi pria itu menghentikan dan menyalip taksi untuk berhenti."
Luna pun mengambil tas. Ia menatap dengan jernih. Tapi ia hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala.
Triis tiba saja mengetuk kaca pintu taksi. Ia memberikan beberapa lembar uang merah untuk menurunkan penumpangnya. Melihat supir taksi yang kebingungan serba salah.
Luna pun terpaksa turun dengan wajah geram.
"Sampai kapan Triis. Kenapa kamu selalu pemaksaan?" tanya Luna.
"Aku hanya memastikan ibu dari anak anakku Selamat sampai tujuan. Dan hanya dengan Ayah biologis bernama Triistan. Berada didekat dan disampingku adalah cara paling aman Luna." sebal Luna, terpaksa ikut Triis.
Menghela nafas panjang. Ia berharap kehidupan kedepannya lebih baik, Luna
mengekor ketika Triis membukakan pintu mobil. Tak berselang lama, selama dua puluh menit mereka tiba di sebuah pantai.
Luna terkesiap menatap seisi jalan yang sepi. Hanya desis aliran suara ombak yang mengalun alun. Menatap Triis bagai kucing yang kehilangan cakar. Ia tak bisa berbuat apa apa selain menuruti apa keinginan pria disampingnya itu.
"Kenapa Triis. Kita harusnya pulang?"
YAH. KITA AKAN PULANG, TAPI AKU INGIN BERBICARA PADAMU SATU HAL.
Triis mendekatkan wajahnya pada Luna. Lalu ia menggenggam tangan Luna dengan erat. Meski Luna menghempas tetap saja ia luluh ketika wajah Triis sendu.
"Untuk apa. Mengapa kamu tanyakan lagi Triis. Aku ga siap jika hubungan kita kembali. Ku mohon mengertilah!"
"Luna. Aku berjanji tidak akan menyakitimu. Kita akan membesarkan kedua anak kembar kita. Kita akan mempunyai anak banyak dan hidup bahagia. Aku sudah mengakhiri hidupku yang bebas tanpa tujuan, aku salah karena mengejar cinta adik ipar. Tapi dia memilihmu menjadikan dirimu istriku. Aku yang bodoh menyiakan berlian sepertimu."
"Keiy. Apa kabarnya nona bintang itu. Aku tak pernah mendengar kabarnya?"
"Dia sudah bahagia. Aku bahagia karena dia mencari identitas dan masa lalu kamu dimana. Dia memilihmu karena tepat untuk keluarga ini. Karena kamu tepat untuk ku. Kamu sabar dan kuat, sehingga ia memilihmu Luna."
"Benarkah. Aku ga sangka Nona Keiy bisa sedetail itu mencari informasi untuk membuat hidup seseorang bahagia.".
"Erland adalah sahabat kecil Keiy. Meski aku membencinya setengah mati, aku kesal karena setiap wanita yang aku cintai. Ia mengenal sosok Erland dan bersahabat baik. Aku tak menyukainya. Maaf aku katakan ini semua Luna."
Luna terkejut, ia tak menyangka. Jika Erland adalah sahabat kecil nona Keiy. Begitu ia tak sadar dan tak tau, mengapa Erland bisa menyembunyikan semua ini. Jika aku tak tau, berarti mengapa dia sembunyi, atau karena aku yang tidak peka dan bertanya padanya saat itu.
"Aaakh. Tidak pikiran apa ini membuat aku mengganggu. Aku rasa hidup itu bagai pilihan. Aku harus tegas menolak atau memberi kesempatan pada Triis." benak Luna.
"Luna. Apa kamu masih diam tak menjawab?"
__ADS_1
"Triis. Jangan bahas lagi, aku tidak tau. Untuk saat ini aku tidak ingin dan siap. Aku minta maaf."
Triis tak sabar. Rasa gairah menatap wanita yang ia cintai benar tidak bisa di tunda. Ia harus melakukan tabiat paksa agar Luna bisa menerimanya. Ia tersenyum licik dan memberikan Luna sebuah minum, ia meminta maaf dan menjawab akan bersabar.
"Kamu pasti haus, minumlah. Ada air mineral dan Coffe hangat!"
"Terimakasih Triis." Luna meminumnya karena dahagaya terasa kering. Perdebatan pada Triis membuatnya haus dan menerima air yang di berikan Triis.
Lima belas menit. Triis yang berada diluar pantai. Ia melirik ketika Luna telah tertidur. Tubuh Luna ia goyangkan namun tak bangun. Sehingga Triis menyumbingkan senyuman.
"Maafkan aku Luna sayang. Aku harus melakukan ini semua, aku berjanji akan bertanggung jawab. Dan aku akan membahagiakanmu. Aku pastikan cinta lama untuk ku, kembali hanya untuk dirimu seorang. Aku tak ingin pria lain tersimpan dan membeku di hatimu. Cukup namaku saja!"
Triis segera mengangkat tubuh Luna. Ia berlalu menuju paviliun dan merebahkan tubuh Luna diatas kasur. Triis mulai melucuti pakaian Luna dan membuka kancing kemeja nya.
"Meski ini cara yang tak pantas. Ketika kamu tak menyadari hamil. Aku akan menikahimu Luna."
Triis pertama kalinya menuntaskan hasrat. Selama empat puluh menit, ia merasakan kembali getaran hebat yang selama ini ia tunda menunggu Luna. Rasa hasrat dan egoisnya mulai kembali di benaknya. Setelah selesai menuntaskan keinginannya. Ia merebahkan dan membersihkan dirinya dan memakaikan pakaian Luna kembali.
***
Ke esokan harinya. Kedua anak Luna telah membangunkan Luna yang masih terlelap karena obat tidur yang Triis campurkan kedalam minuman cofee. Ia perlahan membuka mata dan menatap Rein dan Reina telah wangi, Lalu menatap Triis yang tersenyum di balik pintu.
"Aaakh. Bunda malu, kalian pergi duluan dengan Ayah ya. Nanti bunda nyusul, bunda mau mandi dulu nak!"
Luna pun segera bangun. Tubuhnya terasa pegal dan berlalu ke kamar mandi. Ia tak ingat apa yang terjadi semalam, mengapa ia telah berada di kamar. Lalu ia mengingat hal apapun, ia benar tak mengingatnya. Tak lama ada rasa perih yang tak tertahan dibawah sana.
"Astaga. Apa aku akan datang bulan, mengapa berlendir seperti ini. Aku harus memesan jamu untuk merawatnya."
Dengan rasa perih, ia berendam di air hangat. Sehingga rasa perih dan pegal itu mulai sirna.
Mengingat semalam ia pulang dan tak lagi mengingat hal lebih. Luna pun melupakan setelah itu ia bergegas siap menuju kelantai bawah. Dimana kedua anak Luna dan kedua mertuanya telah menunggunya untuk makan bersama.
"Luna. Semalam kamu dari mana. Triis mencarimu loh?" tanya Mama.
"Memang semalam aku kenapa mah?" tanya balik Luna.
"Kamu semalam diantar Taksi. Tak lama Triis pulang dan membawamu ke kamar. Rein dan Reina cemas. Tapi semalam mereka tidur bersama Triis. Ingat kalau bertemu teman jangan lupa waktu ya!"
Luna mengangguk. Ia sulit mengingat kejadian semalam. Terlebih ia tak berani menatap Triis yang selalu mencuri pandang padanya.
"Kenapa sikapnya aneh. Cerah dari biasanya. Haah hal ini membuatku semakin pusing jika di ingat ingat, Aku membuntuti Triis. Aku pulang dengan taksi. Tapi kenapa aku bisa teledor pulang dengan tertidur." batin Luna. Ia menyuap satu suapan demi suapan. Juga memberi perhatian pada kedua anak kembarnya yang kini sudah beranjak 7 tahun.
Luna kembali bermain bersama kedua anaknya. Hal hari libur weekand adalah amat bahagia bagi Luna. Karena ia bisa meluangkan waktu kesibukannya.
__ADS_1
Luna menatap ponsel. Sein yang sedang di bali memberikan laporan omset Cafe yang mereka rintis. Ia pun membalas selama dua puluh menit. Lalu menatap kedua anaknya yang gembira bermain air bersama Triis.
Luna terkesima, ia merasakan kebahagian ketika melihat pemandangan itu. Tapi ia bingung dan sedikit kacau jika harus memberikan kesempatan pada Triis.
"Triis. Mengapa aku sulit melupakan hal sikapmu padaku. Mungkin saat ini aku masih menutup hatiku, tapi aku tidak tau masa yang akan datang seperti apa." batin Luna.
Tak lama kedua anak Luna pun menariknya.
"Bunda. Ayo sini main sama kami!"
"Iya. Nak bunda pasti akan main tunggu satu detik, bunda matikan laptop dulu ya."
Kedua anak Luna mengangguk. Tak lama mereka pun bermain pistol air. Dimana Reina bersama Luna. Rein bersama Triis dalam satu Tim.
Jadi seperti itu ya bunda. Kalian harus mengumpat dan siapa yang bertemu musuh. Harus di tembak, jadi kalau bertemu harus tembak di pipi dan punggung ya Bunda. Ayah !!
"Oke Sayang." jawab Luna dan Triis bersamaan.
Rein menjelaskan. Permainan pun di mulai, sementara kedua mertua Luna menatap dengan senyum akan aksi permainan kedua cucunya.
Oke oke... Rein akan tembak Reina !!
Yes. Aku akan tembak kakak lebih dulu, Kaka ga bisa kalahin aku dan Bunda !!
Kedua anak Luna saling berdebat. Sehingga permainan pun di mulai. Selama dua puluh menit, Luna dan Reina saling berbisik untuk melewati sebelah taman dan menyumpat dibalik celah ayunan. Sementara Luna dibalik perosotan karena tubuhnya yang tinggi.
Ssst ... Dooorr.
Triis memencet mengarahkan pada Reina, namun Rein menepuk sehingga mengenai bibir Luna yang seksi dan membuat mata semua melihatnya.
Aaaaakh. Hheeeeuump.
"Heuuumh .. Yah. Bunda kalah deh, oke deh bunda menyerah sayang."
Triis mengusap bibir Luna. Luna pun menatap wajah Triis. Sementara Rein dan Reina berbisik jahil. Mereka berlari dan menubruk tubuh sang Ayah. Sehingga tak seimbang Luna menangkap dan mereka jatuh saling berpeluk, namun Triis menahan agar Luna tak sakit.
Huaaaaaah... Aauuw.
Kecupan bibir Triis menempel pada bibir Luna. Sehingga semua mata menatap dengan malu.
"Apa yang kau lakukan Triis. Semua menatap kita?" tanya Luna.
Tbc.
__ADS_1